Setelah mengetahui semua tentang Mas adam, Anin semakin yakin untuk mencari tahu siapa madunya itu. madu yang sangat dicintai oleh Mas Adam.
"Woi... !" seru Mita membuat Anin langsung tersadar dari lamunannya.
"Mit, bikin kaget aja!" pekik Anin sambil mengelus dadanya.
"Kamu itu melamun saja! dari tadi aku ketuk pintunya tidak dibuka juga. lagi apa sih?" tanya Mita.
"Aku lagi baca profil tentang Mas Adam," ujar Anin.
"Profil Mas Adam?" tanya Mita dengan mengangkat kedua alis matanya.
"Mit, kau tahu tidak Mas Adam itu ternyata seorang pembisnis yang sangat terkenal. bahkan perusahaan dia itu,----"
"Perusahaannya itu No satu di Indonesia!" ujar Mita memotong pembicaraan Anin.
"Kok kamu tahu?" tanya Anin dengan mengerutkan keningnya.
"Tentu saja aku tahu, semua orang juga tahu. memangnya kamu tidak tahu siapa suamimu itu?" tanya Mita yang dijawab gelengan kepala oleh Anin.
"Ya ampun Anindita," pekik Mita dengan menepuk bahu Anin.
"Sakit tahu," gerutu Anin mengelus bahunya.
"Habis kamu itu bikin orang senewen saja, masa kamu itu tidak tahu apa pekerjaan suamimu," ujar Mita menggelengkan kepalanya.
"Memang aku tidak tahu," jawab Anin dengan enteng. "Mit, kamu mau tidak temani aku cari tahu siapa istri sirih Mas Adam?" tanya Anin.
"Maksudmu?" tanya Mita dengan binggung.
"Rencananya hari sabtu ini, aku akan mengikuti Mas Adam untuk mencari tahu siapa maduku?" tanya Anin menatap pada Mita yang duduk di depan meja kerjanya.
"Kamu serius mau nyelidik Mas Adam?" tanya Mita.
"Seriuslah," ucap Anin dengan tegas.
"Baiklah aku ikut," ujar Mita.
"Thank you," ucap Anin tersenyum manis pada sahabatnya.
"Ya sudah aku balik keruanganku dulu, dan jangan lupa kalau hari ini kita pulang bareng!" ujar Mita yang langsung pergi dari ruangan Anin.
Setelah jam pulang kerja, Anin pun pulang bersama Mita dengan di antar oleh mobil Pak Andre.
"Kalian ini tega sekali membuatku terlihat seperti seorang supir," ujar Andre menatap ke arah spion melihat dua wanita yang duduk dikursi belakang.
"Sekali - sekali boleh dong membuat seorang pemimpin perusahaan jadi supir karyawannya." ujar Mita meledek sepupunya itu
"Mit," ucap Anin menyenggol tangan sahabatnya itu. "Kamu duduk di depan, kasihan kan Pak Andre," ujar Anin merasa tidak enak melihat Atasannya itu duduk dikursi pengemudi sendirian.
"Kalau kau mau, kau saja yang duduk di depan!" seru Mita menggoda Anin, yang langsung mendapatkan pukulan dari Anindita.
Mita dan Anin pun kembali tertawa, mereka berdua asik dengan pergosipan para wanita tanpa mempedulikan Andre sama sekali. Andre yang menatap wajah Anin dari kaca spion mobil merasakan getaran yang semakin kuat di dadanya.
Andre melihat wajah Anin yang putih dengan mata coklat, dan bibirnya yang tipis membuat wajah Anin terlihat sangat manis. banyak wanita yang lebih cantik dan sempurna yang pernah di temui oleh Andre, tapi entah mengapa penampilan Anin yang sederhana dengan make up tipis di wajahnya. mampu membuat Andre tidak berpaling ke arah wanita cantik mana pun.
"Terima kasih Mas Andre", ujar Anin pada Pak Andre yang kini ada di sampingnya bersama Mita yang juga ikut turun.
"Sama - sama," ucap Andre yang masih menatap wajah Anin dengan Intens.
"Woi, udah liatnya. nanti kena marah lakinya loh!" seru Mita menepuk lengan Andre.
Membuat Anin dan juga Pak Andre langsung salah tingkah, mereka bertiga pun akhirnya tertawa bersamaan. tanpa Anin sadari dari dalam rumah ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.
Setelah melihat mobil Pak Andre menjauh, Anin pun dengan segera memasuki rumahnya."Tumben sekali Mas Adam sudah pulang," gumam Anin yang melihat mobil Mas Adam sudah ada di halaman rumahnya.
Anin yang sudah masuk kedalam rumah melihat Mas Adam yang sedang duduk diruang tengah dengan tangan yang bermain di atas laptop.
"Di antar oleh siapa?" tanya Mas Adam dengan suara datarnya, membuat Anin menghentìkan langkahnya.
"Teman," jawab Anin yang hendak berjalan kembali kedalam kamarnya.
"Aku harap kau tahu batasannya dalam berteman, apalagi berteman dengan seorang pria!" Ujar Adam yang kini menetap wajah Anin dengan tajam.
"Maksudmu?" tanya Anin yang merasa tersinggung dengan perkataan Mas Adam padanya.
"Kau tahu betul maksudku," ucap Adam dengan suara yang tegas.
Anin yang mendengar perkataan Mas Adam pun langsung tertawa dengan keras.
"Kenapa kau tertawa, tidak ada yang lucu di sini!" ujar Adam semakin menatap Anin dengan tajam.
"Tentu saja ada yang lucu, kenapa mahluk yang bernama pria itu egois. dia mengatakan padaku agar tahu batasan ku dalam berteman, sementara dirinya dengan seenaknya hidup dalam pernikahan yang berpoligami alias memiliki lebih dari satu istri." ujar Anin dengan senyum sinisnya.
Adam yang mendengarkan perkataan Anin langsung menutup laptopnya. "Apa kau lupa, dalam agama kita itu di perbolehkan memiliki lebih dari dua istri. sedangkan wanita tidak di perbolehkan untuk memiliki lebih dari satu suami." ucap Adam berjalan mendekat kearah Anin.
"Jangan membawa masalah agama di dalam perdebatan ini, lagi pula dalam pernikahan yang bagaimana dulu yang boleh berpoligami!" ujar Anin yang semakin memundurkan langkahnya karena Adam semakin mendekat.
"Memangnya apa yang kau ketahui soal berpoligami? aku rasa aku sudah bersikap cukup adil padamu dan istri sirihku." seru Adam yang sudah menghimpit
tubuh Anin.
"Adil katamu?" ujar Anin dengan tertawa sinis. "Kau mencintainya tapi tidak mencintaiku? apa itu yang di katakan adil?" tanya Anin yang sudah mulai terpojok di dinding dan tidak bisa lagi untuk memundurkan langkahnya.
"Jadi kau ingin aku mencintaimu?" bisik Adam di telinga Anin yang membuat bulu kuduk Anin berdiri.
"Aku tidak sudih dicintai oleh pria sepertimu!" ujar Anin dengan sinis.
"Lelaki sepertiku? memangnya apa yang kau tahu tentangku?" ucap Adam menarik dagu Anin membuat wajah Anin sangat dekat dengan wajahnya.
"Kau itu pria brengsek yang sudah membohongiku," teriak Anin.
"Aku pria brengsek? aku akan tunjukan seperti apa pria brengsek itu, "Adam langsung mencium bibir Anin dengan paksa. membuat Anin langsung memukul dada Adam dengan sangat keras.
"Itu yang dinamakan pria brengsek, yang akan mencium wanita dengan cara paksa." ujar Adam yang sudah melepaskan ciumannya.
"Plak...!" Anin menampar pipi Mas Adam dengan sangat keras. Membuat Adam terkejut karena sudah di tampar oleh wanita yang berstatus istrinya itu.
"Kau itu memang ********!" bentak Anin dengan air mata yang menetes di kedua matanya. Anin yang hendak berlari menuju kamarnya langsung di tahan oleh tangan Adam.
"Kenapa kau menamparku?" tanya Adam dengan kilatan mata yang penuh dengan emosi.
Dirinya seorang Adam Dharmawan tidak pernah di perlakukan seperti itu, apalagi yang melakukannya adalah istrinya sendiri.
"Kau pantas mendapatkannya, karena kau sudah menciumku," bentak Anin.
"Kau marah hanya karena aku menciummu? padahal statusku adalah suamimu! sedangkan kau tertawa bercanda gurau dengan pria lain, kau biasa saja!" ujar Adam yang langsung menghempaskan tangan Anin, dan langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkan Anin yang masih berdiri di tempatnya.
Anin yang kini sudah berada di dalam kamarnya, langsung membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Anin mengingat kembali kejadian tadi, ada perasaan bersalah pada dirinya yang sudah Menampar Mas Adam, pria yang berstatus sebagai suaminya dan sudah bertanggung jawab padanya secara lahir.
Sementara Adam yang berada di dalam kamarnya, hanya terdiam menatap pada sebuah foto yang ada di dalam ponselnya. foto yang selalu menjadi wallpaper di dalam ponselnya, dengan perlahan Adam mengusap foto tersebut dengan tatapan penuh arti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Em Mooney
hadewh... anin. bingung aj sm km
2024-01-29
1
LiNda D'priNcess Zara
gara2 jingga AQ baca lagi😊
2023-12-26
0
⏤͟͟͞Rꦻ나의 사랑
penuh teka teki buat ku galonnnn🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-24
1