Kembali Berkuasa

Satu minggu berlalu, Aluna benar-benar bangkit dari keterpurukannya. Usahanya juga benar-benar berkembang pesat. Hampir setiap hari banyak pengunjung datang ke butiknya, setiap hari pula Aluna menerima pesanan. Meskipun lelah, Aluna tetap merasa senang, sebab ia memiliki kegiatan dan juga penghasilan sendiri. Dirinya juga tidak harus mendengarkan makian, hinaan ibu mertua juga adik iparnya jika dirinya tetap berada di rumah.

Pukul 7 malam Aluna memutuskan untuk pulang. Sebelum itu Aluna terlebih dahulu menyerahkan urusan butik pada salah satu pegawainya. Aluna juga mampir ke restoran untuk membeli makanan untuk orang rumah, juga cemilan untuk para pegawai di rumahnya.

Ketika sedang menunggu makanan, ada pesan masuk di ponselnya. Aluna membuka pesan itu, rupanya dari Hariz. Sang suami mengatakan akan pulang sangat terlambat. Ada banyak pekerjaan yang harus dia urus. Aluna pun membalasnya.

Setelah menunggu beberapa saat pesanannya selesai. Aluna membayar pesanan itu kemudian pergi ke tempat mobilnya terparkir.

Sampai di tempat mobilnya terparkir, Aluna segera masuk ke mobil, duduk di kursi kemudi. Sebelum menyalakan mesin, Aluna lebih dulu bersandar pada sandaran kursi yang ia dudukki untuk sekedar menarik napas. Aluna menutup matanya menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kembali. Aluna melakukan itu secara berulang-ulang, sampai dirinya merasa lebih baik. Rasanya begitu lelah setiap hari harus mengemudi sendiri, apalagi saat keadaan jalanan macet.

Aluna tiba-tiba teringat akan tawaran Farel untuk memperkerjakan seorang sopir. Mungkin sudah saatnya dirinya memiliki sopir sendiri. Setelah rasa lelahnya berkurang, Aluna menyalakan mesin mobil, kemudian pergi meninggalkan area pusat perbelanjaan itu. Menempuh perjalanan hampir dua jam karena sempat terjebak kemacetan, Aluna akhirnya sampai di rumah. Aluna menyimpan mobilnya di garasi. Seperti biasa seorang penjaga datang membantu membukakan pintu mobil. Aluna turun dari mobil setelahnya.

"Malam Pak," sapa Aluna.

"Malam juga, Nyonya," sapa balik penjaga itu.

"Ini ada cemilan untuk kalian." Aluna memberikan paper bag berisi cemilan untuk para penjaga rumahnya.

"Cemilan?" Penjaga itu merasa ragu untuk menerimanya.

"Kenapa, Pak. Tidak suka ya?" tanya Aluna.

"Tidak, Nyonya," jawab penjaga itu. "Bukan begitu."

"Terus kenapa tidak diterima?" tanya Aluna.

"Saya tidak enak, Nyonya. Setiap hari Nyonya membelikan saya dan yang lainnya makanan," jelas penjaga itu. "Kami tidak enak merepotkan Nyonya setiap hari."

"Itu bukan hal besar. Biar kalian semangat juga kerjanya." Aluna menarik tangan penjaga itu dan memberikan paper bagnya. "Nanti kalau mbak Susi sudah datang saya tidak perlu belikan kalian makanan lagi. Mbak Susi yang akan membuatkan makanan maupun cemilan untuk kalian," ucap Aluna.

"Hah, yang benar, Nyonya. Mbak Susi sama suaminya balik lagi?" tanya sang penjaga disambut anggukkan oleh Aluna. "Tapi bagaimana dengan nyonya besar?"

"Itu akan menjadi urusan saya. Saya yang akan menangani nenek sihir itu," ucap Aluna membuat sang penjaga terkekeh geli. "Nanti kalau mba Susi sama mamang Damang datang kasih tahu saya!" pesan Aluna.

"Siap, Nyonya." Sang penjaga berseru sembari menunjukkan ibu jari tangannya ke arah Aluna.

"Kalau begitu saya masuk dulu," pamit Aluna. "Jangan lupa dimakan makanannya," imbuh Aluna.

"Baik, Nyonya. Sekali lagi saya berterima kasih sudah perhatian sama saya dan yang lainnya. Jika bukan karena Nyonya baik, mungkin saya dan yang lainnya sudah memilih berhenti bekerja," ucap sang penjaga.

"Iya, Pak. Saya masuk dulu ya," pamit Aluna sembari menunjukkan senyumnya.

Setelah itu Aluna masuk ke rumah dengan menenteng paper bag berisi makanan. Niatnya Aluna akan memberikan makanan itu untuk ibu mertua dan juga adik iparnya.

Sampai di dalam rumah ternyata Sandra sudah menunggu untuk menyambut dirinya dengan makiannya.

"Aluna!"

Aluna berhenti berjalan lantas berdecak kesal.

"Aku lelah tidak ingin berdebat denganmu, Sandra," ucap Aluna. "Ini makanan untukmu dan juga Mama." Aluna memberikan paper bag di tangannya kepada Sandra.

"Tumben baik?" sindir Sandra membuat Aluna memutar bola matanya malas.

"Terserah apa katamu," balas Aluna. "Aku mau ke kamar. Jangan ganggu aku," ucap Aluna lantas pergi, berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Baru sampai setengah perjalanan, langkah Aluna terhenti karena pertanyaan yang Sandra lontarkan.

"Kamu tidak menaruh racun dimakanan ini, 'kan?" tuding Sandra.

Ya Tuhan

Aluna berbalik setelah membuang napas kasar.

"Sebenarnya aku ingin sekali melakukan itu, tapi terlalu enak bagi kalian untuk mati sekarang. Masih banyak kesalahan di dunia ini yang harus kalian tebus," hardik Aluna.

"Kamu makan makanan itu saja. Jika tidak mau, letakan! Aku bisa memberikannya pada anjing tetangga." Tidak ingin membuang-buang energi Aluna memilih meninggalkan Sandra. Rasanya percuma saja dirinya bersikap baik pada keluarga sang suami yang akan berujung dirinya dituduh macam-macam.

-

-

Setelah berendam, Aluna merasa lebih baik. Rasa lelah memang tidak sepenuhnya hilang, tetapi sudah lumayan berkurang. Aluna keluar dari kamar mandi memakai bathrobe dan handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah. Ia berjalan ke walk in closet untuk mengambil pakaian tidurnya.

Pakaian tidur model kimono berbahan satin, berwarna merah muda menjadi pilihan Aluna. Terlihat mahal. Setelah memakai pakaiannya, Aluna keluar dari tempat itu lantas duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut dengan hairdryer. Bersamaan dengan itu samar-samar Aluna mendengar keributan di luar kamar. Hairdryer Aluna matikan membuat suara ribut itu terdengar jelas. Suara ibu mertua dan adik iparnya sangat mendominasi.

"Apa yang mereka lakukan lagi?" decak Aluna.

Aluna keluar dari kamar, indera pendengarannya semakin mendengar jelas keributan itu.

Keluar dari rumah ini. Dasar pencuri!

"Mereka memaki siapa? Jangan-jangan …." Aluna berjalan lebih cepat untuk sampai di tempat keributan. Benar seperti dugaannya , ibu mertuanya sedang memaki pekerja lama yang ia panggil kembali.

"Apa-apaan ini? Tidak bisakan kalian tenang sedikit? Ini rumah bukan hutan yang kalian bisa bebas untuk berteriak!" Perkataan Aluna membuat keributan itu berhenti.

Semua orang menoleh ke asal suara. Mona yang melihat menantunya langsung mencecar Aluna dengan pertanyaan.

"Apa-apaan ini? Kenapa kamu membawa masuk para pencuri ke rumah ini lagi?" teriak Mona.

"Kami bukan pencuri, Nyonya besar," bela mba Susi.

"Mba Susi, Mamang, kalian pergilah. Ini sudah malam, istirahat di kamar kalian. Besok kalian baru mulai bekerja," suruh Aluna.

"Tidak bisa!" larang Sandra.

"Pergilah, Mbak, Mamang. Ini biar saya yang urus," ucap Aluna.

"Baik, Non, terimakasih banyak. Kami permisi dulu," ucap mba Susi lantas pergi dari ruangan tamu rumah itu.

"Bagaimana bisa kamu masih mau menerima pencuri seperti mereka?" hardik Mona.

"Mereka tidak mencuri apapun. Aku percaya pada mereka. Mereka sudah lama ikut aku bertahun-tahun dan kami tidak pernah kehilangan apapun, tetapi entah mengapa setelah kalian datang ke sini mulai terjadi banyak pencurian," ucap Aluna.

"Jadi kamu menuduh Mama dan adik kamu yang mencuri?" tuding Mona.

"Tidak juga, tapi jika kalian merasa seperti itu … itu bukan urusan saya," pungkas Aluna.

"Benar-benar menantu kurang ajar," maki Aluna.

"Sudahlah, aku mau tidur. Ini sudah malam jangan membuat kegaduhan," ucap Aluna. "Tapi jika kalian masih ingin berteriak dan membuat kegaduhan, pergilah ke hutan! Di sana kalian bebas berteriak."

"Lihat saja aku akan mengadukan ini pada Hariz," ancam Mona seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.

"Silahkan!" tantang Aluna.

Terpopuler

Comments

Nandika Mamah

Nandika Mamah

nah gitu lawan para benalu jangan tanggung tanggung libas habis aja

2025-02-23

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!