Flashback
Beberapa saat yang lalu, saat Sheila hendak pergi ke toilet, dia mendapat telfon dari Flora, dan menyuruh ketiga sahabatnya berjalan lebih dulu.
Ketika Sheila selesai, gaunya tiba-tiba tersangkut di sudut meja, lalu seorang pria datang menawarkan bantuan.
"Butuh bantuan, Nona cantik?" suara itu terdengar ringan, namun penuh percaya diri.
Sheila mengangkat wajahnya dan mendapati Varius berdiri di hadapannya.
Tanpa menjawab, Sheila menarik paksa gaunnya. Suara robekan kecil terdengar, membuat ujung gaunnya sedikit sobek.
Varius hanya berdiri memperhatikan. Namun, saat Sheila hendak melangkah pergi, pria itu menahan lengannya.
Alis Sheila berkerut dalam. Sekejap, memori Varius melintas dalam pikiran Sheila, dengan kemampuan psikometri yang dimilikinya membuatnya melihat hal itu. Sheila terdiam, mencoba membaca ingatan yang muncul.
Senyuman tipis terlukis di wajah Varius saat menyadari Sheila tak melepaskan genggaman tangannya.
Melihat Sheila yang terdiam, ide licik muncul di benak Varius. Ia mendekat, berniat memeluk Sheila. Namun, niatnya langsung terhenti saat wanita itu sadar dan mendorong tubuhnya menjauh.
"Don't touch me, bastard!" Sheila menatapnya tajam sebelum melangkah pergi.
Namun, langkah Sheila terhenti saat suara Varius kembali terdengar. "Apakah kau tahu bahwa Arvelio pernah tidur dengan seorang gadis?"
Sheila mematung di tempatnya.
Varius menyeringai licik melihat reaksinya. "Dia pernah memiliki kekasih. Bahkan, dulu dia hampir membunuhku karena wanita itu,"
Langkah Varius semakin mendekat. "Arvelio sangat mencintai kekasihnya. Aku tidak yakin dia bisa mencintaimu seperti dia mencintai Keyvara."
Sheila menatapnya dingin. "Sudah selesai?"
"Tentu saja belum," Varius menjawab santai. "Masih banyak hal yang ingin kubicarakan. Hm, bagaimana kalau kita ke kamarku? Di sana kita bisa bicara dengan bebas."
Tatapan Varius berubah nakal, namun Sheila membalas dengan sarkas. "Jangan samakan aku dengan gadis-gadis mainanmu. Aku jauh berbeda dari mereka."
Ketika Varius mencoba meraih tangannya, Sheila dengan sigap memelintir tangan pria itu dan mendorongnya ke lantai.
Dengan wajah datar dan tatapan tajam, Sheila berjalan menjauh.
"Arvelio hanya mempermainkanmu! Percayalah padaku!" Varius berteriak putus asa.
Sheila hanya melirik tanpa menoleh. "Aku lebih percaya pada suamiku daripada opinimu." Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Varius memukul lantai. "Sial! Kenapa dia tidak terpengaruh sama sekali? Aku harus melakukan sesuatu!" gumamnya sambil merogoh saku jas.
Varius segera menelepon seseorang. "Datang ke Hotel Alberto sekarang. Bawa semua anggota kita."
"Untuk apa?" tanya suara di seberang.
"Aku ingin menyerang Dragon Devil's malam ini," jawab Varius tegas.
"Kau yakin? Tapi…"
Varius memotongnya. "Tidak perlu banyak tanya. Bawa semua orang ke sini. Sekarang!" suaranya dingin dan penuh perintah.
Setelah menutup telepon, Varius berdiri dengan percaya diri. "Malam ini, Arvelio akan mati, dan Sheila akan menjadi milikku selamanya. Hahaha!"
Dari balik tembok, Sheila menyaksikan semua itu sambil mengepalkan tangan. "Cih, percaya diri sekali."
Sheila menekan tombol pada jam tangannya dan memerintahkan Viola untuk membawakan pakaian ganti.
Flashback End
Di salah satu kamar hotel, Varius berkumpul dengan anggota gengnya.
"Kau serius ingin menyerang Dragon Devil's malam ini?" tanya Jackson, wakil ketua The Varmose.
"Aku sangat yakin. Ini waktu yang tepat karena mereka tidak memiliki persiapan apa pun," jawab Varius penuh tekad.
"Tapi satu hal, jangan ada yang menyentuh gadis ini," tambah Varius sambil menunjukkan foto Sheila yang diam-diam diambilnya saat acara berlangsung.
"Siapa dia?" tanya Jason, anggota inti The Varmose.
"Istri Arvelio," jawab Varius singkat.
"Jangan bilang kau tertarik padanya? Jadi, kau sengaja menyerang Arvelio karena gadis ini?" Alex, anggota lain, menatap tajam.
"Lagi?" Jackson menetap Varius. "A…"
Varius segera memotong ucapan Jackson. "Bukan urusanmu," membalas dingin. "Sebaiknya kalian bersiap dan berhenti banyak bicara!"
Setelah itu, mereka mulai menyiapkan senjatanya masing-masing. Dipimpin Varius, mereka keluar dari kamar hotel dengan tekad bulat. Di sana sudah ada asisten ayahnya Varius, dan juga para mafioso mafia milik keluarganya.
"Tuan Muda," sapa Ronald.
"Kau bawa berapa orang?" tanya Varius.
"500 orang, Tuan," jawab Ronald. "Apa saya perlu memanggil yang lainnya lagi?"
"Tidak perlu, anggotaku juga ada 500. Aku rasa itu sudah cukup," jawab Varius dingin. "Malam ini, saya mau Arvelio lenyap. Paham!" tegasnya.
"Paham!" jawab mereka serentak.
Varius berjalan melewati koridor hotel dengan wajah datar, tatapan mata yang penuh kebencian.
***
Dalam sebuah kamar hotel bernuansa putih, Sheila termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ketiga sahabatnya saling pandang, mereka terlihat kebingungan, sebelumnya Sheila mengajak mereka untuk menemui Arvelio dan yang lainnya. Tapi, saat perjalanan tadi wanita itu tiba-tiba mengajaknya ke dalam kamar.
Leona menyenggol lengan Irene dan Grace untuk bertanya. "Kenapa kita di sini? Bukannya tadi kau bilang jika Varius akan menyerang Dragon Devil's?" tanya Grace.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan," jawab Sheila.
"Apa?" tanya Leona menatap Sheila dengan tatapan bingung.
Sheila menatap Irene dengan ragu, ia seperti orang kebingungan. "Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Irene, menyadari arti tatapan Sheila.
Sheila menghela napas panjang. "Varius Thompson, dia pelaku utama yang membully Rafael," ucapnya.
Jantung Irene seolah berhenti berdetak mendengar kenyataan yang baru saja Sheila ungkapkan, Irene selama ini memang mencari tahu siapa pelaku yang sudah membully kembarannya hingga tewas.
Air mata wanita itu tiba-tiba luruh. Leona dan Grace memeluk sahabatnya untuk menenangkannya.
"Kapan kau tahu masalah ini?" tanya Grace.
Dia terdiam memikirkan jawaban yang pas untuk itu. "Tidak mungkin aku mengatakan jika aku melihat kilasan ingatan Varius, melalui psikometriku," batin Sheila.
"Sheila?" panggil Leona. Menepuk bahu sahabatnya.
Saat Sheila ingin menjawab, ia mendapat notifikasi pesan dari Viola. Sheila bernapas lega melihat video kejadian Varius melakukan bullyan pada Rafael.
"Tadi, Viola baru saja mendapatkan video cctv waktu itu," jawab Sheila, menunjukkan hpnya.
Irene menangis saat melihat isi video itu, tanganya mengepal erat. Ia mengangkat kepala dan menatap Sheila. "Aku ingin balas dendam," ucapanya dengan tegas.
"Tentu. Aku akan memberimu pilihan, kau ingin keluar sebegai istri dari Dragon Devil's? Atau sebagai Black Rose?" tanya Sheila serius.
Irene terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata dengan tegas. "Black Rose! Jika kita keluar sebagai istri Dragon Devil's, kita tidak akan leluasa untuk membalas mereka."
Sheila tersenyum smirk. "Pilahan yang tepat! Ayo, gunakan perlengkapan kalian," perintahnya, datar. Mereka mengangguk.
Di depan pintu ruangan pameran, Varius, berserta anggotanya sudah siap.
Varius mengangkat tangan, memberikan aba-aba. "Serang!" teriaknya.
Para penjaga yang di sana cukup terkejut, namun mereka tetap melawan. Salah satu mafioso, masuk ke dalam ruangan dan memberitahu Arvelio.
"King," panggil Willy.
"Ada apa?" tanya Arvelio dingin.
"Kita di serang oleh The Varmose, King," ucap Willy.
Tanpa berkata-kata Arvelio berjalan keluar ruangan, dengan wajah yang tak bersahabat. Diikuti sahabat, anggotanya, dan kakaknya.
Semua tamu undangan sudah pulang, jadi yang ada di sana hanyalah keluarga Alberto, Waverly, dan anggota geng serta mafioso milik Arvelio.
Saat Varius melihat Arvelio, dia berkata. "Akhirnya kau muncul juga, kupikir kau takut," Varius menatap dan tersenyum remeh. "Ck, ternyata para pengawal yang kau miliki sangat lemah. Lihat, mereka semua sudah out." menatap Arvelio dengan angkuh.
Sebelum Arvelio bersuara, tiba-tiba suara tembakan menggema di ruangan itu. Hal itu membuat salah satu mafioso milik Varius tergeletak.
Varius tersentak melihat hal itu, karna sepuluh orang mafioso miliknya langsung tumbang.
"Kau?" Varius menunjuk Arvelio.
Seseorang melompat dari atas, dan mendarat di hadapan Varius dan Arvelio dengan sempurna.
"Bukan dia. Tapi, aku," ucap orang itu dingin
Semua orang menoleh ke arah sumber suara itu, mereka tersentak saat melihat siapa orang tersebut.
Varius akhirnya berkata. "K-kau? Queen X?" katanya gugup.
Sheila tersenyum smirk di balik topengnya. "Wah, ternyata kau mengenalku, ya."
"Tentu, siapa yang tidak mengenal Queen mafia ke dua di dunia. Tapi, kenapa kau menyerang mafioso milikku, aku tidak memiliki urusan padamu." ucap Varius datar.
Queen X_Sheila mengangguk. "Kau memang tidak memiliki urusan padaku, tapi kau sudah membunuh salah satu anggotaku." sahutnya, nada dingin dan tajam.
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengusik kalian, jadi tidak mungkin aku membunuh anggotamu," sanggah Varius kebingungan.
"Rafael Devano Zephyr, kau mengenalnya?" tanya Irene_Princess F, menatap tajam Varius.
DEG!
Jantung Varius berdetak dengan cepat, ia terkejut mendengar hal itu. "J-jadi Rafael anggotamu?"
"Hm," Sheila menatap datar Varius.
"A-aku bisa jelaskan, Queen," ucap Varius gugup.
Sheila mengangkat alis. "Katakan?"
"Aku tidak melakukan apa pun pada Rafael," jawab Varius berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Sheila mengangguk. "Oh, lalu ini apa?" melempar ponsel ke arah Varius.
Matanya melotot melihat video itu. "Sial! Bagaimana dia bisa mendapatkan ini? Jelas-jelas waktu itu aku sudah menghapus semua buktinya, lalu ini?" batin Varius.
Sheila berjalan mendekat ke arah Varius. "Aku akan memberimu pilihan?" ucapnya dengan nada dingin.
"Pilihan? Apa itu?" Varius membalas dingin.
"Lihat botol yang ada di sana," ucap Sheila menunjuk botol yang ada di meja. Varius mengikuti arah yang di tunjuk Sheila.
Varius menatap Sheila penuh dengan tanya.
Sheila yang paham, ia kemudian berkata. "Tembak botol-botol itu, jika kau berhasil. Maka, aku akan mengikuti semua keinginanmu."
Varius tertawa. "Itu hal yang mudah bagiku, Queen," katanya mengangap remeh tantang itu.
"Kalau begitu buktikan! Aku ingin melihatnya," ucap Sheila.
"Tentu dengan senang hati. Tapi, ingat janjimu jika aku berhasil kau akan mengikuti semua yang kuinginkan," ujar Varius dengan mata berbinar.
"Aku tidak suka menjilat ludah sendiri," jawab Sheila santai, tatapan mata tajam.
"Termasuk menghabiskan malam bersamaku?" Varius menatap nakal Sheila.
"Deal!" Sheila menjawab tanpa ragu, ia mengulurkan tangan pada Varius, pria itu menyambutnya dengan senang hati.
"Queen!" bentak Arvelio, menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
Semua kaget mendengar suara lantang Arvelio yang menggema di ruangan itu, tapi Sheila tak bereaksi apa pun.
Para sahabat Sheila paham jika Queen mereka pasti memiliki maksud di balik tantangannya.
"Lakukan!" perintah Sheila, tanpa memperdulikan tatapan tajam Arvelio padanya.
"Baik, Queen cantik," sahut Varius, mengambil posisi untuk menembak botol-botol itu.
Arvelio berjalan ke arah Sheila, dan menarik tangan istrinya menjauh dari sana, ia membawa Sheila ke lorong hotel. "Aku tidak menyangka jika kamu sama saja dengan wanita jalang di luar sana," bisiknya.
Sheila mengepalkan tangan mendengar hal itu, ia merasa kecewa dengan tanggapan suaminya. "Aku tidak sama seperti mereka," balasnya berbisik, nada dingin.
Arvelio tersenyum miring. "Heh, lalu apa ini? Kamu sendiri yang setuju untuk menghabiskan malam bersama Varius di hadapan suamimu sendiri,"
Sheila menatap tajam. "Kamu sudah membaca semua memoriku, artinya kamu mengetahui semua yang terjadi dalam hidupku. Harusnya, kamu tahu jika aku bukanlah wanita gampangan." Membalas dengan nada dingin.
"Bisa saja kamu memanipulasi ingatanmu?" Arvelio membalas tak kalah dingin.
"Aku tidak sama sepertimu, Arvelio." balas Sheila tajam. Ia tersenyum miring. "Justru aku yang ragu padamu, kamulah yang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Jangan membalikkan keadaan," ucap Arvelio.
"Keyvara!" balas Sheila datar.
Arvelio tersentak mendengar nama itu, wajahnya mendadak kaku, seolah menyembunyikan sesuatu.
Sheila menelisik wajah Arvelio. "Sepertinya dugaanku benar, kamu yang menyembunyikan sesuatu dariku. Terutama soal gadis itu."
Arvelio menatap Sheila. "Apa Varius mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya.
Sheila tidak menjawab, justru dia semakin menatap tajam Arvelio, dan berkata. "Semoga hubunganmu dengan gadis yang bernama Keyvara itu bahagia,"
Arvelio menatap Sheila dengan tatapan bingung. "Apa maksudmu?
Sheila memejamkan mata, setelah beberapa saat ia kembali membuka mata. "Mungkin lebih baik kita berpisah, agar kamu bisa hidup bersama dengan Keyvara."
Bak disambar petir di siang bolong, Arvelio sangat terkejut mendengar hal itu.
"J-jangan bercanda, ka…" sebelum Arvelio melanjutkan ucapannya, ponselnya berdering.
Sheila melirik layar ponsel Arvelio. Nama Keyvara muncul di layar ponsel itu.
Ia ingin beranjak dari sana, namun Arvelio menahan tangannya. Menatap Sheila. "Aku dan Keyvara hanya bersahabat. Tidak lebih! Jika Varius mengatakan sesuatu padamu. Jangan percaya ucapannya."
Sheila terdiam beberapa saat, lalu ia melepaskan tangan Arvelio secara paksa. "Aku kecewa, Arvelio. Aku mengijinkanmu membaca semua memoriku. Tapi, kamu…" Menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan.
Sheila melihat kilasan Varius, yang ia lihat Arvelio dan Keyvara sering jalan bersama bertiga dengan Varius. Tapi, dia tidak melihat hal itu dalam ingatan Arvelio.
Kenapa Arvelio tidak menunjukkan ingatan itu padanya?
Ada apa? Apa ada sesuatu antara dia dan Keyvara sehingga membuatnya menyembunyikan hal itu darinya?
Apa benar yang dikataka oleh Varius soal hubungan suaminya dengan gadis yang bernama Keyvara itu?
Banyak pertanyaan muncul di benak Sheila, bahkan dia mulai ragu dengan semua sikap, dan ungkapan yang Arvelio katakan padanya.
"Aku bisa jelaskan, honey," suara Arvelio mulai melembut. Ia ingin meraih tangan Sheila, namun wanita itu mundur dan menghindar.
"Terima kasih untuk semua kenangan satu bulan ini, aku harap kamu lebih bahagia bersama cinta pertamamu," ujar Sheila tersenyum, dan melangkah menjauh dari sana.
Arvelio ingin mengejarnya, tapi deringan ponselnya terus berbunyi. Lalu ia mengangkat panggilan.
"Key, aku sed……"
Keyvara langsung memotong. "Ar tolong aku, aku mau di perkosa... Hiks! Hiks!" ucapanya di seberang sana.
Arvelio tersentak mendengarnya. "Kau ada di mana sekarang?" tanyanya khawatir.
"Aku di jalan Guardian," jawab Keyvara cepat, nada bicaranya terdengar gemetar.
"Aku ke sana sekarang," jawab Arvelio mematikan sambungan telfonnya, lalu berlari keluar.
Sheila menghentikan langkahnya, dan menoleh, ia menatap punggung suaminya dengan tatapan sulit diartikan. "Ternyata dia sangat penting bagimu, Ar." tersenyum miris.
"Bodoh! Aku terlalu percaya padanya, aku bahkan mengatakan semua hal padanya," batin Sheila, ia merasa sangat kecewa dengan sikap Arvelio.
Sheila mengusap air matanya, lalu berjalan ke arah tempat Varius berada. Saat Sheila tiba, ia melihat semua botol sudah berhasil Varius pecahkan.
Sheila menatap Irene, seolah berkata: Apa dia yang memecahkan semuanya?
Irene yang paham maksud tatapan Sheila segera menganggukkan kepala mengiyakan.
"Lihat Queen, aku berhasil. Sekarang aku ingin hadiahku," ucap Varius dengan bangga.
"Ok, follow me," jawab Sheila, menatap anggota The Varmose. "Kalian juga bisa ikut, agar permainannya lebih menyenangkan," ucapnya santai, dia berjalan keluar ruangan, di ikuti ketiga sahabatnya.
Varius berpikir: Jika dia berhasil mengahabiskan malam bersama dengan Queen X, bukankah itu akan menguntungkannya. Varius bisa melihat wajah asli Queen X, dan ia bisa memanfaatkan Queen X untuk melawan Arvelio.
Varius terus berjalan dengan percaya diri mengikuti langkah Sheila. Semua rencana dibenaknya sudah tersusun dengan rapi setelah melihat wajah Queen X, nanti.
"Sebenarnya apa yang Queen x rencanakan?" bisik Reyhan pada Kenneth.
"Entahlah!" Kenneth mengangkat bahu.
"Apa menurutmu mereka akan menghabiskan malam bersama?" tanya Reyhan.
Zean yang berdiri di dekat Reyhan mendengar hal itu. "Queen X bukan orang yang seperti itu," ucapnya dingin, ia sangat mengenal bagaimana sifat adiknya.
"Jangan asal menuduh, sekali lagi aku dengar, kau berbicara yang tidak-tidak soal Queen X, aku akan membunuhmu," sambung Zein, tatapan tajam.
Reyhan meneguk ludah melihat tatapan menghunus Zein, dan Zean. "M-maaf kak," ucapnya dengan nada bersalah.
Xavier melihat kesekeliling ruangan. "Kau sedang cari siapa?" tanya Alzian.
"Arvelio?" kata Xavier.
"Oh iya mana si bocah kutub itu," kata Alzian baru sadar jika adiknya tidak ada di sana.
"Loh, tadi dia menarik tangan S...." Reyhan menutup mulutnya karna hampir menyebut nama asli Queen X.
Jayden ikut menimpali. "Queen X," ia membenarkan ucapan sahabatnya. Reyhan langsung mengangguk.
"Kau cari Arvelio," perintah Xavier pada Kenneth, yang diangguki oleh lelaki itu.
"Aku ikut," kata Reyhan, diikuti oleh Jayden dan para anggota Dragon Devil's.
"Kita berpencar!" titah Kenneth.
"Baik, Prince," jawab mereka serentak.
***
Di dalam sebuah mobil sport hitam seorang gadis sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Lihat, Arvelio masih peduli padaku," ucap gadis itu dengan nada bangga pada Bryan.
"Yah, kau memang hebat Keyvara," jawab Bryan.
Keyvara Angeline Sapphire, adalah sahabat kecil Arvelio. Wanita cantik yang suka berpenampilan polos, tapi ia tak sepolos tampilannya. Ada banyak rahasia yang ia sembunyikan dibalik wajah polosnya itu.
Arvelio memang dekat dengan Keyvara, bahkan bisa dikatakan wanita itu mengetahui semua hal tentang Arvelio. Termasuk kemampuan psikometrinya.
"Arvelio tetap akan jadi milikku, sampai kapan pun," kata Keyvara penuh keyakinan.
Bryan tersenyum mengejek. "Heh, jika dia milikmu. Kau yang menjadi istrinya, bukan Sheila." ucapnya.
Keyvara menatap Bryan datar. "Mereka bisa menikah karna perjodohan. Aku yakin Arvelio tidak mencintai wanita sialan itu," jawabnya.
"Terserah. Mana bayaranku, jangan lupa, jika aku yang memberi info bahwa Arvelio sudah menikah," ujar Bryan, mengulurkan tangannya.
"Ck," Keyvara berdecak, ia mengambil amplop tebal di dalam tasnya. "Pergilah! Jangan sampai Arvelio melihatmu di sini." usirnya.
"Oke, bye. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku," kata Bryan.
Keyvara melihat mobil Arvelio, lalu dengan sengaja dia merobek bajunya, dan meneteskan sesuatu pada matanya.
Arvelio datang dan mengetuk kaca mobil Keyvara, wanita itu keluar dan langsung memeluk Arvelio. Pria itu tersentak sejenak, kemudian ia membalas pelukannya dan menenangkannya.
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, seseorang melihat kejadian tersebut dengan tatapan tajam.
"Br*ngs*k! Arvelio, kau menghianatiku," ucap Sheila, memukul stir mobilnya.
Beberapa saat lalu, setalah membawa Varius dan anggotanya ke markas Black Rose, Sheila mengecek GPS yang sengaja ia pasang diponsel Arvelio tanpa sepengetahuan suaminya.
Sheila sengaja menyusulnya untuk melihat secara langsung bagaimana hubungan suaminya dengan Keyvara. Apa yang ia lihat saat ini sudah membuat kecewa, sakit, dan semakin meragukan Arvelio.
Sheila terkekeh. "Bodoh! Aku terlalu terbuai dengan rayuannya, dan terlalu mudah percaya padanya."
Perasaan kecewa meliputi dirinya dengan semua sikap suaminya.
Sheila lebih memilih pergi dari sana, rasanya terlalu menyakitkan untuk menyaksikan kemesraan sang suami dengan wanita lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Lanjut Thor 👍🙂🙏
Semangat 💪🙂✨
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏😇
Selamat Hari Juma't Thor 👍🙂🙏✨
2024-10-11
1