Rio Scott

Seperti kata Gara, hari ini ada jadwal latihan basket. Dan waktunya pasti bertepatan dengan jadwal latihan cheerleader.

Karena itu sebagai kapten tim, Ana sudah berlatih dengan kaos t-shirt polos dan celana super pendek yang memamerkan kaki jenjangnya.

Jujur saja Ana bangga dengan penampilan fisiknya yang diatas rata-rata. Tinggi sampai lekuk tubuhnya sangat ideal.

Apalagi wajahnya, jangan ditanya. Ana Friendlyna adalah definisi dari kata 'nyaris' sempurna

"Anaaa! Uh Anaaa" Sorak beberapa orang yang menonton aksi latihan gadis itu.

"Anaa lihat sini dong!"

"Calon istri gue!"

"ANAAAA!"

Ana membalasnya dengan lambaian tangan, membuat penonton yang kebanyakan pemain basket itu meleleh.

"Cih! genit banget" cibir Rio yang sedang bersantai di ujung tribun

Sejak dulu Rio membenci sisi berkilaunya Ana. Rio sebenarnya paling senang dengan perempuan yang tidak terlalu mencolok dan kalem macam Dasa.

Tapi entah kenapa semenjak Ana menjauh darinya, Rio mulai merasa kehilangan.

"Yang Ana lakuin itu bukan genit, namanya fans service!" sahut Milo sebagai kapten basket "Lagian Ana dari dulu ramah banget sama fansnya tahu"

"Fansnya?, sejak kapan dia punya fans?"

"Lah, lo hampir setahun jadi cowoknya gak tau?! Setengah anggota tim basket benci sama Lo gara-gara lo cowoknya Ana"

"Emang dasar gak bersyukur lo, kalau bukan karena Ana bucin duluan sama lo, susah tau dapetin dia"

Milo pernah menembak Ana pada saat masih kelas satu SMA, tapi ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Sampai Ana mulai melihat Rio untuk pertama kalinya dan mulai jatuh cinta dalam sekejap mata saja.

Rio yang selalu terbiasa dikejar Ana lupa tentang semua. Tentang berkilaunya kekasihnya selama ini.

Brakk!

Ana menghempaskan tubuhnya usai latihan ke kursi tribun, tidak jauh tempatnya beristirahat dari Rio dan Milo.

"Hey...! Ana cantiknya tiada tara, kapan nih mau jadi jandanya Rio" goda Milo

"Secepatnya" sahut Ana sambil menyambar dan meminum air mineral yang diberikan oleh Milo

"Wih, bagus tuh! kalo gue jadi kandidat berikutnya gimana?"

Kata Milo sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Apaan sih lo?, Minggir sana anjing" Timpal Rio galak

Milo tidak memberontak, dia tak mau mencari ribut dengan Rio. Akhirnya menjauh dari Ana dan Rio, msncari tempat istirahat di tribun paling ujung lapangan itu.

"Kenapa sih, lo mendadak pengen putus dari gue?" Rio sangat kesal dengan sikap Ana barusan

Ana menghela napas dalam "Pertama, gue udah gak cinta sama lo, kedua karena gue bakalan sibuk terus dan gak akan punya waktu buat lo"

Rio mengepalkan tangannya, tak menyangka Ana yang selalu lemah lembut padanya bisa mendadak dingin seperti ini.

"Oke, kalo begitu kita putus!" ucap Rio, cek ombak. Mau tau sikap Ana setelah mereka putus.

Mendengar pertanyaannya, Ana hanya tersenyum tipis "Makasih pengertiannya, Rio"

Setelah nengatakannya Ana langsung berdiri dan hendak pergi, tapi dalam gerakan cepat Rio menghadang langkah gadis itu dan mencium bibir gadis itu dengan ciuman dalam.

Deg!..

Sontak semua perhatian orang di lapangan indoor itu tertuju pada adegan ciuman Rio dan Ana.

Sementara gadis itu sendiri diam terpaku saking kagetnya.

Meski bukan ciuman pertama meraka, tapi Ana tetap tang menyangka Rio yang ketua OSIS disiplin, akan nekat melakukan hal ini.

Apalagi ciuman ala Rio bukan sekedar kecupan singkat. Tapi deep kiss yang membuat Ana nyaris tersedak.

Untung sudah jam pulang sekolah. Tak ada guru dan semoga saja tak ada yang melaporkan kelakuan mereka kepada BK.

Beberapa detik, Ana akhirnya lolos dari keterkejutan dan mencoba melepaskan diri.

Tapi Rio memegang teguknya dengan kuat sampai detik berlalu dan orang-orang mulai menyoraki mereka, entah karena suka atau tak suka.

"Gilaaaa! Panas bangett"

"Bucin akut, tau tempat dong!"

"MAU JUGA DONG!"

"Menyala ketosku!"

Sorakan demi sorakan mulai terdengar, Ana terpaksa menggigit Rio sampai cowok itu mengaduh dan kesal.

Plak!

"Cowok sialan" bentak Ana, sambil menyeka bibirnya yang basah karena ulah Rio

Rio tersenyum miring "Gue tarik kata-kata gue, gak ada kata putus karena gue gak mau mainan gue diambil orang!"

"Mainan?"

"Iya, karena dari awal kita jadian, itu karena gue mau lo jadi mainan gue"

Sungguh, Ana menahan diri untuk tidak menampar Rio kedua kalinya.

Merasa sia-sia bicara sama cowok sialan itu, Ana memilih pergi meninggalkannya dipinggir lapangan.

"WOW" gumam Dasa, sambil menatap tajam ke arah Rio yang kini tengah meneguk sebotol air mineral dengan tidak sabarnya.

Sejak tadi, Dasa dan Gara juga ada di sisi lain tribun, ikut menonton pertandingan sekaligus menonton adegan ciuman Rio dengan Ana.

"Gak akan lo samperin?" tanya Gara

Dasa mendengus "Ngapain? Bukan urusan gue, namanya juga orang pacaran paling mereka cuman drama bucin kaya biasa"

Gara menyipitkan mata "Maksud lo apaan?"

"Ngomongin Rio kan?"

"Hah! gak nyambung! gue nanya, itu Selina dipinggir lapangan gak lo samperin?"

Oh, sial! Dasa salah paham "Duh, gue lupa ngasih proposal OSIS"

Dasa cepat-cepat bangkit dan menghampiri Selina, meninggalkan Gara dengan salah tingkah.

Gara menghela nafas sambil mengamati Dasa yang mulai menjauh "Bilangnya ajasih bukan urusan gue, tapi mata sampai melotot ngliatin Rio Scott"

Gara turun dari tribun, menyambar bola basket dengan asal, mendribble, dan memasukkan nya kedalam ring dengan emosi.

Ngomong-ngomong Gara kesal bukan karena Dasa, tapi karena Rio mencium Ana barusan.

Hampir kelepasan Gara menghajar Rio ditengah lapangan barusan. Tapi Gara mencoba menahan diri sebaik mungkin agara rencananya dapat berjalan dengan lancar...

"Ah anjing! Sumpah Dasar" Gumam Gara

**

Usai latihan basket, Gara kembali memakai seragam biasa, sebelum pulang ia mampir ke bengkel dan pulang ke indekos menggunakan montor besarnya.

Namun saat masuk ke kamar, ternyata Ana sudah ada di dalam. Ana membaca buku pelajaran di lantai.

"Gak kerja part-time?" tanya Gara, sambil menggantungkan tas, kemeja, dan melepas seragam nya.

Ana hanya melihat sekilas, kemudian berfokus pada bukunya kembali. Ana tidak mau terpaku pada tubuh bagian atas Gara yang terbuka.

"Gak bisa tiap hari. Jadi momen kosong tetep gue pake buat latihan cheerleader kaya tadi" Jelas Ana

"Ngomong-ngomong kanapa lo tahu kalo gue kerja part-time?" tanya Ana melanjutkan

Gara mengipas-ipaskan tangannya karena kepanasan "Kan kemarin lo bilang mau minggat dari sini kalo udah dapat uangnya"

"Oh iya ya..."

"Jangan bilang lo gak punya niat pergi dari sini? betah ya lo lihatin otot gue?"

Bugh..

Ana melemparkan bukunya, tapi berhasil ditangkap dengan sempurna oleh Gara, cowok itupun tersenyum.

"Dih malah senyum, pakek baju sana" tegur Ana

"Gak mau ah, gerah"

"Kalo gitu jangan salahin gue! wajar dong kalo gue liatin apa yang emang kelihatan?"

"Boleh kok, asal jangan sampai ngiler aja..."

"Males!" sahut Ana "Lo sendiri kenapa gak pergi dari sini sih? padahal lo punya Dasa, kanapa lo gak jaga perasaannya?"

"Masalah gue sama Dasa bukan urusan lo!"

"Gak bisa!" tegas Ana "Tadi gue gak sengaja liat lo lagi ngobrol sama Dasa dilapangan. Dan jujur, gue merasa bersalah"

"Biar bagaimanapun gue tidur satu kamar sama lo, bahkan satu kasur, meski gak ada apa-apa diantara kita, gue tetep gabisa nyakiti sesama cewe"

Ana mengucapkan kalimatnya dengan wajah sendu. Sebab seandainya dia punya bekal sedikit saja, dia tak akan mau hidup begini.

Sekamar dengan lawan jenis yang buka siapa-siapa, Ana juga merasa gelisah memikirkannya.

Gara menghela nafas "Tadi gue lihat lo ciuman sama Rio di tribun, gue gak merasa bersalah tuh sama Rio walau gue udah tidur bareng sama lo"

"Gue sama Rio beda kasus! toh sebenarnya hubungan gue sama Rio tuh udah selesai."

"Terus kenapa masih ciuman?"

"Dia yang nyosor duluan! Lo gak liat gue nampar dia?"

"Ihh,, awas lo sariawan habis ciuman sama Rio!" Gara menakut-nakuti dengan wajah jijik

Ana hanya mendelik "Bisa jadi sih..."

Ah, Ana menjadi kesal sendiri mengingat kejadian tadi. Ana juga merasa malu pernah jatuh cinta pada cowok brengsek macam Rio.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!