Kepura-puraan di depan Carro

Anna melangkah cepat menuju kamar Carro, masih diselimuti amarah. Ia tidak peduli pada apa pun selain memastikan putrinya baik-baik saja. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah suara dingin memanggilnya.

“Anna.”

Suara itu rendah, tajam, dan memerintah. Anna berhenti di tempatnya, tetapi tidak berbalik.

“Berhenti mengabaikanku.” kata Domic tegas.

Anna menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, tetapi suara Domic hanya membuat emosinya semakin memuncak. Anna berbalik, menatap pria itu dengan api yang membara di matanya.

“Apa lagi, Domic? Kau ingin membelaku? Oh, tentu saja tidak. Kau di pihaknya, bukan aku.”

Domic mendekat, wajahnya gelap penuh amarah yang ia coba kendalikan. “Kau tidak perlu membuat ini lebih sulit, Anna. Kau tahu Felly sedang hamil. Kau bisa lebih bijaksana.”

Anna tertawa kecil, “Bijaksana? Kau ingin aku bijaksana pada perempuan yang menghancurkan rumah tangga kita? Perempuan yang bahkan kau biarkan berdiri di sini tanpa rasa bersalah sedikit pun?.”

Domic mengerutkan dahi, matanya menyipit menatap Anna. “Berhenti berbicara buruk seperti itu pada Felly, Anna. Felly adalah istriku juga sekarang, dan aku tidak akan membiarkan kau memperlakukannya seperti itu.”

Anna mendekat, berdiri hanya beberapa inci dari wajah Domic. “Oh, jadi sekarang aku yang salah? Hebat. Kau benar-benar luar biasa, Domic.”

Domic mengangkat dagunya sedikit, mempertahankan tatapan tajamnya. Namun, di balik itu, ia tidak bisa mengabaikan bagaimana Anna terlihat begitu memukau saat marah. Matanya berkilat dengan emosi, pipinya memerah, dan bibirnya yang gemetar menambah pesonanya. Domic benci mengakuinya, tetapi wanita di depannya ini selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali.

“Kita tidak akan menyelesaikan ini dengan saling berteriak. Kau sebaiknya ingat posisimu.” ucap Domic tajam.

Anna terdiam sejenak, tercengang oleh betapa dingin dan kerasnya Domic padanya. “Posisiku? Aku adalah istrimu yang pertama. Aku ibu dari anakmu! Dan kau berani memintaku mengingat posisiku sementara kau yang lupa pada posisimu sendiri?!.” tanya Anna tak percaya.

“Mengapa kau jadi sekeras ini Anna?!.”

“Kau yang membuatku seperti ini Domic!.” jawab Anna cepat.

Hening.

Anna dan Domic berdiri diam, saling menatap dengan emosi yang berkecamuk. Namun, suasana tegang itu pecah seketika oleh suara ceria yang tidak pernah gagal mencairkan hati mereka.

“Momy? Dady?.” suara lembut dan riang Carro tiba-tiba memotong ketegangan mereka.

Anna dan Domic serentak menoleh. Di depan pintu kamar, Carro berdiri dengan wajah cerah, memeluk erat boneka favoritnya, Brownie. Senyum polosnya merekah, tak menyadari suasana yang baru saja memanas antara kedua orang tuanya.

“Ayo! Kita jadi, bukan? Liburan hari ini?”

Anna merasakan tenggorokannya tercekat. Wajah marahnya melunak seketika. Tanpa berpikir, Anna meraih lengan Domic, mencengkeramnya erat, seolah meminta dukungan. “Tentu saja, sayang.” jawab Anna dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut.

Domic juga berubah drastis. Wajah dingin dan penuh amarahnya berganti dengan senyuman hangat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Anna, menariknya sedikit lebih dekat, memastikan Carro tidak menyadari apa pun yang terjadi. “Tentu saja kita akan liburan, sayang. Dady dan Momy sudah tidak sabar.”

Carro berlari kecil ke arah mereka, tertawa. “Yeay! Aku sudah siap! Boneka Brownie juga siap!.”

Anna menatap Domic dengan gugup, menyadari lengan pria itu masih melingkar di pinggangnya. Sentuhan itu lembut, hangat, memberi sensasi yang membuat hatinya berdebar tak karuan.

Anna segera mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada Carro.

“Kalau begitu, ayo kita bersiap,” kata Anna sambil tersenyum pada Carro.

“Kalau begitu, ayo kita bersiap,” kata Anna sambil tersenyum pada Carro.

Carro memiringkan kepala, menatap kedua orang tuanya. “Momy, Dady, kalian baik-baik saja, kan? Kalian tidak bertengkar lagi?”

Domic langsung berjongkok, menyentuh pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. “Dady dan Momy tidak pernah bertengkar, sayang. Kami hanya berdiskusi. Semua baik-baik saja.”

Anna mengangguk cepat, tersenyum kecil meskipun di dalam hatinya ia merasa sesak. “Ya, sayang. Kami hanya sedang berbicara. Jangan khawatir. Dan oh ya! Apakah putri kecil momy ini sudah mengemas barang-barangnya?.”

Carro tersenyum lebar, mengangguk antusias. “Sudah! Aku juga sudah masukkan baju renangku. Kita akan berenang, kan, Dady?”

Domic terkekeh pelan, “Tentu saja. Dady akan berenang bersama putri kecil Dady. Tapi Carro harus janji, ya? Tidak boleh terlalu lama di air.”

Carro tertawa kecil. “Aku janji! Tapi Dady juga harus janji main pasir bersamaku. Brownie juga mau main pasir!.”

“Dady janji.” jawab Domic sambil mengusap kepala Carro. Lalu ia berdiri dan menatap Anna. “Kalau begitu, kita harus bersiap. Kita tidak mau membuat Carro menunggu, kan?.”

Anna hanya mengangguk pelan, berusaha mengabaikan rasa aneh yang muncul di dadanya. Ia tahu mereka harus terlihat akur di depan Carro, tetapi sikap Domic yang tiba-tiba lembut membuatnya bingung sekaligus kesal.

Bagaimana bisa dia begitu manis setelah semua ini? pikir Anna.

Carro menggenggam tangan Domic dan Anna, menarik kedua orang tuanya untuk mendekat. “Momy, Dady, ayo jalan! Aku mau lihat laut!.”

Anna dan Domic bertukar pandang sekilas.

“Baiklah, sayang.” seru Anna.

Domic mengangkat tas Carro yang sudah tertata rapi di sudut ruangan. “Ayo kita pergi.”

Carro mengangguk bersemangat. “Yeay! Brownie boleh duduk di depan kan Mom?!.”

Anna tertawa kecil. “Brownie bisa duduk di pangkuanmu sayang. Tapi kamu tetap harus pakai seatbelt.”

“Setuju!.” jawab Carro riang, menggenggam tangan Anna dan Domic lebih erat.

Saat mereka berjalan ke arah mobil, tangan Carro yang kecil berada di tengah mereka, menjadi penghubung di antara dua hati yang terluka. Meski hanya sementara, kehadiran Carro memaksa Anna dan Domic melupakan amarah dan kebencian mereka, menggantinya dengan senyum palsu demi kebahagiaan putri mereka.

Saat Domic tanpa sadar menyentuh punggung Anna untuk membimbingnya masuk ke dalam mobil, perasaan yang tidak bisa dijelaskan kembali muncul. Anna merasakan sentuhan itu, lembut, penuh perhatian, namun terasa bertolak belakang dengan kata-kata kasar Domic sebelumnya.

Domic sendiri tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Anna. Ia masih bisa mengingat bagaimana tatapan berapi-api Anna tadi membuatnya kehilangan kendali. Anna begitu cantik saat marah. Tapi Domic tidak akan pernah mengakuinya.

“Dady, cepat naik! Kita mau lihat laut!.” suara ceria Carro memecah lamunan Domic.

“Ya, sayang. Kita pergi sekarang.” jawab Domic melirik Anna sekilas sebelum mengemudikan mobil.

Di dalam mobil, suasana berubah hangat karena celotehan Carro. Anna dan Domic ikut tertawa mendengar cerita-cerita putrinya yang ceria. Meskipun di dalam hati mereka masih ada luka yang menganga, tapi untuk saat ini, demi Carro, mereka memilih menyimpan semua itu dalam-dalam.

...\~\~\~...

...Domic...

...Annastasya...

...Carroline...

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

Semoga sabar itu hati Ana, padahal suaminya sdh berkata kasar dan memaksa agar menerima pernikahan kedua nya

2025-01-31

0

Soraya

Soraya

klo aku jadi Anna jujur aku gak sanggup lebih baik ku pergi

2024-12-23

2

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!