Hancur sendirian

Anna tersentak bangun, tubuhnya terhentak maju, dan napasnya memburu. Ruangan di sekelilingnya terasa sepi, hanya terdengar bunyi lembut angin yang menggerakkan tirai di dekat pintu utama. Dalam kekacauan pikirannya, Anna mencoba mengatur napas yang memburu, namun bayangan dari mimpi yang begitu nyata masih membebani benaknya. Mimpi itu bukan sekadar mimpi, melainkan kenangan pahit pertemuan pertamanya dengan Domic yang kini kembali menghantui.

Ambar, yang berdiri tak jauh di belakang Anna, melangkah maju dengan lembut. “Nyonya Anna, apakah Anda baik-baik saja?” suaranya lembut, penuh perhatian.

Anna mengerjapkan matanya. Kepalanya sedikit berdenyut akibat kelelahan menangis. “Aku.. baik-baik saja.” gumam Anna, suaranya serak.

Ambar menunduk sedikit, tangannya terulur membawa segelas air putih yang telah ia siapkan. “Anda tertidur, Nyonya. Saya khawatir itu sebabnya saya masih di sini. Silakan, minumlah dulu.”

Anna menatap gelas air itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan dan meraih gelas dari tangan Ambar. Ia meneguk air tersebut, membiarkan kesegarannya meredakan rasa panas di tenggorokannya.

“Sebaiknya Nyonya naik ke atas dan beristirahat. Anda terlihat sangat lelah,” saran Ambar lembut, penuh kepedulian.

Namun Anna menggeleng perlahan, meski matanya terlihat berat. “Tidak… aku masih ingin di sini. Sendiri.”

Ambar tahu, di balik kata-kata sederhana itu, Anna tidak sekadar ingin sendiri. Ia menunggu. Menunggu kepulangan suaminya Domic yang saat ini sedang merayakan pesta pernikahannya dengan Felly. Ambar merasakan keheningan yang mencekam, seolah setiap detik di rumah itu menjadi saksi penderitaan majikannya.

“Nyonya, saya mengerti. Tapi ingatlah, kesehatan Anda juga penting,” kata Ambar hati-hati. Ia tahu Anna tak akan mudah menyerah pada keputusannya, namun tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

Anna memandang Ambar sekilas, senyumnya hambar, penuh kepedihan yang tak bisa disembunyikan. “Aku hanya butuh waktu, Ambar,” jawab Anna pelan. “Tinggalkan aku sejenak.”

Ambar menunduk hormat, tak ingin menambah beban bagi Anna. “Baik, Nyonya. Saya akan tetap di sekitar sini jika Anda butuh sesuatu.”

Setelah kepergian Ambar, keheningan kembali menguasai ruangan. Anna memandang kosong pada gelas yang kini sudah kosong di hadapannya. Perlahan, rasa sesak di dadanya yang sejak tadi berusaha ia tahan mulai merembes ke permukaan. Tangan Anna gemetar, dan dalam keheningan malam yang semakin menusuk, air mata yang sebelumnya terhenti kembali jatuh tanpa suara.

Ia tak lagi mampu menahan beban yang begitu menyesakkan. Air mata mengalir deras, membasahi tangannya dan meja di hadapannya. Hatinya terasa begitu hancur, seperti ada ribuan luka yang tak bisa dijahit lagi. Pikirannya terus terbayang pesta pernikahan yang sedang berlangsung malam ini—pesta yang seharusnya tidak pernah ada. Felly, adiknya, berdiri di samping Domic, suami yang seharusnya tetap menjadi miliknya. Pesta yang digelar dengan gemerlap, sementara dirinya tenggelam dalam kegelapan dan kesedihan di rumah yang sepi ini.

Anna dapat membayangkan dengan jelas bagaimana Domic dan Felly berdiri di altar pernikahan mereka, tersenyum penuh bahagia dan menikmati pesta itu seolah mereka adalah pasangan yang sempurna. Ayah juga berada di sana, berdiri tanpa memperdulikan perasaan putrinya yang hancur. Pria yang seharusnya melindunginya kini malah berpihak pada pernikahan yang melukai Anna lebih dalam dari apa pun. Ayahnya tidak lagi melihatnya sebagai anak yang terluka, hanya seorang wanita yang harus menerima kenyataan pahit.

Tidak ada yang dapat membela Anna, meskipun mereka tahu rasa sakit yang Anna rasakan. Sahabat-sahabat Domic, yang Anna kenal baik, juga hadir di pesta itu. Mereka pasti tertawa bersama Domic, mendukungnya seolah tidak ada yang salah. Semua orang mendukung pernikahan itu, ya, sementara dirinya ditinggalkan dalam kehancuran yang begitu nyata. Semua itu menekan dada Anna, membuat napasnya terasa semakin sesak.

“Kau berbeda dengan Felly. Felly hidup, kau kelam.”

Kata-kata Domic tiba-tiba terngiang kembali di kepala Anna. Kata-kata yang selalu menggores perasaannya begitu dalam.

Anna tidak lagi bisa menahan semuanya. Anna bangkit dari tempat duduknya, seluruh tubuhnya bergetar. Tanpa pikir panjang, dalam kemarahan yang memuncak, tangannya bergerak cepat. Ia meraih gelas di depannya dan melemparkannya ke lantai sekuat tenaga.

Brak!

Gelas itu pecah berkeping-keping, suaranya menggema di seluruh ruangan. Namun, kemarahan dalam diri Anna belum mereda. Dengan cepat, Anna kembali meraih benda-benda lain di atas meja. Piring, vas bunga, bahkan foto kecil yang ada di sana semua dihancurkan dengan kemarahan yang meledak-ledak. Suara pecahan beling terdengar bertubi-tubi, menghantam lantai seperti rasa sakit yang menghantam hatinya.

Tangan Anna terluka oleh pecahan beling yang mengenai kulitnya, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka batin yang terus merongrongnya. Darah menetes dari jari-jarinya, tapi Anna tidak peduli. la terisak kuat, napasnya tersengal saat air mata mengalir deras di wajahnya. Anna menangkup wajahnya di atas meja, tubuhnya bergetar hebat dalam isakannya yang terdengar semakin pilu. Hatinya terasa remuk, seperti tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari kehancuran yang ia alami.

Para pelayan yang berada di dekat ruang tamu hanya bisa terdiam, tidak ada satu pun yang berani mendekat. Mereka melihat majikannya yang terisak kuat, begitu rapuh dan penuh penderitaan, namun tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk menolongnya. Pecahan beling yang berserakan di lantai dan darah di tangan Anna menambah suasana yang semakin mencekam.

Ambar, yang berdiri di kejauhan, menyaksikan semuanya dengan mata yang penuh kekhawatiran. Nalurinya mendorongnya untuk segera menghampiri Anna, namun sebelum ia bisa melangkah, seorang pelayan tertua, seorang wanita dengan wajah penuh kebijaksanaan, menahannya dengan lembut.

“Biarkan saja, Ambar,” katanya dengan suara rendah, namun tegas. “Jangan ganggu Nyonya Anna. la butuh waktu, biarkan dia sendiri malam ini.”

Ambar terdiam, ingin membantah, namun tahu bahwa pelayan tua itu benar. Dia mengangguk pelan, menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Para pelayan lainnya, tanpa suara, segera kembali ke kamar masing-masing, meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi dengan kehancuran.

Namun, pelayan tertua itu tetap diam di tempatnya, berdiri di kejauhan sambil mengawasi majikannya dengan tatapan khawatir. la tahu betul bahwa rasa sakit yang dirasakan Anna tak akan mudah hilang. Hatinya tercabik melihat wanita yang dulunya begitu kuat kini luluh lantak karena pengkhianatan dan kehilangan. Dengan tangan terlipat di dadanya, ia hanya bisa menunggu, berdoa dalam hati agar Nyonya Anna bisa bertahan melewati malam penuh kepedihan ini.

Sedangkan Anna, terjatuh lemas di atas lantai, menangis kuat tanpa suara.

...\~\~\~\~\~...

...Siren Annastasya...

...Domic Alarik...

Terpopuler

Comments

Nike Natalie

Nike Natalie

udah sakit GT masih balik k rmh,,emang yaa bodoh Ama tulus itu beda tipis

2025-01-13

0

Diah Anggraini

Diah Anggraini

bener bener mewek bacanya..
ga kebayang jadi anna.
pasti remuk hatinya

2025-02-15

0

Annie Soe..

Annie Soe..

Keluarkan emosimu Anna tp stlahnya harus bangkit, tegar demi caro..
Ksh liat kamu lebih baik segalanya dr felly & bikin domic menyesali keputusannya menduakanmu..

2025-01-28

1

lihat semua
Episodes
1 Surat USG
2 Keputusan
3 Pergi
4 Rumah Selena
5 Kebanaran Pilu
6 Kasihani aku
7 Pernikahan
8 Aku harus apa
9 Kau berbeda
10 Hancur sendirian
11 Bayi kita
12 Kau terluka?
13 Kelak kau akan menjadi Ibu
14 Akting
15 Foto pernikahan
16 Bolehkah Tante ikut?
17 Ambil saja!
18 Ingin tinggal bersama
19 Kepura-puraan di depan Carro
20 Satu hari bahagia
21 Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22 Permintaan tinggal bersama
23 Keputusan sepihak
24 Desakan keluarga Darmadi
25 Rapuh
26 Ancaman Alarik
27 Keluar atau Pergi
28 Adik baru
29 Peringatan
30 Pertengkaran Domic & Marcus
31 Ingin di obati
32 Permohonan Carro
33 Usir paksa
34 Ingin mati saja
35 Carro merajuk & ancaman
36 Uncle Marcus
37 Sesuatu yang ingin di katakan
38 Keterkejutan
39 Prasangka
40 Sikap tidak biasa
41 Jangan senang dulu
42 Siapa kekasih Felly?
43 Kemarahan Domic & Pria misterius
44 Mencari tahu
45 Bingung
46 Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47 Bersiap untuk acara amal
48 Acara amal
49 Pengkuan kecil Carro
50 Mengganggu Domic
51 Cari yang seperti momy
52 Siapa pria itu
53 Uncle Alex
54 Foto mengejutkan
55 Pergi
56 Hancurnya dunia Carro
57 Isi dokumen
58 Putus asa
59 Kemarahan Felly
60 Kedatangan Alexander
61 Rasa kagum
62 Amarah Domic
63 Rencana licik
64 Satu langkah lebih dekat
65
66 Kabar mengejutkan dari Selena
67 Hancur lebur
68 Jangan pergi
69 Anna yang berbeda
70 Mr. Harisson
71 Pagi yang memalukan
72 Apa yang kau sembunyikan dariku
73 Mencari tahu informasi
74 Penjagaan Anna
75 Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76 Felly?
77 Lupa pada Domic
78 Surat cerai
79 Menjalankan rencana
80 Jangan dekati Anna
81 Tawaran tinggal
82 Menjelang perceraian
83 Kedatangan Jonathan
84 Ketakutan
85 Menghitung jam
86 Ruang sidang
87 Perebutan hak asuh
88 Penyesalan
89 Terkejut
90 Dibuntuti
91 Hak waris
92 Kehancuran Domic
93 kembali ke apartement
94 Sisi lain Carro
95 Darmadi dan keputusannya
96 Rasa tidak terima
97 Malam pengusiran
98 Pasta Bolognese
99 Rindu Carro
100 Pertemuan
101 Dendam membara
102 Nekat
103 Kehilangan
104 Kehilangan di bayar kehilangan
105 Takut dan kalut
106 Dugaan benar
107 Vidio ancaman
108 Detik-detik
109 Gudang Tua
110 Pengorbanan
111 Penangkapan
112 Cinta sepihak
113 Kritis
114 Membawa pulang
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Surat USG
2
Keputusan
3
Pergi
4
Rumah Selena
5
Kebanaran Pilu
6
Kasihani aku
7
Pernikahan
8
Aku harus apa
9
Kau berbeda
10
Hancur sendirian
11
Bayi kita
12
Kau terluka?
13
Kelak kau akan menjadi Ibu
14
Akting
15
Foto pernikahan
16
Bolehkah Tante ikut?
17
Ambil saja!
18
Ingin tinggal bersama
19
Kepura-puraan di depan Carro
20
Satu hari bahagia
21
Perasaan Marcus dan permintaan tinggal bersama
22
Permintaan tinggal bersama
23
Keputusan sepihak
24
Desakan keluarga Darmadi
25
Rapuh
26
Ancaman Alarik
27
Keluar atau Pergi
28
Adik baru
29
Peringatan
30
Pertengkaran Domic & Marcus
31
Ingin di obati
32
Permohonan Carro
33
Usir paksa
34
Ingin mati saja
35
Carro merajuk & ancaman
36
Uncle Marcus
37
Sesuatu yang ingin di katakan
38
Keterkejutan
39
Prasangka
40
Sikap tidak biasa
41
Jangan senang dulu
42
Siapa kekasih Felly?
43
Kemarahan Domic & Pria misterius
44
Mencari tahu
45
Bingung
46
Informasi dugaan mantan kekasih Felly
47
Bersiap untuk acara amal
48
Acara amal
49
Pengkuan kecil Carro
50
Mengganggu Domic
51
Cari yang seperti momy
52
Siapa pria itu
53
Uncle Alex
54
Foto mengejutkan
55
Pergi
56
Hancurnya dunia Carro
57
Isi dokumen
58
Putus asa
59
Kemarahan Felly
60
Kedatangan Alexander
61
Rasa kagum
62
Amarah Domic
63
Rencana licik
64
Satu langkah lebih dekat
65
66
Kabar mengejutkan dari Selena
67
Hancur lebur
68
Jangan pergi
69
Anna yang berbeda
70
Mr. Harisson
71
Pagi yang memalukan
72
Apa yang kau sembunyikan dariku
73
Mencari tahu informasi
74
Penjagaan Anna
75
Mengapa tidak Uncle saja yang jadi Dady?
76
Felly?
77
Lupa pada Domic
78
Surat cerai
79
Menjalankan rencana
80
Jangan dekati Anna
81
Tawaran tinggal
82
Menjelang perceraian
83
Kedatangan Jonathan
84
Ketakutan
85
Menghitung jam
86
Ruang sidang
87
Perebutan hak asuh
88
Penyesalan
89
Terkejut
90
Dibuntuti
91
Hak waris
92
Kehancuran Domic
93
kembali ke apartement
94
Sisi lain Carro
95
Darmadi dan keputusannya
96
Rasa tidak terima
97
Malam pengusiran
98
Pasta Bolognese
99
Rindu Carro
100
Pertemuan
101
Dendam membara
102
Nekat
103
Kehilangan
104
Kehilangan di bayar kehilangan
105
Takut dan kalut
106
Dugaan benar
107
Vidio ancaman
108
Detik-detik
109
Gudang Tua
110
Pengorbanan
111
Penangkapan
112
Cinta sepihak
113
Kritis
114
Membawa pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!