otot-otot

"Malah bangga lo jadi fakboy" cibir Ana, sambil terus menghindari Gara yang terus senyum-senyum tanpa dosa

"Awas ya, gue gak mau sampai Dasa salah paham ngira gue selingkuhan lo"

"Terus kenapa? seru dong, ntar lo dilabrak Dasa..."

"Eh cowok sial!" Ana memukul bahu Gara sambil terus berjalan, tapi Gara membalasnya dengan mencoba merangkul Ana lagi dan lagi.

"Seriusan lo gak mau jadi selingkuhan gue?" goda Gara

"Ogah, dasar gila!"

Ana mempercepat langkahnya. Tapi Gara tak menyerah menyesuaikan dengan kecepatan gadis itu.

Alhasil pagi ini pun mereka berdua berjalan cepat menuju halteu, berjalan cepat, dan saling menyusul.

Dan entah mengapa, rasanya sama menyenangkan seperti kemarin...

*

Setibanya di area food truck, aroma vanilla dari adonan penekuk menguar lembut disekitar jalan, bercampur dengan aroma bubuk kopi.

Harum mewangi...

Sebenarnya rasa lapar di perut Ana terpanggil, namun gadis itu tak mau menbuang uangnya hanya untuk membeli penekuk yang bisa ia buat sendiri seharusnya.

"Kenapa lo gak beli?" tanya Gara, sambil menggigit penekuk bentuk bintang yang disajikan gratis dengan bungkus kertas.

Tinggal hap..dan bisa dimakan sambil berjalan

"Gue kan kesini emang cuman buat nemenin lo" sahut Ana

"Gitu ya?" jawab Gara sambil mengangguk anggukkan kepalanya "Eh ternyata rasa stroberi cheese nya ngga enak, lo aja yang habisin" ucap Gara

Cowok itu menyerahkan penekuk yang baru dia gigit sedikit. Sementara dalam pelukan Gara masih ada penekuk lainnya.

Ana tak habis fikir dengan kelakuan Gara, "Lain kali kalo gak bakal habis, jangan beli banyak dong"

"Tadinya takut ga cukup, badan gue kan gede"

"Kalo udah tau badan lo gede ya makannya dikurangin, kalo lebih dari ini lo bisa over weight! gak sehat"

"Dih santai aja kali, badan gue gede karena otot, Ana"

Ana mendelikkan mata, kemudian ia melahap semua sisa penekuk milik Gara sambil menunggu bis melintas.

Penekuk rasa strawberry cheese ini enak sekali bagi Ana, mungkin kebetulan Gara beli rasa favoritnya.

"Mau kopinya juga gak?"

"Gue beli ukuran large karena murah, tapi gak keminum semua" kali ini Gara menawarkan sebotol besar minuman hangat

Ana yang bahkan belum selesai menghabiskan penekuk mendengus "Boros banget sih lo! kalo beli itu secukupnya aja, jangan gampang kemakan promo"

"Gak usah bawel lo kayak mamak-mamak, makan aja ini semua!"

Gara duduk dibangku halteu dan menepuk-nepuk bagian yang kosong untuk Ana

Mereka pun duduk dan makan dengan tenang. Tak sadar kalau mereka terlihat seperti pasangan yang sedang sarapan berdua.

Makanan mereka akhirnya habis, tepat saat bis sudah berhenti di halteu. Mereka berdua pun naik ke dalam.

Di depan sopir, Gara langsung meng tap kartu dua kali sampai Ana mengerutkan dahi

"Lo traktir gue?" tanya Ana

"Eh, tadi gue kira belum ke-tap. Yaudah deh. Lo beruntung kali ini. Anggap gue traktir lo"

Ana merasa Gara ternyata cukup ceroboh dan kurang perhitungan dengan dirinya sendiri

"Terimakasih, cowok aneh.."

Berbeda dari kemarin, bis hari ini cukup penuh. Mereka harus berdiri sampai kepala Ana berkali-kali mengetuk dada bidang Gara.

Saat laju bis berkurang spontan, kepala Ana membentur dada Gara cukup keras sampai gadis itu mengaduh.

Satu tangan Gara yang tidak bertopang langsung mendekapnya hangat agar tidak membentur orang lain.

Deg!..

Benar ternyata kalau ternyata tubuh Gara besar karena otot. Terasa tegap dan kokoh sampai Ana merasa nyaman dalam pelukannya.

"Gara lain kali jangan terlalu baik sama gue..."

Ana berdesis pelan di kerumunan meski sempat ragu Gara akan mendengarnya karena jarak tinggi mereka cukup jauh.

Ternyata Gara tinggi banget. Kepala Ana bahkan tidak sampai dagunya.

"Kenapa gue gak boleh terlalu baik? Lo lebih suka kalo dijahatin? Selera lo be-de-es-em? Lo mas-okis?" goda Gara

Ana langsung menginjak kaki Gara agar tak sembarangan berbicara di tempat umum.

Orang-orang yang mendengar percakapan mereka sepertinya berdehem. Ana merasa sangat malu.

"Maksud gue gak mau cewek lo salah paham! lain kali kalo ngomong tuh dijaga mulutnya!"

"Sumpel coba pake bibir lo!"

"Matimuda aja sana, Gara mahendra!"

Tanpa Ana sadari, Gara tersenyum manis sambil mencium aroma rambut Ana yang tercium lembut.

****

Ana segera turun dari bis, menjauhi Gara meski cowok itu tak berusaha mengganggunya lagi.

Gara terus menatap punggung Ana. Terpesona karena helaian rambut ash brown gadis itu melambai tertiup angin.

Merasa dipandangi, Ana menoleh dan mengacungkan jari tengah pada Gara ''Jangan liat-liat! inget, kita bukan siapa-siapa di sekolah!" desisnya

Cowok itu malah tersenyum, dan mengedipkan satu matanya sampai Ana merasa mual.

Tepat saat itu Dasa muncul. Lagi-lagi menepuk bahu Gara dan berjalan disebelahnya.

Ana langsung pura-pura tak peduli dan melangkah kedepan Gara. Sementara Dasa tak menyadari interaksi mereka barusan.

"Morning, boyfriend!" Sapa Dasa

"Morning cantik!" Sahut Gara dengan lantang

Ana yang mendengar obrolan itu langsung merinding. Bisa-bisanya Gara menyembunyikan fakta bahwa dia tinggal bersama cewek lain selain Dasa.

Padahal sapaan pagi saja masih seromantis itu

"Berangkat jalan lagi? Mobil lo masih dibengkel?" tanya Dasa

"Masih, kenapa emang?"

"Gimana kalo gue anterin pulang aja nanti?" Dasa menawarkan tumpangan karena dia juga bisa menyopir mobil sendiri.

"Gak usah repot-repot, lagian sepulang sekolah nanti, gue ada latihan basket" ucap Gara

"Gak repot sama sekali kok, lo lagi kenapa sih balakangan ini? Telepon sama chat gue juga gak dibales"

"Gak kenapa-kenapa, kan kemarin udah gue anterin lo ke mall, udah gue traktir juga"

"Lagian lo mau dikabarin apa lagi sih sama gue? harus gue pap gitu kalo gue lagi di toilet?" celoteh Gara

Ana menahan geli saat mengingat ia dan Gara pernah memakai kamar mandi berdua tanpa sepengetahuan Dasa.

"Lo bisa kabarin gue kapan aja, tentang apa aja" sahut Dasa "Karena lo cowok gue kan?"

Dasa bertanya sambil melirik punggung Ana yang berjarak lima meter dari langkahnya dan Gara.

Namun belum sempat Gara menjawab, Dasa sudah menemukan sesuatu yang janggal dari cowok itu..

"Lho apa ini Gara" tanya Dasa

"Apaan?" tanya Gara

Dasa menyentuh kemeja seragam Gara yang bernoda lipstik, lalu menyipitkan mata

"ini... Bekas lipstik siapa?"

Deg!..

Ana mendengar itu dan seketika menegang meski sambil terus melangkahkan kaki di koridor.

Entah kenapa perjalanan dari gerbang ke kelas terasa jauh sekali ketika dia berjalan didepan Dasa dan Gara.

Sementara itu, Gara malah tersenyum "Tadi di bis gue tabrakan sama tante-tante, aneh orangnya, agak genit juga megang otot-otot gue" Jawab Gara jenaka

Dasar nyebelin!

Bisa-bisanya Gara menyamarkan Ana menjadi tante-tante aneh dan mesum begitu!

Lagi pula Ana tidak pegang-pegang, gadis itu hanya tidak sengaja memegang otot-otot Gara dan mengaguminya diam-diam.

"Ih,, ternyata pelecehan itu, gak hanya pada cewek doang ya" komentar Dasa

Ugh, Memalukan! Awas aja nanti Gara Mahendra! Ana Friendlyna akan balas dendam dengan kelakuan tengilnya itu!..

***

Terpopuler

Comments

pipi tembem

pipi tembem

suka cerita nya...

2025-03-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!