Tak Merasakan Kenikmatan

Em ... ought

Aluna melenguh dan mengigit bibir bawahnya saat ia merasakan usapan pada area sensitifnya. Aluna pikir dirinya sedang bermimpi, nyatanya tidak. Saat Aluna membuka matanya ia melihat tangan seseorang masuk ke balik pakaian tidurnya.

"Mas Hariz"

"Iya, Sayang"

"Apa yang kamu lakukan?"

"Aku merindukanmu"

"Kamu mabuk?"

Aluna mencium bau alkohol di tubuh Hariz.

"Aku hanya minum sedikit"

Aluna kembali melenguh dan itu membuat Hariz makin bersemangat dengan aktivitasnya.

"Singkirkan tanganmu, Mas!"

"Tidak bisa, Aluna. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan ini lagi."

"Tapi, Mas—"

"Aku suamimu"

"Tapi aku lelah"

"Sebentar saja. Aku tersiksa, Aluna"

Aluna terdiam sesaat, dalam hatinya Aluna merasa kasihan pada sang suami. Setelah memikirkannya benar apa kata Hariz, dia masih suaminya dan lagi Aluna juga merindukan sentuhan sang suami. Jika boleh jujur Aluna sudah terpancing oleh ulah sang suami.

"Baiklah, Mas ayo kita lakukan," putus Aluna.

"Thank you, Aluna," seru Hariz bersemangat.

Hariz menanggalkan semua kain yang menempel di tubuhnya lantas melepaskan pakaian Aluna juga. Ia memposisikan diri di atas tubuh Aluna mengungkungi tubuh sang istri. Tanpa menunggu waktu lagi Hariz mulai memasuki istrinya.

Aluna melenguh dan meringis saat ia merasakan benda keras memasuki tubuhnya, pergulatan panas itu di mulai. Malam itu bukan pertama kali mereka bercinta dan Aluna merasa malam itu Hariz bertindak egois, sepeti bermain sendiri. Aluna benar-benar tidak menikmati hubungan itu seperti sebelum-sebelumnya.

Di akhir permainan Hariz mencium kening Aluna sebagai tanda terima kasih tanpa melihat raut wajah kecewa Aluna.

"Tidurlah lagi. Maaf sudah mengganggumu," ucap Hariz seraya mengusap sisi wajah Aluna menggunakan tangannya.

"Hmmm." Aluna merespon dengan gumaman.

Hariz beranjak dari tempat tidur berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama Hariz keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat tidur. Aluna yang tidur membelakangi Hariz merasakan Hariz naik ke ranjang, setelah itu tidak ada pergerakan lagi. Aluna menoleh ternyata Hariz sudah terlelap.

*****

Keesokan harinya Aluna sedang menyiapkan pakaian kerja dan keperluan lain untuk sang suami. Hariz masih ada di dalam kamar mandi. Saat Aluna sedang menyiapkan pakaian untuk Hariz, Aluna merasakan pelukan dari belakang. Ternyata Hariz memeluknya dari belakang. Akan tetapi tidak sekedar memeluk, Haris melakukan sesuatu yang lebih.

"Mas … jangan seperti ini!" pinta Aluna.

"Kenapa, Sayang?" Hariz tidak memperdulikan teguran dari Aluna dan terus melancarkan aksinya.

"Mas, ought." Aluna mengeluh saat Hariz menyentuh titik lemahnya. Meski begitu Aluna mencoba bertahan. "Sudah siang, Mas. Kamu bisa terlambat."

"Sebentar saja." Hariz menolak untuk berhenti.

"Kamu bisa datang terlambat ke kantor," bujuk Aluna.

"Tidak akan ada yang berani marah padaku, Sayang. Mereka semua bawahanku," ucap Aluna.

"Tapi —"

"Stttt, diamlah!"

Hariz benar-benar berubah. Sebelumnya Hariz tidak pernah memaksa, tetapi kali ini sang suami benar-benar memaksa tanpa mau mendengarkan apapun. Hariz mendorong Aluna ke tempat tidur lantas menyingkap pakaian Aluna kemudian memasuki Aluna.

Sekitar setengah jam permainan panas itu berakhir. Hanya tiga puluh menit, tetapi Aluna merasa itu waktu yang lama. Lagi dan lagi Aluna tidak menikmati hubungan itu. Hariz tidak memanjakannya seperti sebelum-sebelumnya. Yang Aluna rasakan dirinya hanya dijadikan pelampiasan napsu oleh sang suami.

"Aku sudah transfer bulanan untuk kamu," ucap Hariz setelah selesai memakai pakaian kerjanya.

"Apa ibumu tidak keberatan?" tanya Aluna yang masih merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

"Aku yang urus, Sayang." Hariz memakai jam tangan mahalnya sembari duduk di tepi ranjang.

"Baiklah," sahut Aluna

"Kamu tidak ke butik?" tanya Hariz.

"Mungkin nanti siang. Kamu membuatku lelah pagi ini," protes Aluna.

"Maaf, Sayang. Kamu juga membiarkan aku selama lebih dari satu minggu. Tadi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku," aku Hariz. Aluna mencoba bangun untuk membantu Hariz memakai dasi.

"Tubuhku sakit semua," keluh Aluna.

"Maaf, aku kasar ya."

"Hmmm," gumam Aluna. "Sudah selesai," ucap Aluna ketika sudah selesai mengingat dasi di leher Hariz.

"Lain kali aku akan pelan-pelan." Hariz mengusap sisi wajah Aluna dengan ibu jarinya. "Aku berangkat dulu."

"Eh,tunggu! Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu," cegah Aluna

"Tentang apa?" tanya Hariz

"Aku butuh sopir," jawab Aluna.

"Aku akan carikan nanti," ucap Hariz.

"Tidak perlu," tolak Aluna.

"Kenapa?" Kening Hariz mengerut mendengar penolakan Aluna.

"Sebenarnya Farel sudah merekomendasikan temannya. Waktu itu aku belum butuh, tapi sekarang aku benar-benar butuh," jelas Aluna.

"Baiklah," ucap Hariz setuju. "Aku akan tambahkan uang bulanannya untuk bayar sopir pribadi kamu," ucap Hariz

"Tidak perlu. Aku bisa bayar sopir sendiri dengan penghasilan dari butik," tolak Aluna.

"Sesuai keinginan kamu, tapi jika kamu berubah pikiran katakan padaku," pesan Hariz disambut anggukkan oleh Aluna.

"Sudah siang berangkatlah! Aku tidak bisa mengantarmu ke teras, aku tidak memiliki tenaga untuk bangun," ucap Aluna.

"Tidak masalah. Kamu istirahatlah lagi." Hariz mencium kening Aluna yang kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. "Sampai jumpa," salam Hariz.

"Hati-hati di jalan," pesan Aluna disambut senyuman dan anggukkan kecil.

Setelah Hariz pergi Aluna menarik napas dalam-dalam. Aluna benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada sang suami. Perbuatan sang suami kali ini cukup menyakitinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aluna turun dari tempat tidur, mengayunkan langkah ke kamar mandi dengan tubuhnya yang telanjang. Ia berjalan menuju ke tempat mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Hampir satu jam Aluna berasa di dalam kamar mandi, setelah itu Aluna keluar hanya memakai bathrobe berwarna putih, juga handuk kecil yang menggulung di kepalanya.

Aluna masuk ke walk in closet, memilih baju yang akan ia kenakan. Tidak butuh waktu lama untuknya bersiap karena waktu berputar begitu cepat.

"Lihatlah, nyonya rumah ini baru bangun," sindir Mona ketika melihat Aluna berjalan menuruni anak tangga.

"Maaf, Ma, tapi anakmu tidak membiarkan aku bangun dari tempat tidur," balas Aluna.

"Heh, untuk apa terus tidur bersama jika tidak bisa menghasilan keturunan," hina Mona.

"Aku malas berdebat dengan Mama." Aluna memilih pergi ke dapur mencari pekerjanya "Mbak Susi," panggil Aluna.

"Ya, Non," sahut Aluna dari belakang rumah. "Ada apa?" tanya Susi.

"Mbak tolong pergi berbelanja! Saya sudah membuat daftarnya. Ini daftar belanjaannya dan ini uangnya." Aluna menyerahkan daftar belanja beserta uangnya.

"Baik, Non." Susi menerima semua yang majikannya berikan.

"Apa ini?" Secara tiba-tiba Mona datang merebut daftar belanja dari tangan Susi. "Belanja segini kamu kasih uang sebanyak ini?" Mona mengambil sebagian uang dari tangan Susi. "Segini saja cukup." Mona memberikan uang hanya 3 lembar kepada Susi.

"Tapi, Nyonya besar —"

"Mba Susi." Aluna menaruh jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan pada mba Susi untuk diam.

"Kalau begitu kenapa bukan Mama saja yang belanja? Aku pengin lihat dengan budget segitu Mama bisa beli apa saja," tantang Aluna.

Mata Mona membulat, tidak percaya jika perempuan di hadapan adalah Aluna. Merasa kalah Mona kembali menyerahkan uang itu lagi.

"Dasar! Nih uangnya, jangan dikorupsi!" Mona menaruh uang yang diambilnya dari Susi lantas meletakkannya di meja. Setelah itu pergi dari dapur.

"Jangan didengerin, Mbak. Mbak Susi tahu mama seperti apa, 'kan," pinta Aluna.

"Baik. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Susi dibalas anggukkan oleh Aluna.

Aluna masih duduk di meja makan mencoba menghirup udara di sekitarnya. Setelah itu Aluna pergi untuk menemui Farel dan Rania. Mereka akan membahas laki-laki yang bernama Elgar, yang akan menjadi sopirnya.

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

Elgar mungkin cowok yang sudah lama naksir Aluna..jadi pura2 aja mau jadi sopir padahal pengen dekat dengan pujaan hatinya...

2025-02-24

1

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

kenapa hariz enggak memberi uang untuk mamanya juga kan dia kaya..kenpa mesti harus di satukan dg uang dapur...aneh

2025-03-06

0

JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊

JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊

Astaga🤦‍♀️

2025-01-12

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!