Sebuah Pemberontakan

Aluna kembali ke kamar tanpa memperdulikan makian ibu mertua dan juga panggilan sang suami. Ia terus berjalan dan sesekali melihat ke bawah, melihat drama yang dibuat oleh ibu mertua, juga adik iparnya.

BRAK

Aluna membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Setelah itu mengayunkan langkah menuju sofa. Aluna mendudukkan diri di sofa, duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan ketegangan di kepalanya. Meskipun begitu ia puas melihat reaksi ibu mertua dan juga adik iparnya.

Namun lagi-lagi air matanya meluncur tanpa permisi. Ia sedih bukan karena sikap sang suami, melainkan teringat akan mendiang kedua orang tuanya.

KLEK

Aluna mendengar ada yang membuka pintu kamarnya. Segera ia mengusap air matanya. Tangannya terulur mengambil majalah fashion di atas meja, membolak-balikan lembar demi lembar majalah itu tidak peduli siapa yang datang.

"Aluna," panggil Hariz.

Tidak ada sahutan dari Aluna.

"Aluna, please talk to me!" pinta Hariz.

"Ada apa?" sahut Aluna tanpa melihat ke arah Hariz.

"Aku ingin bicara denganmu," pinta Hariz.

"Kita sudah bicara dari tadi," kata Aluna cuek.

Hariz mengela napas memilih untuk mengalah. Ia duduk di samping Aluna mengambil majalah yang dipegang Aluna, lantas meletakkannya di meja.

"Aluna …." Hariz mengenggam kedua tangan Aluna menuntunnya untuk melihat ke arahnya.

Aluna menurut, tetapi masih belum mau melihat ke arah Hariz. Ia lebih memilih untuk menunduk.

"Maaf." Hariz menyentuh dagu Aluna memaksanya agar mau melihat ke arahnya. "Aku benar-benar tidak tahu kedua orangtuamu meninggal. Aku pergi ke Paris juga ada urusan bisnis. Aku tidak tahu jika mereka menyusul," jelas Hariz.

Aluna menyingkirkan tangan Hariz yang ada di wajahnya.

"Dua minggu, Mas. Kamu pergi tanpa mengabari aku. Tidak menelpon untuk tanya kabarku. Heh, kamu masih menganggap aku atau tidak?" geram Aluna. "Jika memang kamu sudah tidak menganggap dan lebih memilih orang tua dan adik kamu, kamu bisa lepasin aku," pinta Aluna.

"Aluna … kenapa kamu bicara seperti itu lagi," tegur Hariz. "Oke, aku salah malam itu. Aku khilaf, itu karena aku tidak mau bercerai," bujuk Hariz.

Aluna masih terdiam tidak tahu harus bicara apa. Yang jelas Aluna berdiri di antara marah dan kecewa.

"Aluna ... tolong maafin aku," bujuk Hariz. "Untuk masalah ibu, dia bilang lupa memberitahu padaku atas meninggalnya mama sama papa."

"Dan kamu percaya?" sungut Aluna. "Oh iya, aku lupa. Saat kamu tahu ibumu berbohong juga kamu akan membelanya," sindir Aluna.

"Aluna, jangan bahas ini lagi. Nanti kita ke makam mama sama papa sama-sama." Hariz mencoba menenangkan Aluna dengan cara memberikan sentuhan pada Aluna. Hariz pikir itu akan bisa meluluhkan Aluna seperti biasa.

"Don't touch me, Mas," larang Aluna mencoba menyingkirkan tangan Hariz yang akan masuk ke area sensitifnya.

"Why, Honey. Aku tahu kamu menyukainya dan aku juga sangat merindukanmu," rayu Hariz.

Hariz menuntun Aluna untuk berbaring mencoba terus mencumbu sang istri, tetapi Aluna masih belum ingin disentuh oleh Hariz, ia berpikir, mencari alasan apa untuk menolak, tetapi tidak sampai membuat Hariz marah.

"Aku sedang tidak ingin," tolak Aluna lagi.

Mendengar penolakan Aluna, Hariz jelas kesal. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aluna dengan kasar membuat Aluna meringis kesakitan.

"Sakit, Mas," rintih Aluna.

"Kamu ada laki-laki lain, hah?" tanya Hariz pelan tapi penuh penekanan.

"Heh, di saat kamu menyakiti aku seperti ini pun aku sama sekali tidak ada pikiran untuk berselingkuh," tegas Aluna. "Aku sedang datang bulan," bohong Aluna.

Perlahan cengkraman tangan Hariz mengendur membuat Aluna bisa bernapas lega. Hariz bangun dari atas tubuh Aluna dan pergi keluar kamar dengan membanting pintu.

Aluna bergegas pergi ke kamar mandi sebelum Hariz kembali ke kamar itu. Di dalam kamar mandi Aluna bergegas untuk mandi. Ia ingin segera pergi dari rumah itu. Tidak sampai setengah jam Aluna keluar dari kamar mandi. Ia membuka pintu melihat sekeliling, Hariz belum masuk ke kamar. Jika sudah Hariz pasti akan curiga dan tahu jika dirinya berbohong.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11, sudah hampir satu jam setelah Aluna mandi. Selama itu Hariz juga belum kembali ke kamar. Entah apa yang sedang suaminya lakukan?

KLEK

Baru saja Aluna berhenti memikirkan Hariz, suaminya itu kembali ke dalam kamar sepertinya habis mandi. Pandangan mereka bertemu pada cermin yang ada di hadapan Aluna.

"Kamu mau pergi?" tanya Hariz tanpa mengalihkan pandangannya.

"Aku ada janji dengan seseorang," jawab Aluna acuh tak acuh.

"Siapa, Aluna?" tanya Hariz. "Haruskah kamu berdandan seperti itu?" tanya Hariz tidak suka.

Aluna tertawa kecil menaruh pewarna bibir ke meja rias lantas berbalik menghadap Hariz.

"Aku mau bertemu dengan orang yang ingin bekerja sama denganku. Jadi … ya aku pikir harus berdandan yang maksimal. Bukankah kamu juga begitu, apalagi saat bertemu rekan bisnis wanita," sindir Aluna. "Oh ya, aku lupa memberitahu dirimu. Aku mendapatkan kembali butik milikku. Dalam beberapa minggu lagi mungkin akan buka," ucap Aluna.

"Kamu akan bekerja, Aluna?" Hariz menggeram tidak suka. "Kamu sudah menikah dan sepatutnya kamu tetap di rumah —" Belum sempat Hariz menyelesaikan ucapannya, Aluna lebih dulu menyelanya.

"Tetap di rumah untuk dijadikan pembantu oleh ibu dan adikmu? Untuk selalu dihina karena aku belum bisa hamil?" Nada bicara Aluna mulai meninggi. "Aku juga manusia biasa, Mas. Aku juga punya batas kesabaran!" Aluna berdiri dengan tegas. "Oh iya satu lagi. Aku ingatkan jika kamu lupa, hampir enam bulan kamu tidak memberikanku nafkah lahir. Semuanya kamu berikan kepada ibumu. Kamu tidak tahu, kan seberapa aku menderita selama ini. Ibumu jarang memberiku makanan yang cukup apa kamu peduli? Saat aku butuh untuk keperluanku sendiri aku harus mengemis kepada ibumu, merendahkan diriku sendiri. Gara-gara itu juga ibuku sampai meregang nyawa. Kamu juga tidak peduli, kan? Jadi … apa salahnya aku bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri," serang Aluna.

"Aluna, kamu jangan egois." Hariz menahan lengan Aluna mencegahnya untuk pergi.

"Kalau aku egois, kamu dan keluargamu itu apa?" Aluna menghempaskan tangan Hariz dari lengannya lantas pergi keluar kamar.

Aluna berjalan menuruni anak tangga sembari mengontrol emosinya, tetapi ternyata di bawah sudah ada orang yang akan kembali menguji kesabarannya.

"Mau ke mana kamu?" tanya Mona ketus.

"Bukan urusan Mama," jawab Aluna datar.

Aluna memilih untuk menghindar dan pergi, tetapi ibu mertuanya justru menahannya.

"Kamu mau keluyuran? Tidak ingat dengan statusmu sekarang?" bentak Mona. "Pergi belanja!" Mona melemparkan uang 3 lembar seratusan ke muka Aluna.

Aluna tersenyum sinis sembari menatap yang uang jatuh di lantai, tepat di bawah kakinya.

"Kenapa bukan Mama sendiri saja pergi?" sergah Aluna.

"Kamu berani menyuruh saya?" tanya balik Mona.

"Iya," jawab Aluna.

"Kakak jangan keterlaluan ya!" ucap Sandra yang tiba-tiba datang. "Mama sudah tua dan kakak berani menyuruh Mama belanja?"

"Aku punya banyak urusan." Aluna mengambil alih kunci mobil yang dipegang oleh Sandra. "Ini mobilku. Jangan sembarangan pakai milik orang lain, apalagi tanpa izin!"

"Oh iya satu lagi. Katamu Mama sudah tua, kalau begitu kenapa bukan kamu saja yang berbelanja? Tahu diri dikitlah numpang di rumah orang juga."

Terpopuler

Comments

Sukliang

Sukliang

makin dibaca makin enak bacannya
makin menarik

2024-12-21

1

Erna Masliana

Erna Masliana

kapan cerai nya... keburu di racun sebelum sukses dong

2025-02-10

1

Lucia

Lucia

Kenapa Aluna crita sm fariz kalo butiknya di tangan lagi🤦‍♀️

2025-02-05

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehilangan
3 Sesuatu Yang Tak Terduga
4 Mulai Bangkit
5 Mulai Melawan
6 Sebuah Pemberontakan
7 Pembelaan
8 Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9 Perubahan Hariz
10 Hutang 3 Miliyar
11 Kembali Berkuasa
12 Tak Merasakan Kenikmatan
13 Sopir Baru, Elgar
14 Sopir Baru, Elgar part 2
15 Keributan Di Butik
16 Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17 Kebohongan Rania
18 Peringatan Untuk Elgar
19 Camelia
20 Perdebatan Pagi Hari
21 Kekesalan Elgar Pada Sandra
22 Saran dari Elgar
23 Makan Siang Bersama
24 Obrolan Bersama Arleta
25 Curhatan Aluna
26 Bertengkar Lagi
27 Kekacauan Aluna
28 Kebenaran Akan Camelia
29 Rencana Gugatan Perceraian
30 Acara Makan Malam
31 Kepergok
32 Ajakan Having S*x
33 Kemarahan Elgar
34 Elgar Alexander Bramantyo
35 Keyakinan Rania
36 Kegilaan Hariz
37 Baikkan
38 Selamat Tinggal Masa Lalu
39 Sebuah Tanda
40 Kebimbangan Aluna
41 Wanita Kesayangan
42 Bertemu Kembali
43 Kejutan Untuk Hariz
44 Drama Keluarga
45 Rencana Penculikan
46 Hukuman Untuk Hariz Part 1
47 Hukuman Untuk Hariz Part 2
48 Liburan Ke Pulau
49 Rumah Masa Depan
50 Obrolan Bersama Elsa
51 Bertemu Sandra dan Mona
52 Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53 Makan Malam Bersama
54 Kedatangan Camelia
55 Kemarahan Camelia Pada Clara
56 Will You Marry Me
57 Tawaran Oma Ananta
58 Kebenaran Yang Sesungguhnya
59 Mengganggu Saja
60 Keributan Di Kediaman Bramantyo
61 Satu Lawan Dua
62 Kehancuran Camelia
63 Hadiah Dari Ananta
64 Obat Perangsang
65 Hari Pernikahan
66 Honeymoon
67 Honeymoon 2
68 Rumah Baru
69 Pregnant
70 Calon Pewaris
71 Pelayan Baru
72 Penyusup
73 Penyusup 2
74 Penyusup 3
75 Kematian Hariz Dan Clara
76 Q-time
77 Kebersamaan Keluarga
78 Bibit Pelakor
79 Bibit Pelakor 2
80 Bibit Pelakor 3
81 Lahirnya Sang Pewaris
82 Galen Haidar Bramantyo
83 Delapan puluh tiga
84 Delapan Puluh Empat
85 Delapan Puluh Lima
86 Delapan puluh Enam
87 Delapan Puluh Tujuh
88 Delapan Puluh Delapan
89 Delapan Puluh Sembilan
90 Sembilan puluh
91 Sembilan Puluh Satu
92 Sembilan Puluh Dua
93 Sembilan Puluh Tiga
94 Sembilan Puluh Empat
95 Sembilan Puluh Lima
96 Sembilan Puluh Enam
97 Sembilan Puluh Tujuh
98 Sembilan Puluh Delapan
99 Sembilan Puluh Sembilan
100 Seratus
101 Seratus Satu
102 Seratus Dua
103 Seratus Tiga (End)
104 Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105 Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106 Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107 Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108 Promosi Karya
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Prolog
2
Kehilangan
3
Sesuatu Yang Tak Terduga
4
Mulai Bangkit
5
Mulai Melawan
6
Sebuah Pemberontakan
7
Pembelaan
8
Kenapa Aku Tidak Boleh Egois
9
Perubahan Hariz
10
Hutang 3 Miliyar
11
Kembali Berkuasa
12
Tak Merasakan Kenikmatan
13
Sopir Baru, Elgar
14
Sopir Baru, Elgar part 2
15
Keributan Di Butik
16
Tuan Dan Nyonya Bramantyo
17
Kebohongan Rania
18
Peringatan Untuk Elgar
19
Camelia
20
Perdebatan Pagi Hari
21
Kekesalan Elgar Pada Sandra
22
Saran dari Elgar
23
Makan Siang Bersama
24
Obrolan Bersama Arleta
25
Curhatan Aluna
26
Bertengkar Lagi
27
Kekacauan Aluna
28
Kebenaran Akan Camelia
29
Rencana Gugatan Perceraian
30
Acara Makan Malam
31
Kepergok
32
Ajakan Having S*x
33
Kemarahan Elgar
34
Elgar Alexander Bramantyo
35
Keyakinan Rania
36
Kegilaan Hariz
37
Baikkan
38
Selamat Tinggal Masa Lalu
39
Sebuah Tanda
40
Kebimbangan Aluna
41
Wanita Kesayangan
42
Bertemu Kembali
43
Kejutan Untuk Hariz
44
Drama Keluarga
45
Rencana Penculikan
46
Hukuman Untuk Hariz Part 1
47
Hukuman Untuk Hariz Part 2
48
Liburan Ke Pulau
49
Rumah Masa Depan
50
Obrolan Bersama Elsa
51
Bertemu Sandra dan Mona
52
Singkirkan Yang Menjadi Masalah
53
Makan Malam Bersama
54
Kedatangan Camelia
55
Kemarahan Camelia Pada Clara
56
Will You Marry Me
57
Tawaran Oma Ananta
58
Kebenaran Yang Sesungguhnya
59
Mengganggu Saja
60
Keributan Di Kediaman Bramantyo
61
Satu Lawan Dua
62
Kehancuran Camelia
63
Hadiah Dari Ananta
64
Obat Perangsang
65
Hari Pernikahan
66
Honeymoon
67
Honeymoon 2
68
Rumah Baru
69
Pregnant
70
Calon Pewaris
71
Pelayan Baru
72
Penyusup
73
Penyusup 2
74
Penyusup 3
75
Kematian Hariz Dan Clara
76
Q-time
77
Kebersamaan Keluarga
78
Bibit Pelakor
79
Bibit Pelakor 2
80
Bibit Pelakor 3
81
Lahirnya Sang Pewaris
82
Galen Haidar Bramantyo
83
Delapan puluh tiga
84
Delapan Puluh Empat
85
Delapan Puluh Lima
86
Delapan puluh Enam
87
Delapan Puluh Tujuh
88
Delapan Puluh Delapan
89
Delapan Puluh Sembilan
90
Sembilan puluh
91
Sembilan Puluh Satu
92
Sembilan Puluh Dua
93
Sembilan Puluh Tiga
94
Sembilan Puluh Empat
95
Sembilan Puluh Lima
96
Sembilan Puluh Enam
97
Sembilan Puluh Tujuh
98
Sembilan Puluh Delapan
99
Sembilan Puluh Sembilan
100
Seratus
101
Seratus Satu
102
Seratus Dua
103
Seratus Tiga (End)
104
Extra Part (End) Lamaran Untuk Elsa
105
Extra Part (End) Pesta Pernikahan Elsa dan Zaiyan.
106
Extra Part (End) Sandra Dan Deren
107
Extra Part (End) Kelahiran Arabella Quenza Bramantyo
108
Promosi Karya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!