Sopir Baru, Elgar

Aluna dalam perjalanan menuju cafe di dekat kantor Farel. Dirinya berangkat lebih awal sebab Rania memintanya. Sampai di cafe Aluna memarkirkan mobilnya. Beruntung jam makan siang belum tiba, jika sudah mungkin ia akan kesulitan untuk memarkirkan mobilnya. Setelah itu Aluna masuk ke dalam cafe.

Aluna mengedarkan pandangannya mencari Rania, sang sahabat terlihat duduk di tempat yang cukup sepi. Ia lantas mengayunkan langkah ke tempat Rania.

"Hai, Rania," sapa Aluna.

"Hai, Aluna kamu sudah datang," sapa balik Rania.

Kedua perempuan itu saling memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.

"Ayo silahkan duduk," ucap Rania.

Aluna menarik kursi di samping Rania kemudian duduk. "Farel di mana? Dia belum datang?"

"Aku sengaja memintamu datang ke sini lebih awal untuk bicara dan memperingati dirimu. Aku yakin jika Farel tahu dia tidak akan setuju," ungkap Rania.

"Bicara denganku lebih dulu?" Aluna mengerutkan keningnya sebab merasa bingung. "Kenapa dan ada apa? Kamu terlihat cemas. Apa ada masalah serius?" tanya Aluna penasaran.

"Tidak, hanya saja apakah kamu yakin akan mempekerjakan Elgar?" tanya Rania.

"Kalau dia seperti yang dikatakan oleh Farel waktu itu kenapa tidak," jawab Aluna. "Kenapa memangnya? Apa dia tidak baik? Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Rania. Katakan ada apa jangan membuat aku cemas," tanya Aluna beruntun.

"Ini bukan masalah dia baik atau tidak," jawab Rania. "Untuk masalah baik, ya dia baik, sangat baik malah. Hanya saja dia itu sedikit tengil dan terkadang sangat menyebalkan," jelas Rania.

"Lalu kenapa kamu cemas begitu?" Aluna mendesak Rania untuk mengatakan alasan atas kecemasannya.

"Aluna … Elgar itu berbeda. Banyak wanita yang tergila-gila dengan dia. Mungkin banyak pula yang mau membuka kakinya lebar-lebar hanya untuk bersanding dengan dirinya," ucap Rania khawatir. "Kamu jangan sampai tertarik padanya, aku khawatir dengan hal itu."

"Astaga, Rania … kamu ini ada-ada saja." Aluna tak bisa menahan tawa mendengar penjelasan Rania.

"Aku serius, Aluna," ucap Rania

"Aku punya suami," ucap Aluna.

"Aku tahu, tapi Elgar itu sangat berkarismatik. Daya pikatnya sangat kuat. Dibandingkan dengan Hariz, suamimu itu tidak ada apa-apanya," ungkap Rania lagi.

"Benarkah? Apa kamu pernah menyukai dia?" tanya Aluna yang mulai penasaran dengan sosok Elgar.

"Jujur aku juga dulu sangat mengidolakan dia, berharap bisa bersanding dengan dia, tetapi sayangnya dia itu susah digapai kecuali pakai khayalan," aku Rania. "Dia cerdas, tampan, tapi aku tidak suka sifatnya yang tengil itu dan juga terkadang sangat dingin," ungkap Rania lagi.

"Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa dia." Aluna menyangga dagunya dengan tangannya. "Bukankah katamu dia itu pintar? Kenapa dia tidak bekerja di kantor Farel saja?"

"Karena dia akan menjadi bodoh setelah melihat tumpukan berkas," ungkap Rania.

Aluna tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Rania.

"Berhenti tertawa, itu dia mereka datang." Rania menunjuk ke arah pintu masuk.

Aluna menoleh melihat ke arah pintu masuk, ia melihat Farel datang bersama seorang laki-laki, mungkin seumuran dengan mereka. Laki-laki itu memakai kaos hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya, dia juga celana jeans yang terlihat pas di kakinya, bertopi hitam yang menambah kadar ketamanannya.

"Ya Tuhan, Rania. Apa Farel tidak salah? Dia seperti bukan membawa sopir untukku, tetapi membawa selingkuhan untukku." Melihat Elgar secara langsung membuat Aluna percaya dengan cerita Rania, laki-laki benar-benar memiliki daya pikat tersendiri.

"Tutup mulutmu, Aluna! Ingat aku sudah peringati kamu. Jangan sampai kamu dibodohi oleh laki-laki itu," peringat Aluna.

"Melihat dia aku tidak yakin apakah Hariz akan setuju," bisik Aluna.

"Sudah aku bilang sebelumnya, dari fisik jelas Hariz kalah jauh," balas Rania.

Obrolan kedua perempuan itu berhenti, mereka berdiri untuk menyambut kedatangan Farel dan Elgar.

Farel langsung memperkenalkan Elgar kepada Aluna. Laki-laki bernama Elgar itu langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Aluna untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

"Elgar."

"Aluna." Aluna menyambut uluran tangan Elgar. "Oh iya, silahkan duduk."

"Kalian sudah lama?" tanya Farel.

"Itu —" Ucapan Aluna dipotong oleh Rania.

"Belum lama. Kita juga belum pesan apapun," potong Rania.

Pandangan Rania langsung dipertemukan dengan Elgar. Rania meringis sebab pandangan Elgar seolah sedang mengintimidasi dirinya.

"Jadi … dia teman yang kamu ceritakan waktu itu?" tanya Aluna pada Farel.

"Ya, dia orangnya," jawab Farel.

"Kamu tidak salah?" Aluna melihat ke arah Elgar, sedikit memperhatikan penampilan laki-laki itu. Tatapan Aluna terhenti pada pergelangan tangan Elgar, jam tangan mewah dengan harga fantasis melingkar di pergelangan tangan laki-laki itu.

"Aku bisa melakukan apapun," kata Elgar.

"Bukan begitu, maksudku … apa dia cocok untuk menjadi sopir, Farel? Penampilannya …?" Mata Aluna melihat kembali ke arah pergelangan tangan Elgar.

Sadar ke mana arah pandang Aluna, Farel mulai panik.

"Jam tangan ingin palsu," ucap Elgar membuat Farel menarik napas lega.

"Kamu tenang saja, aku bisa melakukan apapun dan jadi apapun, seperti sopir, teman, ataupun juga pacar gelapmu," gurau Elgar.

"Astaga." Mulut Rania menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Elgar. Meskipun tahu sifat Elgar seperti apa, tetapi Rania merasa tidak rela Elgar melakukan itu pada Aluna. "Dia akan menjadi bosku. Bersikaplah yang sopan," tegur Rania gemas.

"Tidak apa, Rania. Aku suka dia tidak bersikap formal padaku. Aku tidak akan bosan nanti," bela Aluna.

"Dengar! Dia saja tidak keberatan kenapa kamu yang repot," ejek Elgar.

"Kamu!" Rania menggeram lantas menarik napas untuk meredam rasa kesalnya pada Elgar. Sikap Rania kepada Elgar justru membuat Aluna tertawa. "Lihatlah nanti Aluna, kamu akan cepat tua bila berhadapan dengan dia setiap hari," ketus Rania.

"Aku lebih khawatir dengan reaksi Hariz nanti," ujar Aluna. "Juga apakah dia setuju atau tidak."

"Aku berharap tidak," gerundel Rania yang justru membuat Aluna tidak bisa menahan tawanya.

"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Rania pada sang sahabat.

"Sikapmu pada Elgar itu lucu. Aku tidak tahu kenapa kamu begitu memusuhinya," jawab Aluna sembari menahan tawanya.

"Itu karena aku pernah menolak dia. Kemungkinan dia merasa cemburu karena aku akan dekat denganmu," ledek Elgar.

"Jangan percaya diri, Elgar. Farel jauh lebih baik dari kamu," tegas Rania.

"Sayang, sudahlah. Apa salahnya jika Elgar bekerja untuk Aluna?" ucap Farel "Selain bekerja, Elgar bisa membantu kita untuk menjaga Aluna," bujuk Farel.

"Rania … aku tahu kamu khawatir padaku. Tapi kamu harus tahu aku tahu batasanku," imbuh Aluna seraya mengenggam tangan sang sahabat.

"Aluna, aku percaya padamu, tapi tidak dengan dia." Rania menunjuk Elgar dengan matanya.

Aluna dan Elgar hanya bisa tertawa, sedangkan Farel menarik napas berat. Dari awal memang sang istri tidak setuju jika Elgar bekerja untuk Aluna.

"Besok datanglah ke rumahku. Akan aku perkenalkan kamu pada suamiku. Tapi aku tidak janji dia akan setuju," ucap Aluna.

"Kenapa? Apa karena aku lebih tampan dari dia hingga dia takut kamu akan terpesona denganku?" gurau Elgar.

Sebelum Aluna merespon gurauan Elgar, Rania lebih dulu angkat bicara.

"Astaga!" pekik Rania lantas melihat ke arah sang suami. "Farel, suruh temanmu ini untuk untuk mulut!"

Farel tidak bisa bicara, ia hanya mampu mengela napas sembari memijit keningnya. Hal itu justru semakin membuat Aluna tidak bisa menahan tawanya.

Terpopuler

Comments

Diah Susanti

Diah Susanti

kalau ada orang tengil, jadi ingat aktor riky harun, yang sering berperan seperti itu

2025-02-08

2

Merica Bubuk

Merica Bubuk

Alaah.... siaah 🤣🤣
Kumaha reaksi si Hariz mun nempo nu guanteng kitu

2025-02-16

1

Merica Bubuk

Merica Bubuk

Kan, kan, kan... tengil'y ucul 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Piye iki jaann 😄😄😄

2025-02-16

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!