Suasana dalam ruangan berubah riuh ketikan nama Sheila kembali dipanggil oleh MC. Namun si pemilik nama itu tak kunjung juga datang, membuat semua orang yang ada di sana saling berbisik.
"Di mana gadis yang bernama Sheila itu?"
"Siapa dia, kenapa MC memanggilnya?"
Bisik-bisik para tamu yang penasaran dengan sosok Sheila.
"Sheila Varisha...." suara MC menggema, memanggil untuk kesekian kalinya. Semua mata saling bertukar pandang, bertanya-tanya di mana wanita yang telah jadi topik hangat malam itu. Apa dia sepenting itu? Sampai membuat MC menyebut namanya berulang kali.
"Di mana Istrimu?" bisik Xavier kepada Arvelio yang duduk di sampingnya.
"Di depan pintu," jawab Arvelio santai, sembari melihat ke arah pintu utama.
Mendengar ucapan Arvelio, sahabatnya, termasuk Xavier, juga ikut menoleh ke arah pintu.
Di sudut ruangan, Claudia, dan ketiga sahabatnya mulai menyeringai penuh kemenangan, yakin bahwa Sheila tidak akan muncul. Mereka percaya rencana Claudia berjalan dengan sempurna, dan kini rivalnya pasti sedang tersiksa di tangan para penculik yang telah ia sewa.
Namun, senyuman kemenangan mereka seketika memudar, berubah menjadi keterkejutan luar biasa ketika pintu terbuka perlahan.
Sheila melangkah masuk, bersama Irene, Grace, dan Leona, mematahkan semua ekspektasi mereka.
Gaun hitam elegan yang Sheila kenakan langsung mencuri perhatian, gaun itu memancarkan aura keanggunan tak tertandingi. Meski model gaunnya sederhana, gaun tersebut membalut tubuh Sheila dengan sempurna, memberikan aksen glamor tanpa berlebihan.
Bahan satin lembut, dengan aksen renda tipis pada lengan panjang yang memamerkan kulit putihnya yang bak porselen.
Gaun itu berpotongan klasik, panjang hingga mata kaki, tidak sexy, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna, yang lembut, anggun, dan begitu memikat seperti patung dewi yunani.
Rambut Sheila yang ditata dengan sanggul tinggi, menonjolkan leher jenjangnya yang dihiasi anting panjang, dan kalung berbatu emerald yang berkilau setiap kali ia bergerak, mampu mencuri perhatian.
Setiap langkah Sheila mencerminkan ketenangan, keanggunan, dan kekuatan, seperti ratu yang tengah memasuki istana.
Saat melangkah melewati meja Claudia, Sheila berhenti sejenak. Dia menatap langsung ke arah wanita itu, sebuah senyuman remeh tersinggung membuat lawannya mematung.
Tatapan Sheila seolah menyampaikan pesan tanpa perlu diungkapan: "Aku di sini, dan kamu kalah."
Claudia mengepalkan tangan erat di bawah meja, amarahnya memuncak. "Bagaimana dia bisa lolos?!" batinnya. Menatap punggung Sheila dengan tatapan kebencian, rahangnya mengeras.
Sheila melanjutkan langkahnya menuju podium, ia tetap menjadi pusat perhatian semua orang. Meski di belakangnya, tiga sahabatnya tak kalah memukau turut mengikutinya, namun sorotan tetap tertuju pada Sheila.
Sheila adalah main character malam itu. Pesonanya begitu kuat yang memancarkan aura tak tertandingi.
Bisikan-bisikan mulai memenuhi ruangan, melihat betapa cantik, dan memukaunya penampilan Sheila.
"Ya ampun... Siapa dia?"
"Wajahnya seperti boneka barbie hidup!"
"Bidadari turun ke bumi...."
"Astaga, dia cantik sekali! Apa dia manusia?"
"Lihat kulitnya seperti porselen, begitu halus!"
"Gaunnya sederhana, tapi kenapa terlihat sangat memukau?"
"Dia benar-benar pantas jadi istri Arvelio. Sempurna sekali!"
Beberapa tamu, terutama para orang tua juga tak ketinggalan ikut berkomentar. Mereka terlihat tak senang mendengar bahwa Sheila merupakan istri Arvelio.
"Ah, sayang sekali dia sudah menikah. Sia-sia sudah rencanaku untuk menjodohkannya dengan putraku."
"Kalau secantik itu, aku juga ingin menjadikannya menantu. Hitung-hitung memperbaiki keturunan."
"Aku harap mereka segera berpisah, meski janda aku tetap menginkannya jadi istriku,"
"Aku juga mau, aku siap menceraikan istriku demi dia,"
Arvelio, yang mendengar komentar-komentar itu, merasa panas, ia mengepalkan tangannya. Tatapan matanya menjadi sangat tajam, penuh rasa posesif.
Arvelio segera berdiri dari tempat duduknya, dan dengan langkah penuh keyakinan menghampiri Sheila, sesampainya di hadapan istrinya, ia segera mengulurkan tangan.
Sheila menyambut uluran itu dengan senyum tipis yang memancarkan kepercayaan diri, dan Arvelio dengan bangga menggandeng istrinya.
Sebelum melanjutkan langkahnya, Arvelio berhenti sejenak, ia menatap tajam semua pria hidung belang yang masih menatap Sheila, tatapan matanya seolah berkata: "She's mine! Touching it's the same as die!"
Mereka yang di tatap meneguk ludah kasar, aura dalam ruangan itu seketika berubah mencekam karna tatapan Arvelio begitu tajam, seperti singa yang siap menguliti mangsanya.
Arvelio tersenyum dan mengusap tangan Sheila yang melingkar di lengannya. Bersama, mereka akhirnya melangkah ke podium, menjadi pasangan yang sulit untuk tidak di pandang.
"Maaf atas keterlambatan saya," ucap Sheila dengan nada dingin namun penuh wibawa, tatapan matanya tajam menyapu seluruh ruangan.
Kalimat sederhana itu cukup untuk membuat semua hadirin terdiam, susananya seketika hening merasa terintimidasi oleh aura Sheila. Tatapan Sheila yang tajam memberikan kesan bahwa dia adalah sosok yang tidak mudah diganggu.
Sheila kemudian melanjutkan pidatonya, dan mulai menjelaskan koleksi perhiasan rancangannya.
Setiap kata yang keluar dari bibir Sheila terdengar penuh makna, ia menjelaskan detail perhiasan yang memukau dengan narasi yang indah.
"Perhiasan ini bukan sekedar ornamen. Ini adalah simbol cinta, emosi, dan cerita. Lihat batu ruby ini, melambangkan cinta yang membara. Emerald di sini adalah ketenangan dan harapan. Setiap detail kecil perhiasan ini memiliki makna yang menyentuh hati,"
"Saya sengaja membuatnya seperti ini, agar saat kita menggunakannya bukan hanya fokus pada model dan kemewahan permatanya saja, tapi juga makna yang terkandung di dalamnya,"
"Saat harap perhiasan ini bisa menjadi ungkapan cinta dan emosi orang yang memakainya."
Semua tamu berdiri dan bertepuk tangan setelah Sheila menyelesaikan pidatonya, semua yang hadir tak hanya terpukau oleh desain perhiasan itu saja, tetapi juga cara Sheila memaparkan makna di balik setiap detail perhiasan.
Para hadirin semakin menatap kagum pada Sheila. Wanita itu merupakan gabungan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kekuatan.
Setelah selesai, Sheila turun dari podium, kembali didampingi Arvelio. Yah, sejak tadi ia berdiri seperti bodyguard pribadi di belakang istrinya.
***
Sheila memakan hidangan yang ada di meja dengan nikmat. Dia menggangguk-anggukan kepala saat mencoba setiap hidangan yang menurutnya enak.
Irene, Grace, dan Leona terkekeh melihat tingkah laku menggemaskan Sheila. Tetapi kesenangan, dan ketenangan mereka jadi terusik saat ada seorang pemuda datang.
"Hey, aku Varius Thompson," ucap pria itu dengan senyum licik, mengulurkan tanga ke arah Sheila.
Sheila tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap fokus pada makanannya, seolah-olah pria itu hanya lah udara.
Varius Thompson, ketua geng motor The Varmose. Ia berasal dari salah satu keluarga konglomerat di Amerika, posisi gengnya menduduki urutan ke-2 di segani di Amerika, dan Eropa. Walau banyak orang yang tidak menyukai The Varmose karna mereka sering membuat onar di jalanan.
Bahkan, warga LA pernah melakukan petisi untuk membubarkan geng mereka. Namun, mereka tetap bertahan karna kekuasaan keluarga Thompson.
Varius adalah rival Arvelio, sebenarnya mereka dulu adalah sahabat, tapi hubungan mereka berubah saat Varius tertarik pada seorang gadis, yang ternyata mencintai Arvelio.
Varius menarik uluran tangannya, ia mengusap bibir, dan menatap Sheila intens. "Menarik!" batinnya.
Baru kali ada yang menolak berkenalan dengannya, dan itu cuma wanita yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan, Sheila tak menunjukkan minat sama sekali padanya membuat Varius merasa tertantang untuk mendekati Sheila.
Arvelio yang melihat dari kejauhan segera bergerak, ia mempercepat langkah kakinya saat melihat Varius ingin duduk di kursi sebelah Sheila.
Arvelio segera duduk di kursi yang Varius tarik, lalu dengan santai mengecup bibir istrinya di depan semua orang. Gestur itu sederhana, namun penuh peringatan jelas: dia milikku, dan tidak ada yang bisa mendekatinya.
Malam itu, Sheila bukan sekedar menjadi pusat perhatian, tetapi juga simbol kekuatan seorang wanita. Ia adalah ratu di sisinya, dan Arvelio, sebagai raja, memastikan tidak ada yang berani menyentuh takhta mereka.
Tatapan tajam Arvelio kepada Varius membuat pria itu terdiam, kehilangan kata-kata.
Varius mundur perlahan, dia menyadari bahwa tidak ada ruang untuknya di antara pasangan yang begitu sempurna itu.
Namun, Varius tidak benar-benar mengalah, dia hanya ingin mempersiapkan sesuatu yang besar untuk melawan Arvelio, terlihat dari tatapan matanya yang menyiratkan dendam yang mendalam.
Varius menoleh sebentar. "Apa pun yang terjadi, Sheila harus jadi milikku. Cukup dia yang kau rebut Arvelio, dan untuk Sheila aku tidak akan mengalah." batinnya. Mengepalkan tangannya.
Arvelio menatap kepergian Varius dengan tatapan sulit diartikan, lalu dia memberi kode pada Kenneth, Reyhan, Jayden, dan anggota inti Dragon Devil's yang ada di sana. .
Tatapan mata Arvelio menyiratkan kata. "Waspada!!" yang segera di jawab anggukkan oleh anggotanya paham maksud ketua mereka.
Sheila melihat gerak-gerik suaminya, namun tak berkomentar apa pun, tentu saja ia paham dengan sinyal yang Arvelio kirim pada anggotanya.
"Bae," panggil Sheila pelan.
Arvelio menoleh, dan tersenyum. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya lembut, sambil mengusap noda makanan di bibir istrinya.
"Tidak, tapi aku mau ke toilet," jawab Sheila.
"Ayo aku antar," ucap Arvelio berdiri.
"Ish, gak perlu. Aku bukan anak kecil tau," ujar Sheila cemberut.
Arvelio terkekeh. "Kamu memang masih bayi,"
"Cih, mana ada bayi yang bisa buat kamu....." Sheila menatap Arvelio dengan tatapan menggoda, sambil mengedipkan matanya.
Wajah Arvelio seketika memerah paham maksud istrinya. "Mesum!" bisiknya.
"Heh, aku belajar darimu Tuan Muda," balas Sheila berbisik, mengecup cuping telinga Arvelio sebelum berdiri dan menarik tangan Irene menjauh dari sana.
Arvelio mematung di tempatnya. "Sh*t!" umpatnya, saat dia merasakan hawa panas menjalar keseluruh tubuhnya karna ulah sang istri.
Arvelio menoleh, namun Sheila sudah tidak ada di tempatnya. "Mana istriku?" tanyanya pada Kenneth.
"Makanya jangan melamun, entar kesambet setan," cibir Alzian.
Arvelio hanya melirik malas kakaknya, ia menatap Kenneth seolah meminta jawaban, namun Xavier lebih dulu berkata. "Sheila ke sana, mungkin dia mau ke toilet,"
Arvelio ingin menyusul, tapi Zean menahan tangan adik iparnya. "Tidak perlu menyusulnya, Princess bisa jaga diri. Ada banyak bodyguard yang berjaga, jadi aman,"
"Lagian siapa yang berani mengusik bocil devil itu, yang ada orang itu langsung.... Out karna si bocil," ucap Zein, sangat mengenal watak adiknya yang tak suka di ganggu.
"Santai saja, tidak perlu terlalu tegang seperti itu, boy. Cucuku bukan gadis lemah," sambung Edrick, menepuk bahu Arvelio, dan memberikan segelas wine pada cucu menantunya.
Arvelio akhirnya duduk kembali, dan menikmati minuman bersama yang lainnya. Meski sesekali pandangannya terarah pada jalan menuju toilet.
"Kau ganti baju?" tanya Leona, menatap penampilan Sheila yang terlihat santai, menggunakan celana jeans, kaos putih, serta jaket kulit warna hitam.
"Hm, kalian juga ganti," titah Sheila, menatap ketiga sahabatanya, sambil memberikan paper bag.
"Ya sudah, aku juga tidak nyaman menggunakan gaun ini terlalu lama," sahut Grace, mengambil salah satu paper bag dari tangan Sheila. Irene dan Leona juga melakukan hal yang sama.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai ganti baju. Irene menatap Sheila. "Pasti ada alasan kenapa kau mengganti baju, kan?"
Sheila tersenyum smirk, dan berkata dengan nada datar. "Persiapan untuk perang,"
"P-perang? Maksudmu?" tanya Leona, bingung.
"Varius, dia akan menyerang geng Arvelio malam ini," kata Sheila nada serius.
"Dari mana kau?" tanya Leona heran.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, sebaiknya kita keluar sekarang," jawab Sheila, berjalan ke luar lebih dulu. Diikuti ketiga sahabatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Lanjut Thor 👍🙂🙏
Semangat 💪🙂✨
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏
Selamat Hari Kamis🙂🙏👍
2024-10-10
1