Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, sudah satu minggu sejak Nana mengambil alih tubuh Sheila.
Nana terus mondar-mandir di dalam kamar, pikirannya kusut memikirkan pembicaraan terakhirnya dengan Arvelio.
Lelaki itu mengaku memiliki hubungan dengan Sheila, tapi pernyataan itu justru membuatnya semakin bingung.
Yang paling mengganggu Nana adalah perasaan aneh setiap kali ia menatap mata Arvelio.
Dada Sheila selalu terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan.
Ada apa sebenarnya?
Nana pernah menanyakan hal itu pada Arvelio, tetapi jawabannya tak memuaskan. Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.
"Aku harus berganti posisi dengan Sheila," gumam Nana, matanya menatap kosong ke dinding. "Sepertinya ada kesalahpahaman antara dia dan Arvelio."
Namun, masalahnya, bagaimana caranya?
Nana frustrasi. Dia mengacak rambutnya sendiri, berusaha menemukan jawaban.
Berbeda dengan Sheila, yang tahu cara membuat Nana mengambil alih tubuhnya, Nana sama sekali tidak mengerti bagaimana mengembalikan Sheila.
Setelah pertemuannya dengan Arvelio, perasaan tidak nyaman terus menghantui.
Dia merasa kehadirannya mengganggu.
Arvelio sepertinya tidak menerima dirinya di antara hubungan mereka.
Nana sadar diri. Dia hanyalah alter ego Sheila, sosok yang tercipta dari imajinasi gadis itu.
Namun, ada saat-saat di mana Nana ingin menjadi egois. Dia ingin hidup nyata, seperti orang lain.
Nana menghela napas panjang. Selama seminggu terakhir, ia sudah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan Sheila, tetapi hasilnya nihil.
Setelah beberapa saat termenung, Nana bangkit dan berjalan ke arah nakas. Dia mengambil sebuah buku yang tergeletak di atasnya. Dengan teliti, ia mulai membaca buku itu, berharap menemukan jawaban yang selama ini ia cari.
Lima menit kemudian
Senyum tipis muncul di wajah Nana saat ide itu terlintas di kepalanya, cara untuk membuat Sheila kembali. Ia melangkah ke arah lemari, tempat Sheila biasa menyimpan benda-benda kesayangannya.
Tangannya bergerak cepat, menggeledah hingga akhirnya menemukan apa yang ia cari.
Sebuah botol kecil dengan cairan berwarna kehijauan di dalamnya. Tanpa ragu, Nana membuka tutup botol itu dan meneguk isinya hingga habis.
Rasa pahit menusuk lidahnya, dan hanya dalam hitungan menit, tubuh Nana mulai bereaksi.
Dadanya terasa sesak, napasnya tersengal-sengal. Batuk keras menyertainya, dan tak lama kemudian, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Racun! Ya, yang diminumnya adalah racun.
Nekat! Itulah satu-satunya kata yang mampu menggambarkan tindakan Nana saat ini.
Namun, baginya, tak ada pilihan lain. Rasa putus asa yang telah mencekiknya selama seminggu terakhir membuatnya berani melakukan hal ini.
Ia berharap, setelah tubuh ini mencapai batasnya, Sheila akan kembali mengambil alih.
Dengan langkah limbung, Nana berjalan menuju tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas kasur, merasakan dinginnya kain yang menyentuh kulitnya.
Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia berbisik lemah. "Aku harap… aku bisa bertemu Sheila… dan menyuruhnya kembali."
Tubuh Nana melemas. Sunyi menyelimuti ruangan itu.
***
Di sebuah kamar hotel mewah di Singapura, seorang lelaki tampan berdiri di balik jendela kaca besar, memandang jalanan yang sibuk dengan tatapan datar.
Mata tajamnya memancarkan aura dingin, cukup untuk membuat siapa pun merasa gentar hanya dengan melihatnya. Lelaki itu adalah Arvelio.
Setelah acara pertunangannya, serta percakapannya dengan Nana malam itu, Arvelio memutuskan terbang ke Singapura, meski keluarganya sempat melarang.
Ia tetap bersikeras dengan alasan pekerjaannya sangat penting dan tidak bisa ditunda.
Keluarga akhirnya menyerah, meskipun sebenarnya mereka berharap Arvelio, dan Sheila atau Nana bisa menghabiskan waktu bersama untuk mempererat hubungan mereka.
Namun, kenyataannya jauh dari harapan keluarga. Setelah mengetahui kebenaran tentang Nana, perasaan Arvelio terhadap Sheila seolah menghilang entah ke mana.
Bersama dengan Nana membuatnya merasa tak nyaman.
Perjalanan bisnis ini sebenarnya hanya alibi!
Diam-diam, Arvelio menggunakan kesempatan ini untuk menjauh dari Nana.
Dia menghela napas panjang, mengambil ponselnya, dan menatap foto Sheila di layar.
"Kapan kamu kembali? Maaf… aku tak bermaksud menyakitimu," gumam Arvelio pelan. Aku bodoh karena melakukan hal itu tanpa memikirkan apa resikonya."
Tatapan Arvelio melembut, namun tetap dipenuhi rasa bersalah. "Aku menerima Nana sebagai alter egomu, Ai. Tapi, aku tak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu. Tidak bisa…"
Ia menutup matanya, mencoba menghalau pikiran-pikiran yang mengganggunya. Namun, kenyataan terus menghantuinya.
Selama berada di Singapura, selain menyelesaikan urusan bisnis, Arvelio juga menemui sejumlah psikolog. Ia berkonsultasi dengan dokter-dokter terbaik, berharap ada cara untuk membantu Sheila menghilangkan alter ego yang selama ini menguasai hidupnya.
Pikirannya terasa semakin berat. Ia memijat pelipisnya, mencoba meredakan pening yang menyerang.
Saat sedang berusaha menenangkan diri, ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan gerakan lamban, Arvelio merogoh saku jaketnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hm," gumamnya singkat.
“Apa urusanmu sudah selesai?" tanya suara di seberang, milik Alzian.
"Belum. Kenapa?" balas Arvelio datar.
Terdengar helaan napas panjang dari Alzian sebelum ia berbicara lagi. "Pulanglah! Kak Vier masuk rumah sakit."
Mata Arvelio membelalak. Tubuhnya menegang mendengar kabar itu. "Apa yang terjadi?" tanyanya cepat.
"Dia diserang oleh De Andreas," jawab Alzian, suaranya terdengar penuh amarah.
Arvelio mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengeras mendengar nama itu.
"Aku pulang sekarang," ucap Arvelio singkat sebelum menutup panggilan tanpa menunggu respons Alzian.
Dengan langkah cepat, Arvelio keluar dari kamarnya. Di lorong, ia bertemu Kenneth, Jayden, dan Reyhan, sahabatnya.
"Kita pulang!" kata Arvelio tegas sambil menuju lift, tanpa memberikan penjelasan.
"Ada apa?" tanya Reyhan heran. "Sepertinya Arvelio sangat marah."
"Mungkin ini ada hubungannya dengan Kak Vier," jawab Kenneth sambil mengikuti langkah Arvelio. Jayden dan Reyhan pun segera menyusul.
Selama perjalanan menuju bandara, Arvelio hanya diam. Rahangnya tegang, dan urat-urat di tangannya terlihat jelas.
Di dalam pesawat, dia menatap keluar jendela, matanya berkilat tajam seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
"Andreas…" bisik Arvelio penuh amarah. "Berani sekali kau menyentuh kakakku."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menyeramkan. "Tunggu kejutan dariku."
Senyuman itu membuat Kenneth, Reyhan, dan Jayden bergidik ngeri. Mereka saling bertukar pandang, meneguk ludah dengan kasar.
"Itu dia… King Devil’s," gumam Jayden pelan, suaranya hampir tak terdengar.
***
Di sebuah taman yang indah, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni memikat.
Namun, keindahan itu terasa kontras dengan sorot mata seorang gadis yang tengah duduk termenung di salah satu sudutnya. Sheila, gadis itu, menatap kosong ke arah hamparan bunga, hatinya diliputi perasaan yang tak seindah pemandangan di hadapannya.
"Hah! Kenapa begitu sulit melupakannya?" lirih Sheila.
Ia menunduk, memeluk kedua lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di antara lengannya. Sesak perlahan merambat di dadanya, membuatnya meringis.
"Sssttt..." desis Sheila, tangannya menekan dadanya yang terasa nyeri. "Apa yang terjadi? Ini... racun?"
Sheila gadis yang genius, dia ahli dalam segala hal, maka dari itu ia langsung menyadari gejala yang ia rasakan dengan cepat.
Sheila tertegun sejenak, pikirannya melayang pada satu kemungkinan. "Nana terluka?" gumamnya pelan, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Belum sempat ia mencerna lebih jauh, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Napas seseorang terdengar terengah-engah.
"Akhirnya, aku menemukanmu," suara itu terdengar familiar.
Sheila mengangkat kepalanya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya. "Nana!" serunya dengan nada tak percaya.
Nana tersenyum, menatap Sheila dengan tatapan lega.
"Kau! Bagaimana bisa kau ada di sini?" Sheila bertanya penuh heran.
"Kenapa dadaku terasa sesak? Kau terluka?" Sheila bertanya lagi, suaranya semakin cemas.
"Aku meminum racun," jawab Nana santai.
Mata Sheila membelalak. "Apa?! Kau gila!" teriaknya marah.
Nana mengangkat bahu dengan santai. "Ya, aku memang gila. Selama seminggu ini aku mencoba membangunkanmu, tapi gagal terus. Jadi, aku nekat mencoba cara ini. Dan lihat, berhasil, bukan?"
Sheila memandang Nana dengan tatapan kesal. "Kau pikir ini lucu?!" katanya dengan nada sarkastik.
Nana hanya terkekeh pelan. "Aku punya alasan, tahu," ujarnya dengan ekspresi sebal.
Sheila menghela napas, berusaha menahan amarahnya. "Apapun alasanmu, kau tidak boleh melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Itu sangat berbahaya, meskipun tubuhku kebal racun," ujarnya tegas.
Nana menatap Sheila dengan serius. "Sudahlah, jangan marah-marah. Ada hal penting yang ingin kubicarakan," katanya.
Sheila mengernyitkan alis. "Apa?"
"Ini soal Arvelio," jawab Nana.
DEG!
Jantung Sheila terasa sesak mendengar nama itu disebut. "Jangan membahasnya. Aku tak ingin mendengar apapun lagi soal dia," katanya sambil memalingkan wajah.
"Kenapa? Kau terlibat masalah dengannya?" tanya Nana penasaran.
"Tidak ada," jawab Sheila singkat, mencoba mengalihkan perhatian dengan memetik bunga di dekatnya.
Nana mendesah frustrasi. "Jawabanmu sama seperti dia. Kalian berdua membuatku penasaran setengah mati," ujarnya kesal.
Sheila akhirnya menoleh, menatap Nana. "Kau bertemu dengannya? Apa dia berbuat sesuatu padamu?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Hm, aku bertemu dengannya di malam pertunangan minggu lalu," jawab Nana santai.
Sheila terpaku. Pertunangan? Pikirannya melayang.
Apa Arvelio juga bertunangan, seperti dirinya?
"Apa yang kuharapkan? Kami sudah punya jalan masing-masing," lirih Sheila dengan senyum pahit.
Nana mengerutkan kening. "Kau bilang apa?"
"Tak ada," sahut Sheila cepat. "Bagaimana wajah tunanganmu? Tampan?" ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Nana memutar bola matanya. "Eh, ralat. Itu tunanganmu, bukan tunanganku. Ingat, aku hanya alter egomu," Nana menegaskan.
Sheila menatap Nana dalam. "Kau dan aku adalah satu. Kita terikat."
"Bagaimana jika tunanganmu tidak menerima keberadaanku?" tanya Nana serius.
"Dia harus menerimanya. Itu alasanku menyuruhmu mengambil alih tubuh ini. Agar dia bisa beradaptasi denganmu," jawab Sheila tegas.
Nana tertawa kecil. "Masalahnya, Arvelio tidak menerimaku."
Sheila menegang. "Dia tak ada hubungannya dengan ini."
"Justru dia sangat terkait, karena dia tunanganmu," Nana berkata dengan nada tajam.
Tubuh Sheila membeku. Arvelio?
Tunanganku adalah Arvelio?!
Apa ini?! Apa Nana mengerjainya?
Sheila menatap Nana seolah meminta penjelasan lebih.
Namun, sebelum Sheila sempat bicara, Nana lebih dulu mendorong tubuhnya ke dalam lingkaran cahaya putih di depannya. Dalam sekejap, Sheila tersedot masuk.
Sheila terbangun dengan napas terengah-engah. Matanya melirik sekeliling kamar yang dikenalnya.
"Aku kembali," gumam Sheila lirih.
Tatapannya jatuh pada cincin di jari manisnya. "Arvelio? Kenapa dia? Bukankah keluarga kami bermusuhan?" bisik Sheila penuh kebingungan.
Rasa sesak menyerangnya lagi.
Dengan tergesa-gesa, Sheila berjalan ke lemari, mengambil penawar racun, dan meminumnya. Setelah beberapa saat, keadaannya membaik.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Sheila membuka pintu dan melihat Aurora, kakak iparnya.
Aurora tersentak samar saat melihat mata Sheila bukan lagi warna hazel, melainkan heterochromia.
"Loh, Sheila. Kau sudah kembali," ucap Aurora, yang diangguki oleh Sheila disertai senyuman tipis.
"Ada apa, kak?" tanya Sheila.
"Astaga, kakak sampai lupa," menepuk jidatnya. "Kami mau ke Rumah Sakit, apa kau mau ikut?" tanya Aurora.
Alis Sheila berkerut penuh tanya. "Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kakak?" nada khawatir.
"Bukan kakak, tapi kakak iparmu dari pihak tunanganmu," jawab Aurora.
Tunanganku?
Sheila menatap Aurora ragu. "Kak, apa benar tunanganku adalah Arvelio?" tanyanya memastikan.
Aurora tersenyum. "Iya. Bukankah kalian satu sekolah? Kau pasti mengenalnya, bukan?"
Sheila terdiam, mencoba mencerna semuanya.
Jika Arvelio adalah tunangannya, apa dia sudah tahu sejak awal?
Atau ini kebetulan?
Sheila mendadak kesal memikirkan kemungkinan Arvelio hanya mempermainkannya.
"Hey, kau ikut atau tidak?" Aurora menyadarkannya.
Sheila mengangguk. "Aku ikut. Tunggu sebentar."
Ia masuk ke kamarnya, berganti pakaian sambil bertekad.
Aku harus ke rumah sakit, semoga aku bisa bertemu dengannya di sana, dan mendapatkan penjelasan darinya.
***
Alberto Hospital
Langit Los Angeles yang mendung saat ini seolah mencerminkan suasana hati Arvelio. Bersama sahabat-sahabatnya, ia melangkah cepat melewati koridor rumah sakit, derap langkah mereka penuh kecemasan.
Di depan ruang ICU, ia melihat Nathan, Edgar, dan Alzian yang sedang berdiri dengan ekspresi tegang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Arvelio, langsung menghampiri mereka.
Alzian menghela napas berat. "Kak Vier, masih dalam pengawasan intensif. Operasinya berhasil, tapi dia belum sadar. Dokter bilang mungkin besok pagi dia akan bangun."
Arvelio mengepalkan tangannya. Perasaan marah dan tak berdaya bercampur menjadi satu.
Perlahan mata Arvelio berubah warna.
Kenneth yang menyadari perubahan warna bola mata Arvelio, memberi kode pada Alzian.
Di saat Alzian ingin mendekat ke arah Arvelio, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka, membuat Alzian mengurungkan niatnya mendekati Arvelio.
Pandangan Arvelio masih fokus menatap ke dalam ruangan ICU, hatinya memanas saat melihat keadaan sang kakak terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya.
Mata Arvelio semakin memerah kegelapan, menandakan bahwa amarahnya saat ini mencapai puncaknya.
Dark side Arvelio, mode on!
Saat dia ingin memukul tembok, sebuah tangan lembut meraih tangan Arvelio, membuat lelaki itu menoleh.
Arvelio tersentak samar melihat kehadiran Sheila di sana, perlahan tatapannya melembut saat melihat sosok gadis yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini.
Arvelio mendekat, dan memeluk Sheila dengan erat untuk menyalurkan perasaan rindu yang ia rasakan.
Sheila mematung, dia bingung harus melakukan apa. Saat tangannya terangkat untuk mendorong tubuh Arvelio, lelaki itu membisikkan sesuatu yang membuat Sheila mengurungkan niatnya.
"Maaf, terima kasih sudah kembali, aku sangat merindukanmu. Tolong jangan pergi lagi," bisik Arvelio, suaranya bergetar, ia diliputi perasaan bersalah jika mengingat kejadian di pantai waktu itu.
Hati Sheila menghangat seketika mendengar hal itu.
Aish, harusnya aku marah. Tapi....
Sheila seketika melupakan tujuan sebelumnya, yang ingin meminta penjelasan pada Arvelio mengenai perjodohan itu.
Perlahan tangan Sheila terangkat dan membalas pelukan Arvelio, ia tersenyum mendapat balasan dari sang tunangan.
Semua keluarga saling pandang, mereka merasa bahagia melihat kedekatan Arvelio dan Sheila. Itu artinya, perjodohan yang meraka lakukan berhasil.
Sheila menepuk pelan punggung Arvelio, lelaki itu melepaskan pelukannya, ia menatap Sheila dengan tatapan dalam.
Kemudian, Arvelio menarik pelan tangan Sheila untuk duduk, namun Sheila menahan pergerakan tangannya.
"Ada apa?" tanya Arvelio heran.
"Aku ingin ke toilet," jawab Sheila, melepas genggaman tangan Arvelio.
"Ak......" ucapan Arvelio terpotong saat mendengar deringan ponselnya, ia menatap punggung Sheila sebantar lalu berjalan menjauh untuk menerima panggilan.
***
Di dalam, suasana begitu hening. Cahaya putih dari lampu di langit-langit menerangi ruangan dengan terang. Xavier terbaring di ranjang, napasnya stabil meski lemah.
Sheila baru saja kembali dari kamar mandi, dia berjalan pelan ke arah ruangan ICU untuk mengecek keadaan Xavier.
Awalnya, Sheila merasa semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya.
Perhatian Sheila tertuju pada sosok perawat yang berdiri di sisi ranjang Xavier. Gerakannya kaku, dan cara dia memegang alat medis tampak aneh.
Dia segera menerobos masuk ke dalam ruangan, melihat tingkah aneh perawat itu.
"Permisi," panggil Sheila, suaranya tegas. "Apa yang kau lakukan?" nadanya dingin.
Perawat itu tersentak kaget, ia menoleh, dan matanya membulat saat melihat Sheila berjalan mendekat ke arahnya.
Sebelum dia sempat melakukan apa-apa, Sheila bergerak cepat, untuk menangkap tangannya, dan mendorong orang itu ke dinding.
"Siapa kau?" tanya Sheila dingin.
Perawat itu meronta, mencoba melawan.
Tapi Sheila, dengan gerakan cekatan, merobek masker yang menutupi wajahnya. Ternyata dia adalah seorang pria yang menyamar.
"Apa tujuanmu di sini?" desak Sheila sambil mengunci gerakannya.
Pria itu hanya tersenyum sinis, lalu menggigit sesuatu di mulutnya. Sheila segera menarik dirinya menjauh, tapi terlambat, pria itu sudah menelan racun yang disembunyikan di giginya.
"Dia lebih memilih mati," gumam Sheila dengan nada datar.
Alzian, dan Arvelio mendengar suara kegaduhan dari luar, segera masuk ke ruangan tepat setelah itu, terkejut melihat pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai.
"Sheila, kamu baik-baik saja?" tanya Arvelio sambil memeriksa Sheila dari kepala hingga kaki.
Sheila mengangguk. "Aku baik. Tapi kita perlu mencari tahu apa tujuan mereka sebenarnya."
"Kakak akan mengurus hal ini, sebaiknya kau ajak Sheila pulang. Dan beristirahat, biar aku yang jaga di sini." ucap Alzian, menatap Arvelio.
Sheila menggeleng. "Tidak perlu, kak. Aku bisa pulang sendiri," jawabnya.
"Aish, mana boleh begitu. Kau ini adalah perempuan, bahaya jika pulang selarut ini seorang diri. Lagi pula, sudah jadi tugas Arvelio untuk menjagamu," ujar Alzian.
Sheila ingin bersuara, namun Arvelio mendahului gadis itu. "Kami pamit, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, kak." pamitnya, yang dibalas anggukan oleh Alzian.
Arvelio segera keluar ruangan, dia menarik pelan tangan Sheila.
Sheila melirik tangannya yang di genggam Arvelio, ia berusaha menarik tangannya, tapi genggaman itu semakin erat.
Akhirnya, Sheila pasrah dan mengikuti langkah kaki Arvelio menuju parkiran Rumah Sakit.
***
Mobil melaju pelan di jalan yang sepi.
Malam itu, hanya lampu-lampu jalan yang menjadi saksi keheningan di dalam kendaraan.
Sheila memandang keluar jendela, bayangannya terpantul samar di kaca, sementara pikirannya berkelana jauh.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, hanya saja rasanya tenggorokannya terasa berat melontarkan pertanyaan itu.
Di sisi lain, Arvelio fokus pada setir, tapi matanya sesekali melirik ke arah Sheila.
Jujur, Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi lidahnya seakan kelu. Ia memilih diam, memberi gadis itu ruang untuk berpikir.
Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Detik bergulir perlahan hingga akhirnya mereka tiba di Villa Alberto.
Mobil berhenti di halaman sebuah Villa bergaya klasik, dan Arvelio turun lebih dulu, membuka pintu untuk Sheila.
Arvelio mengulurkan tangannya untuk membantu Sheila turun dari mobil.
Namun, Sheila tidak meraih uluran tangan itu, hal itu membuat Arvelio menghela nafas pelan.
"Ayo masuk," kata Arvelio singkat, suaranya terdengar hangat meskipun lelah.
Sheila menuruti tanpa berkata apa-apa. Langkah kakinya terasa berat, seolah hatinya masih terikat oleh sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan.
Di dalam villa, suasana lebih ramai dengan Kenneth dan yang lainnya yang baru saja tiba. Arvelio, dan Sheila ikut duduk, mereka membahas sesuatu.
Setelah semua orang berpencar untuk beristirahat, Arvelio membawa Sheila ke kamarnya. Langkahnya tenang, tetapi ada kegelisahan di matanya.
Ceklek. Pintu kamar terbuka. Arvelio membiarkan Sheila masuk lebih dulu.
Gadis itu melangkah pelan, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Kamar itu sederhana, namun terasa nyaman dengan dinding kayu dan aroma lavender yang samar.
"Ini kamarmu?" tanya Sheila akhirnya, memecah keheningan.
Arvelio mendesah kecil. "Bukan hanya kamarku. Mulai sekarang, aku ingin ini jadi tempat di mana kamu juga merasa nyaman, Ai."
Sheila menoleh, menatap Arvelio dengan sorot mata yang sulit ditebak.
"Kamu tahu soal perjodohan itu, kan?" tanya Sheila langsung, suaranya datar namun menyimpan kekecewaan.
Arvelio menghela napas, kemudian duduk di tepi tempat tidur. “Aku tahu."
Dia memejamkan mata sejenak, untuk meredam rasa kesal yang ia rasakan. "Itu artinya, saat kita di pantai. Kau sudah mengetahui bahwa aku adalah gadis yang dijodohkan denganmu? Jawab!!" desak Sheila, intonasi suaranya mulai meninggi.
"Maaf," sesal Arvelio menatap Sheila sendu.
Sheila mengepalkan tangannya, gigi terkatup rapat karna kesal, marah, kecewa, perasaannya campur aduk. Ia menatap ke arah dinding.
Sialan!
Apa dia tau, karna ulahnya aku jadi seperti orang gila.
Jika tau begini aku tidak perlu menangis, dan galau merana seperti kemarin. Buang-buang air mata saja.
Bodohnya lagi, aku bahkan hampir....
Hah! Sudahlah, aku harus melupakan hal itu, sungguh. Sangat memalukan!
Gadis itu terus menggerutu dalam hati, rasanya ia sangat ingin mencakar wajah Arvelio.
Namun, ada perasaan tak rela dari lubuk hati Sheila untuk membuat stempel di wajah tampan Arvelio.
Sheila menarik nafas untuk menetralkan perasaannya.
Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Maaf, aku bodoh," bisik Arvelio, memeluk Sheila dari belakang.
"Memang! Sangat bodoh, malah. Huh! Kau adalah orang yang paling menyebalkan di dunia," batin Sheila, merasa dongkol terhadap sikap Arvelio.
"Aku mau tau bagaimana reaksimu, makanya aku melukakan hal itu. Aku tidak memiliki maksud lain," jelas Arvelio, penuh sesal.
Sheila terdiam mendengar semua perkataan sang tunangan tanpa memotong ucapan Arvelio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
lanjut Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂✨
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂🙂✨✨
2024-09-27
1
ica
semangat berkarya!!!
mari terus saling mendukung untuk seterusnya 😚🤭🙏
2024-09-27
2