Kebohongan Rania

Aluna terkejut lantaran Rania mengatakan jika dirinya berbohong Perempuan itu pun menghentikan aktivitasnya dan mendekati Rania lantas mengambil posisi duduk di sebelah Rania. "Rania, kamu berbohong tentang apa?"

"Tentang mereka tadi," jawab Rania ragu.

"Maksudmu om Adrian dan tante Arleta?" tanya Aluna disambut anggukkan kecil oleh Rania. "Aku masih tidak mengerti. Kamu bisa mengatakan secara jelas!" pinta Aluna.

"Baiklah, aku jelaskan." Rania mengubah posisi duduknya menghadap Aluna. "Kamu pasti tahu tempat kerja suamiku, kan?" tanya Rania.

"Bramantyo Corporation," jawab Aluna.

Aluna terdiam sesaat lantas memekik. "Hah, mereka. Astaga, Rania. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah mereka." Rania berseru kegirangan. "Aku benar-benar beruntung mereka hampir menguasai pasar global, 'kan? Dan pusat perbelanjaan ini juga milik mereka, kan?"

"Iya, mereka juga pemilik utama perusahaan itu. Farel hanya membantu mengelola perusahaan itu," sambung Rania. "Tapi yang aku suka dari mereka itu, meskipun mereka kaya raya, tetapi tidak pernah memandang rendah orang lain."

"Ya, aku bisa melihat itu," ucap Aluna. "Lantas, kebohongan apa kamu maksud?"

"Emmm, itu …?" Rania berpikir sejenak. "Tadi aku mengatakan jika yang datang itu rekan bisnis Farel, 'kan?" ucap Rania kikuk.

"Ya Tuhan, itu kebohongan yang kamu maksud?" tanya Aluna.

"Iya," cicit Rania. Sebenarnya bukan itu, Aluna.

Akan tetapi Rania belum bisa mengatakannya. Ia masih merasa ragu.

"Kamu ini ada-ada saja. Aku pikir hal yang serius." Aluna menggeleng kecil lantas kembali membereskan pekerjaannya.

"Ini sudah sore, ayo kita pulang," ajak Aluna.

"Pulang?" tanya Rania memastikan sebab waktu masih menunjukkan pukul lima sore. "Ini masih jam lima sore. Biasanya kamu pulang jam 7?" sambungnya.

"Urusan rumah tangga sudah diserahkan kembali padaku. Mas Haris juga sudah mengatakan aku boleh bekerja asal tidak boleh mengabaikan pekerjaan rumah dan juga keperluan dia," jelas Aluna. "Aku harus siapkan makan malam untuknya juga," sambung Aluna.

"Harusnya kamu biarkan saja nenek sihir itu mengurus semuanya. Jadi … kamu bisa bebas," gurau Rania.

"Jujur itu akan menambah kesulitan bagiku. Kamu tahu kemana uang itu pergi," ucap Aluna.

"Ya, kamu benar," balas Rania.

"Pembantuku juga sudah kembali bahkan bertambah satu. Jadi aku tidak akan kesulitan," tambah Aluna.

"Bagus kalau begitu." Rania bangkit dari duduknya lantas menyampirkan tali tas ke pundaknya. "Ayo pulang."

"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Aluna.

"Tidak, aku ke sini naik taksi," jawab Rania.

"Kalau begitu ayo, aku akan mengantarmu," ucap Aluna.

"Baiklah. Di mana sopirmu?" tanya Rania.

Sebentar aku telepon dulu. Aluna mengambil ponselnya untuk menghubungi Elgar, tetapi matanya lebih dulu menangkap sosok Elgar sedang berjalan masuk ke tempat itu.

"Dia panjang umur. Kita sedang membicarakannya dan dia datang." Aluna menunjuk Elgar yang baru saja masuk ke ruangannya.

"Heh, kamu di sini, Rania. Masih rindu padaku?" goda Elgar.

"Percaya diri banget kamu!" Rania melempar bantal ke wajah Elgar, tetapi langsung ditangkap oleh pria itu dan meletakannya di tempat semula.

"Tidak kena," ucap Elgar.

"Ya Tuhan bisakan kalian akur sebentar?" tutur Aluna.

"Tidak!" jawab Elgar dan Rania bersamaan hal itu membuat Aluna tertawa.

"Ah, sudahlah terserah kalian," kekeh Aluna.

"Ingat yang aku katakan padamu, Aluna kamu harus waspada padanya." Rania memicik tajam ke arah Elgar, tetapi laki-laki itu justru melipat bibirnya untuk menahan tawanya.

"Baiklah, aku akan ingat itu. Tapi ada yang harus diwaspadai olehnya nanti ketikan dia tinggal dirumahku," ucap Aluna.

"Siapa? Suamimu?" bukan Rania yang bertanya melainkan Elgar.

"Bukan?" jawab Aluna.

"Lantas, siapa?" tanya Rania.

"Sandra," jawab Aluna. "Kamu tahu tentunya, sifat dan perilaku Sandra seperti apa," sambung Aluna.

"Ya, kamu benar. Perempuan itu tidak bisa melihat laki-laki tampan sedikit. Mungkin kambing jantan pakai jas dan memakai jam tangan Rolex pun dia akan suka," ejek Rania yang berhasil memecah tawa Aluna dan Elgar.

"Kamu kejam sekali, Rania," puji Aluna.

"Dia memang begitu. Si lidah pahit," ucap Elgar.

"Tutup mulutmu, Elgar," omel Rania menatap Elgar penuh permusuhan, tetapi tidak dianggap oleh laki-laki itu.

"Rania jangan mulai lagi," tegur Aluna.

"Abaikan dia. Ayo pulang," ucap Elgar membuat Rania misah-misuh. "Berikan barang-barangmu, biar aku yang membawanya," pinta Elgar.

Tidak ada lagi perdebatan. Ketiganya berjalan menuju lift. Elgar pun menekan tombol turun di depan lift. Ketiga menunggu sejenak sampai pintu lift terbuka.

"Kalian tunggu saja di lobi. Aku akan mengambil mobil di basement," ucap Elgar sebelum mereka masuk ke lift.

Lift mulai bergerak turun. Setiap lantai berhenti sebab ada yang keluar maupun masuk. Setelah itu sampailah lift itu di lantai satu. Aluna dan Rania keluar lebih dulu, sedangkan Elgar masih harus turun menuju basement.

Aluna berjalan bersama Rania menuju lobi. Sebelum itu mereka mampir untuk membeli minuman di lantai itu. Setelahnya mereka berjalan ke lobby. Keduanya menunggu Elgar sembari meminum minuman yang mereka beli. Tidak lama juga melihat mobil Aluna yang dikendarai oleh Elgar.

Elgar keluar dari mobil ketika sampai di lobby. Ia membuka pintu belakang mobil untuk Aluna dan Rania

"Kamu lama sekali," ejek Rania.

"Mobil ini melaju, bukan menghilang," sungut Elgar.

Setelah Aluna dan Rania masuk ia berjalan memutar ke sisi lain mobil. Elgar pun masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi. Laki-laki memakai seatbelt dan melajukan mobil itu kembali, membawa kereta besi itu keluar dari area pusat perbelanjaan.

"Elgar ini untukmu." Aluna memberikan satu minuman yang ia beli untuk Elgar.

"Oh, terima kasih." Elgar menerima minuman itu dan meletakkannya di tub holder yang ada di sampingnya.

"Kita antar Rania dulu ya," suruh Aluna.

"Siap, Bos," ucap Elgar membuat Aluna terkekeh.

Jalanan nampak sangat padat sebab bertepatan dengan jam pulang kerja membuat mobil itu terjebak oleh kemacetan. Jika biasanya Aluna akan mengeluh, kini dirinya bisa dengan santai mengobrol dengan Rania. Ia juga merasa nyaman sebab Elgar mengemudi dengan baik.

Sudah hampir 1 jam mereka terjebak oleh kemacetan. Beruntung Elgar menguasai kemudi dengan baik, juga hafal jalan. Laki-laki itu keluar dari jalur, mencari jalan yang tidak padat. Benar saja mereka akhirnya bisa lolos dari kemacetan dan sampai di rumah Rania dengan cepat.

"Aku beruntung Farel mengenalkan aku pada Elgar. Dia tahu jalan dan juga mengemudi dengan baik," puji Aluna.

"Bagaimana tidak, dia raja jalanan," sindir Rania.

"Rania …." Elgar dan Aluna sama-sama menegur Rania.

"Okey, okey, aku tidak akan bicara lagi," ucap Rania sebelum keluar dari mobil. "Sampai jumpa, Sayangku." Rania memeluk serta mencium pipi kanan dan kiri Aluna.

"Sampai jumpa," balas Aluna.

Setelah itu, mobil kembali melaju meninggalkan rumah Rania. Elgar pun kembali mencari jalan lain agar mereka tidak lagi terjebak oleh kemacetan.

"Oh iya, Aluna bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Elgar.

"Silakan," jawab Aluna. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Aluna.

"Mengenai Sandra. Siapa dia? Dan … sepertinya kamu juga Rania tidak menyukai dia?" tanya balik Elgar.

"Dia adik iparku dan yang Rania katakan itu benar. Jadi … aku ingin kamu waspada dengan dia, jangan terlalu dekat dengannya," peringat Aluna.

"Oh, untuk itu kamu tenang saja. Seleraku bukan perempuan biasa, melainkan perempuan yang luar biasa. Contohnya seperti kamu," ucap Elgar.

Eh?

Terpopuler

Comments

Sapna Anah

Sapna Anah

ceritanya ga sesuai sama judul

2025-02-05

1

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Elgar somplak juga spt nya 🤭

2025-02-02

1

Santi Rizal

Santi Rizal

to the poin si elgar

2024-12-15

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!