Kenapa Aku Tidak Boleh Egois

Happy Reading.

Tepat pukul 8 malam Aluna sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Aluna masuk ke rumah. Tidak lupa juga membawa paper bag berisi belanjaannya.

"Bagus sekali jam segini baru pulang!" omel Mona.

Aluna memutar bola matanya, merasa jengah ketika harus mendengar ocehan sang ibu mertua.

"Ya Tuhan, Mama mertua ... aku lelah. Apakah Mama tidak lelah terus mengajak aku berdebat?" tanya Aluna kesal.

"Kamu jadi istri tidak becus bagaimana saya tidak kesal. Kalau kamu setiap hari seperti ini siapa yang akan masak, siapa yang akan beres-beres rumah?" omel Mona lagi.

"Ada Mama sama Sandra, kan?" ucap Aluna. "Kalian juga tidak ada pekerjaan selain makan, tidur, nonton drama, dan belanja. Jadi apa salahnya kalian melakukan sedikit pekerjaan rumah," sindir Aluna.

"Kamu benar-benar sudah berani melawan saya ya," geram Mona.

"Kalian sudah keterlaluan jadi aku pun harus melawan," balas Aluna.

"Mama lama-lama bisa gila menghadapi kamu, menantu kurang ajar!" Makian Mona justru membuat Aluna semakin di atas angin.

Pandangan Sandra dan Mona beralih pada paper bag yang ada di tangan Aluna. Kedua pasang mata itu melebar melihat logo yang menempel di paper bag itu, semuanya dari brand ternama.

"Apa ini?" Sandra meminta secara paksa paper bag yang ada di tangan Aluna. Karena tidak siap Aluna pun terpaksa membiarkan adik iparnya mengambil dan juga melihat isinya.

"Ini baju dan tas. Dan … harganya sangat mahal," ucap Sandra tidak suka.

Bukan hanya adik iparnya, ibu mertuanya pun terkejut dengan apa yang ada hadapan mereka. Barang yang mereka ingin miliki sudah lebih dulu dimiliki oleh Aluna.

"Dari mana kamu medapatkan uang untuk membeli semua ini?" tanya Mona. "Kamu pasti menjual dirimu," tuduh Mona.

"Apa urusannya dengan kalian? Mau aku dapat uang dari mana untuk membeli ini semua, kalian tidak perlu tahu." Aluna mengambil kembali paper bag miliknya dari tangan Sandra. "Ini milikku dan … jangan pernah berharap kalian mau memilikinya," ejek Aluna membuat Sandra dan Mona bungkam. "Sudahlah, aku lelah harus berdebat dengan kalian terus."

Aluna berjalan ke arah anak tangga. Ia melihat sang suami yang baru saja turun dan siap untuk pergi.

"Baru pulang?" tanya Hariz.

"Hmmmm." Aluna bergumam sebagai bentuk respon kepada Hariz. "Kamu mau pergi?" tanya Aluna.

"Ada janji sama teman," jawab Hariz. "Hanya sebentar," imbuhnya.

"Oh," respon Aluna.

"Aku pergi." Hariz mencium pipi Aluna dan berbisik, "kamu cantik. Aku suka kamu yang seperti ini."

Bohong jika Aluna tidak terpengaruh dengan pujian sang suami, tetapi mengingat apa yang telah dilakukan oleh sang suami membuat ia segera menepis perasaan itu.

"Hariz! Lihat istri kamu pergi seharian ternyata untuk menghambur-hamburkan uang kamu," tuding Mona.

Hariz memberi jarak dengan Aluna, keduanya menoleh ke asal suara. Mereka melihat Mona dan Sandra datang mendekat.

"Menghambur-hamburkan uang suamiku?" Aluna tertawa mendengar kalimat yang ibu mertuanya lontarkan. "Mama ngomongin aku apa ngomongin diri Mama sendiri dan anak perempuan Mama yang satu itu?" sindir Aluna. "Asal kalian tahu, aku membeli semua ini dengan uangku sendiri. Apa Mama tidak ingat Mama melarang anak Mama ini untuk memberiku uang," ucap Aluna sinis.

"Lalu kamu dapat dari mana uang untuk membeli semua ini, Aluna. Ini juga brand ternama harganya juga mahal. Di kamar juga aku melihat ada banyak barang-barang baru." Haris menarik lengan Aluna memaksa sang istri untuk melihat ke arah dirinya.

"Aku menjual diriku seperti apa kata Mama kamu. Apa kamu puas?" Aluna melepaskan diri dari Hariz lantas pergi ke kamar meninggalkan suami dan juga keluarganya yang sudah mulai memaki dirinya.

Hariz mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali ke kamar untuk menyusul Aluna.

Di kamar, Aluna menaruh paper bag ke meja dengan sedikit kasar, membuat beberapa barang keluar dari dalamnya dan jatuh ke lantai. Aluna tidak memperdulikan akan hal itu. Suasana hatinya sedang buruk, ditambah lagi Hariz datang menyusulnya.

"Katakan yang sejujurnya, Aluna! Dari mana kamu dapatkan uang untuk membeli semua ini?" tanya Hariz dengan nada tegas.

"Bukankah sudah aku katakan tadi. Aku menjual diriku," jawab Aluna.

Hariz menarik lengan Aluna mencegah sang istri untuk pergi. "Aku mengenal kamu, Aluna! Kamu pikir aku percaya kamu bisa melakukan itu," tampik Hariz.

"Kenapa tidak? Semua orang bisa berubah karena keadaan. Sama seperti sikap kamu yang berubah terhadapku," serang Aluna. "Kamu masih terus menerus membela keluarga kamu yang sudah jelas-jelas salah. Aku muak, Mas. Harus terus mengalah dan terus disalahkan."

"Ya Tuhan, Aluna." Hariz menggusar rambutnya ke belakang merasa frustrasi dengan keadaan itu. "Aku sudah minta maaf dan kamu masih bersikap seperti ini padaku."

"Apa ibu dan adik kamu ada pikiran untuk meminta maaf padaku, hah? Tidak, 'kan? Mereka justru makin terus menindasku jika aku diam saja," sungut Aluna.

"Mama hanya ingin yang terbaik untuk rumah tangga kita," ucap Hariz.

"Terbaik untuk kita atau untuk diri mereka sendiri," hardik Aluna.

"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang benar?" tanya Hariz. "Kamu pergi seharian, berbelanja, sedangkan mama sama adik aku di rumah mengerjakan pekerjaan rumah?" tuding Hariz. "Kamu egois Aluna, sekarang kamu memikirkan dirimu sendiri dari pada memikirkan keluarga ini."

"Apa … aku egois …." Aluna tertawa sumbang sambil menahan tangis. "Dari dulu aku mencoba diam dengan perlakuan kamu sama keluarga kamu, Mas. Dari dulu kamu membiarkan ibu dan adik kamu melakukan apapun yang mereka mau dan mereka sukai, kamu diam saja, justru kamu mendukung mereka tanpa melihat perasaan aku. Dan sekarang saat aku memanjakan diriku sendiri, melakukan apa saja yang aku mau kamu mengatakan jika aku egois? Apa hanya mereka yang boleh egois dan aku tidak." Kesabaran Aluna sampai di ambang batas, ia mengambil botol parfum lalu melemparnya untuk melampiaskan kemarahannya.

PRANG

Botol parfum itu hancur hingga menimbulkan suara yang nyaring. "Karena keegoisan kalian juga orang tuaku meninggal, bahkan kalian bersenang-senang di saat aku sedang berduka! Dan sekarang kamu masih mengatakan aku egois!"

"Aluna, calm dawn," pinta Hariz.

Dengan ucapannya, Hariz pikir Aluna bisa meredam kemarahan Aluna yang sudah memuncak? Tentu tidak.

Aluna sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ia menangis sejadi-jadinya lantas memukuli dada Hariz bahkan sesekali mendorong tubuh sang suami.

Hariz sendiri hanya bisa diam menerima perlakuan Aluna, dirinya sadar jika ia sudah salah. Melihat Aluna menangis histeris membuat hatinya ikut sakit. Hariz ikut menitihkan air matanya. Direngkuhnya tubuh Aluna lantas mencium ujung kepala sang istri berulang kali.

"Lepas!" pinta Aluna di sela isak tangisnya.

"No, Aluna." Hariz semakin erat memeluk Aluna tanpa berniat melepaskannya meskipun Aluna terus memaksanya. "Maafkan aku."

Aluna menggeleng di pelukan Hariz. Rasanya sulit baginya untuk memaafkan apa yang telah suaminya lakukan.

Terpopuler

Comments

JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊

JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊

entahlh mkin nda fhm motif Aluna bertahan

2025-01-12

1

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

apa emang hariz masih cinta sm aluna. tp kenapa enggak memberi nafkah lahir malah mendukung mama dan adiknya...aneh ini

2025-03-06

1

Lucia

Lucia

Aluna de pd ENERGImu abis ut melawan mereka. Lebih baik Pergi !!! Tenangkan Pikiranmu dn tunjukan Karir km. Pleace Aluna🙏
Sampe gemes aku bacanya heheehehe

2025-02-05

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!