Ana Fredlyna

"Dih apaan sih," Gumam Dasa. Sambil terus makan sup tanpa mau mau memedulikan kegaduhan yang dibuat Rio, Berlian, dan Ana.

"Tadi pagi gue bilang mau nraktir lo kan?" Ucap Gara "Nah, nanti gue traktir lo belanja baju sekalian, asal habisin tu cupcake dari Rio"

Dasa menoleh ke arah Gara dengan sorot tak suka. Namun pada akhirnya gadis itu pun memakan si cupcake tepat di hadapan Gara.

"Enak?" Goda Gara.

Dasa mendelikkan mata, lalu melap cream di bibirnya pakai tissue yang diserahkan Gara.

Selina yang juga satu meja dengan Dasa hanya ternganga melihat pasangan yang selalu dia kira green flag itu.

Karena entah kenapa, Selina merasa kalau Gara dan Dasa tidak terlihat seperti pasangan yang salin mencintai.

Mereka lebih seperti dua orang yang sedang bekerjasama memisahkan Ana dan Rio.

....

"Okay, lumayan, lima puluh ribu mulai jam empat sore sampai jam sembilan malem" Batin Ana.

Di tangan gadis itu ada selembar uang hasil kerja kerasnya membersihkan dapur restoran kelas menengah di dekat sekolah.

Padahal uang jajannya dulu paling sedikit seratus ribuan sehari. Itu pun sudah terbilang kasta menengah disekolah elitenya.

"Duh, lapar lagi'' gumam Ana, seharian ini dia belum makan saking berhemat.

Gadis itupun mempir ke minimarket untuk beli mie instan sebelum benar-benar pulang.

Klik!

Ana membuka kunci pintu indekos yang masih manual. Begitu masuk ke dalam rupanya Gara sedang makan.

"Hei" Sapa cowok ganteng bertubuh tinggi tegal itu.

"Hai" Sahut Ana, sambil melepas jaket dan sepatunya.

"Gue beli rice bowl barusan banget, terbuata by one get one" Jelas Gara.

Cowok itu menunjuk dua mangkuk makanan di atas satu-satunya meja lesehan di indekos mereka.

"Terus?" Sahut Ana

"Sayangnya gue kenyang karena sebelumnya udah makan malem bareng Dasa, lo mau bantu gue ngabisin?"

Ana sebenarnya punya sebungkus mie instan di dalam tas. Tapi setelah berpikir aebentar, ia memilih duduk di karpet dan menerima tawaran Gara.

"Rio kayaknya suka sama Das, lo tahu?" Ucap Ana tiba-tiba.

"Lebih tepatnya gak peduli"

"Kenapa?"

"Kenapa gue harus peduli?"

Ana diam sejenak, menguyah makanannya sambil berfikir "karana Dasa cewek lo, kan?"

Gara hanya tersenyum tipis. "Terus Rio gimana? Dia masih jadi cowok lo?" Tanyanya.

"Gue udah minta putus kok, Rionya mendadak gak mau dan gue masih stuck ngadepi dia, bingung harus gimana"

"Lo harusnya tegas! Lo tampar aja mukanya sambil bilang pacaran tuh sama tembok!"

Gara bicara berapi-api seakan dialah yang ingin memutuskan Rio, bukan Ana.

Ana sampai tersenyum geli. "Kenapa lo ikut kesel? Pake ikut campur segala?"

Gara diam sebentar berfikir "Eng, ya, gue heran aja. Sebagai cowok dimana harga diri Rio pake gak mau diputusin"

"Duh, gak taulah. Gue tuh pusing, pikiran gue tuh bercabang gak cuma tentang Rio, tahu?!"

Gara merengut "karena lo belum fix putus, jadi permintaan gue masih utuh ya?"

"Dih, gak bisa! Tetep udah berkurang. Gue udah putusi Rio, dianya yang gan mau ya bukan salah gue. Lagian kenapa lo mau gue putus sama dia sih?"

"Gue ada masalah sama Rio" Gara mendadak menurunkan nada bicaranya.

"Serius? Karena Rio deket sama Dasa, ya?" Tebak Ana, tak menyangka Gara akan cemburu.

"Bukan tuh"

"Terus karena apa?"

Untuk beberapa saat, Gara menatap Ana dengan senyuman penuh arti..

"Karena.... "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!