Anin dengan segera memasuki rumahnya, namun rumah itu terlihat sangat sepi tidak ada yang membukakan pintu sama sekali.
"Neng Anin," ujar Ibu Asih tetangga dekat rumahnya, menghampiri Anin yang masih berdiri di depan pintu.
"Bu Asih... ! Bu Asih tahu tidak kenapa rumah Anin sepi, seperti tidak ada orangnya?" tanya Anin pada Bu Asih.
"Loh Neng Anin tidak tahu kalau Ayah Neng Anin itu masuk Rumah sakit?" tanya Ibu Asih dengan wajah binggung.
"Ayah masuk Rumah Sakit?" tanya Anin dengan terkekut.
"Sudah dua hari ini Ayah Neng Anin di rawat karena terkena serangan jantung," ujar Bu Asih.
"Jantung?" lirih Anin dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Ayah Anin di rawat di mana bu?" tanya Anin dengan wajah yang pucat.
"Pak Salim di rawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin," jawab Bu Asih.
"Terima kasih Bu," ucap Anin yang langsung berlari menuju jalan untuk mencari tukang ojek.
"Kenapa Neng Anin tidak tahu kalau Ayah nya di rawat," gumam Bu Asih dengan binggung dan berjalan kembali kerumahnya.
Anin yang sudah sampai di Rs Hasan Sadikin langsung menuju meja informasi untuk menanyakan di ruangan mana Ayahnya di rawat.
"Ayah," ujar Anin yang langsung berlari masuk kedalam ruang rawat saat melihat Ayah nya terbaring di atas tempat tidur dengan tangan yang di infus.
"Anin," ujar Ibu Tika yang merasa kaget melihat Anin yang sudah masuk kedalam ruang rawat.
"Ayah," lirih Anin mengusap wajah Ayahnya.
"Anin," ujar Pak Salim.
"Ayah kenapa tidak memberitahu Anin kalau Ayah sakit?" tanya Anin dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Ayah tidak papa sayang," ucap Pak Salim.
"Tidak papa bagaimana? Ayah ini sampai masuk Rs masih bilang tidak papa," gerutu Anin masih dengan terisak.
"Anin, Ayahmu ini sudah baikan," ujar Bu Tika mengelus punggung Anin.
Anin yang mendengar perkataan Bu Tika langsung menggerakan punggungnya agar tangan Bu Tika lepas dari punggungnya. Dengan tatapan tajam Anin menatap Bu Tika yang tersenyum padanya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena tidak memberitahu dirinya kalau Ayah masuk Rumah Sakit.
Anin yang menjaga Ayahnya, menatap wajah tua yang sedang tertidur. Wajah itu terlihat pucat dan tubuh Ayah pun terlihat agak kurusan.
"Tante, bisa berbicara di luar?" tanya Anin dengan suara yang sangat pelan agar Ayah tidak terbangun.
"Tentu saja bisa," jawab Bu Tika.
Anin pun langsung keluar dari ruang rawat Ayahnya yang diikuti oleh Ibu Tika.
"Ada apa Nak?" tanya Bu Tika.
"Tante Tika, kenapa Tante tidak memberitahu Anin kalau Ayah masuk Rumah Sakit?" tanya Anin dengan suara yang sangat marah, kemarahan yang sudah ditahannya sejak kemarin karena ulah Anaknya.
"Ayah Anin, yang melarang Ibu untuk memberitahu Anin," ujar Bu Tika dengan suara yang pelan.
"Bohong!" bentak Anin dengan suara yang tertahan. "Tante sengaja kan ingin membuat Ayah jauh dari Anin." ujar Anin dengan tajam.
"Anin, ibu tidak pernah berniat seperti itu. Ayah Anin yang tidak mau memberitahu Anin karena takut merepotkan Anin dan tidak ingin membuat Anin sedih." ujar Ibu Tika dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kalian Ibu dan Anak datang kedalam kehidupan kami, dan dengan seenaknya merusak kebahagiaan aku dan Ayah," ujar Anin dengan suara yang sangat tegas menatap Ibu tirinya dengan tatapan mata yang tajam.
"Anin, Ibu----"
"Kau bukan Ibu ku," Ujar Anin dengan tegas.
"Sekali lagi kau menyembunyikan tentang keadaan Ayah, aku Anindita akan membuat kau pergi dari rumahku.... !" ujar Anin yang langsung meninggalkan Ibu Tika yang terlihat sedih dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Anin pun langsung pergi dan masuk kembali ke ruang rawat, meninggalkan Ibu Tika yang masih berdiri dengan isak tangisnya.
"Adam mana?" tanya Pak Salim yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Mas Adam sibuk, jadi Anin ke sini sendirian" ujar Anin menggenggam tangan Ayahnya.
"Anin lebih baik pulang, Ayah sudah baikan."
"Anin akan di sini sampai Ayah pulang," ujar Anin.
"Tapi Anin,.... " Pak Salim tidak meneruskan perkataannya dan tersenyum pada putrinya.
Ibu Tika yang berada di satu ruangan yang sama hanya bisa terdiam, melihat keakraban anak tiri dan suaminya itu.
Anin meminta ijin keluar ruangan pada Ayahnya untuk menghubungi Mita, Anin memberitahu Mita untuk pulang ke Jakarta lebih dulu karena Ayah nya masuk Rumah Sakit. Anin pun meminta ijin pada Pak Andre tidak bisa masuk kerja.
Anin lalu berjalan ke arah ruangan Dokter yang menangani Ayahnya.
"Selamat siang Dok," ujar Anin.
"Siang, silahkan masuk." ucap Dokter tersebut.
"Dok, saya Anin putri dari Pak Salim. Saya ingin menanyakan kondisi Ayah saya," ucap Anin yang sudah duduk di depan meja Dokter Spesialis Jantung.
"Keadaan Pak salim sudah membaik, dan sebaiknya harus lebih banyak beristirahat jaga pola makannya. Dan di usahakan jangan terlalu banyak pikiran yang berpengaruh pada tekanan darahnya sehingga jantungnya kembali bermasalah," ujar Dokter menjelaskan pada Anin.
"Tapi Dok, Ayah saya kenapa bisa menderita jantung? karena selama ini Ayah tidak punya riwayat penyakit jantung?" tanya Anin.
"Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang terkena penyakit jantung, karena usia yang sudah tua, pola makan yang tidak sehat, tekanan darah yang tinggi, gaya hidup dan masih banyak yang lainnya," jawab Dokter.
Anin pun mengingat kembali riwayat penyakit Ayahnya yang memang punya tekanan darah tinggi.
"Baik Dok, terima kasih atas penjelasannya."
Anin pun langsung keluar dari ruangan Dokter Spesialis jantung dengan langkah yang gontai, Anin merasa dilema dengan keadaannya saat ini. Ingin rasanya ia bercerita pada Ayahnya tentang permasalahan rumah tangganya, tapi Anin takut penyakit jantung Ayahnya yang sudah membaik akan kembali kumat.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan!" lirih Anin.
Dan saat Anin masuk kedalam ruangan Ayahnya, Anin sangat terkejut dengan apa yang dilihat. Mas Adam dan Alya ada di dalam ruang rawat Ayahnya.
"Anin," ujar Pak Salim yang melihat Anin berdiri di depan pintu.
Mas Adam dan Alya secara bersamaan langsung menatap pada dirinya.
"Sini Nak, lihatlah suamimu sungguh baik. Menyempatkan diri untuk menjenguk Ayah," ujar Pak Salim dengan tersenyum.
Anin yang melihat senyuman Ayahnya, hanya bisa terdiam dengan senyum yang dipaksakan kepada Mas Adam.
Anin yang duduk di sebelah Mas Adam hanya mendengarkan pembicaraan antara Ayahnya dan Mas Adam, sementara Alya terlihat mengobrol bersama Ibunya dengan sesekali memegang tangan Ibunya.
Setelah setengah jam, Anin dengan terpaksa ikut bersama Mas Adam untuk pulang kerumah Ayah untuk mengganti pakaiannya.
"Anin, aku...."
"Aku tidak ingin membicarakan apa pun," potong Anin tanpa menatap kearah Mas Adam.
Dan sepanjang perjalanan Adam dan Anin hanya terdiam, Anin menatap jendela mobil samping sedangkan Adam menatap lurus kedepan fokus kejalanan.
Anin yang sudah sampai di rumahnya langsung masuk kedalam kamarnya, "Kau mau apa?" tanya Anin yang melihat Mas Adam mengikutinya dari belakang.
"Tentu saja ikut masuk kedalam kamarmu," ujar Adam menatap manik manik hitam Anin yang seperti hendak keluar.
"Masuk saja ke kamar istri tercintamu itu!" bentak Anin dengan keras. Anin akhirnya bisa dengan bebas meluapkan emosi yang ditahannya sejak di rumah Sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
Adam, CEo hebat se Indonesia, tapi ko pin2 bo ya, sm perempuan takluk. pengen tonjok aku😫
2024-03-18
2
anisa
kalo aq di posisi Anin...pasti sakit hati dan marah juga terhadap adam dan alya 😣
2023-12-28
0
⏤͟͟͞Rꦻ나의 사랑
untungnya Anin punya sikap keras kepala jadi ga bisa di tindas
2023-12-24
0