Aku harus apa

Di sudut pemakaman yang sepi, Anna berlutut di depan makam ibunya. Hembusan angin senja menerpa wajahnya yang basah oleh air mata, sementara suara gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya pengiring kesedihan yang tak terkatakan. Di belakangnya, Ambar berdiri, berusaha menahan isak tangis, tapi air matanya tak terbendung. Melihat wanita yang dulu begitu kuat kini hancur berkeping-keping, membuat Ambar ikut merasakan kehancuran itu.

Anna mengelus lembut batu nisan ibunya, seakan berharap sentuhan itu bisa menghubungkannya kembali dengan sang ibu yang sudah lama pergi. Matanya yang bengkak menatap nama ibunya di nisan, lalu bibirnya bergetar, mengeluarkan kata-kata yang dipenuhi oleh kepedihan.

“Ibu...,” suara Anna pecah, lemah dan penuh luka. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku benar-benar hancur. Mereka menikah hari ini. Felly dan Domic. Suamiku. Adikku. Apa yang harus kulakukan, Bu? Mereka sedang bahagia sekarang, tapi... aku? Apa aku pantas merasakan sakit seperti ini, Bu?”

Anna terisak, menggenggam erat rumput di makam, seolah merasakan seutas koneksi terakhir dengan ibunya. Air mata terus mengalir, membasahi wajahnya yang terlihat rapuh. “Aku sudah kehilangan banyak, Bu. Ayah... dia bahkan tidak peduli padaku. Dia mendukung pernikahan Felly dan Domic. Mengapa Ayah melakukan itu Bu? Apakah dia tidak sadar bahwa aku juga putrinya? Apakah ayah sudah lupa siapa aku? Aku sangat terluka Bu.. orang-orang yang ku percayai, menusuk dan mengkhianati ku. Apakah aku pantas di perlakukan seperti ini?.”

Ambar terisak di belakang Anna, namun berusaha tetap tenang demi menjaga kehadirannya untuk Anna. Tangannya gemetar, memegangi dadanya yang sesak melihat betapa dalamnya luka yang Anna rasakan. Ambar tahu, meski dia ingin berbicara, tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar meredakan kesakitan ini.

“Mony dan Dady bahkan tidak bisa melakukan apa-apa. Domic benar-benar tidak bisa dibantah Bu.. Aku tahu mereka tidak bermaksud menyakitiku. Sekarang.. sekarang aku hanya punya Carro,” lanjut Anna dengan suara serak. “Aku ingin pergi, Bu. Aku ingin lari dari semua ini. Tapi... bagaimana bisa aku menghancurkan hati Carro? Dia anakku. Dia satu-satunya yang kupunya sekarang. Bagaimana mungkin aku hancurkan hatinya dengan menghilangkan sosok ayah di hidupnya?”

Anna terisak semakin keras, suaranya tertahan oleh penderitaan yang mengakar dalam. “Jika aku tetap tinggal, aku harus melihat suamiku bersama adikku setiap hari, dan hatiku akan hancur perlahan-lahan. Tapi jika aku pergi... Carro... hatinya akan remuk. Apa yang harus kulakukan, Bu? Apa aku harus tinggal dan mati perlahan? Atau pergi dan menghancurkan hati anakku?”

Kata-kata itu penuh dengan luka yang tergores dalam, seolah tak ada jawaban yang bisa mengakhiri penderitaannya. Anna merasa terjebak di antara pilihan yang sama-sama menyakitkan.

Ambar mendekat perlahan, tak kuasa melihat wanita yang sangat dihormatinya kini tersungkur seperti ini. Dengan lembut, dia berjongkok di samping Anna, tangan gemetar menyentuh bahu Anna yang bergetar karena tangis. “Nyonya Anna...” suara Ambar serak, air mata masih mengalir di pipinya. “Anda tidak sendiri. Saya di sini... saya selalu di sini untuk Anda. Anda punya Carro, dan Carro membutuhkan Anda. Apapun yang terjadi, dia akan selalu memandang Anda sebagai satu-satunya tempat berlindungnya.”

Anna menatap Ambar, matanya dipenuhi keputusasaan. “Aku merasa seolah tidak ada yang tersisa untukku. Bagaimana jika aku tidak kuat Ambar?.”

Ambar menggenggam erat tangan Anna, suaranya bergetar namun penuh keteguhan. “Anda lebih kuat dari yang Anda pikirkan, Nyonya. Anda harus bertahan untuk Carro. Dia satu-satunya harapan Anda, dan dia butuh Anda lebih dari siapapun. Anda tidak bisa menyerah sekarang.”

Anna terdiam, menatap makam ibunya kembali. Dalam hatinya, dia tahu Ambar benar. Namun rasa sakit itu begitu mendalam, begitu mencekam, hingga sulit bagi Anna untuk menemukan jalan keluar.

Di belakang, Ambar menangis dalam diam. Dia tahu, tidak ada jawaban mudah untuk pertanyaan itu. Tapi satu hal yang pasti, Anna harus tetap berdiri, meski dengan hati yang hampir remuk.

*****

Setelah hampir menyapa semua tamu-tamu yang datang, Domic dan Felly berjalan mendekati Marcus dan Victor, mereka merupakan fatner dan sahabat Domic sedari dulu. Mereka duduk di salah satu sudut ruangan, sementara salah satu sahabatnya yang lain, yaitu Richard, dia asyik berdansa dengan wanita yang baru dikenalnya, dan Adrian sahabat keempat Domic sibuk mengobrol dengan sekretarisnya.

“Aku tidak yakin Marcus dan Victor akan menyambutku dengan baik, Domic.” ucap Felly saat jaraknya mulai dekat dengan Marcus dan Victor yang menatap Felly tanpa ekspresi apapun.

Domic menatap kedua sahabatnya, lalu menggenggam tangan Felly erat. “Tidak apa-apa. Mereka memang sedikit acuh, tapi sebenarnya mereka baik.”

Felly menunduk sedikit, “Apakah mereka setuju dengan pernikahan kita?.”

Domic terdiam, rahanganya sedikit mengeras sebelum menjawab. “Mereka dekat dengan Anna.” jawab Domic sangat cukup menjawab pertanyaan Felly sebelumnya.

“Tersenyum saja pada mereka.” lanjut Domic.

Felly dengan gaun pengantinnya yang berkilauan di bawah sorotan lampu kristal, mulai tersenyum cerah pada Marcus dan Victor, menciptakan keakraban lebih dulu. Entah mengapa mendengar mereka lebih dekat dengan kakaknya Anna membuat Felly tidak ingin kalah dan ingin dekat juga dengan mereka.

“Hai Victor? Marcus? Terimakasih telah datang. Aku sangat berterima kasih kalian bisa datang," ujar Felly dengan suara lembut, seolah ingin menciptakan keakraban. “Kedatangan kalian melengkapi malam luar biasa ini.” lanjut Felly, masih dengan senyum cerahnya meski Marcus dan Victor tidak membalas senyum itu.

Marcus dan Victor bertukar pandang. Keduanya tidak bisa menyembunyikan ketidak sukaan mereka pada Felly, namun meski begitu mereka mencoba tetap sopan. Marcus memandang Felly dengan dingin, tidak tersenyum, bahkan tampak lebih acuh dibanding Victor.

Marcus menatap Domic yang sedang meneguk win di tangannya. “Bagaimana dengan Anna?” tanya Marcus, mengabaikan Felly yang mengajaknya bicara. “Apa Anna tahu ini? Dan apa kau memikirkan perasaannya sebelum menikahi adiknya?” lanjut Marcus.

Pertanyaan Marcus langsung membuat suasana berubah. Senyum Felly memudar sedikit, meskipun dia berusaha tetap tampak tenang, berusaha paham dengan sikap Marcus yang lebih berpihak pada Anna.

Domic langsung maju merangkul pinggang Felly, raut wajahnya serius namun tidak sepenuhnya terganggu oleh pertanyaan Marcus. “Anna baik-baik saja, Marcus. Ini bukan soal perasaan Anna saja. Ini soal tanggung jawabku sebagai pria. Felly sedang mengandung, dan aku harus melakukan apa yang benar untuk memastikan masa depan anak ini. Anna akan mengerti.”

Marcus mengangkat alis, tidak puas dengan jawaban itu, tetapi sebelum ia bisa berkata lebih lanjut, Victor melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih tajam. “Kau sudah bertemu dengan Carro, anakmu? Bagaimana jika dia tahu tentang hal ini? Bagaimana kau menjelaskannya pada gadis kecil yang mencintaimu?”

Domic mendesah pelan, rahanganya mengeras menatap Victor. “Carro dan Anna baik-baik saja. Aku sudah mengatur semuanya. Setelah pernikahan ini, Felly akan tetap tinggal di kediaman ayahnya, Darmadi. Carro tidak akan pernah tahu tentang ini, dan tidak boleh tahu. Aku sangat mencintai Carro, lebih dari siapapun, dan aku akan selalu melindunginya dari hal-hal yang bisa melukainya. Hubungan ini tidak akan menyentuh kehidupan Carro. Aku akan memastikan itu.”

Victor menggelengkan kepala dengan kecewa, jelas tidak setuju. “Kau bisa berusaha menjaga rahasia ini selama mungkin, Domic, tapi pada akhirnya, rahasia selalu terungkap. Kau tidak bisa membangun kehidupan baru di atas fondasi kebohongan tanpa menyakiti orang-orang yang paling kau cintai.”

Marcus, yang sedari tadi diam setelah bertanya tentang Anna, menatap Domic tajam. “Kau mungkin bisa mengabaikan Anna sekarang, Domic, tapi kau tidak bisa lari dari kenyataan selamanya. Pada akhirnya, setiap tindakan memiliki konsekuensi.”

Felly tampak semakin tidak nyaman, tapi dia mencoba mempertahankan senyumnya. “Aku yakin semua ini akan berjalan baik. Kami hanya ingin hidup bahagia dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami.”

Namun, suasana semakin tegang. Victor mengalihkan pandangannya, seolah tak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan yang jelas-jelas membuatnya semakin muak. Marcus menatap Felly dengan tatapan dingin, menahan segala emosi yang membara di dalam dirinya. Perasaannya pada Anna semakin memperparah kebenciannya pada apa yang sedang terjadi di hadapannya.

“Semoga kau benar, Felly,” kata Marcus akhirnya, nadanya terdengar dingin. "Semoga kebahagiaan yang kau cari tidak datang dengan menghancurkan hidup orang lain.”

Domic menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya dari kritik yang datang bertubi-tubi. “Aku tahu apa yang kulakukan, Marcus. Ini keputusan terbaik untuk semua orang.”

Namun, baik Marcus maupun Victor tidak yakin. Bagi mereka, ada harga yang harus dibayar atas keputusan ini, dan yang pasti bukan hanya Domic dan Felly yang akan menanggung akibatnya, tapi juga Anna dan Carollin yang tak berdosa dalam situasi ini.

Terpopuler

Comments

Sulis Tyawati

Sulis Tyawati

ayo Anna kamu hrs bangkit, harus kuat, elegan dan smart. tunjukan pada manusia2 tak berakhlak itu. terutama Domic kalo kamu bisa lebih baik tanpa dia. cukup nnagis2 nya. wktunya bangkit

2025-02-14

1

Diah Anggraini

Diah Anggraini

salut sama marcus dan Victor.. karna ga setuju sama domic yang nikahin felly..
itu baru temen yang baik..

2025-02-15

0

martina melati

martina melati

boleh sedih tp jangan berlarut y anna... berusaha tegar dan kuat... peluk anakmu caroline

2025-01-27

0

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!