Ingin tinggal bersama

Pintu utama terbuka dengan keras, suara langkah kaki Felly menggema di aula besar. Tubuhnya masih bergetar, bukan karena dingin, melainkan oleh amarah yang mendidih sejak meninggalkan Domic. Wajahnya memerah, dan napasnya terasa berat. Supir pribadi yang tadi mengantarnya hanya menunduk sopan sebelum pergi, membiarkan Felly melangkah masuk dengan penuh kemarahan.

“Dady! Momy!.” panggilnya dengan suara nyaring yang memecah keheningan.

Tak butuh waktu lama, Marlina muncul dari ruang keluarga dengan alis yang langsung mengernyit melihat kondisi putrinya. “Sayang, apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat seperti ini?.” tanya Marlina melangkah cepat mendekati Felly.

“Dady mana?” Felly bertanya tajam, matanya berkilat penuh emosi. “Aku harus bicara sekarang juga!.”

Marlina memegang kedua bahu Felly, mencoba menenangkan. “Dady ada di ruang kerjanya. Ada apa Felly? Mengapa kau datang semarah ini? Apa ini soal Domic?.”

“Ah!” Felly menepis tangan ibunya dengan kesal. “Ini semua gara-gara Anna! Aku tidak tahan lagi, Momy! Dia sudah melewati batas!.”

Marlina mengerutkan kening. “Perempuan itu lagi?.” Suaranya meninggi. “Apa yang dia lakukan padamu?! Tunggu di sini, biar Momy panggil Dady.”

Beberapa saat kemudian, Darmadi muncul dari ruang kerjanya, diikuti oleh Marlina yang sudah terlihat gusar. Wajah Darmadi yang biasanya tenang kini khawatir begitu melihat Felly.

“Ada apa ini, Felly?” tanya Darmadi dengan nada lembut. “Mengapa kau tampak begitu marah?.”

Felly yang sudah tak sanggup menahan emosinya langsung duduk di sofa dan mulai mengadu. “Dady, Momy, kalian tahu apa yang terjadi padaku tadi? Aku dipermalukan oleh Anna di depan Domic! Dia bicara seperti aku ini tidak ada harganya, seperti aku yang salah dalam semua ini!.”

“Apa?!.” Marlina langsung melotot. “Benarkah itu? Apa maksudmu, sayang? Apa yang dia katakan padamu?.”

Felly memulai ceritanya dengan nada tinggi, penuh dengan emosi yang meluap-luap. “Tadi aku menemui Anna bersama Domic di mansion. Aku berbicara baik-baik, ingin menemui Carro dan menyelesaikan semuanya. Tapi tahu apa yang dia lakukan? Dia mengusirku dengan kata-kata yang kasar! Dia bilang aku penghancur, bahwa aku sudah menghancurkan keluarganya, dan… dan dia bahkan mengancam tidak akan membiarkan aku menyentuh Carro, Mom, Dad!”

Marlina tertegun, lalu wajahnya berubah merah karena marah. “Beraninya dia bicara seperti itu padamu! Dia pikir dia siapa?! Perempuan sok suci itu selalu merasa benar sendiri!.”

Marlina segera menoleh pada Darmadi, meminta pembelaan. “Mas, ini tidak bisa di biarkan! Lihatlah bagaimana anak mu itu memperlakukan anak kita! Aku tidak terima!.”

Darmadi menghela napas berat. Matanya menunjukkan ketidaksenangan. “Anna memang keras kepala. Seharusnya dia bisa bicara lebih baik, apalagi pada adiknya sendiri.”

“Dady! Dia tidak menganggapku adiknya!” seru Felly dengan suara memelas. “Dia memperlakukan aku seperti musuh! Dan Domic? Dia sempat membela Anna, lalu meninggalkanku begitu saja! Aku harus pulang dengan supir pribadinya, Dady! Aku merasa dipermalukan, direndahkan!.”

Marlina mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Marah karena putrinya diperlakukan seperti itu. “Aku sudah muak dengan Anna, Mas. Dia selalu membawa masalah! Perempuan itu tidak pernah tahu tempatnya! Dan aku yakin Domic berlaku seperti itu pada Felly karena Anna!.”

Darmadi mengangguk pelan, tanpa ada usaha sedikit pun untuk membela Anna yang merupakan putri kandungnya. “Dia memang sulit diatur. Dady tahu itu.”

“Dady, aku tidak mau tinggal diam!.” Felly menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Dia harus diberi pelajaran. Anna sudah terlalu sering membuatku kesal, dan dia juga merusak rencanaku dengan Domic!.”

Marlina menimpali dengan suara lantang, “Felly benar, Mas. Kau harus melakukan sesuatu. Anna harus tahu tempatnya! Dia bukan anakku, dan aku tidak akan membiarkan dia memperlakukan putriku seperti ini!.”

Darmadi menghela napas lagi, namun kali ini dengan nada setuju. “Baiklah. Dady akan bicara dengan Anna. Dia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada adiknya, apalagi di depan suaminya.”

“Tidak cukup bicara, Dady!” Felly menuntut dengan suara yang lebih tajam. “Dia harus merasakan akibatnya! Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak akan tinggal diam kalau dia terus merendahkan ku seperti ini!.”

Marlina mengangguk setuju. “Betul. Kita tidak bisa membiarkan Anna terus merendahkan Felly. Kau harus keras padanya, Mas. Anna harus tahu siapa yang berkuasa di keluarga ini. Dan buat Anna menerima kenyataan bahwa Domic kini bukan hanya suaminya. Tetapi juga suami Felly, Mas. Anna harus menerima itu!.”

Darmadi berpikir sejenak, “Baiklah. Dady akan memastikan Anna mengerti batasannya dan menerima semua yang sudah terjadi. Dia tidak boleh terus bertindak seperti ini.”

Felly tersenyum puas meski air matanya masih menggenang. Ia memeluk Marlina dengan manja. “Momy, Dady, terima kasih. Aku tahu kalian selalu mendukungku.”

“Selalu, sayang,” jawab Marlina sambil mengelus kepala Felly. “Anna akan tahu tempatnya. Jangan khawatir.”

Saat Marlina dan Darmadi kembali berbicara mendiskusikan bagaimana Anna harus diberi pelajaran, Felly terdiam sejenak, bibirnya mengerucut. Namun dalam pikirannya berbagai pemikiran mulai berputar cepat. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepalanya. Felly memegang perutnya yang mulai membesar, dan senyuman tipis muncul di bibirnya.

Haruskah? - batin Felly tersenyum licik.

Ya, aku harus melakukannya. Ini bukan sekadar untuk memastikan Domic terus berada di sisiku, tapi juga sebagai cara untuk menunjukkan pada Anna bahwa posisi ku kini setara dengannya. - Lanjut Felly membatin.

Felly ingin Anna menyadari bahwa ia, Felly, juga memiliki hak atas Domic, hak yang sama seperti Anna, bahkan lebih. Anna harus tahu bahwa dirinya tak lagi menjadi satu-satunya “nyonya” di rumah itu. Kini ada dirinya, Felly, calon ibu dari anak kedua Domic. Dengan tinggal di rumah yang sama, Felly tidak hanya akan mendapatkan perhatian penuh dari Domic, tetapi juga memastikan bahwa Anna merasakan kehadirannya sebagai ancaman nyata.

Felly tahu betul bahwa ini akan memancing ketegangan, tetapi itulah yang ia inginkan. Felly ingin Anna memahami bahwa keadaan telah berubah. Tidak ada lagi Anna yang berkuasa penuh atas rumah itu, tidak ada lagi Anna yang berdiri sendiri sebagai istri. Kini ada dirinya. Istri kedua Domic.

Felly meremas lembut perutnya, berpura-pura merasakan kelelahan, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu ini saat yang tepat untuk mengemukakan idenya. Ia mengangkat wajahnya, memandang Marlina dan Darmadi dengan sorot mata lelah, membuat Marlina dan Darmadi mulai memperhatikannya dengan khawatir.

“Kenapa, sayang? Kau terlihat tidak nyaman,” tanya Marlina lembut, mendekat untuk memegang tangan putrinya.

Felly menghela napas panjang, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi lesu. “Momy, Dady… kalau terus seperti ini, aku benar-benar tidak tahu bagaimana nasib bayiku. Domic terus membagi waktunya antara aku dan Anna. Aku selalu sendirian. Bagaimana kalau ini membuatku stres dan bayiku kena dampaknya?.”

Marlina langsung mengerutkan kening, terlihat panik. “Oh tidak, sayang! Kau tidak boleh stres, itu tidak baik untuk bayimu.”

Darmadi menatap Felly dengan alis berkerut. “Domic tidak menjagamu dengan baik? Dia tidak mendampingimu seperti seharusnya?.”

“Bukan itu, Dady.” jawab Felly dengan nada lemah, matanya menatap ke lantai seolah menahan rasa sedih.

“Aku tahu Domic berusaha adil, tapi ini tidak cukup untukku. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada bayiku karena aku tidak mendapatkan perhatian yang cukup darinya? Apalagi aku selalu sendirian, aku merasa seperti ditinggalkan.”

Marlina langsung memegang tangan Felly dengan erat. “Tidak, sayang! Itu tidak boleh terjadi. Kau tidak boleh merasa seperti ini. Bayi dalam perutmu adalah prioritas utama. Domic harus lebih fokus padamu!.”

“Tentu, Mom.” jawab Felly lesu. Melirik ayahnya sekilas, lalu menatap ibunya. Melihat kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah keduanya, Felly tersenyum tipis. Ia tahu inilah saat yang tepat untuk menyampaikan idenya.

Felly menghela napas pelan, mengangkat wajah dengan ekspresi sedikit lebih tegas namun tetap terlihat lembut. “Momy, Dady…” ucapnya dengan nada pelan namun penuh maksud. “Aku sudah memikirkannya. Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa menjaga bayiku dengan baik. Jadi, aku rasa… satu-satunya solusi adalah aku tinggal bersama Domic di mansion itu.”

“Apa?!.” Marlina dan Darmadi menatap putri mereka dengan raut kaget.

“Maksudmu?.” Tanya Marlina tidak paham.

“Maksudanya bagaimana jika aku tinggal bersama Domic dan Anna, Mom?.” jelas Felly sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih, seperti ingin menekankan prioritasnya pada bayi yang sedang dikandungnya.

“Aku tahu ini mungkin tidak mudah, tapi ini untuk kebaikan bayiku. Aku butuh Domic di sisiku setiap saat. Dia tidak bisa terus membagi waktunya seperti ini. Aku istri sahnya, dan ini hakku untuk tinggal bersamanya.”

Marlina langsung bereaksi, suaranya terdengar tajam. Tentu saja setuju dengan apapun yang diinginkan putrinya mesku salah. “Benar sekali, Sayang! Ini ide yang sangat bagus. Kau istri sah Domic, dan Domic seharusnya fokus sepenuhnya padamu. Anna harus tahu diri. Tidak ada yang salah dengan ini.”

Felly menunduk sedikit, menyembunyikan senyum licik di balik ekspresi lembutnya. Dalam hatinya, ia merasa puas melihat Ibunya langsung setuju tanpa ragu.

Namun, ketika Felly menatap Darmadi, ia mendapati ayahnya masih termenung, seolah mempertimbangkan sesuatu dengan serius. Wajah Darmadi sedikit tegang, dan ada sorot keraguan dalam matanya.

“Dady?.” tanya Felly dengan nada memelas, matanya berkaca-kaca. “Apa menurut Dady aku salah?.”

Darmadi menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala pelan. “Ini bukan soal salah atau benar, Felly. Dady hanya khawatir ini akan menimbulkan masalah baru. Tinggal bersama Anna di mansion itu bisa menjadi keputusan yang fatal.”

Felly mengerutkan kening, berpura-pura bingung. “Fatal bagaimana, Dady? Bukankah ini hanya tentang aku dan bayiku? Dady sendiri yang bilang bahwa aku butuh Domic.”

“Ya memang benar sayang. Tapi Bukan hanya soal itu.” jawab Darmadi menjawab dengan nada hati-hati.

“Ini soal keadilan untuk Anna juga. Jika kau tinggal di sana, ini akan memperkeruh keadaan. Selain itu…” Darmadi terdiam sejenak, menarik napas sebelum melanjutkan, “Dady khawatir Carro, cucu Dady, akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi antara kalian bertiga. Itu tidak baik untuk perkembangannya.”

Felly menunduk, pura-pura merasa tersakiti. Ia mengelus perutnya dengan lembut, membuat Marlina semakin gelisah. “Jadi… Dady lebih memilih menjaga perasaan Kak Anna dan Carro daripada aku dan bayiku?.” bisiknya lirih.

Marlina langsung melotot ke arah Darmadi. “Sayang! Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Anna harus tahu tempatnya. Kau tidak bisa terus mengutamakan dia sementara Felly dalam keadaan seperti ini!.”

“Ini bukan soal mengutamakan siapa, sayang. Soal ini kita harus memikirkan semua pihak.” jawab Darmadi cepat.

“Aku tidak pernah meminta banyak, Dady. Aku hanya ingin menjaga bayiku dengan baik, dan aku butuh suamiku di sisiku. Itu saja. Aku tidak ingin membahayakan bayiku hanya karena aku selalu sendirian.” tambah Felly semakin lirih.

Darmadi terlihat semakin ragu, namun Marlina segera membujuknya dengan nada yang lebih tegas. “Kau harus mendukung Felly, Mas. Kau tidak bisa membiarkan putrimu yang sedang mengandung ini merasa diabaikan. Domic adalah suami Felly, dan wajar untuk Felly menginginkan suaminya terus berada disisinya. Felly tinggal bersama disana bukan hal yang salah!.”

Darmadi memijat pelipisnya, jelas terlihat bahwa ia sedang perang batin. Meski Darmadi merasa tindakan ini akan menyakiti Anna, ada tekanan besar dari istrinya Marlina dan putrinya Felly yang membuatnya semakin bimbang. Akhirnya, Darmadi mendesah berat dan mengangguk pelan. Tidak punya pilihan lain sebab ia tidak pernah bisa menolak keinginan istri dan putrinya. “Baiklah. Dady akan bicara dengan Domic tentang ini. Tapi ingat, kita harus melakukannya dengan hati-hati agar situasi tidak semakin memburuk.”

Marlina tersenyum puas, lalu merangkul Felly. “Lihat, sayang? Dady-mu selalu mendukungmu. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”

Felly menyandarkan kepala di bahu ibunya, bibirnya melengkungkan senyuman tipis yang penuh arti.

“Terima kasih, Momy, Dady..”

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

seorang bapak yg tdk bisa melindungi anak nya sendiri

2025-01-31

0

Diah Anggraini

Diah Anggraini

benci banget saya sama felly dan ayah nya anna

2025-02-15

0

Kanaya

Kanaya

ikan terbang indosiar

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!