"Hubungan gue sama Dasa tuh gak pake perasaan sama sekali..." ucap Gara tiba-tiba
Hening....
"Maksud lo?" tanya Ana memastikan, ia takut salah dengar
"Gue gak cinta sama Dasa, pun sebaliknya, jadi gausah ngerasa bersalah, tentang Dasa ngelabrak lo tadinya gue cuman bercanda"
Gara mempertegas ucapannya dengan senyuman tipis. Seakan memahami isi fikiran Ana dengan baik.
"Terus, kenapa kalian bisa jadian?"
Sama seperti waktu itu, Gara selalu menjawab dengan asal pertanyaan Ana.
Gara lagi-lagi menghindar
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka berbaring di ranjang yang sama, dua orang itupun menatap langit-langit kamar.
Dalam remang mereka melamun, jauh entah kemana...
Diam-diam menikmati suara rinai hujan diluar sana.
"Gue mau bilang tentang permintaan kedua gue" ucap Gara tiba-tiba. Gara tahu Ana belum menutup mata seperti dirinya.
"Apaan?" tanya Ana
"Tentang guling ini.." Gara bergeser, menyamping, kemudian memeluk gulingnya hingga dia dan Ana bisa bertatapan.
Entah kenapa Ana menjadi gugup "Kenapa gulingnya?"
"Gue mau peluk guling ini sebebas-bebasnya" ucap Gara sambil tersenyum penuh arti
"Terus pembatas kita apaan?" Tanya Ana yang mulai merasa salah tingkah
"Gausah dibatesin, toh pembatas cuman bikin kasur ini makin sempit" Ucap Gara yang memang benar adanya
Ana berfikir sejenak "Tapi janji jangan kurang ajar!"
"Kurang ajar tuh gimana maksudnya?"
"Ck please deh, gausah sok polos..."
Gara mengedikkan bahu "Serius gue gak paham, definisi kurang ajar kan beda-beda"
"Emm.." ucapan Ana berhenti sejenak "Jangan sembarangan nyentuh gue pas gue lagi tidur" lanjutnya
"Kalo ternyata lo yang nyentuh gue?"
"Enggak mungkin!"
"Kenapa? Orang badan gue menggoda..."
"Dih Apaan!" potong Ana, Dia takut ketahuan kalo diam-diam sering mengamati dan mengagumi otot-otot Gara.
Habisnya, untuk cowok seumuran delapan belas tahun, bentuk tubuh Gara tergolong 'oke' banget.
Ctarrrrr...
Tepat pada saat itu, tiba-tiba petir menggelegar, bahkan jendela kamar mereka sampai bergetas saking kerasnya.
Gara yang terkejut refleks melempar gulingnya dan memeluk Ana dengan erat dan berwajah pucat pasi.
Gadis itupun mengerjap tak percaya "Ga-Gara?" pekiknya gugup
"Ssst" desis Gara "Gue gak suka petir" lirihnya
Ana terdiam selama beberapa detik, lalu terkekeh kecil saat sekelibat bayangan masa lalu terlintas dibenaknya.
"Lo mirip seseorang.." ucap Ana tiba-tiba
"Siapa?" tanya Gara tanpa berniat melonggarkan pelukannya sedikitpun meski gema petir sudah berlalu.
"Teman gue di panti asuhan dulu, dia juga takut sama petir. Namanya Ano Ferdian, sepaket sama nama gue Ana. Kita dikasih nama kembar karena sama-sama dikirim ke panti waktu hujan badai"
"Ibu panti cerita, kalo Ano terlambat diambil didepan pintu karena suara tangisannya ga kedengeran, keganggu suara hujan sama petir"
"Gara-gara itulah Ano takut hujan besar, suara kenceng, atau apapun itu, mungkin alam bawah sadarnya punya trauma sendiri."
Sampai detik ini, Ana sering mengenang masa lalunya di panti, saat-saat dia masih bersama Ano.
"Karena sebaya, gue sama Ano satu kamar, dan dia selalu pindah ke kasur gue tiap hudan deres buat minta dipeluk" Lanjut Ana dengan mata berbinar
"Terus.. apa kabar dia sekarang?" tanya Gara antusias
"Gak tahu, dia diadopsi saat kelas satu SD dan tinggal di luar negeri, sementara gue ninggalin panti asuhan satu tahun kemudian dan dibawa keluar kota"
"Sampai detik ini pun gue tau gimana kabar Ano, padahal dulu kita deket banget hampir gak punya jarak.."
"Lo sedih waktu kepisah sama dia?"
"Sedih lah, gue sampe mau kabur dari panti asuhan buat nyamperin dia. Ano buat gue itu udah kaya sahabat, saudara, dan keluarga yang berharga"
Sepertinya Ana terlalu asyik bercerita sampai dia sendiri lupa bahwa sekarang posisi dia masih dalam pelukan hangat Gara Mahendra.
Gara tersenyum tipis "Kalo dia ada didepan mata lo lagi, apa yang bakal lo ucapin ke dia?"
"Jangan cengeng" ucap Ana sambil tertawa kecil
"Dih toksik maskuliniti lo" cibir Gara dengan bahasa yang merakyat
"Habisnya dia yang biasa sok keren, kalem, dan mau ngelindungin gue itu tiba-tiba aja nangis bombai pas mau pisah sama gue"
"Bahkan gue sampai gak bisa nangis karena Ano harus digendong keluar dari panti dan bikin semua orang kewalahan..."
"Itu pasti karena dia udah sayang banget sama lo. Pisah sama lo itu sama kaya penderitaan besar buat dia" Gara berkata seakan dia mengerti isi hati Ano, lebih dari siapapun.
Ana menganguk "Gue tau itu, mangkanya gue gak berani nangis di depan dia. Karena gue takut bakal lebih gila lagi nantinya dia"
"Padahal setelah dia pergi, gue selalu nangis tiap malem, karena gak ada temen main, temen tidur, temen hidup"
"Tapi ibu panti selalu bilang kalo diadopsi adalah puncak kebahagiaan buat anak yang kurang beruntung kaya gue dan Ano"
"Karena itu, pelan-pelan gue coba ngelepasin dia, dan buka lembaran baru demi kebahagiaan dia tanpa gue"
Gara mencermati setiap kata yang terucap dari bibir Ana dengan penuh penghayatan.
"Gue terharu dengernya" ucap cowok tengil itu
Jujur Ana gak menyangka Gara akan merespon ceritanya seperti pendengar yang baik.
Bahkan nada bicara Gara menjadi begitu lembut dan menenangkan saat itu. Berbeda dari biasanya yang rese dan menyebalkan tentunya.
Kemudian, Ana menguap dan mulai memejamkan matanya perlahan dalam pelukan Gara dan masih mengingat segelincir kenangan-kenangan indah bersama Ano.
Si bocah badai yang menghilang entah kemana .....
Beberapa menit usai, helaan nafas Ana mulai teratur. Gara mengusap lembut pipi Ana yang tertidur, menatap wajah gadis yang tampak teduh didekapannya.
"Maaf, Ana..."
Perlahan, Gara pun menyentuhkan bibir mereka dengan sangat lembut agar Ana tidak terusik. Manis sekali...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments