Keesokan harinya.
Anin yang bertemu dengan Mita di kantor hanya diam saja, tidak menegur atau bertanya apa pun pada Mita. Saat jam istirahat pun Anin langsung bersembunyi dari Mita, Anin masih marah atas kebohongan Mita padanya.
"Anin," teriak Mita berlari kearah Anin.
Anin yang mendengar Mita memanggilnya, hanya diam tidak menjawab sama sekali panggilan Mita.
"Anin," ujar Mita dengan terengah engah. "Kok kamu diam saja aku panggil?" tanya Mita.
"Aku tidak mendengar panggilanmu," ujar Anin dengan cuek.
"What? Anindita mana mungkin kau tidak mendengarnya! kau ini kenapa? seharian ini kau seperti menghindariku." tanya Mita.
"Aku tidak papa," jawab Anin singkat.
"Jangan bohong, aku tahu betul sifatmu itu."
"Kau tahu betul sifat ku, tapi aku yang tidak tahu kalau sahabatku ini punya sifat pembohong." ujar Anin dengan suara yang tinggi.
"Apa maksudmu?" tanya Mita.
"Kau tahu betul maksud ku," jawab Anin dengan sinis.
"Anindita kau ini kenapa?" tanya Mita dengan wajah yang kesal karena dirinya dikatakan pembohong oleh sahabat baiknya itu.
"Kau yang kenapa? sejak kapan kau mulai berbohong padaku?" bentak Anin.
"Berbohong pada mu mengenai apa?" tanya Mita.
"Mengenai Mas Adam," jawab Anin dengan sengit.
"Mas Adam?" tanya Mita dengan mengerutkan keningnya.
"Ada hubungan apa kau dengan Mas Adam?" tanya Anin menatap tajam Mita.
"What? kau mencurigai ku memiliki hubungan dengan Mas Adam?" jawab Mita dengan tersenyum sinis.
"Iya," jawab Anin.
"Anindita, bisa bisanya kau menuduh ku." ucap Mita tak kalah emosi dari Anin.
"Aku tidak akan menuduhmu tanpa bukti," ujar Anin.
"Apa buktinya?" tanya Mita dengan suara yang tegas.
"Kemarin aku melihatmu bersama Mas Adam di Plaza Senanyan," ucap Anin.
"Kamu melihatku?" tanya Mita dengan terkejut.
"Kenapa? apa kau kaget aku memergoki mu dengan Mas adam?" tanya Anin dengan senyum sinis.
Mita kemudian terdiam dan hanya menatap intens kearah sahabatnya itu.
"Nin, kau salah paham." Mita menghela nafasnya dengan berat.
"Salah paham bagaimana? aku melihatmu dengan Mas Adam! " seru Anin.
"Aku memang bersamanya di Plaza Senayan, tapi itu hanya kebetulan." jawab Mita.
"Kebetulan yang sangat Aneh," sindir Anin.
"Dengar Anin aku berbicara dengan suami mu karena aku merasa sikap suami mu itu sudah keterlaluan," ujar Mita. "Dia itu sudah menikah dengan mu dan terlebih lagi dia juga sudah punya istri sirih. tapi dia malah mengajak sekertarisnya ke dalam hotel." ucap Mita.
"Kenapa kau marah Mas Adam membawa sekertarisnya kedalam hotel?"
"Tentu saja aku marah, aku tidak ingin sahabatku itu semakin terluka akibat perbuatnya. Mas Adam itu sudah menyakitimu terlalu dalam dia bahkan tega menikah dengan,----" Mita pun tidak meneruskan perkataanya.
"Menikah dengan siapa? apa kau tahu siapa istri sirih Mas Adam?" tanya Anin yang langsung terlihat serius.
"Maaf Anin aku tidak bisa mengatakannya karena aku sudah berjanji pada Mas Adam untuk tidak memberitahumu," ujar Mita.
"Katakan padaku siapa madu ku? kau kan sahabatku! kenapa kau malah menyembunyikan padaku," ujar Anin dengan memaksa.
"Aku tidak bisa mengingkari janjiku, lagi pula Mas Adam sudah berjanji padaku untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. karena kalau tidak maka aku yang akan mengatakannya padamu," ucap Mita.
Anin yang mendengar semua perkataan Mita hanya bisa terdiam.
"Siapa madu ku? kenapa Mita berkata dia telah menyakitiku," gumam Anindita dalam hati tidak mempedulikan Mita yang tengah berbicara. hatinya dan pikirannya sibuk mencari dan bertanya tanya sosok madunya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
fatin Rahman
Alya madu Anin..🫣
2024-06-28
0
Em Mooney
heh.. ngg peka...
2024-01-29
1
Nartadi Yana
madumu saudara tirimu nin
2023-12-29
0