Keesokan harinya Anin yang sedang duduk di meja makan, hanya diam saja dengan sesekali melirik kearah Mas Adam yang diam tapi dengan raut wajah yang terlihat dingin.
"Maafkan aku.... " lirih Anin sambil menundukan kepalanya.
"Apa kau berkata sesuatu?" tanya Adam menatap Anin yang sedang menundukan kepalanya.
"Aku minta maaf karena sudah menamparmu," ujar Anin dengan menatap wajah Mas Adam hingga membuat mata mereka saling menatap satu dengan yang lainnya.
"Aku memaafkanmu," ujar Adam dengan suara yang datar tanpa ekspresi apa pun.
Anin yang mendengarkan ucapan Mas Adam kini bisa bernafas dengan lega, sejak kemarin malam dirinya selalu dihantui oleh rasa bersalah karena sudah menampar suaminya itu.
"Aku juga minta maaf sudah menciummu dengan paksa," ujar Adam yang membuat Anin langsung tersedak makanan.
"Aku tidak salah dengar? seorang Adam Dharamawan meminta maaf padanya," gumam Anin dalam hati.
"A.. aku memaafkanmu," ucap Anin dengan terbata bata.
"Boleh aku berkata sesuatu?" tanya Anin.
"Silahkan," jawab Adam.
"Kenapa kau menyuruh sekertaris mu untuk mengambil pakaian? seharusnya kau lebih menghargai ku dengan tidak menyuruh wanita lain untuk mengambil pakaianmu di dalam rumah ini," ujar Anin.
"Aku menyuruh Intan karena aku tahu, kau tidak mau menyentuh pakaianku. karena selama ini aku selalu laundry pakaianku sendiri," ujar Adam dengan ekspresi datarnya.
"Aku bukan tidak mau, hanya saja ----" Anin langsung terdiam tanpa bisa melanjutkan perkataannya.
Masa Anin harus berkata kalau dirinya geli jika harus mencuci pakaian dalam milik Masa Adam. walaupun menggunakan mesin cuci tapi tetap saja jika sudah kering tangannya pasti akan memegang dalaman milik Mas Adam.
"Aku tahu... ! tapi karena kau sudah mengungkit untuk menghargai dirimu. maka ambilah!" Adam menyerahkan kunci kamarnya pada Anidita.
"Bukankah ini?" Anin menatap kunci pintu kamar Mas Adam.
"Mulai hari ini kau yang akan mencuci pakaianku!" ujar Adam langsung berdiri dari duduknya meninggalkan Anin yang masih belum mencerna semua perkataannya.
"Tunggu dulu.... !" teriak Anin yang baru sadar dengan yang di ucapkan oleh Mas Adam.
Tapi Mas Adam sudah tidak ada di dalam rumah dan terdengar suara mobil dari halaman rumahnya.
"Ini mulut," Anin langsung menepuk mulutnya sendiri.
Anin merasa menyesal sudah mengungkit masalah Intan, karena sudah membuat Mas Adam menyuruh dirinya untuk mencuci pakaiannya.
................
Di perusahaan milik Pak Andre.
"Bagaimana, jadi tidak mengikuti Mas adam hari inu?" tanya Mita pada Anin.
"Jadi dong," sahut Anin.
"Kalau begitu sepulang kerja kita pulang bareng," ujar Mita.
"Tunggu Mit, kita pulang bareng tapi jangan sama Mas Andre. aku merasa tidak enak jika menyusahkannya, lagi pula kemarin aku jadi bertengkar dengan Mas Adam karena diantar pulang oleh Mas Andre." ujar Anin.
"Bertengkar? kok bisa," tanya Mita.
"Entahlah, Mas Adam bilang agar aku menjaga batasanku dengan berteman dengan seorang pria." ujar Anin.
"Kok Mas Adam berkata seperti itu? seperti orang yang sedang cemburu saja," gerutu Mita.
"Mas Adam cemburu padaku? mana mungkin Mit, karena aku tahu Masa Adam itu tidak mencintaiku," ujar Anin tersenyum kecil.
"Iya sapa tahu saja Mas Adam sudah mulai mencintai istrinya yang baik hati ini," ujar Mita menggoda Anin.
"Jangan Ngaco deh... " ujar Anin menggelengkan kepalanya.
Anin dan Mita pun membahas rencana mereka untuk mengikuti Mas Adam, dan seperti yang telah disepakti. Mita dan Anin pun sekarang sudah berada di depan perusahaan Mas Adam, Mita yang membawa mobil pribadi membuat semuanya jadi lebih mudah.
"Itu mobil Mas Adam!" seru Anin pada mita, saat melihat mobil Mas Adam keluar dari parkiran gedung perusahaan.
Dengan segera Mita pun menginjak pedal gasnya untuk mengejar mobil Mas Adam, setelah mengikuti kurang lebih tiga puluh menit. mobil Mas Adam akhirnya berhenti disebuah hotel.
Mita dan Anin pun melihat Mas Adam turun bersama wanita yang diingatnya bernama Intan yang tak lain adalah sekertaris Mas Adam.
"Mau ngapain mereka di hotel?" tanya Anin dengan wajah yang harap - harap cemas.
"Gila ya laki Loe, masa bawa wanita lain kedalam hotel." ujar Mita dengan geram.
"Mit, kenapa kamu jadi emosi." ujar Anin yang merasa binggung dengan reaksi sahabatnya yang terlihat marah.
"Gimana enggak emosi, sudah tahu dia itu berstatus sebagai seorang suami. tapi dia malah membawa wanita lain kedalam hotel," ujar Mita dengan menggebu.
"Wanita itu sekertaris Mas Adam," ujar Anin
"Aku tahu," ucap Mita.
"Kok kamu bisa tahu? perasaan aku tidak pernah menceritakan perihal Intan padamu." ujar Anin dengan curiga.
"I..itu aku tahu... dari internet yang pernah menampilkan suamimu dengan sekertarisnya." ujar Mita gelagapan.
"Oh,..." ujar Anin menatap Mita yang masih terlihat gugub.
"Kenapa Mita seperti sedang menyembunyikan sesuatu padaku," gumam Anin dalam hati. masih menantap Mita yang terlihat melihat kearah hotel.
"Mita apa mungkin istri Mas Adam itu Intan ya?" tanya Anin.
"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?" tanya Mita menatap Anin.
"Iya kamu lihat sendiri Mas Adam membawa Intan ke dalam hotel," ujar Anin.
"Emm... aku tidak tahu." ujar Mita dengan cuek.
Setelah menunggu di luar hotel sampai dua jam, akhirnya Mas Adam dan Intan pun keluar dari hotel dan mengendari mobilnya. dengan sigap Mita pun menjalankan mobilnya kembali.
Mobil Mas Adam pun berhenti di salah satu rumah, tampak Intan sekertaris Mas Adam keluar dari mobil. Setelah Intan turun mobil Mas Adam pun langsung berjalan kembali.
Mobil Mita pun mengikuti mobil Mas Adam kembali dan akhirnya berhenti di rumah yang tak asing yaitu rumah Mas Adam sendiri.
"Loh Mas Adam kok tidak menginap di rumah istri sirinya?" ujar Anin pada dirinya sendiri. dan Mita hanya diam saja mendengarkan perkataan Anin.
"Mit, berarti benar maduku itu Intan. buktinya seharian ini Mas Adam bersama Intan di hotel," ujar Anin.
"Mungkin saja," jawab Mita masih dengan suara yang cuek.
"Ya sudah Mita aku turun ya, terima kasih sudah mengantarkan ku." ucap Anin.
"Sama- sama," ujar Mita. "Anin, kamu harus lebih hati-hati pada suami mu itu," ucap Mita dengan wajah seriusnya.
"Maksudmu?" tanya Anin tidak mengerti.
"Suami mu itu sepertinya memiliki banyak simpanan wanita," ujar Mita membuat Anin terdiam.
"Aku pulang dulu Nin," ucap Mita yang kini sudah menutup pintu mobilnya dan mengendari mobilnya meninggalkan rumah Anin.
"Kenapa Mita terlihat sangat marah? dan kenapa Mita bisa berbicara bahwa Mas Adam memiliki banyak simpanan." gumam Anin.
Dalam hati kecilnya, Anin merasa ada yang di sembunyikan oleh Mita padanya.
Anin pun langsung masuk kedalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Mas Adam dan dirinya. di meja makan Anin hanya diam saja karena masih memikirkan semua perkataan mita padanya.
Adam yang melihat Anin terdiam dengan wajah yang terlihat kusut terus menatapnya dengan intens.
"Apa kau punya masalah?" tanya Adam.
"Eh tidak, " jawab Anin tanpa menatap wajah Mas Adam.
"Kalau ada yang menggagu pikiran mu, lebih baik kau bicarakan!" ujar Adam masih menatap Anin yang terlihat menghindari tatapannya.
"Kau tidak menginap kerumah istrimu?" tanya Anin.
"Tidak," jawab Adam singkat.
Setelah selesai makan, Anin melihat Mas Adam yang langsung masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa semuanya bertingkah aneh? tadi Mita terlihat seperti marah pada Mas Adam, dan sekarang Mas Adam malah ada dirumah. tidak pergi sama sekali ke rumah istri sirinya, ada apa ini?" gumam Anin mengerutkan keningnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Uti Enzo
cari tau sendiri jangan ma mita
2024-12-16
0
Athallah Linggar
mita tuh istri siri suamimu nin,
2024-09-18
0
Subaedah
jangan sabat kamu mita itu madumu
2024-02-21
3