Bab 15 - Sebuah ungkapan

Kalimat yang diucapakan Gama beberapa waktu yang lalu membuat Naomi kesulitan memejamkan matanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

Selama ini dia sadar, jika perlakuan Gama padanya berbeda dengan pelayan lainnya. Tapi dia tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya.

FLASHBACK ON

"Aku tertarik padamu," ungkap Gama.

Naomi mengerjabkan matanya berulang kali, otaknya berusaha mencerna kalimat tersebut.

"Maksud Tuan?" balasnya tak paham.

"Aku tertarik denganmu Naomi, tertarik sebagai seorang pria dewasa," jelas Gama.

"Sejak awal kau sudah menarik perhatianku, kau berbeda dari wanita-wanita yang pernah ku kenal. Aku ingin lebih dekat denganmu," lanjutnya tanpa keraguan sedikitpun.

Terkejut! Itu yang Naomi rasakan sekarang, udara di sekitarnya mendadak menipis. Lidahnya kelu, dan otaknya langsung blank.

Apakah saat ini tuan mudanya sedang bercanda?

"Tuan--"

Naomi belum sempat melanjutkan ucapannya karena Gama lebih dulu menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.

"Aku tidak meminta ijin atau persetujuanmu, aku ingin hubungan kita tidak hanya sekedar tuan dan pelayan, mengerti?"

Naomi tidak menolak maupun mengiyakan, ini benar-benar mendadak untuknya.

"Kau tidak perlu melakukan apapun, biarkan aku yang membuktikan jika aku benar-benar tertarik dengamu," ujar Gama saat melihat keterdiaman Naomi.

"Satu lagi, mulai sekarang jangan panggil aku Tuan dan jangan berbicara formal padaku," pinta pria itu.

"Tapi itu tidak sopan," cicit Naomi.

"Aku tidak menerima bantahan," pungkas Gama.

FLASHBACK OFF

Begitulah apa yang di ungkapkan oleh Gama yang membuat Naomi tidak bisa tidur. Ini terlalu tiba-tiba untuknya.

Dia hanya wanita miskin yang memiliki nasib buruk, bagaimana mungkin seorang pria seperti Gama tertarik padanya? Dengan begitu cepat pula.

Sejauh yang ia lihat selama di sini, Gama selalu membawa pulang wanita-wanita cantik nan modis. Jika dibandingkan dengannya tidak ada apa-apanya.

"Hah!"

Entah sudah berapa banyak dia menghembuskan napas kasar, otaknya rasanya ingin meledak. Ingin menghindar pun bukan opsi yang bagus, karena setiap pagi dia yang bertugas menyiapkan keperluan tuan mudanya itu.

...****************...

"Selamat pagi Naomi," sapa Gama saat melihat Naomi sudah berada di walk in closet pagi ini.

"Pa-pagi, Tuan," balas Naomi dengan terbata.

Dia bahkan sudah masuk ke dalam kamar Gama saat jam masih menunjukkan pukul setengah enam, masih terhitung pagi untuk orang seperti Gama yang sering bangun lebih terlambat.

Tujuan Naomi hanya satu, dia berharap tidak perlu bertatap muka dengan tuan mudanya itu. Tetapi seperti dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.

"Kau melupakanya, hm?"

Naomi mengeryitkan alisnya, memangnya apa yang ia lewatkan? Dia menatap Gama seolah meminta penjelasan.

"Sampai kapan kau akan memanggilku "Tuan"? Kita sudah sepakat semalam, kan?" jelas Gama. Kenyataannya Gama lah yang memaksanya.

Naomi langsung menyadari kesalahannya dan menundukkan kepalanya. "Maaf, Tua--. Ah maksudku, maaf Mas Gama."

Shit! Gama mengumpat di dalam hati. Mas?

"Kau memanggilku apa tadi?" tanya Gama ingin mendengar lebih jelas panggilan apa yang digunakan Naomi.

"Mas Gama," balas Naomi dengan jelas.

Awh! Gama berusaha menahan dirinya dengan kuat, baru kali ini seseorang memanggilnya "Mas", tidak di sangka panggilan itu cocok untuknya.

"Tidak sopan jika aku hanya memanggil nama, jadi aku menggunakan "Mas" saja karena Mas Gama lebih tua dariku," jelas Naomi lebih dalam.

Gama sudah tertawa girang di dalam hati, jika tidak ada Naomi mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak sekarang. "Panggil aku seperti itu terus! Aku menyukainya," ucapnya.

Naomi mengangguk menyanggupi, "Tumben Mas Gama bangun pagi," tanya Naomi mencoba menghilangkan rasa canggungnya.

"Aku akan ke luar kota hari ini, jadi harus berangkat lebih pagi."

"Kalau begitu Mas Gama mandi dulu, aku akan menyiapkan pakaiannya" balas Naomi.

Gama mengangguk, "Tunggu aku, jangan keluar dulu," perintahnya.

Jadi, selagi menunggu Gama mandi, Naomi juga merapìkan kasur dan menata beberapa barang yang berserakan di lantai.

Tanpa sadar wajahnya memerah, mengingat kembali ucapan Gama semalam. Pria itu memang tidak bisa ditebak.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 15 menit, Gama keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.

"Aku sudah selesai," ucapnya sedikit lebih keras agar Naomi mendengarnya. Seperti anak kecil yang memberitahu ibunya bahwa dia sudah selesai mandi.

Naomi segera menoleh ke arah tuan mudanya, bukan sekali dua kali dia melihat Gama shirtless seperti ini, tapi entah kenapa kali ini terlihat lebih panas.

"Bajumu sudah aku siapakan seperti biasanya," balas wanita itu dengan menahan rasa gugupnya.

Bukannya menuju walk in closet, Gama justru berjalan ke arah Naomi yang berdiri di samping kasurnya.

"Pakaianmu di tempat biasanya," ucap Naomi gugup saat Gama semakin dekat dengannya. Jantungnya berdegup dengan kencang, tanpa sadar dia mundur.

Gama semakin memperpendek jaraknya, semakin dekat dan dekat. Naomi sendiri sudah tidak bisa mundur karena dibelakangnya terdapat nakas.

"Mas Gama mau ngapain?" tanyanya dengan perasaan was-was. Bahkan kedua tangannya sudah menyilang di depan dadanya.

Sett! Sett!

Tanpa di duga Gama mengibaskan rambut basahnya di depan Naomi, yang mana membuat percikan air dari rambutnya mengenai wajah Naomi, otomatis wanita itu memejamkan matanya dengan kuat.

"Lucu. Kau terlihat sangat lucu dengan pipi merahmu itu," celetuknya diiringi tawa kecil.

Naomi yang sudah kepalang malu masih tidak berniat membuka kedua matanya, wajahnya terasa panas, jika berkaca mungkin sudah semerah tomat.

"Jangan takut, aku hanya ingin mengambil ponselku yang berada di nakas," ungkap Gama, menjelaskan kenapa dia mendekat ke arahnya.

Mendengar hal tersebut, Naomi segera membuka matanya. Di depannya, Gama berdiri dengan menggoyangkan ponselnya di hadapannya.

"Aku hanya ingin mengambil ini, tapi jika kau ingin membantuku berganti pakaian aku tidak akan menolak," ujar Gama.

Kedua mata Naomi melotot tak percaya, "Mas Gama!" teriaknya tanpa ragu sedikitpun.

Tawa kencang langsung keluar dari belah bibir Gama, "Aku hanya bercanda," ucapnya lagi, dan berlalu menuju walk in closet untuk memakai pakaiannya.

Pagi ini, adalah pagi terindah untuk Gama karena berhasil menggoda Naomi dan melihat wajah lucunya, sedangkan bagi Naomi pagi ini adalah pagi yang sangat memalukan untuknya.

Bersambung

Terima kasih sudah membaca 🤗

Episodes
1 Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2 Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3 Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4 Bab 4 - Teh Chamomile
5 Bab 5 - Kolam renang
6 Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7 Bab 7 - Kamar Gama
8 Bab 8 - Jam tangan
9 Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10 Bab 10 - Sifat asli
11 Bab 11 - Makan malam dan taman
12 Bab 12 - Pertemuan
13 Bab 13 - Pertikaian
14 Bab 14 - Tamu
15 Bab 15 - Sebuah ungkapan
16 Bab 16 - Teh Chamomile 2
17 Bab 17 - Tidak tahan
18 Bab 18 - Ajakan ke kantor
19 Bab 19 - Kekeliruan
20 Bab 20 - Baikan
21 Bab 21 - Sakit
22 Bab 22 - Kantor
23 Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24 Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25 Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26 Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27 Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28 Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29 Bab 29 - "Hanya ingin"
30 Bab 30 - Mas dan Adek
31 Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32 Bab 32 - Trending 1
33 Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34 Bab 34 - Terlalu takut
35 Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36 Bab 36 - Sebuah penawaran
37 Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38 Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39 Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40 Bab 40 - Sama-sama gila
41 Bab 41 - Taman Bermain
42 Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43 Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44 Bab 44 - Tempat baru
45 Bab 45 - Perubahan
46 Bab 46 - Bertemu
47 Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48 Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49 Bab 49 - Lega
50 Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51 Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52 Bab 52 - Berita hangat
53 Bab 53 - H-1 Pernikahan
54 Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55 Bab 55 - SAH
56 Bab 56 - Melayang di atas awan
57 Bab 57 - Honeymoon
58 Bab 58 - Oleh-oleh
59 Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60 Bab 60 - Pemeriksaan
61 Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62 Cerita baru - Bukan pilihan gila
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2
Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3
Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4
Bab 4 - Teh Chamomile
5
Bab 5 - Kolam renang
6
Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7
Bab 7 - Kamar Gama
8
Bab 8 - Jam tangan
9
Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10
Bab 10 - Sifat asli
11
Bab 11 - Makan malam dan taman
12
Bab 12 - Pertemuan
13
Bab 13 - Pertikaian
14
Bab 14 - Tamu
15
Bab 15 - Sebuah ungkapan
16
Bab 16 - Teh Chamomile 2
17
Bab 17 - Tidak tahan
18
Bab 18 - Ajakan ke kantor
19
Bab 19 - Kekeliruan
20
Bab 20 - Baikan
21
Bab 21 - Sakit
22
Bab 22 - Kantor
23
Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24
Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25
Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26
Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27
Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28
Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29
Bab 29 - "Hanya ingin"
30
Bab 30 - Mas dan Adek
31
Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32
Bab 32 - Trending 1
33
Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34
Bab 34 - Terlalu takut
35
Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36
Bab 36 - Sebuah penawaran
37
Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38
Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39
Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40
Bab 40 - Sama-sama gila
41
Bab 41 - Taman Bermain
42
Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43
Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44
Bab 44 - Tempat baru
45
Bab 45 - Perubahan
46
Bab 46 - Bertemu
47
Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48
Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49
Bab 49 - Lega
50
Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51
Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52
Bab 52 - Berita hangat
53
Bab 53 - H-1 Pernikahan
54
Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55
Bab 55 - SAH
56
Bab 56 - Melayang di atas awan
57
Bab 57 - Honeymoon
58
Bab 58 - Oleh-oleh
59
Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60
Bab 60 - Pemeriksaan
61
Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62
Cerita baru - Bukan pilihan gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!