"Kenapa Ibu tidak mau di rawat di Rumah Sakit?" tanya Anin sambil memijat kaki Ibu mertuanya.
"Ibu sudah sehat Nak," jawab Ibu Mina tersenyum pada Anin.
"Tapi tadi Bapak, ----"
"Jangan dengarkan Bapakmu itu," ujar Ibu Mina. "Nak, terima kasih sudah mau mewujudkan keinginan terakhir Kakekmu dan Kakek Adam." lirih Ibu Mina mengelus kepala Anin.
Anin yang mendengar ucapan Ibu mertuanya hanya tersenyum penuh arti.
"Ibu tahu, pasti sulit untuk kalian menjalani kehidupan rumah tangga tanpa di dasari oleh cinta. Apalagi kalian pun hanya bertemu sekali." ucap Ibu Mina. "Tapi Ibu yakin cinta pasti akan datang karena terbiasa." ujar Ibu Mina tersenyum pada Anin.
"Andai saja permasalahan penikahanku semudah itu, aku pun setuju dengan peribahasa cinta akan datang karena terbiasa, tapi anakmu sudah menikah dengan wanita lain sebelum diriku. dan aku tidak bisa hidup dalam pernikahan berpoligami," gumam Anin dalam hati.
"Kenapa Nak?" tanya Ibu Mina melihat menantunya yang termenung.
"Tidak papa Bu," jawab Anin sambil terus memijat kaki Ibu mertuanya.
"Ehem... hem."
Anin yang terkaget langsung menatap ke arah belakang, di lihatnya Mas Adam sudah berjalan memasuki kamar.
"Bu," ujar Adam mengambil tangan Ibunya dan menciumnya dengan penuh kasih.
Adam menarik kursi lalu duduk di sebelah Anin. "Bu, ayo kita ke rumah sakit. Adam takut penyakit Ibu---"
"Ibu ini sudah sehat, Bapak mu saja yang terlalu berlebihan sampai menghubungimu dan menyuruhmu datang kemari." ujar Ibu Mina dengan senyum di wajahnya yang sayu.
"Tapi Bu,.... "
"Adam, penyakit Ibu ini cuma satu obatnya." ucap Ibu Mina.
"Apa Bu, biar Adam belikan." seru Adam dengan wajah yang semangat.
"Tapi, obat ini tidak bisa di beli." Ibu Mina Menatap anak dan menantunya bergantian.
"Obat apa yang tidak bisa di beli? berapa pun harganya Adam pasti akan membelinya untuk Ibu."
"Obat itu adalah seorang cucu. Ibu pasti akan cepat sembuh kalau kalian memberikan seorang cucu untuk Ibu." ujar Ibu Mina tersenyum pada anak dan menantunya.
Anin yang mendengar permintaan Ibu mertuanya hanya bisa menelan salivanya dengan susah, sementara Adam hanya diam tanpa ekspresi apa pun. suasana di kamar pun langsung hening seketika.
"Sudah bicaranya nanti lagi, Kalian makanlah dulu!" ujar Pak Andi dari arah depan pintu kamar, membuat keheningan itu langsung mencair seketika.
Dengan segera Anin keluar dari kamar Ibu mertuanya, sementara Mas Adam masih berada di dalam kamar bersama Ibunya. dan entah apa yang mereka bicarakan karena Mas Adam sangat lama di kamar Ibunya, Pak Andi pun akhirnya menyuruh Anin untuk makan terlebih dahulu. Anin yang memang sangat lapar akhirnya makan dengan di temani oleh Bapak mertuanya, setelah selesai makan Anin pun pamit masuk kedalam kamar.
"Anak," gumam Anin sambil tertawa geli. "Bagaimana mau punya anak? kami saja belum pernah berhubungan dan tidak akan pernah!" seru Anin, langsung mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Setelah setengah jam berada di dalam kamar mandi, Anin yang sudah selesai mandi langsung keluar dengan hanya menggunakan handuk di tubuhnya.
"Mandimu itu lama sekali !" seru Adam menatap Anin yang tidak menyadari keberadaan dirinya yang ada di belakang.
"Akh ..." mulut Anin langsung di bekap oleh tangan Adam.
Adam membekap mulut Anin hingga tidak ada jarak di antara mereka. dari jarak dekat Anin bisa melihat wajah Adam yang tampan, matanya yang jernih dan bulu matanya yang panjang membuat wajah itu semakin terlihat tampan.
"Jangan berteriak, nanti Ibu dan Bapak curiga." ujar Adam masih dengan tangannya menutup mulut Anin.
Anin yang mengerti langsung menganggukan kepalanya, dan dengan perlahan Adam melepaskan tangannya dari mulut Anin.
"Kau keluarlah, aku mau mengganti pakaianku." ujar anin dengan tangan yang menutupi bagian atasnya.
"Gantilah di dalam kamar mandi, "ucap Adam dengan singkat.
"Dasar lelaki egois," gerutu Anin.
Dengan menghentakan kakinya, Anin mengambil pakaiannya dan masuk kembali kekamar mandi.
Adam yang mendengar gerutuan Anin hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai memakai pakaian, Anin melihat Mas Adam yang sudah duduk di atas kasur dengan ponsel di telinganya. dari yang di dengar oleh Anin , sudah dapat di pastikan orang yang sedang berbicara dengan Mas Adam pasti istri sirinya.
"Ya nanti, setelah aku pulang aku akan membelikanya," ujar Adam menatap Anin yang sudah berada di depannya.
"Iya, sudah dulu. nanti aku telepon lagi." ujar Adam. lalu menutup ponselnya.
"Kenapa di matikan? tenang saja aku tidak akan menguping pembicaraan kalian." ujar Anin.
"Kenapa? apa kau cemburu melihat aku menelepon istriku yang lain?" tanya Adam dengan suara datarnya.
"Cemburu?" Anin langsung tertawa dengan keras. "Jangan terlalu percaya diri, mencintaimu saja aku tidak. bagaimana mungkin aku cemburu!" Anin langsung mengambil bantal dan selimut dari atas tempat tidur.
"Kau mau apa?" tanya Adam yang melihat Anin meletakkan bantal dan selimut di lantai bawah.
"Aku mau tidur, masa mau berenang." jawab Anin dengan asal.
"Di sini itu dingin, nanti kau bisa sakit kalau tidur di lantai." ujar Adam.
"Aku lebih baik sakit, dari pada harus tidur satu ranjang dengan suami orang." ucap Anin dengan ketus.
"Aku juga suamimu!" ujar Adam.
"Suami sementara." jawab Anin tidak mau kalah.
"Terserah kau saja," ujar Adam yang langsung mengambil laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Anin pun langsung memejamkan matanya, rasa lelah karena seharian di dalam mobil. membuatnya langsung terlelap dalam tidurnya.
Adam yang mendengar suara nafas yang teratur dari bawah lantai, langsung menengok ke arah Anin yang sudah tertidur dengan lelap.
"Kau itu sangat keras kepala" ujar Adam menghela nafasnya dengan panjang.
Dengan perlahan Adam mengangkat tubuh Anin dan membaringkannya di atas tempat tempat tidurnya.
Di tatapnya wajah Anin dari dekat. "Seandainya kau tahu semuanya, apa kau akan semakin membenciku." gumam Adam dalam hati.
Adam mengingat kembali kejadian tempo hari ketika dirinya sedang makan di sebuah restaurant, tanpa sengaja Adam melihat keberadaan Anin yang sedang tersenyum dan tertawa.
Semenjak menikah dan hidup satu rumah dengannya, Adam tidak pernah sekali pun melihat Anin tersenyum apalagi tertawa. tapi di hari itu Adam melihat dengan jelas tawa bahagia dari seorang Anindita. sebuah tawa yang tidak akan pernah di perlihatkan oleh Anindita padanya, pada lelaki yang sudah membuat hatinya hancur di malam pertama mereka.
"Seandainya waktu bisa aku ulang kembali" gumam Adam masih menatap wajah Anin dengan intens.
Dengan perlahan Adam turun dari tempat tidurnya, keluar dari kamar dengan membawa laptop di tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Wahyunni Winarto
owhhh itu klo jd w ga bakalan sudihhh
ihhhj najongg
2025-03-17
0
Atoen Bumz Bums
preeet...uda lama dijodohkan mala cari pasangan
giliran skrg nyesel...
kampreto
2024-07-12
0
Em Mooney
knp sih..,
2024-01-29
1