Keesokan harinya saat Anin sudah bersiap untuk berangkat kerja, dan sedang menunggu ojek online yang sudah di pesannya tadi. dirinya di kagetkan dengan suara Mas Adam yang datang tiba tiba kearahnya.
"Anin, cepat berkemaslah!" ujar Adam.
"Berkemas?" tanya Anin dengan binggung, menatap Mas Adam yang kini berdiri di hadapannya.
"Kita secepatnya harus pulang ke wonosobo karena penyakit Ibu ku kambuh." ucap Adam dengan wajah datarnya namun terlihat sebuah kecemasan di dalam sorot matanya.
Anin yang mendengar perkataan Mas Adam langsung beranjak dari tempat duduknya, dan langsung masuk ke kamar untuk mengepak pakaiannya.
"Gunakan ini!" ujar Adam yang sudah berada di depan pintu kamar Anin dengan sebuah koper di tangannya.
"Untuk apa? aku punya koper ku sendiri" ujar Anin dengan mengerutkan keningnya.
"Apa kau ingin membuat orang rumahku curiga karena melihat suami istri yang membawa kopernya masing masing." ujar Adam dengan suara beratnya.
Anin yang mendengar penjelasan yang masuk akal dari suaminya, langsung mengambil koper itu dari tangan Mas Adam.
"Tunggulah di luar," ucap Anin karena melihat Mas Adam yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Cepatlah!" seru Adam lalu beranjak dari tempatnya berdiri.
Anin membuka koper Mas Adam dan hampir berteriak karena melihat isi koper tersebut yang terdapat dalaman milik suaminya itu.
"Ya ampun melihat pakaian dalam suami ku saja sudah hampir berteriak," gumam Anin mengelus dadanya. "Bagaimana kalau aku melihat,---" Anin langsung menepuk jidatnya sendiri karena sudah berpikiran kotor.
Dan dengan segera Anin memasukan pakaiannya kedalam koper Mas Adam, setelah selesai Anin mendorong koper tersebut menuju ruang tengah dimana Mas Adam sudah menunggunya.
"Kenapa lama sekali?" seru Adam yang langsung mengambil koper dari tangan Anin.
"Eh tunggu dulu, aku tadi sedang memesan ojek online." ujar Anin.
"Tadi sudah pergi dan aku sudah membayarnya." ucap Adam yang terus berjalan menuju mobilnya.
Anin pun langsung masuk ke dalam mobil Mas Adam, di dalam perjalan Anin mencoba menghubungi Pak Andre untuk ijin tidak bisa masuk kerja. dan untungnya Pak Andre memberikan cuti padanya selama tiga hari.
Di sepanjang perjalanan baik Anin dan Adam tidak ada yang bersuara sama sekali, Anin sibuk dengan ponselnya dan Adam sibuk dengan konsentrasinya menyetir mobil. keadaan mobil yang sangat sepi membuat Anin pun mengantuk dan akhirnya tertidur.
Entah berapa lama Anin tertidur di dalam mobil, yang dirinya ingat hanyalah saat Mas Adam membangunkannya untuk makan di sebuah Restaurant.
Perjalanan yang panjang dengan menempuh waktu yang sangat lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mas Adam pun sampai di kota tempat Bapak dan Ibu masa Adam tinggal.
"Assalamualaikum," ucap Adam yang langsung menggandeng lengan Anin.
Anin yang terkejut pun hendak melepaskan genggaman tangan Mas Adam, namun genggaman itu sangat kuat hingga akhirnya Anin pasrah saat mendengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam.
"Pak," ujar Adam langsung mencium tangan Bapaknya yang sudah berdiri di hadapannya.
Anin pun ikut mencium tangan Ayah mertuanya itu.
"Andre, Anin." ucap Bapak Andi kepada anak dan mantunya. "Masuk Nak!" ujar Pak Andi.
Anin dan Adam pun langsung masuk kedalam rumah. Ini adalah pertama kalinya bagi Anin berkunjung kerumah mertuanya, rumah orang tua Mas Adam sangatlah luas dan asri. di sepanjang perjalanan tadi Anin melihat bahwa rumah kedua orang tua Mas Adam adalah yang paling besar di antara yang lainnya.
Anin yang masih canggung dengan Ayah mertuanya hanya duduk dengan diam dan mendengarkan percakapan antara Mas Adam dan juga Ayah Mertuanya itu.
"Kalian pasti lelah, lebih baik kalian istirahat dulu. nanti kalau Ibu sudah bangun, Bapak akan memanggil kalian." ujar Pak Andi
"Baiklah Pak, Adam ke kamar dulu." ujar Adam menatap ke arah Anin. Anin yang mengerti tatapan Mas Adam pun ikut pamit untuk masuk ke dalam kamar.
"Anin masuk dulu ya Pak," ujar Anin dengan sopan dan tersenyum pada Ayah mertuanya itu.
Dengan sedikit gugup Anin pun mengikuti Mas Adam dari belakang, Anin merasa tidak yakin untuk masuk kedalam kamar yang sama dengan Mas Adam.
"Masuklah!" ujar Adam dengan suara datarnya.
Dengan perlahan Anin pun masuk kedalam kamar mas Adam, kamar yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. kamar yang sangat rapih dengan di dominasi oleh warna putih, Anin melihat ke sekeliling kamar dan melihat sebuah pintu yang Anin tebak adalah pintu kamar mandi. dan hanya ada tempat tidur dan juga lemari pakaian di dalam kamar tersebut.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sana!" ujar Adam menatap pada Anin yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Apa kita akan satu kamar?" tanya Anin dengan gugub.
"Tentu saja, kita ini kan suami istri." jawab Adam yang sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Kau kan tahu kita ini,-----"
"Tidak perlu kau jelaskan, kau tidurlah disini. aku tidak akan menyentuhmu," ujar Adam menepuk di sebelah tempatnya berbaring.
"Tapi,----" Anin menatap ke arah tempat yang ditujuk Mas Adam.
"Kalau kau tidak mau, tidur saja dilantai!" seru Mas Adam dengan suara datarnya.
"Enak saja, kenapa tidak kau saja yang tidur di lantai?" sungut Anin.
"Ini kamarku dan ini tempat tidurku, kalau kau tidak mau tidur satu ranjang dengan ku. kenapa aku yang harus tidur di lantai?" ujar Adam yang sudah mulai memejamkan kedua matanya.
"Kau,--" teriak Anin dengan suara tertahan, karena tidak ingin membuat semua orang rumah Mas Adam terkaget mendengar teriakannya.
Dengan langkah gontai Anin pun duduk di tepi ranjang, dirinya tidak mau berdebat dengan Mas Adam. dalam diam Anin pun hanya memainkan ponselnya dan berbalas pesan dengan Mitha, Anin menanyakan kabar Mita karena hari ini adalah hari pertama Mitha Masuk kerja. dan tak terasa sudah satu jam Anin bermain dengan ponselnya.
"Tok... tok " suara pintu yang di ketuk mengagetkan Anin.
Anin menatap kebelakang dan melihat Mas Adam yang tertidur dengan lelap, dengan perlahan Anin pun membuka pintu kamar.
"Bapak," ujar Anin melihat pada Ayah mertuanya yang berdiri di depan pintu kamar.
"Apa Adam sudah bangun?" tanya Pak Andi.
"Mas Adam masih tidur Pak," jawab Anin.
"Bapak hanya ingin memberitahu, Ibu sudah bangun. dan barangkali Nak Anin lapar, makanannya sudah di siapkan di meja makan." ucap Pak Andi.
"Ibu sudah bangun? boleh Anin melihatnya Pak?" tanya Anin.
"Tentu boleh Nak, Ibu juga ingin melihat menantunya." ujar Pak Andi dengan tersenyum."Biar Bapak antar ke kamar Ibu ya," ujar Pak Andi. Anin pun mengikuti Ayah mertuanya dari belakang.
"Assalamualaikum bu," ucap Anin saat memasuki kamar Ibu mertuanya.
"Waalaikumsalam Nak, kemarilah!" ujar Ibu Mina.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Anin saat sudah duduk di samping Ibu mertuanya.
"Alhamdulilah keadaan Ibu sudah lebih baik," ucap Ibu Mina.
"Ibu Mertuamu itu masih sakit, tapi tetap tidak mau di rawat di rumah sakit." ujar Pak Andi.
"Ibu sudah mendingan Pak," ucap Ibu Mina menatap suaminya dengan tatapan sayu.
"Sudahlah Bapak tinggal keluar dulu," Pak Andi pun langsung keluar dari kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
iviku uu
wong woonosobo nih min/Drool/
2024-03-15
1
Em Mooney
yach tinggal tdr dilantai nin... gengsi donk. palingan nanti kl dah tdr paksu ngg tega. trs diangkat ke kasur
2024-01-29
1
Anonim
Anin..Anin...sempat2nya kau punya pikiran kotor wkwkwk
2023-12-24
1