Kebanaran Pilu

Anna keluar dari mobilnya dan berdiri di depan gerbang kediaman Darmadi ayahnya sebelum masuk. Matanya yang sembab—sisa dari tangis panjang di tempat Selena tadi membuat wajah Anna terlihat lelah dan kusut meski tidak menghilangkan cantiknya.

Anna merasa hatinya masih terasa berat. Itu sebabnya Anna datang kesini untuk berbicara dengan ayahnya mengenai Felly dan Domic. Anna berharap ayah bisa membantunya dan menjauhkan Felly dari suaminya. Karena jika sampai mereka menikah, sungguh Anna tidak sudi membiarkan mereka menghancurkan hatinya.

Anna melangkah maju memasuki mansion. Baru saja beberapa langkah kakinya masuk, Anna merasa ada sesuatu yang salah. Saat Anna mendekati mansion, pemandangan yang disaksikan membuatnya merasa semakin tidak nyaman. Rumah besar itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Para maid dan pegawai berlalu-lalang dengan langkah cepat, membawa bunga, kain putih, dan dekorasi lain. Sesekali, pegawai asing— yang mungkin pekerja dari luar terlihat sibuk mengatur meja atau menggantungkan lampu-lampu hias. Tampak seperti ada sesuatu hal besar yang sedang dipersiapkan, sesuatu yang sangat Anna takuti.

Anna tertegun, alisnya berkerut melihat suasana yang tak biasa ini. Hatinya mulai berdebar kencang.

“Sedang ada apa di sini?” gumam Anna pada diri sendiri, semakin heran. Rasa tak enak menyelusup di hatinya, perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan sekelebat perkataan Domic tentang dia yang akan menikahi Felly mengingatkan Anna.

Anna kembali berjalan menuju ruang utama dengan tujuan untuk bertemu ayah dan mempertanyakan suasana tak biasa ini. Namun, saat hampir sampai di ruang tamu, langkahnya dihentikan oleh suara tajam yang familiar.

“Ada apa kau ke sini?” pertanyaan dingin itu berasal dari seorang wanita yang sedang berdiri di tengah ruangan. Ibu tirinya, wanita yang tak pernah benar-benar menyukai kehadirannya.

Anna menoleh dan mendapati wajah ibu Felly, penuh dengan ketidaksenangan dan sinis seperti biasa. Mata wanita itu memandang Anna dari atas ke bawah, seolah menghina penampilan Anna yang kusut dan matanya yang masih sembab.

Anna menegakkan punggungnya, suaranya tenang meskipun dadanya sedang bergemuruh. “Aku ingin menemui Ayah.”

Marlina mendengus, menyilangkan tangan di depan dadanya. “Ayahmu sedang istirahat, tidak bisa diganggu.”

Anna mengerutkan dahi, wajahnya semakin menegang. “Aku perlu bicara dengannya. Ini penting.”

Marlina tertawa sinis, “Hal penting apa? Apakah sepenting pesta yang akan terjadi di mansion ini?.”

Ibu tirinya tersenyum kecil, tapi senyuman itu dipenuhi dengan ejekan.

Anna merasa semakin bingung. “Apa maksudmu? Pesta apa yang akan terjadi disini?.” tanya Anna. Rasa takut seketika menyelimuti hatinya.

Marlina mendekat, memperlihatkan senyum puas yang dingin. “Kami sedang mempersiapkan pesta pernikahan besar-besaran. Yang pastinya untuk putriku dan Domic. Suami mu yang sangat kau cintai. Menyerahlah, Felly adalah wanita yang tepat untuk Domic. Kau lebih baik pergi sebelum harga dirimu makin kami hancurkan.”

Darah Anna mendidih seketika. Jantungnya berdegup kencang, sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Anna menggeleng tak percaya, merasa terhimpit antara rasa kecewa dan kemarahan yang semakin memuncak. Meski ia sudah tahu bahwa Domic kemungkinan akan menikahi Felly, namun mendengarnya langsung dari mulut ibu tirinya membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan. Kegetiran menjalar di setiap serat tubuh Anna.

“Tidak mungkin...,” bisik Anna pelan, tangannya menggenggam erat tasnya untuk menahan diri agar tidak meledak di tempat.

“Tentu saja mungkin,” sahut ibu tirinya dengan dingin, matanya penuh kebanggaan. “Domic membuat keputusan yang bijak. Anak Felly akan lahir dan mereka berhak mendapatkan kebahagiaan. Jangan sekali-kali kau mencoba menghalangi mereka, karena aku tidak akan membiarkan itu. Camkan.”

“Dia suamiku, Marlina! Apa kau tidak punya sedikit pun rasa simpati?!.” jawab Anna marah. Kemarahan Anna memuncak. Dia maju selangkah, menatap Marlina dengan tatapan menusuk.

“Kau seorang wanita. Mengapa kau begitu bangga berkata begitu? Apa kau bangga melihat anak mu merebut suamiku? Apakah itu suatu prestasi bagimu?.” tanya Anna tak habis pikir.

Marlina mendengus, melambaikan tangan dengan angkuh. “Kau tidak seharusnya marah. Suamimu hanya melakukan hal yang benar. Dan jangan berkata begitu padaku. Aku adalah ibu tirimu. Hormati aku!.”

Kata-kata Marlina begitu pedas, menusuk hati Anna tanpa ampun. Anna menggertakkan giginya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. “Kau.. sama sekali tidak punya hati. Aku bahkan ragu menyebutmu manusia.”

Marlina hanya tertawa kecil, tidak terpengaruh oleh kemarahan Anna. “Terserah! Yang pasti sekarang, kau harus belajar menerima kenyataan, Anna. Dunia ini tidak berputar hanya untukmu. Terimalah bahwa Felly akan segera menjadi bagian dalam keluarga kalian.”

“Sakit!.” teriak Anna tak habis pikir. Anna bahkan hampir tak bisa berkata-kata, kemarahan membakar dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Kau bicara seolah-olah aku tidak pernah penting. Apa kau pikir ini masuk akal bagiku? Kau tidak pernah peduli, Marlina. Felly mungkin putrimu, tapi perlakuan mu pada ku sama sekali tidak benar.” lanjut Anna.

“Dimana ayah?! Aku ingin bertemu dengan ayah!.”

“Kau tidak boleh menemuinya!.” kekeh Marlina menghalangi jalan Anna.

Anna menatap Marlina tajam. “Dia ayahku. Biarkan aku bertemu dengannya.”

Marlina tersenyum dingin, menggeleng dengan sikap meremehkan. “ Ayahmu? Apa kau yakin? Putri Kau selalu menjadi yang kedua, Anna. Felly adalah bintang di keluarga ini. Bahkan Darmadi tahu itu. Kau tidak pernah menjadi prioritas. Lalu bagaimana bisa kau mengklaim dirimu adalah putri Darmadi?.”

Anna terdiam sesaat, rasa sakit di dalam hatinya terasa semakin seperti ditusuk ribuan jarum. Air mata menggenang di pelupuk mata Anna.

Saat itu, Darmadi yang mendengar keributan muncul dari lantai atas. Ia keluar dari kamarnya, tampak serius dan tenang seperti biasanya. Anna, yang melihat ayahnya, langsung melangkah maju dengan harapan besar.

“Ayah, akhirnya kau di sini! Aku... aku harus bicara denganmu.” Anna berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

“Ayah, Domic... dia mengatakan ingin menikahi Felly. Ini salah, ayah. Dia suamiku, dan aku tidak bisa menerima ini. Tolong hentikan ini.” Mohon Anna dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Darmadi menghela napas panjang, tampak lelah dengan situasi yang sedang dihadapinya. Ia menatap Anna dengan sorot mata dingin yang tak pernah Anna bayangkan sebelumnya dari ayahnya sendiri.

Anna tertegun. Apa maksud tatapan dingin itu? Apakah ayahnya juga ada di balik semua ini?

“Anna, cukup. Ayah sudah tahu tentang ini.” ucap Darmadi santai.

Anna terkejut, langkahnya terhenti. “Apa maksud ayah?.”

Darmadi mengangguk, lalu berbicara dengan nada tegas. “Ya, Ayah yang meminta Domic untuk menikahi Felly. Kau tahu bagaimana kondisi Felly, Anna. Dia hamil, dan ayah tidak bisa membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada Felly lagi. Domic akan bertanggung jawab atas Felly. Dan itu pilihan yang tepat semua.” jawab Darmadi.

Anna merasa seakan seluruh dunia runtuh di hadapannya. Matanya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa ayahnya berkata begitu? Bagaimana ayahnya bisa menjadi dalang kehancuran putrinya sendiri demi menyelamatkan putri yang lain?

“Kau... kau yang menyuruhnya? Ayah, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku juga putrimu! Bukankah selain Felly perasaanku juga penting bagimu?!.”

Darmadi memalingkan wajah dari Anna, tidak tega sejujurnya melihat Anna yang begitu kesakitan menanggung kekecewaan pada dirinya ayahnya sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Darmadi pun tidak ingin sesuatu terjadi pada putrinya yang lain yaitu Felly.

“Kau harus menerima ini, Anna. Jangan mempersulit keadaan. Felly rapuh, dia butuh perlindungan. Dan kau... kau kuat. Kau akan baik-baik saja.” jawab Darmadi bisa-bisanya berkata begitu.

Marlina tersenyum puas.

“Baik-baik saja? Ayah, kau tidak mengerti! Kau berpikir aku kuat, tapi ini menghancurkanku! Aku kehilangan suamiku, dan kau... kau hanya berdiri di sini, menyuruhku untuk menerimanya? Apa perasaanku tidak berarti apa-apa? Apa kau pikir aku tidak terluka? Apa kau pikir cucumu tidak akan terluka? Apa kau tega menghancurkan perasaan putri dan cucumu?! Sadarlah Ayah!.”

“Anna, kau tahu Felly telah mencoba bunuh diri. Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Pernikahan ini harus segera dilaksanakan. Bukan ayah tidak peduli padamu dan Carollin. Kalian tidak akan kehilangan Domic. Hanya saja kalian hanya perlu berbagi. Ayah jamin Domic masih akan menjadi milikmu dan Carollin. Domic tidak akan meninggalkan kalian.”

Anna tertawa pahit, tidak habis pikir. “Tidak heran mengapa Ibu meninggalkan mu dulu. Kau begitu tak berperasaan. Kau tidak punya hati.”

Dengan kata-kata terakhir itu, Anna berbalik, air mata mengalir di pipinya. Hatinya hancur oleh kenyataan bahwa orang yang seharusnya melindunginya, ternyata adalah orang yang paling menghancurkanya.

Terpopuler

Comments

martina melati

martina melati

bukan kehilangan suami tp dmadu

2025-01-27

0

Annie Soe..

Annie Soe..

orang tua toxic...

2025-01-27

0

martina melati

martina melati

jd ayah koq tdk bijaksana... shrsny djelaskn pd anna jika felly hamil krn pria tak bertanggungjawab

2025-01-27

1

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!