Ana merasa lemas, dadanya mulai merasa sesak karena Gara tak memberinya jeda untuk bernafas dengan lega.
Ciuman Gara begitu menuntut sehingga sulit bagi Ana untuk mengimbanginya. Namun meski begitu, rasanya tetap manis dan membuai.
Perlahan, langkah Gara menggiring Ana ke tepi ranjang, lalu mendorongnya pelan hingga mereka jatuh secara bersamaan.
Ciuman itupun terlepas, Ana mengatur nafasnya di bawah tindihan Gara. Kemudian mereka saling bertatapan lekat.
Seakan belum puas, Gara kembali mendaratkan ciumannya kembali pada bibir Ana beralih ke kening turun ke pipi kanan, pipi kiri, hidung dan bibir merahnya kembali.
"Gara_"
Ana mulai terbata ketika Gara mulai turun ke leher. Gadis itu mencoba menghentikannya dengan mencengkram bahu Gara.
Bukannya berhenti, Gara malah mengamit mesra jemari mereka pada sisi kanan dan kiri. Sungguh momen yang meresahkan....
Tok-tok!
Suara ketukan pintu membuat Gara dan Ana teralihkan.
Gara yang merasa kesal karena momen menyenangkannya diganggu cepat-cepat membuka pintu.
Ternyata pelakunya adalah Berlian Ferdiana, dengan seragam lengkap sama seperti satu jam yang lalu.
"oh...my....god!" pekik Berlian."Bener ternyata dugaan gue, tadi gue nemu putung rokok di balkon, sementara gue yakin Ana ngga merokok"
"Gue udah curiga kalau Ana gak mungkin tinggal sendirian ditempat kaya gini! Tapi siapa sangka harus lo orangnya?"
Berlian berceloteh saking kagetnya melihat Gara Mahendra ada dikamar yang sama dengan Ana Fredlyna.
Yang mana setau Berlian Ana dan Gara bahkan tak pernah saling sapa sekalipun di sekolah.
"Emang kenapa kalau gue orangnya?!" tanya Gara sambil mengusap telinganya yang sakit mendengar celotehan Berlian.
Sementara Ana sendiri langsung panik dan refleks menghampiri Berlian di depan pintu.
"Tunggu! Gue bisa jelasin" kata Ana sambil menyugar helaian rambut panjangnya yang berantakan.
Berlian mematung melihat penampilan Ana barusan. Seakan-akan Ana dan Gara habis macam-macam.
Kemudian Ana langsung kembali ke dalam kamarnya mengemasi seragamnya kedalam tas, lalu menarik tangan Berlian yang masih melotot galak pada Gara.
"Gue nginep di rumah Berlian, Bye!" Ana mengambilkan keputusan sepihak, toh Berlian pasti akan dengan senang hati menerimanya.
Ana sengaja kabur dari suasana gila diantara dirinya dengan Gara. Rasanya gadis itu tak sanggup lagi menghadapi momen canggung yang tiba-tiba terjadi.
Gara baru saja menciumnya sampai ke leher
ya, Tuhan!
"Kalau gitu have fun! sayang..." Ucap Gara sambil tersenyum manis."Telepon gue kalau perlu dijemput ya?"
Ana langsung mengacungkan jari tengah pada Gara selagi Berlian masih ternganga mendengar panggilan mesra barusan.
"Jangan salah paham dulu ah! Gara kan emang gila!"
Ana tampak menegur Berlian yang tampaknya masih syok berat.
Mereka kan belum jadian!
Gara tidak benar-benar meminta Ana menjadi pacarnya, dan gadis itupun belum memberinya jawaban yang menjerumus ke arah sana.
Ah, dasar Gara gila!
Ana mulai kewalahan mengendalikan degup jantung, wajah merah dan rasa gugupnya karena ulah Gara barusan.
Semua sentuhan yang diberikannya membuat Ana terngiang-ngiang dan bergetar tak karuan...
....
Tak butuh waktu lama, Ana akhirnya tiba dirumah megah milik Berlian Ferdina.
Tempat yang sebenarnya mirip istana dengan halaman super luas dan hutan pribadi itu selalu berhasil membuat Ana merasa kerdil.
"Harusnya sih kakak-kakak gue lagi pergi" ucap Berlian, takut kedua kakak kembarnya membuat Ana merasa tidak nyaman.
Begitu turun dari mobil di areal drop off, sopir langsung membawa mobil Berlian ke basement. Dan ketika itu, muncul pula satu mobil mewah yang baru saja tiba.
Seorang wanita cantik turun bersama suaminya yang masih terlihat muda diumur empat puluhan.
Merekalah orang tua Berlian
"Loh, sayangnya ayah kok baru pulang?" sapa ayah Berlian sambil merentangkan tangan minta dipeluk.
Berlian melengos begitu saja, karena malu jika bermanja didepan Ana "Ih, apaan sih yah!" protes Berlian
"Ah, ada Ana juga, Halo cantik" sapa Ibu Berlian kepada Ana dengan ramah.
"Halo, tante..." Ana selalu saja merasa gugup ketika bertemu keluarga Berlian. Melihat betapa hangat mereka, sering kali membuat Ana merasa iri.
"Ayah sama Buna habis dari mana?" tanya Berlian, sambil mengamati penampilan keduanya dari kepala sampai kaki.
"Habis jenguk bibi kamu di rumah sakit"
"Oh, bibi Sera apa kabar?"
"Yah, masih begitulah... tadi dia siuman dan tanya tentang Gara, kamu ketemu Gara disekolah?"
Deg..
Mendengar nama Gara, Berlian langsung melirik Ana. Tentu saja dia bertemu Gara. Tapi buka di sekolah, melainkan di indekos mereka.
"Eng..Gara ada kok" ucap Berlian "Maaf tapi aku sama Ana lagi butuh privasi dulu. Dah.. Ayah, Buna!"
Ucap Berlian sambil menyeret tangan Ana, dia sengaja cepat-cepat kabur dari orang tuanya meninggalkan pintu utama.
Peka kalau saja Ana mungkin kurang nyaman bertemu orang tuanya, sekaligus tak sabar ingin mendengar pembahasan tentang Gara.
Kamar Berlian ada di lantai dua, aksesnya menggunakan lift karena rumah mewah itu punya empat lantai dengan satu rooftop.
"Duhh, sorry banget ya, rumah gue rame. Lo mau minum apa? biar gue minta dibikinin petugasnya," tanya Berlian, begitu pintu kamarnya tertutup rapat.
"Santai aja dulu" Ana menghempaskan tubuhnya di sofa besar berwarna putih dibawah jendela.
Berlian langsung ikut duduk disamping Ana "Jadi, mau mulai bahas apa?"
"Bibi Sera yang lo sebut tadi, ibunya Gara?" tebak Ana, tiba-tiba
"Yap, bibi Sera itu kakak angkat bokap gue, dengan kata lain, gue sama Gara sepupuan, tapi kita ga deket juga karena Gara besar di luar negeri"
"Ya ampunn! kenapa lo baru cerita Berlin?" pekik Ana
Sebelumnya, Ana memang sudah tau kalau Gara, Berlian, Dasa, dan Rio satu lingkungan.
Tapi baru tau kalau orang tua mereka sedekat itu untuk saling menjenguk di rumah sakit.
Bahkan Gara dan Berlian! bisa dibilang sepupuan! sungguh informasi luar biasa bagi Ana.
"Pertama, gue gak bangga jadi sepupu Gara. Kedua, gak penting juga gue bahas soal Gara. Ketiga, lo gak nanya" ucap Berlian
"Bener juga sih..."
"Oh, tapi kalo ngomongin soal Gara, gue jadi inget, dia itu pernah disebut bayi mahal sama kakak-kakak gue"
"Kenapa?"
"Karena nyokapnya udah berumur empat puluh enam tahun waktu hamil Gara, dan pake segala cara biar Gara bisa lahir ke dunia"
"Tapi sayang, Gara lahir prematur dan juga punya penyakit jantung bawaan. Akhirnya Gara besar diluar negeri sampai umur tujuh tahun karena sibuk berobat."
"Terus setelah itu, Gara balik ke sini dan berhasil sembuh dari penyakitnya, itu aja sih yang gue tau"
Ana tertegun sesaat setelah mendengarnya. Ternyata banyak hal tentang Gara yang tidak dia ketahui.
Rasanya lucu memikirkan jika mereka mendadak menjadi teman satu kasur, dan baru saja berciuman. Padahal sebelumnya tak saling tau.
"Lo sendiri? bagaimana ceritanya bisa deket sama Gara?"
Ana tersudutkan, pada akhirnya gadis itu tak memiliki alasan untuk menghindar.
Maka Ana menceritakan semuanya pada Berlian. Termasuk kenyataan orang tua angkatnya yang tiba-tiba menghilang sampai dengan kejadian Gara yang tiba-tiba menciumnya barusan.
Berlian sempat syok beberapa detik, tapi pada akhirnya memaklumi kalau saja cinta muncul di antara dua lawan jenis yang tinggal bersama.
"Sorry, karena gue udah banyak nyimpen rahasia sama lo" ucap Ana, sambil menggenggam hangat tangan sahabatnya.
Berlian menggeleng "Enggak masalah kok, setiap orang punya rahasianya masing-masing Ana..
"Justru gue yang minta maaf, karena terlalu khawatir dan ikut campur sama hidup lo, habis lo temen gue satu-satunya''
"Gue paham kok, thanks ya? gue janji bakal jaga diri baik-baik. Kalau butuh bantuan mendesak, gue pasti hubungin lo kok"
"Beneran? awas aja kalo nggak!" Berlian berlagak dengan mata elangnya yang tajam.
Ana manganguk dengan senyuman, "Ngomong-ngomong kenapa ibu Gara sakit? dan kenapa juga dia harus tinggal nge-kost?"
Tok tok
Sayang, belum sempat pertanyaan Ana terjawab, tiba-tiba saja pintu kamar Berlian diketuk.
Muncul kedua kakak kembar Berlian yang baru saja pulang dan langsung mencari adik bungsu mereka.
"Berlinnn" panggil mereka berdua secara bersamaan
"JANGAN PANGGIL AKU BERLIN!" Berlian langsung berteriak marah kepada kedua kakaknya.
Berlian Ferdina, benci jika di panggil Berlin karena membuat namanya seolah kembar tiga dengan kakaknya.
Berlin, Berlio, Baryl, dengan nama itu Berlian berfikir nama yang hampir sama buatan ayahnya itu, sangat payah.
"Keluar! lagi ada Ana, jangan ganggu deh! nanti dia risih, dan gak mau lagi temenan sama aku gara-gara kalian!"
Selain selalu dimanfaatkan, Berlian juga hampir tak punya teman karena kakaknya yang terlalu posesif.
"Gue gak masalah kok Ber" ucap Ana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lagian kedua kakak Berlian ganteng juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Chung Chung
Up
2025-02-23
0