Kelak kau akan menjadi Ibu

Ambar masuk ke kamar Anna tak lama setelah Domic meninggalkan ruangan. Dengan langkah hati-hati, Ambar mendekati Anna yang duduk di sisi ranjang, wajahnya tersembunyi di balik tangan yang gemetar, terisak tanpa suara.

“Nyonya,” suara Ambar pelan, penuh rasa bersalah. “Maaf mengganggu.”

Anna mengangkat kepalanya perlahan, matanya masih basah dan merah, tatapannya penuh dengan luka yang belum sembuh.

Ambar meremas apronnya, ragu untuk berbicara.

“Ada apa Ambar?.” tanya Anna bingung. Ia mengusap air matanya dan menatap Ambar penuh tanya.

“Nyonya, maafkan saya telah lancang masuk dan mengganggu anda.” Ambar menarik napas panjang, “Tuan Domic… dia datang padaku. Tuan sedang marah dan menanyakan di mana Carollin berada. Saya—saya tidak bisa berbohong padanya, Nyonya. Saya akhirnya memberitahuTuan di mana Carollin berada. Saya memberi alamat nyonya Selena. Maafkan saya Nyonya.” lanjut Ambar.

Mendengar itu, Anna terdiam sesaat, wajahnya berubah. “Selena?”

“Tidak. Domic tidak boleh membawa Carollin pergi. Tidak sekarang.”

Ambar menunduk, makin merasa bersalah. “Saya benar-benar minta maaf, Nyonya. Saya tidak punya pilihan lain. Tuan Domic sangat marah dan saya takut jika tidak memberitahunya.”

Tepat setelah Ambar selesai berbicara, dering ponsel Anna terdengar. Menandakan ada panggilan masuk yang menghubunginya. Dengan tangan yang masih gemetar Anna meraih ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar—Selena. Hatinya berdegup kencang, seolah sudah bisa merasakan apa yang akan dikatakan temannya itu.

“Anna,” suara Selena terdengar jelas, tapi terpotong oleh nada ceria Carollin di sebrang sana.

“Dady!!.”

“Domic ada di sini, menjemput Carollin. Aku terkejut saat Domic tiba-tiba datang Anna. Carollin menyambut Domic dengan sangat senang, sepertinya Carro merindukan ayahnya. Aku jadi tidak tega untuk menghalangi mereka bertemu.”

Anna menahan napasnya, merasakan rasa sakit yang menusuk di dadanya. Ia tahu Carollin pasti merindukan Domic. Meskipun hatinya bergetar karena kebencian dan kesedihan, Anna tidak bisa menghalangi kebahagiaan putrinya.

“Anna? Apa yang harus aku lakukan? Domic sepertinya ingin membawa Carollin pulang. Apakah disana sudah baik-baik saja?,” tanya Selena.

Anna memijat pelipisnya dengan jari telunjuk, menghela nafas pelan. Tidak ada pilihan lain. Anna tidak ingin Carollin merasa terjebak di antara dua orang tua yang saling berkonflik. Sepertinya satu-satunya cara untuk menjaga kedamaian di hati putrinya sekarang adalah dengan mengiyakan. “Selena, aku akan menceritakan semua lebih detail nanti, terimakasih telah menjaga putriku selama dua hari ini. Aku akan menghubungimu lagi setelah semua baik-baik saja ya. Jika Domic ingin membawa Carro pulang, tidak apa, biarkan saja dia membawa Carro pulang,” jawab Anna akhirnya, suaranya tegas meski hatinya hancur.

Selena terdiam di sebrang sana. Cemas, khawatir, dan penasaran, namun tidak ada yang dapat Selena tanyakan sekarang karena keadaan Anna yang perlu banyak waktu untuk sendiri dulu. “Baiklah, aku akan membiarkan Domic membawa Carro pulang. Aku akan menunggumu bercerita, jangan sungkan untuk datang ke rumah ku Anna. Aku sungguh mengkhawatirkan mu disini. Semoga semua kembali baik-baik saja.”

Anna mengangguk, “Terimakasih.”

Setelah menutup telepon, Anna langsung beranjak dari tempat tidur. Anna merasa perlu mempersiapkan diri sebelum Carollin tiba. Langkahnya cepat dan mantap, meski jantungnya berdebar hebat. Anna menuju wastafel, wajahnya memantulkan bayangan kekecewaan dan air mata yang telah mengering. Dengan sigap, Anna mulai mencuci wajahnya, membasuh setiap jejak kesedihan yang tertinggal.

Air dingin menyentuh kulitnya, memberikan sensasi segar yang sejenak mengalihkan pikirannya dari kesedihan yang mendalam. Setelah selesai mencuci, Anna mengeluarkan alat makeup dari tas kecilnya. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Anna mulai merias wajahnya, menyapukan sedikit bedak dan lipstik untuk menutupi mata sembabnya dan mengembalikan sedikit warna ke wajahnya.

Anna berdiri di depan cermin, meneliti setiap detil penampilannya. Ia tidak ingin Carollin melihatnya sedih. Ia tidak ingin putrinya menanggung beban dari rasa sakit orang tuanya. “Aku harus kuat,” bisik Anna pada diri sendiri, berusaha meyakinkan hatinya sendiri.

Dengan langkah yang lebih mantap, Anna turun ke bawah, berusaha menenangkan diri sambil menyusun rencana untuk bertemu Carollin. Di dalam hatinya, Anna berdoa agar putrinya tidak merasakan perubahan suasana hati ibunya, berharap Carollin dapat tetap menikmati waktu bersama Domic tanpa harus merasakan ketegangan yang ada di antara mereka.

******

Saat Anna sedang duduk di ruang utama dan menunggu, sebuah suara dari arah pintu mansion tiba-tiba memecah kesunyian. Pintu dibuka oleh salah satu pelayan, dan Anna tertegun ketika melihat sosok yang menjadi sumber rasa sakit hati terdalamnya datang.

Felly melangkah masuk dengan langkah ringan, mengenakan gaun yang tampak sederhana namun elegan, seolah tidak ada yang terjadi antara mereka sebelumnya. Senyumannya terlihat begitu lepas, dan sikapnya yang santai membuat Anna merasa tercekik. Felly datang tanpa menghiraukan ketegangan yang menggelayut di antara mereka.

Anna seketika berdiri, menatap Felly dengan tatapan tajam, merasa muak melihat wajah yang selama ini dia anggap sebagai saudara ternyata musuh terberatnya sendiri. Rasa jijik dan marah bergejolak di dada Anna. “Jika kedatanganmu untuk menemui Domic, Domic sedang tidak ada di sini,” ujar Anna dingin. Anna berdiri dan menghadang Felly agar tidak masuk lebih dalam ke dalam mansion.

Felly menghentikan langkahnya, menatap Anna tanpa rasa bersalah. “Hai, kak? Apakah ini sambutan yang kau berikan pada pengantin baru? Kau bahkan tidak membiarkan ku masuk lebih dalam. Tenang saja, Kak. Aku kemari untukmu, bukan untuk suami kita, Mas Domic.”

Deg!

Suami kita?

Anna benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit dan mual di hatinya mendengar itu. Apakah Felly benar-benar tidak tahu malu?

Anna masih menatap Felly dengan tatapan tajam, merasakan kemarahan yang semakin membara di dalam dirinya.

“Apa kau tidak tahu malu Felly? Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih berani menemui ku dan secara blak blakan mengakui suami ku sebagai suami mu juga? Are you sick?.”

Felly merengut, wajahnya mulai kesal. “Hei tenang kak, aku tidak mengerti mengapa kau harus marah. Apa kau lupa semalam aku dan Domi sudah resmi menikah? Itu artinya aku berhak mengakui suami mu sebagai suami ku juga. Terimalah kenyataan ini! And i’m not sick!.”

“Kau sungguh tidak tahu malu!” Anna membentak, langkahnya maju selangkah. “Kau bisa saja merayakan hidup barumu, tapi ingatlah siapa yang kau injak untuk sampai ke sana.”

Felly tersenyum miring, seolah kata-kata Anna tidak ada artinya. “Baiklah. Aku di sini hanya untuk memberi tahu bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk bermusuhan. Kita harus bersatu demi keluarga.”

“Keluarga apa yang kau bicarakan?.” Tanya Anna, Anna meragukan kebodohan Felly. “Apakah kau mengerti apa artinya berkeluarga? Kau bahkan mengkhianati ikatan darah kita!.”

Felly berdecak, “Kak! Cukup! Semua ini sudah terjadi. Mari kita move on dan fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan.”

Anna menggelengkan kepala, tak percaya. “Kau tidak mengerti betapa menyakitkannya semua ini. Kau tidak mengerti beban dan rasa sakit yang kau ciptakan untukku. Felly, kelak kau akan menjadi ibu. Kau akan mengerti sesakit apa penghianatan saat kau sudah menjadi seorang ibu. Bukan hanya rasa sakit dirimu sendiri yang kau rasakan, namun juga rasa sakit anakmu kelak jika dia tahu. Kau akan dihantui oleh rasa bersalah yang bahkan bukan kau lah penyebabnya. Kelak kau akan mengerti dan tidak akan menganggap rasa sakit orang lain remeh.” ucap Anna dengan suara makin lama makin pelan. Air mata Anna kembali jatuh. Namun ia segera menepisnya, tak ingin menyia-nyiakan air matanya lagi untuk orang-orang yang bahkan tidak mengerti dengan rasa sakitnya. Anna berbalik, meninggalkan Felly yang terdiam ditempat setelah mendengar ucapan Anna yang tak terbantahkan.

Kelak kau akan menjadi ibu. Kau akan mengerti sesakit apa penghianatan saat kau sudah menjadi seorang ibu. Bukan hanya rasa sakit dirimu sendiri yang kau rasakan, namun juga rasa sakit anakmu kelak jika dia tahu.

Suara Anna terngiang di kepala Felly. Meski mencoba untuk tidak menghiraukan, namun nyatanya kata-kata Anna tetap mempengaruhinya.

Felly menghentakkan kakinya kesal, lalu menatap Anna yang berjalan menaiki tangga tanpa menoleh ke arahnya lagi.

“Kau pun harus tahu rasanya menjadi aku kak! Kau harus tahu bagaimana sakitnya aku saat orang yang paling aku inginkan ternyata harus menikah dengan kakak ku sendiri! Mau bagimana pun, kau tahu bahwa aku lah yang menginginkan Domi sejak awal! Bukan kau!.” teriak Felly pada Anna yang belum menghilang sepenuhnya berharap Anna peduli dan tidak hanya menyalahkannya.

Namun Anna tidak peduli. Anna memerintahkan Ambar yang berdiri di ambang tangga untuk mengusir Felly dari mansion. Dan Anna tetap berjalan pergi memasuki kamarnya tanpa mau tahu lebih dalam lagi.

...\~\~\~\~\~\~...

...Anastasya...

...Felly...

Readers tim mana nih? 🙌🏻

Terpopuler

Comments

Soraya

Soraya

gak usah ditanya tim mana thor

2024-12-04

1

Nike Natalie

Nike Natalie

muter2 dr tadi crt ny,,duhhh

2025-01-13

0

Uthie

Uthie

hajjjarr Ana 😡💪

2024-12-24

0

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!