Bab 12 - Pertemuan

"Naomi?"

Panggilan itu lagi, panggilan dari seseorang yang sudah berbulan-bulan tidak ia dengar. Seseorang yang menyakitinya begitu dalam.

"Akhirnya aku bertemu denganmu," ucap Aryo mendekati Naomi dengan senyum cerah. Penampilan pria itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Gama mengeraskan rahangnya, dan berdiri dari duduknya. Memasang badan bongsornya di depan Naomi yang masih duduk. Menghalangi Aryo agar tidak menyentuh Naomi.

"Siapa kau? Aku ingin berbicara dengan istriku!" ucap Aryo.

Gama tertawa, "Istri? MANTAN istri lebih tepatnya!" tegasnya, hingga membuat raut wajah Aryo menggelap.

Naomi masih bertahan pada duduknya, kedua tangannya meremat rok yang ia kenakan. Pertemuan ini terlalu mendadak untuknya.

"Sayang? Ini aku, kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu sayang," kata Aryo. Pria itu memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Naomi.

Omong kosong!

Gama membalik tubuhnya agar bisa melihat Naomi, "Jangan dengarkan pria brengsek ini!" ucapnya.

Naomi menggeleng sebagai jawaban, meskipun sudah hidup lama bersama Aryo. Melihat wajah Aryo membuatnya teringat sakit hati yang pernah dirasakan.

"Sayang?"

"Siapa yang kau panggil sayang, brengsek!!" balas Naomi pada akhirnya.

Wanita itu menatap Gama, memberikan tatapan lewat mata bahwa dia akan menyelesaikan ini sendiri.

Aryo tetap mencoba mendekati Naomi dengan ekspresi penuh penyesalan. "Naomi, aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya, aku masih mencintaimu,"ucap Aryo dengan suara lembut.

Namun, Naomi hanya menggeleng kuat. "Cinta? Cinta apa yang kau maksud? Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan menduakanku, bahkan kau juga menjualku untuk membayar hutangmu itu!!" geramnya.

Aryo melangkah mendekati Naomi, meletakkan tangannya di pundak wanita itu dengan penuh kelembutan. "Aku khilaf. Tapi aku janji, aku akan membawamu kembali bersamaku lagi."

Gama menatap tajam Aryo, "Kau tidak punya hak untuk membawanya kembali. Naomi milik keluarga Maharaja, berani sekali kau mengatakan hal itu di depanku," sentaknya.

Dengan cepat Gama menyingkirkan tangan Aryo dari pundak Naomi. "Lunasi semua hutangmu sebelum kau menyesal!"

Aryo menatap Gama tajam, sedari awal dia tidak mengenal siapa pria yang bersama mantan istrinya itu. "Apa urusanmu?! Aku tidak memiliki urusan denganmu!!"

Bugh!!

Satu bogeman mentah membuat Aryo terhuyung ke belakang, sejak kedatangan pria itu, tangan Gama sudah gatal untuk meninjunya.

"Tentu saja kau memiliki urusan denganku! Kau sudah berhutang pada ayahku, itu artinya kau memiliki urusan denganku!!" jelas Gama.

Jika Gama sudah pernah melihat mantan suami Naomi, maka berbeda halnya dengan Aryo yang baru pertama kali melihat anak dari pemilik hotel tempatnya bekerja.

"Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Jangan harap aku akan kembali padamu!" ujar Naomi berusaha menahan emosinya.

Perasaan cintanya sudah lama hilang, sekarang hanya ada rasa benci yang amat sangat dalam.

Aryo menegakkan tubuhnya, "Aku tidak akan menyerah. Aku akan mengambilmu dan menjadikanmu milikku lagi!" Setelah mengatakan itu, pria itu pergi dari sana.

"Kau baik-baik saja?" tanya Gama lembut.

Naomi mengangguk, "Bisakah kita pulang sekarang, tuan? Saya sudah mengantuk," balasnya.

Gama tau jika itu hanya alasan yang di buat oleh Naomi, tapi dia tetap mengangguk. Saat ini, hanya kenyamanan dari wanita itu yang ia prioritaskan.

...****************...

"Aku akan membuat perhitungan dengan Aryo," ucap Gama kepada ayahnya.

Setelah pulang dari taman dan memastikan Naomi sudah masuk kamarnya, dia langsung menuju ruang kerja ayahnya untuk membicarakan apa yang sudah dia pikirkan di jalan tadi.

"Kenapa?" tanya sang ayah, pria paruh baya itu masih sibuk dengan berkas meskipun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Pria brengsek itu datang dan mengusik Naomi. Dia mengatakan akan mengambilnya kembali," jelasnya.

Tuan Bara meletakkan kaca mata bacanya, dan menatap putranya. "Kau benar-benar tertarik pada wanita itu?!" tanyanya masih tidak percaya.

Gama hanya diam, "Ini salah satu alasan mengapa Papa tidak membiarkan Naomi keluar dari rumah ini," jelas Tuan Bara.

"Sejak awal, Papa sudah tau kalau Aryo itu pria licik. Dia pasti akan membawa Naomi pergi jika Papa tidak mengawasinya. Papa tau jika dia sering datang ke sini untuk mencarinya," jelasnya.

"Lalu kenapa Papa masih membiarkannya berkeliaran di sini?! Harusnya Papa bertindak tegas!"

Tuan Bara memijat pelipisnya, "Gama, dengar. Dia tidak akan bisa masuk ke rumah ini, Papa sudah melindungi Naomi dengan tidak membiarkannya keluar rumah. Kau sendiri yang membawanya keluar dan akhirnya mereka bertemu."

Gama menggeram rendah, "Aku tidak tau jika mereka akan bertemu."

Kali ini dirinya memang ceroboh, jika saja dia tidak memaksa Naomi pergi ke taman, mungkin Aryo tidak akan menemui wanita itu.

"Papa tidak pernah mencampuri urusan wanitamu, jika kau benar-benar menginginkan wanita itu Papa tidak melarang. Jika Aryo kembali mengusiknya, lakukan apapun yang ingin kau lakukan."

Sementara itu, di dalam kamarnya Naomi duduk melamun di pinggir kasur. Memikirkan kembali ucapan mantan suaminya tadi.

Mencintai? Sungguh tidak memiliki malu.

Dulu saat menyuruhnya angkat kaki dari rumah tidak ada raut sedih sedikitpun dari wajah pria itu, sekarang di saat dia sudah ikhlas dengan keadaannya pria itu hendak mengambilnya lagi?

Sampai kapanpun dia tidak akan kembali dengan pria itu. Bahkan jika di dunia ini hanya tersisa Aryo, dia lebih memilih untuk sendiri selamanya.

Bersambung

Terimakasih sudah membaca 🤗

Episodes
1 Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2 Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3 Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4 Bab 4 - Teh Chamomile
5 Bab 5 - Kolam renang
6 Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7 Bab 7 - Kamar Gama
8 Bab 8 - Jam tangan
9 Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10 Bab 10 - Sifat asli
11 Bab 11 - Makan malam dan taman
12 Bab 12 - Pertemuan
13 Bab 13 - Pertikaian
14 Bab 14 - Tamu
15 Bab 15 - Sebuah ungkapan
16 Bab 16 - Teh Chamomile 2
17 Bab 17 - Tidak tahan
18 Bab 18 - Ajakan ke kantor
19 Bab 19 - Kekeliruan
20 Bab 20 - Baikan
21 Bab 21 - Sakit
22 Bab 22 - Kantor
23 Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24 Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25 Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26 Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27 Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28 Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29 Bab 29 - "Hanya ingin"
30 Bab 30 - Mas dan Adek
31 Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32 Bab 32 - Trending 1
33 Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34 Bab 34 - Terlalu takut
35 Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36 Bab 36 - Sebuah penawaran
37 Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38 Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39 Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40 Bab 40 - Sama-sama gila
41 Bab 41 - Taman Bermain
42 Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43 Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44 Bab 44 - Tempat baru
45 Bab 45 - Perubahan
46 Bab 46 - Bertemu
47 Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48 Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49 Bab 49 - Lega
50 Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51 Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52 Bab 52 - Berita hangat
53 Bab 53 - H-1 Pernikahan
54 Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55 Bab 55 - SAH
56 Bab 56 - Melayang di atas awan
57 Bab 57 - Honeymoon
58 Bab 58 - Oleh-oleh
59 Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60 Bab 60 - Pemeriksaan
61 Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62 Cerita baru - Bukan pilihan gila
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2
Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3
Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4
Bab 4 - Teh Chamomile
5
Bab 5 - Kolam renang
6
Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7
Bab 7 - Kamar Gama
8
Bab 8 - Jam tangan
9
Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10
Bab 10 - Sifat asli
11
Bab 11 - Makan malam dan taman
12
Bab 12 - Pertemuan
13
Bab 13 - Pertikaian
14
Bab 14 - Tamu
15
Bab 15 - Sebuah ungkapan
16
Bab 16 - Teh Chamomile 2
17
Bab 17 - Tidak tahan
18
Bab 18 - Ajakan ke kantor
19
Bab 19 - Kekeliruan
20
Bab 20 - Baikan
21
Bab 21 - Sakit
22
Bab 22 - Kantor
23
Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24
Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25
Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26
Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27
Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28
Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29
Bab 29 - "Hanya ingin"
30
Bab 30 - Mas dan Adek
31
Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32
Bab 32 - Trending 1
33
Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34
Bab 34 - Terlalu takut
35
Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36
Bab 36 - Sebuah penawaran
37
Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38
Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39
Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40
Bab 40 - Sama-sama gila
41
Bab 41 - Taman Bermain
42
Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43
Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44
Bab 44 - Tempat baru
45
Bab 45 - Perubahan
46
Bab 46 - Bertemu
47
Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48
Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49
Bab 49 - Lega
50
Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51
Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52
Bab 52 - Berita hangat
53
Bab 53 - H-1 Pernikahan
54
Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55
Bab 55 - SAH
56
Bab 56 - Melayang di atas awan
57
Bab 57 - Honeymoon
58
Bab 58 - Oleh-oleh
59
Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60
Bab 60 - Pemeriksaan
61
Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62
Cerita baru - Bukan pilihan gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!