Anin yang berada di dalam taksi online nya terus berfikir semua perkataan yang di ucapkan oleh Mita, Anin tidak mau memaksa agar Mita memberitahu dirinya siapa istri siri Mas Adam. Karena Mita berkata kalau Mas Adam sudah berjanji akan memberitahu dirinya siapa wanita itu.
Setelah sampai di rumahnya, Anin melihat mobil Mas Adam sudah terparkir di halaman rumahnya. Anin berjalan gontai masuk kedalam rumah dan terkejut mendapati Alya yang sedang duduk di ruang tamu seorang diri.
"Alya... !" ujar Anin dengan wajah yang terkejut.
"Anin," ucap Alya tersenyum pada Anin.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Anin, dan entah mengapa perasaannya mulai tidak enak melihat kedatangan Alya di rumahnya.
"Aku,----" Alya terdiam dan menundukan kepalanya.
"Aku yang membawanya kemari," ujar Adam berjalan mendekati Alya dan Anin
"Ada apa ini?" tanya Anin menatap Mas Adam yang berdiri di samping Alya.
"Duduklah dulu," ujar Adam dengan suara yang datar.
Anin pun duduk dengan menatap wajah Mas Adam yang terlihat datar namun ada satu ekspresi yang tidak bisa di tangkap oleh Anin. Dan Anin pun menatap pada Alya yang sedang menundukan kepalanya.
"Ada apa ini?" tanya Anin kembali.
Namun hening tidak ada yang bersuara sama sekali, Mas Adam terdiam dengan menatap wajahnya sedangkan Alya masih dengan menundukan kepalanya.
"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan, aku mau masuk aku lelah." ucap Anin yang hendak berdiri namun di tahan oleh Mas Adam, dan dengan terpaksa Anin kembali duduk dengan menatap keduanya.
"Aku ingin memberitahumu, kalau Alya adalah istri sirihku." ujar Adam dengan suara datarnya masih menatap wajah Anin dengan lekat.
"Apa... !" seru Anin dengan nada yang tinggi. "Kau itu bicara apa?" tanya Anin dengan wajah yang mulai pucat.
"Kak Anin maafkan aku," lirih Alya menatap wajah Anin dengan perasaan bersalahnya.
"Alya adalah wanita yang aku nikahi seminggu sebelum hari pernikahan kita," ujar Adam masih menatap wajah Anin.
"Kau gila," bentak Anin menatap tajam pada Mas Adam.
"Kak Anin jangan salahkan Mas Adam, aku yang ---" Alya tidak bisa meneruskan kata- katanya dan hanya bisa menangis.
Anin yang masih binggung mendengar perkataan Mas Adam dan juga Alya, hanya bisa terdiam. Saat ini dirinya benar-benar tidak bisa mencerna apa yang baru saja di dengarnya. Kalau Alya adalah wanita yang di cintai Mas Adam sekaligus istri sirih Mas Adam.
"Kalian benar-benar gila!" pekik Anin yang langsung berdiri hendak melangkah pergi, namun tangan Mas Adam menahan dirinya.
"Maafkan aku," lirih Adam.
"Kenapa kau membodohiku? kalau kau mencintai Alya seharusnya kau tidak menikahi ku, apa lagi kau tahu aku dan dia saudara tiri. Apa pun alasannya seharusnya kau bisa membatalkan pernikahan kita," bentak Anin dengan emosi dan tak terasa air matanya menetes di pipinya.
"Aku minta maaf," ujar Adam menatap wajah Anin dengan dalam.
"Kak Anin, aku..."
"Diam kau....!" bentak Anin. " Kau juga sama gilanya dengan Dia, kau membiarkan pria yang sudah menikah denganmu menikahiku," ujar Anin menyeka air matanya dan menatap tajam pada Alya.
"Aku mencintai Mas Adam, dan aku tidak punya pilihan selain membiarkan Mas Adam menikah denganmu," ujar Alya dengan isak tangisnya.
Anin yang mendengarkan perkataan Alya hanya tersenyum dengan sinis, menatap tajam kepada adik tirinya itu.
"Aku akan memberitahu semuanya pada Ayah dan aku akan mengurus perceraian kita," ujar Anin menghempaskan tangan Adam dan berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Bagaimana ini... !" ujar Adam mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sabar Mas," ujar Alya mengusap punggung Mas Adam dengan lembut."
"Aku harus bicara pada Anin dan menjelaskan semuanya," ujar Adam hendak pergi ke kamar Anin, namun lengan Alya menahan langkah dirinya.
"Biarkan Kak Anin menenangkan dirinya dulu, aku nanti yang akan menjelaskan padanya," ucap Alya memeluk tubuh Mas Adam dari belakang.
Anin yang kini berada di dalam kamarnya hanya bisa menangis sejadi jadinya, dirinya tidak pernah menyangka kalau Alya adalah madunya. Hatinya benar-benar terluka mendapati kenyataan pahit ini, wanita yang selama ini di bencinya karena sudah mengambil kasih sayang Ayahnya. Kini juga mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya, atau kah dirinya yang mengambil Mas Adam dari Alya. Anin benar-benar binggung dengan situasi yang di hadapinya ini. Namun satu yang pasti, besok dirinya akan pulang ke rumah Ayahnya dan menceritakan semuanya. Agar dirinya bisa segera mengurus perceraiannya dengan Mas Adam.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Anin langsung pergi dari rumah Mas Adam secara diam-diam. Anin meminta bantuan pada Mita untuk mengantar dirinya pulang ke rumah Ayahnya.
"Sejak kapan kau tahu Alya istri sirih Mas Adam?" tanya Anin yang sudah duduk di samping Mita yang sedang mengendarai mobilnya.
"Tepat tiga hari saat aku datang ke Jakarta," jawab Mita.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" ujar Anin dengan wajah yang sangat kecewa, karena Mita sudah tahu lama tapi tidak memberitahunya.
"Aku ingin sekali memberitahumu, tapi pada saat itu Adam dan Alya memohon agar tidak memberitahumu dulu. Adam bilang dia yang akan mengatakannya langsung padamu," ujar Mita.
"Mit, dia itu saudara tiri ku!" seru Anin dengan wajah yang bersedih dan kembali menangis.
"Maafkan aku Nin, dan menangislah agar hati mu bisa plong," ujar Mita memegang bahu sahabatnya itu dengan mata yang tetap fokus kearah jalan.
"Aku benci mereka," teriak Anin melepaskan semua sesak yang ada di dadanya.
"Tapi Nin, ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal di pikiranku."
"Apa?" tanya Anin dengan menyeka air matanya.
"Apa kau tidak merasa aneh? karena semua ini sangatlah kebetulan sekali kalau Alya itu istri sirih Adam," ujar Mita dengan wajah yang serius.
"Maksudmu?" tanya Anin tidak mengerti.
"Apa kau tidak merasa curiga, Adam itu tinggal di jakarta lalu bagaimana cara mereka bertemu? apa benar ini semua hanya kebetulan? ataukah semua ini hanya kebetulan yang di sengaja?" tanya Mita membuat kepala Anin semakin pusing.
"Aku tidak tahu," jawab Anin dengan singkat, dirinya sangat malas untuk memikirkan semuanya, bagi Anin semuanya sudah jelas. Adam dan Alya sudah membodohinya dan membohongi dirinya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, Anin pun sudah sampai di depan halamanan rumahnya.
"Kau yakin tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Mita.
"Tidak papa Mit, terima kasih kau sudah mengantarkan ku," ujar Anin tersenyum pada Mita.
"Oke, kalau kau butuh apa pun kau hubungi aku. Aku akan pulang kerumah ku," ujar Mita, yang dijawab anggukan kepala oleh Anin.
Anin menatap mobil Mita yang terlihat semakin menjauh dari pandangannya, dengan menarik nafasnya. Anin pun melangkahkan kaki kedalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Wahyunni Winarto
😭😭😭😭
2025-03-17
0
Subaedah
kenapa harus alia orang yg paling di benci sama anin
2024-02-21
2
Anonim
woooww
2023-12-25
0