Bab 5 - Kolam renang

Seorang wanita dengan balutan dress mini berjalan angkuh di kediaman Maharaja. Dia adalah Clara, mantan teman ranjang dari Gama. Sekarang baru pukul 2 siang, Gama maupun Tuan Bara masih sibuk di kantor.

Dia datang bukan untuk mencari Gama, tetapi ia baru saja mendapatkan laporan yang membuatnya meradang.

"Akhirnya anda datang juga, Nona," Hana yang berdiri di ujung tangga menyunggingkan senyumnya, terlihat seperti sedang menunggu kedatangan wanita itu.

"Di mana dia?" tanya Clara tanpa basa-basi.

Hana mendekat dengan raut gembira yang tidak luntur diwajahnya, "Mari ikut saya."

Clara melipat kedua tanganya di dada dan mengikuti Hana dari belakang, gesekan antara heels dengan lantai marmer membuat rumah yang sunyi itu terasa hidup.

Pelayan di sana memang tidak diperbolehkan menggunakan sepatu maupun sandal berbahan keras. Bukan karena takut lantai rusak, hanya saja sang pemilik rumah tidak menyukai kebisingan.

Keduanya behenti di depan pintu samping rumah, pintu lebar yang mengarah langsung ke arah kolam renang. Hana menunjuk seseorang yang sedang sibuk membersihkan kolam.

Clara yang melihatnya melanjutkan langkahnya mendekati orang itu. "Hei Jalang!"

Orang yang membersihkan kolam adalah Naomi, dia baru sempat melanjutkan pekerjaanya karena tadi dia membantu Bibi Sarah terlebih dahulu.

Naomi yang mendengar suara di sampingnya menoleh, pandangannya langsung disuguhkan dengan seorang wanita yang pernah ia lihat.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" ucap Clara dengan tatapan garang.

Naomi hanya memandang Clara dengan bingung, tetapi respon wanita itu sudah begitu. "Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanyanya sopan.

Plak!

Satu tamparan keras mengenai pipi kanannya, gagang jaring yang ia gunakan untuk mengambil dedaunan di atas kolam terjatuh begitu saja.

"Itu bayaran untukmu karena berani berduaan dengan Gama."

Naomi memegangi pipinya yang bisa dipastikan sudah memerah sekarang, bahkan ujung jempolnya terdapat noda darah.

"Apa maksud anda, Nona? Saya tidak pernah berduaan dengan Tuan Gama," balas Naomi sembari menatap Clara.

Plak!

Satu tamparan keras kembali melayang ke atas pipi kiri Naomi, "Kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan dengan Gama semalam?"

Rasa sakit menjalar di kedua pipi Naomi, rasanya sangat ngilu. Semalam?

"Semalam saya hanya menemani Tuan Gama meminum teh di ruang makan, Nona. Tidak ada yang lain," ucap Naomi membela diri, karena memang itu yang ia lakukan semalam.

Clara tampak marah. "Siapa yang menyuruhmu menemani Gama, hah! Apa kau berniat menggodanya? Apa kau merasa gatal karena baru saja menjadi janda?"

Ucapan Clara menohok hati mungil Naomi, dia sekarang memang sudah tidak bersuami. Tetapi dia tidak segila itu untuk menggoda tuan mudanya sendiri.

Naomi menggeleng kuat, "Tidak, Nona. Saya tidak mungkin berani melakukannya. Tuan Gama sendiri yang menyuruh saya untuk menemaninya."

Clara tersenyum miring, "Kau pikir aku akan percaya? Aku sudah hapal dengan sifat orang miskin sepertimu."

"Saya tidak berbohong, Nona," lirih Naomi, rasa sakit di kedua pipinya semakin menjadi.

Tanpa aba-aba Clara menarik kepangan rambut Naomi dengan kuat. Tarikannya tidak main-main, kepala Naomi langsung pening.

"Penjara penuh jika maling mengaku!"

"Ingat posisimu jalang! Di sini kau hanya pelayan rendahan yang dijual oleh suaminya sendiri. Jangan besar kepala karena Tuan Bara menerimamu," ucap Clara.

Clara belum melepaskan rambut Naomi, tatapan matanya menatap Naomi dan juga air kolam secara bergantian. Tak lama kemudian, sebuah ide muncul di otaknya.

Posisi keduanya yang benar-benar di tepi kolam, memudahkan Clara untuk melakukan aksinya.

Clara menendang betis Naomi yang mana membuat wanita itu hampir jatuh ke kolam, tetapi karena kepangan Naomi yang masih di pegang Clara, membuatnya dalam posisi miring di atas kolam.

Sekali saja kepangan rambutnya di lepaskan, dapat dipastikan ia akan langsung jatuh ke dalam kolam. "Tolong, Nona! Tolong lepaskan saya," pinta Naomi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Bagaimana ini? Jika aku melepasmu maka kau akan jatuh ke dalam kolam, tapi aku tidak kuat untuk menahan tubuhmu. Bagaimana ini?" ucap Clara yang terdengar main-main.

Wanita itu memegang kepangan rambut Naomi dengan kedua tangannya. "Tolong ampuni saya, Nona. Kasihanilah saya," ucap Naomi, dia menahan rasa sakit di bagian atas tubuhnya.

Clara tertawa kencang, "Ampuni saya, Nona. Kasihanilah saya," ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.

"Tolong, Nona."

Semua pelayan kecuali Bibi Sarah menonton "pertunjukan" itu dengan senyum merekah. Mereka semua memang tidak menyukai kehadiran Naomi.

Semalam yang melihat Gama dan Naomi adalah Sinta, salah satu pelayan di sana. Sinta menceritakan apa yang ia lihat semalam kepada Hana, dan Hana langsung melaporkannya pada Clara.

Hana adalah seseorang yang disuruh oleh Clara untuk melaporkan apapun yang ada di kediaman Maharaja, terlebih yang menyangkut tentang Gama. Bisa dikatakan Hana adalah mata-mata.

"Kenapa kalian berkerumun di sini?"

Keempat pelayan itu menoleh dan terkejut dengan siapa yang baru saja datang. Bibi Sarah datang dengan kedua tangan yang bertaut di belakang tubuhnya.

"Tidak ada, Bibi," jawab Hana dengan cepat. Bagaimanapun Bibi Sarah adalah ketua pelayan, mau tidak mau dia harus menghormatinya.

Bibi Sarah masih tidak puas dengan jawaban itu, dia hendak membuka mulutnya untuk kembali bertanya, tetapi suara benda yang jatuh ke dalam kolam mengurungkan niatnya.

"Minggir!" perintahnya kepada keempat pelayan muda di depannya, merekapun membuka jalan untuk Bibi Sarah.

Dari tempatnya, Bibi Sarah melihat Clara yang berjongkok di tepi kolam. Sedangkan di dalam kolam, ada seseorang yang berusaha keluar dari dalam air.

"Nona!"

Clara menoleh dan melihat Bibi Clara yang mendekat ke arahnya. "Berhenti di situ!" teriaknya.

"Berhenti di sana atau aku akan menyuruh Tuan Bara untuk memecatmu!" ancamnya kepada Bibi Sarah.

Apakah Bibi Sarah berhenti? Tentu saja tidak, ancaman itu tidak berlaku untuknya.

"Bi--bi, tol--ong!" suara Naomi yang sedang berusaha menahan tubuhnya agar tidak tenggelam terdengar frustasi.

Bibi Sarah menutup mulutnya, dia hendak menolong tetapi ia tidak bisa berenang juga.

"Tatang! Tatang!" panggilnya kepada tukang kebun.

"TATANG! Cepat kemari!"

Secepat kilatan cahaya, seseorang masuk ke dalam kolam tanpa melepaskan pakaiannya. Orang itu dengan mahir berenang ke arah Naomi yang sudah berada di tengah kolam.

Saat orang itu menyembulkan kepalanya, semua orang yang ada di sana tercekat. Bukan Tatang yang berada di tengah kolam, melainkan Tuan muda Gama yang masih mengenakan setelan kantornya.

Bersambung

Terima kasih sudah membaca cerita ini 🤗

Akan diusahakan update sehari 2 kali

Episodes
1 Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2 Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3 Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4 Bab 4 - Teh Chamomile
5 Bab 5 - Kolam renang
6 Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7 Bab 7 - Kamar Gama
8 Bab 8 - Jam tangan
9 Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10 Bab 10 - Sifat asli
11 Bab 11 - Makan malam dan taman
12 Bab 12 - Pertemuan
13 Bab 13 - Pertikaian
14 Bab 14 - Tamu
15 Bab 15 - Sebuah ungkapan
16 Bab 16 - Teh Chamomile 2
17 Bab 17 - Tidak tahan
18 Bab 18 - Ajakan ke kantor
19 Bab 19 - Kekeliruan
20 Bab 20 - Baikan
21 Bab 21 - Sakit
22 Bab 22 - Kantor
23 Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24 Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25 Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26 Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27 Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28 Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29 Bab 29 - "Hanya ingin"
30 Bab 30 - Mas dan Adek
31 Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32 Bab 32 - Trending 1
33 Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34 Bab 34 - Terlalu takut
35 Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36 Bab 36 - Sebuah penawaran
37 Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38 Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39 Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40 Bab 40 - Sama-sama gila
41 Bab 41 - Taman Bermain
42 Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43 Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44 Bab 44 - Tempat baru
45 Bab 45 - Perubahan
46 Bab 46 - Bertemu
47 Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48 Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49 Bab 49 - Lega
50 Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51 Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52 Bab 52 - Berita hangat
53 Bab 53 - H-1 Pernikahan
54 Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55 Bab 55 - SAH
56 Bab 56 - Melayang di atas awan
57 Bab 57 - Honeymoon
58 Bab 58 - Oleh-oleh
59 Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60 Bab 60 - Pemeriksaan
61 Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62 Cerita baru - Bukan pilihan gila
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 - Suami yang tega menjual istrinya sendiri
2
Bab 2 - Kediaman Bara Maharaja
3
Bab 3 - Tuan Muda Maharaja
4
Bab 4 - Teh Chamomile
5
Bab 5 - Kolam renang
6
Bab 6 - Pelajaran untuk Clara
7
Bab 7 - Kamar Gama
8
Bab 8 - Jam tangan
9
Bab 9 - Secangkir teh dan obrolan tengah malam
10
Bab 10 - Sifat asli
11
Bab 11 - Makan malam dan taman
12
Bab 12 - Pertemuan
13
Bab 13 - Pertikaian
14
Bab 14 - Tamu
15
Bab 15 - Sebuah ungkapan
16
Bab 16 - Teh Chamomile 2
17
Bab 17 - Tidak tahan
18
Bab 18 - Ajakan ke kantor
19
Bab 19 - Kekeliruan
20
Bab 20 - Baikan
21
Bab 21 - Sakit
22
Bab 22 - Kantor
23
Bab 23 - Kejadian di ruangan Gama
24
Bab 24 - Tidur di kamar yang sama
25
Bab 25 - Cerita masa lalu dan panggilan video
26
Bab 26 - Keraguan yang mendalam
27
Bab 27 - "Kau percaya aku menyukaimu?"
28
Bab 28 - Datangnya pelayan baru
29
Bab 29 - "Hanya ingin"
30
Bab 30 - Mas dan Adek
31
Bab 31 - "Dia kekasih saya"
32
Bab 32 - Trending 1
33
Bab 33 - Ungkapan yang tidak direncanakan
34
Bab 34 - Terlalu takut
35
Bab 35 - Memikirkan apa yang perlu dipikirkan
36
Bab 36 - Sebuah penawaran
37
Bab 37 - Apa yang akan kau lakukan untuk melindungiku?
38
Bab 38 - Penjelasan tentang Kakak dan Adik
39
Bab 39 - "Demi kebaikan kita"
40
Bab 40 - Sama-sama gila
41
Bab 41 - Taman Bermain
42
Bab 42 - Kisah lama yang terulang kembali
43
Bab 43 - Hadiah : Semoga kau selalu mengingatku
44
Bab 44 - Tempat baru
45
Bab 45 - Perubahan
46
Bab 46 - Bertemu
47
Bab 47 - Mengikis rasa "dingin"
48
Bab 48 - Tidak ada yang perlu ditakutkan
49
Bab 49 - Lega
50
Bab 50 - Mari hidup dengan bahagia
51
Bab 51 - Terima kasih sudah menerimaku dengan baik
52
Bab 52 - Berita hangat
53
Bab 53 - H-1 Pernikahan
54
Bab 54 - Semuanya akan baik-baik saja
55
Bab 55 - SAH
56
Bab 56 - Melayang di atas awan
57
Bab 57 - Honeymoon
58
Bab 58 - Oleh-oleh
59
Bab 59 - Layaknya kucing yang diberikan ikan asin
60
Bab 60 - Pemeriksaan
61
Bab 61 - Kebahagiaan itu nyata (END)
62
Cerita baru - Bukan pilihan gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!