Hari Minggu.
Anin yang biasanya bermalas - malasan di hari liburnya terpaksa menyiapkan sarapan untuk Mas Adam, karena Mas Adam tidak pergi menginap ke rumah istri sirihnya. setelah selesai menyiapkan sarapan pagi Anin pun langsung masuk kedalam kamarnya.
Anin yang masih merasa sangat binggung dan kacau, lebih memilih untuk masuk kedalam kamarnya karena tidak ingin bertatap muka dengan Mas Adam.
Anin pun kembali mengingat kejadian kemarin, saat
dirinya melihat Masa Adam yang masuk kedalam hotel bersama Intan. dan juga sikap Mita yang terlihat sangat marah pada Mas Adam.
Anin yang masih berada di dalam kamarnya hanya bisa termenung di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Dan beberapa jam kemudian. "Akhirnya Mas Adam pergi juga," gumam Anin ketika mendengar suara mobil Mas Adam yang keluar dari halaman rumahnya.
Anin pun langsung menuju kelantai bawah untuk sarapan, tapi kata yang lebih tepat adalah makan siang. karena jam di dinding rumahnya menunjukan jam dua belas siang.
"Drt... drt," Anin menatap ponselnya sambil tersenyum.
"Ayah," ujar Anin saat mengangkat ponselnya.
"Anin, bagaimana kabarmu Nak?" tanya Pak Salim.
"Kabar Anin baik" ujar Anin dengan tersenyum. "Anin sangat rindu pada Ayah," ucap Anin kembali.
"Ayah juga sangat rindu pada putri Ayah, Anindita yang sangat keras kepala," ujar Pak Salim dengan terkekeh, membuat Anin pun ikut tertawa.
"Ayah tumben telepon Anin? ada apa?" tanya Anin sambil memakan nasi goreng yang tadi dibuatnya.
"Ayah hanya ingin menanyakan kabar putri kesayangan Ayah," ujar Pak Salim.
"Oh, Anin kira ada apa," ucap Anin.
"Anin, apa Alya sering main kerumah mu?" tanya Pak salim membuat Anin langsung tersedak makanan.
"Alya?" ujar Anin dengan tidak mengerti.
"Iya apa Alya sering main kerumah mu Nak?" Pak Salim mengulangi pertanyaannya itu.
"Alya main kerumah Anin? apa Anin tidak salah dengar?" tanya Anin masih dengan wajah binggungnya.
"Loh, apa selama ini Alya tidak pernah main ke rumahmu?" tanya Pak salim.
"Tidak yah, memangnya Alya ada di Jakarta?" tanya Anin.
"Alya sudah hampir tiga minggu ini di Jakarta, dia diterima bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta," ujar Pak Salim.
Anin yang mendengar ucapan Ayahnya hanya diam saja, dirinya tidak perduli dengan segala urusan yang berkaitan tentang Alya dan Ibu tirinya.
"Anin, apa kau dengar perkataan Ayah?" tanya Pak Salim karena Anin diam saja tidak menyahuti perkatannya.
"Anin dengar yah," jawab Anin dengan sangat malas.
"Kalau begitu Ayah tutup teleponnya dulu, Ayah ingin bertanya pada Alya kenapa dia tidak pernah berkujung kerumahmu," ujar Pak Salim dan langsung menutup ponselnya.
"Ayah tung.... !" terdengar suara sambungan telepon yang terputus.
"Kenapa Ayah menghubungi ku hanya untuk menanyakan Alya pernah berkunjung ke rumah ku atau tidak." gerutu Anin yang langsung menghentikan makannya karena sudah tidak berselera makan.
Entah mengapa sesuatu yang bersangkutan mengenai Alya dan Ibu tirinya selalu sukses membuat dirinya kesal. mereka memang tidak pernah berbuat jahat pada Anin, tapi Anin tidak pernah bisa menerima kedatangan mereka di dalam kehidupannya bersama Ayah tersayangnya.
"Lebih baik aku jalan jalan saja," gumam Anin yang langsung masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Anin kini sudah berada di salah satu Mall terbesar di Jakarta, dengan langkah malasnya Anin mengitari Mall tersebut dengan tatapan kesana kemari mencari sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.
Tatapan mata Anin pun berhenti ketika melihat seseorang yang sangat di kenalnya, mata itu kini menatap dengan tajam kearah depan di mana sahabatnya yang bernama Mita sedang berbicara dengan suaminya sendiri yaitu Mas Adam.
"Mita, Mas Adam!" pekik Anin merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Anin merasa tidak percaya bahwa Mita bisa bersama Mas Adam di Mall itu. seingat Anin, Mita hanya sekali bertemu dengan Mas Adam yaitu disaat acara pernikahannya. Tapi kini Anin melihat Mita sedang berbicara dengan Mas Adam seperti seseorang yang sudah lama saling mengenal.
"Ada hubungan apa Mita dengan Mas Adam?" gumam Anin. "Apa jangan-jangan... !" gumam Anin dalam hati dengan wajah yang terkejut.
Anin yang melihat Mita menoleh kearahnya, dengan cepat Anin pun langsung bersembunyi agar tidak ketahuan. Anin pun mengatur nafasnya agar tidak gemetaran, selama sepuluh menit Anin hanya terdiam di balik tembok.
"Kenapa aku harus bersembunyi?" gumam Anin dalam hati. "Ini adalah kesempatan ku untuk bertanya pada mereka!" ujar Anin pada dirinya sendiri.
Dengan menyiapkan mentalnya Anin pun keluar dari tempat persembunyiannya untuk menanyakan pada Mita dan Mas Adam ada hubungan apa mereka selama ini.
Namun setelah keluar dari tempat persembunyiannya, Anin justru tidak lagi melihat Mas Adam dan Mita.
"Kemana mereka pergi?" gumam Anin yang langsung berlari untuk mengejar Mas Adam dan Mita.
Setelah mengelilingi tempat di sekitarnya, Anin tetap tidak menemukan Mas Adam dan Mita. dengan nafas terengah engah Anin pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mita.
"Halo Mit, kamu sekarang lagi di mana?" tanya Anin saat telepon tersebut diangkat oleh Mita.
"Aku di rumah," jawab Mita. "Ada apa Nin?" tanya Mita.
"Ah tidak, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan. apa kau bisa menemaniku?" tanya Anin dengan senyum getirnya.
"Maaf Nin aku tidak bisa, aku sangat sibuk." ujar Mita.
"Oh oke," ujar Anin yang langsung menutup ponselnya.
Dalam diam Anin pun hanya bisa tersenyum sinis, orang yang selama ini telah ia anggap sebagai sahabatnya ternyata bisa berbohong padanya.
Anin yang lelah pun memutuskan untuk pulang kerumah, dan di sepanjang perjalanan pulang dirinya hanya bisa termenung memikirkan kejadian tadi dan kejadian kemarin. entah mengapa Mita berbohong tentang keberadaannya tadi yang sedang bersama Mas Adam. tapi satu yang pasti, sahabatnya itu sudah menorehkan satu kebohongan padanya. Dan jika seseorang sudah berbohong sekali maka akan ada kebohongan yang lainnya.
Anin yang sudah sampai menatap rumah yang terlihat kosong, Anin yakin malam ini Mas adam tidak pulang kerumah. dengan langkah gontai Anin langsung masuk kedalam kamarnya, dirinya kini menatap foto pernikahannya yang tersimpan di dalam laci tepat di samping tempat tidurnya.
Semenjak foto itu jadi, Anin tidak pernah sekalipun menaruh foto itu di dinding atau di atas laci. Dan Anin pun melihat hal yang sama pada Kamar Mas Adam yang sama sekali tidak ada foto pernikahan mereka.
"Pernikahan macam apa ini?" gumam Anin dengan tersenyum getir.
Awalnya Anin di jodohkan oleh seorang pria yang tidak mencintainya, karena sebuah surat wasiat. dan setelah dirinya menikah, Anin justru berada di sebuah pernikahan yang berpoligami. dimana suaminya itu sudah menikahi kekasihnya dulu sebelum menikahinya, dan sekarang sahabatnya sendiri sudah berbohong padanya.
"Begitu sempurna garis takdirku ini!" lirih Anin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Subaedah
kasian kamu nin di permainkan sama takdir.
2024-02-21
2
Em Mooney
udah niin... pisah aj np sih
2024-01-29
0
Anonim
kecian juga kau Anin. Madumu sahabatmu sendiri
2023-12-24
0