Bab 10 - Sifat asli

Pukul 5 sore, Gama sudah sampai di rumah, tidak biasanya ia akan pulang lebih awal. Bahkan Ayahnya sendiri belum pulang dari kantor.

Beberapa pelayan yang melihatnya cukup kaget, karena tuan muda mereka itu selalu pulang larut malam. Jika di pikiran lagi, mereka tidak pernah melihat Gama membawa pulang seorang wanita lagi.

Kaki jenjang dengan langkah yang konstan, Gama berjalan ke arah belakang. Tujuannya hanya satu, mencari keberadaan Naomi.

Begitu ia menemukan apa yang ia cari, pria itu mengembangkan senyumnya. Gama menghentikan langkahnya dan memperhatikan Naomi yang sedang menata pakaian yang sudah kering di gazebo dekat paviliun.

Wajah Naomi terlihat begitu tenang, tangannya dengan cekatan membalik pakaian yang sudah kering. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Gama yang memperhatikannya sedari tadi.

Begitu semua pakaian sudah berada di dalam keranjang, Naomi berdiri dan mengangkat keranjang tersebut. Begitu ia sadar dengan keberadaan tuan mudanya, ia tersenyum.

Naomi lantas menghampiri Gama, "Tuan sudah pulang?" tanyanya.

Gama mengangguk sebagai jawaban, "Aku ingin mengajakmu makan di luar, kau mau kan?" ucapnya tanpa basa basi.

Mendengar itu Naomi diam, dia mengingat pesan Tuan Bara saat baru menginjakkan kaki di sini. "Maaf, Tuan. Selama saya kerja di sini, saya tidak diperbolehkan keluar oleh ayah anda. Itu kesepakatan kami dulu," balasnya dengan lembut.

Pantas saja dulu Naomi menolak saat diajak pergi ke pengadilan saat proses perceraiannya. Bukankah itu terdengar seperti ia dikurung di sini? Dia harus berbicara pada ayahnya, pikir Gama.

"Tak perlu khawatir, aku akan meminta izin pada Papa. Apa kau tidak bosan di rumah terus?"

Bosan? Tentu saja ia bosan. Dulu, hampir setiap hari dia selalu bertemu orang banyak dan bersosialisasi saat menjual bubur di pasar, tapi sekarang melihat jalan pun ia tidak pernah.

Naomi menggeleng, "Tidak perlu, tuan. Saya di rumah saja, lagipula saya tidak ingin keluar," balasnya dengan senyum tipis.

Bohong! batin Gama.

"Aku tidak ingin mendengar penolakan, sebentar lagi Papa pulang. Aku akan berbicara padanya."

"Tap--"

Gama dengan cepat menaruh telunjuknya di depan bibir Naomi. "Sekarang kau mandi, aku juga akan mandi sembari menunggu Papa," final pria itu.

Huft!

Naomi menghela napas panjang setelah Gama pergi dari hadapannya. Bukannya ia tidak mau keluar, apa yang akan di katakan oleh Tuan Bara nantinya? Setelah insiden jam tangan hari itu, pria paruh baya itu menjadi lebih dingin padanya.

Belum lagi pandangan para pelayan lain jika melihatnya keluar kepada tuan muda kesayangannya. Sudah pasti ia akan semakin dimusuhi.

Gama masuk ke dalam kamarnya, belum ada hilal ayahnya akan pulang. Jadi dia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu.

"Apa yang kau lakukan di kamarku?!"

Sepanjang langkahnya menuju kamar tadi, aura yang ia pancarkan penuh kebahagiaan. Tapi setelah membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang tengah duduk di tengah kasurnya, mukanya berubah masam.

"Aku menunggumu," jawab orang itu dengan manja.

Gama tidak bergerak dari tempatnya, "Keluar!"

Manusia berjenis kelamin perempuan yang menyusup kamarnya itu menggeleng, "Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak bermain."

Cuihh!

Gama meludah ke samping, "Kau pikir aku masih berminat bermain dengan tubuh kotormu itu?! Turun dari sana dan keluar dari kamarku," perintah pria itu dengan tegas.

Wanita itu terkekeh kecil dan turun dari atas kasur, tubuhnya yang hanya di balut bra dan celana dalam berjalan sensual ke arah Gama.

"Katakan saja jika kau ingin aku menghampirimu, sayang," ucapnya sembari mengelus dada Gama

"Keluar selagi aku masih berbaik hati!"

Meskipun suara yang dikeluarkan Gama penuh penekanan, wanita itu tak gentar sama sekali. Tangannya melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Gama satu persatu.

Sret!

Gama mencekal lengan kecil itu dan mencengkeramnya dengan kuat, "Aku sudah berbaik hati padamu sebelumnya, jangan melewati batas!"

Wanita itu menatap Gama nyalang, "Aku benci ini! Kenapa kau bisa secepat itu melupakanku!!"

"Kau yang menggodaku dan menyerahkan tubuhmu padaku terlebih dahulu, kau berharap apa??!"

Mata wanita itu memerah, "Peduli setan! Selama ini aku sakit hati setiap melihatmu pulang dengan membawa wanita lain! Padahal kau bisa menggunakan tubuhku!!!!" marahnya.

Jika Gama terus meladeni wanita gila ini, maka Naomi akan terlalu lama menunggunya. Dia harus segera menyelesaikan ini.

"Aku bilang keluar!!" tegas pria itu.

"Kau pikir aku tidak tau jika kau tertarik dengan janda itu? Aku bahkan lebih baik darinya, gara-gara dia---"

"KELUAR!! KELUAR DARI KAMARKU HANA!!"

Suara bentakan Gama membuat wanita yang tak lain adalah Hana itu menutup mulutnya rapat. Ya, wanita itu adalah Hana, salah satu pelayan keluarga Maharaja yang berhasil menggoda Gama dulu.

"Ingat posisimu Hana! Jangan karena kau pernah tidur bersamaku, kau menjadi seenaknya seperti ini!"

Hana diam membisu, selama ini dia selalu berpikir bahwa dia lebih unggul dari pelayan lain. Tapi kenyataan tak seindah imajinasinya.

"Satu lagi, jangan berani menghina Naomi di depanku. Dia bahkan 1000 kali lebih baik darimu yang hanya suka menjilat sana sini," ucap Gama.

Hana mengepalkan kedua tangannya, dia tidak terima di perlakukan seperti ini. Dia akan membuat perhitungan kepada Naomi. Posisinya tidak sekuat itu untuk melawan Gama, jadi dia melampiaskan semuanya pada Naomi.

"Pakai pakaianmu dan keluar dari sini. Saat aku masih melihatmu setelah selesai mandi, jangan harap kau masih bisa bekerja di sini besok!"

Setelah mengatakan itu, Gama berlalu menuju kamar mandinya. Sedangkan Hana mengambil pakaiannya yang tadi ia jatuhkan di atas lantai.

Sepertinya dia harus membuat rencana yang lebih besar agar Gama membenci Naomi.

Bersambung

Terima kasih sudah membaca 🤗

Terpopuler

Comments

Sagitarius

Sagitarius

Astagaaa 😲

2025-03-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2 Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3 Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4 Bab 4 - Teh Chamomile
5 Bab 5 - Kolam renang
6 Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7 Bab 7 - Kamar Gama
8 Bab 8 - Jam tangan
9 Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10 Bab 10 - Sifat asli
11 Bab 11 - Makan malam dan taman
12 Bab 12 - Pertemuan
13 Bab 13 - Pertikaian
14 Bab 14 - Tamu
15 Bab 15 - Sebuah ungkapan
16 Bab 16 - Teh Chamomile 2
17 Bab 17 - Tidak tahan
18 Bab 18 - Ajakan ke kantor
19 Bab 19 - Kekeliruan
20 Bab 20 - Baikan
21 Bab 21 - Sakit
22 Bab 22 - Kantor
23 Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24 Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25 Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26 Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27 Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28 Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29 Bab 29 - "Hanya ingin"
30 Bab 30 - Mas dan Adek
31 Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32 Bab 32 - Trending 1
33 Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34 Bab 34 - Terlalu takut
35 Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36 Bab 36 - Sebuah penawaran
37 Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38 Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39 Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40 Bab 40 - Sama-sama gila
41 Bab 41 - Taman Bermain
42 Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43 Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44 Bab 44 - Tempat baru
45 Bab 45 - Perubahan
46 Bab 46 - Bertemu
47 Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48 Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49 Bab 49 - Lega
50 Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51 Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52 Bab 52 - Berita hangat
53 Bab 53 - H-1 Pernikahan
54 Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55 Bab 55 - SAH
56 Bab 56 - Melayang di atas awan
57 Bab 57 - Honeymoon
58 Bab 58 - Oleh-oleh
59 Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60 Bab 60 - Pemeriksaan
61 Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62 Cerita baru - Bukan pilihan gila
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2
Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3
Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4
Bab 4 - Teh Chamomile
5
Bab 5 - Kolam renang
6
Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7
Bab 7 - Kamar Gama
8
Bab 8 - Jam tangan
9
Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10
Bab 10 - Sifat asli
11
Bab 11 - Makan malam dan taman
12
Bab 12 - Pertemuan
13
Bab 13 - Pertikaian
14
Bab 14 - Tamu
15
Bab 15 - Sebuah ungkapan
16
Bab 16 - Teh Chamomile 2
17
Bab 17 - Tidak tahan
18
Bab 18 - Ajakan ke kantor
19
Bab 19 - Kekeliruan
20
Bab 20 - Baikan
21
Bab 21 - Sakit
22
Bab 22 - Kantor
23
Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24
Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25
Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26
Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27
Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28
Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29
Bab 29 - "Hanya ingin"
30
Bab 30 - Mas dan Adek
31
Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32
Bab 32 - Trending 1
33
Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34
Bab 34 - Terlalu takut
35
Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36
Bab 36 - Sebuah penawaran
37
Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38
Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39
Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40
Bab 40 - Sama-sama gila
41
Bab 41 - Taman Bermain
42
Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43
Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44
Bab 44 - Tempat baru
45
Bab 45 - Perubahan
46
Bab 46 - Bertemu
47
Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48
Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49
Bab 49 - Lega
50
Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51
Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52
Bab 52 - Berita hangat
53
Bab 53 - H-1 Pernikahan
54
Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55
Bab 55 - SAH
56
Bab 56 - Melayang di atas awan
57
Bab 57 - Honeymoon
58
Bab 58 - Oleh-oleh
59
Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60
Bab 60 - Pemeriksaan
61
Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62
Cerita baru - Bukan pilihan gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!