Bertukar Cerita

Dalam ruangan bernuansa putih biru, dengan aroma lavender yang lembut menyebar di seluruh ruangan itu, ada Sheila, Irene, Grace, Leona, dan Viola tengah berkumpul.

Suasana terasa lebih serius, meski tetap diselimuti ketenangan. Mata mereka fokus mengamati semua gerak-gerik Claudia dan gengnya yang terpantul di layar LCD di depan mereka.

“Jadi?” Irene memecah keheningan dengan suaranya yang tenang, namun penuh rasa ingin tahu.

Sheila menoleh sekilas, lalu mengangguk paham arah pembicaraan. “Kita ikuti permainan mereka,” jawabnya santai, dengan nada yang nyaris tak beremosi.

“Maksudmu... Kau akan berpura-pura jadi gadis lemah dan masuk ke dalam perangkap Claudia?” tanya Leona dengan nada bingung, menatap Sheila dengan alis berkerut.

Sheila tersenyum tipis, namun ada kilatan makna di baliknya. “Tidak, itu terlalu membosankan. Lagipula, Arvelio pasti tidak akan membiarkanku melakukan hal sebodoh itu. Belum lagi keluargaku, kalian tahu bagaimana posesifnya mereka terhadapku,” katanya dengan nada datar, namun tegas.

Leona menghela napas lega, sementara yang lain menunggu kelanjutan kata-kata Sheila.

“Aku hanya ingin memberikan sedikit kejutan untuk Claudia,” sambung Sheila dengan nada penuh teka-teki.

“Apa kejutan itu?” Grace akhirnya angkat suara, tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.

Sheila tersenyum misterius, kali ini ia mengedipkan mata sambil berkata santai. “Kalian lihat saja besok saat pameran berlangsung.”

“Ck, kau selalu membuatku penasaran,” gerutu Leona sambil melipat tangan di dada, jelas kesal dengan sikap Sheila yang penuh rahasia.

Sementara itu, Sheila mengalihkan pandangannya pada Viola. “Kau sudah mengirimkan undangan pada Claudia, dan gengnya, kan?”

Viola mengangguk dengan yakin. “Sudah, Queen,” jawabnya singkat namun tegas.

Sheila tersenyum puas. Aroma lavender di ruangan itu seakan semakin terasa, menyelubungi rencana yang mulai terjalin di benaknya.

Di tempat yang berbeda, Claudia juga melakukan pertemuan dengan anggota gengnya.

"Jadi kapan kau akan memulai rencanamu?" tanya Gladis. "Aku ingin melihat gadis miskin itu bertekuk lutut, aku masih tidak terima dengan perlakuannya kemarin padaku. Jangan lupa Leona juga," matanya tersirat kebencian terhadap Leona dan Sheila.

"Kau tenang saja, besok hidup Sheila akan berakhir, bersama ketiga sahabatnya." sahut Claudia, dengan senyum bangga.

Ia tak tahu bahwa Sheila sudah menyiapkan kejutan istimewa untuknya.

Tak jauh dari tempat duduk mereka, ada Flora yang mendengar obrolan mereka, gadis itu mengeluarkan senyuman khasnya.

"Bodoh! Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa," batin Flora, menatap remeh Claudia.

Yah, Sheila bukanlah gadis biasa. Meskipun ia hanya dikenal sebagai desainer perhiasan Waverly yang sederhana, kenyataannya jauh lebih gelap dan rumit.

Nyatanya, Sheila merupakan putri keluarga terkaya nomor dua di dunia, keluarga Waverly, yang memiliki kuasa untuk mengendalikan jaringan bisnis global.

Namun, di balik status keluarga yang terhormat, ada identitas lain Sheila yang tersembunyi dan jauh lebih mematikan, yaitu: Queen mafia nomor dua di dunia, dengan nama kode “Queen X.”

Identitas ini tersembunyi rapat. Tak ada yang tahu bahwa wanita yang tampak anggun dan sederhana itu sebenarnya adalah otak di balik operasi bawah tanah yang mencakup perdagangan senjata, agent informasi rahasia, dan perlindungan kriminal elit.

Namun, Sheila tidak pernah mengumumkan siapa dirinya. Dia percaya bahwa kekuatan sejati adalah yang bekerja dalam bayangan, tanpa perlu adanya sorotan publik.

Flora segera mengirim video Claudia pada Arvelio, ternyata gadis itu bukan hanya bekerja pada Sheila saja.

Arvelio yang menerima pesan dari Flora, dia segera menujukkan video itu pada ketiga sahabatnya.

Reyhan menatap Arvelio. "Apa kita akan diam saja?" tanyanya khawatir akan keselamatan istrinya.

"Gimana?" Kenneth ikut bertanya pada Arvelio.

Arvelio terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata. "Tempatkan beberapa shadow di sisi istri kalian masing-masing,"

"Sheila?" tanya Jayden.

"Aku akan bicarakan hal ini dulu padanya, aku takut dia marah, karna istriku tidak suka jika diikuti," jawab Arvelio.

"Sheila pasti tidak akan sadar. Ingat, shadow yang kita miliki semuanya terlatih dalam menyamar, dan bersembunyi. Jadi, tidak mungkin ia akan ketahuan," jelas Reyhan.

"Kau tidak mengenal siapa istriku," ujar Arvelio. Nada bicaranya terdengar serius, dan tegas.

Reyhan mengerutkan alis bingung. Jayden menepuk pelan bahunya. "Luluhkan hati Leona, dan kau akan tau segalanya," ucapnya penuh teka-teki.

Pernyataan Jayden semakin membuat Reyhan merasa bingung.

Apa maksudnya? Ada apa sebenarnya?

Namun, Reyhan hanya mampu menyimpan semua pertanyaan itu di benaknya. Karna dia yakin meski bertanya, bukan jawaban yang sesuai keinginannya ia dapat.

***

Waktu berlalu cepat, malam pun tiba, Los Angeles berkilau indah dengan lampu-lampu gemerlap dari berbagai gedung pencakar langit yang memantulkan kemewahan kota tersebut.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Sheila sedang berada di ruangan pribadinya yang luas. Dinding kaca kamar itu memberikan pemandangan malam kota yang menakjubkan, tetapi Sheila tetap fokus pada setumpuk dokumen, layar laptopnya.

Sheila menggerakkan jarinya dengan lincah di atas keyboard laptop. Saat ia serius dengan kegiatannya, seseorang memeluknya dari belakang.

"What are you doing, honey?" bisik Arvelio.

Sheila menoleh sedikit. "Aku sedang membuat video Ai," ujarnya, mengusap rahang suaminya.

"Untuk apa?" tanya Arvelio.

"Bermain game," jawab Sheila nada santai, disertai senyuman tipis tapi memiliki makna dalam.

Arvelio melepas pelukannya, ia membalikkan tubuh Sheila ke arahnya. "Apa yang kamu rencanakan?" tatapanya menyiratkan kekhawatiran.

"Hanya permainan kecil," jawab Sheila.

"Kamu mau mengumumkan soal identitasmu?" Arvelio menatap Sheila, menelisik wajah istrinya mencoba menebak jalan pikirannya.

"Tidak, belum saatnya. Lagian, aku nyaman hidup seperti ini," ujar Sheila menatap Arvelio. "You know, sebenarnya daddy sudah lama ingin mempublish soal keberadaanku. Tapi aku menolak, karna aku sudah terbiasa hidup seperti ini," tegasnya.

Arvelio bisa menangkap maksud dari ucapan Sheila, bahwa istrinya tak suka dengan sorotan publik. Dan alasan yang lainnya adalah Sheila hanya tidak ingin orang-orang mendekatinya karna memiliki maksud tertentu.

Sebagai putri kesayangan dari keluarga Waverly, tentu saja Sheila memiliki kekuasaan, namun ia lebih suka bertidak dengan cara mainnya sendiri tanpa melibatkan nama besar keluarganya.

"Mau nginap di sini?" tanya Arvelio, menyelipkan helai rambut Sheila di telingannya.

"Keputusannya ada di tangan kamu. Karna kamu adalah nahkoda untukku, dan sebagai penumpang, aku akan mengikuti ke mana pun kamu pergi," ucap Sheila lembut, tersenyum manis.

Arvelio tersenyum hangat. Ucapan istrinya membuat ribuan kupu-kupu beterbangan liar dalam perutnya, sekali lagi, Sheila membuktikan padanya kedudukan yang ia miliki di hati wanita itu.

Ia menarik Sheila ke dalam pelukannya. "Kita nginap di sini saja," bisik Arvelio.

"Hm," gumam Sheila. Membalas pelukan suaminya.

Di sisi lain kota, Claudia berada di sebuah gudang terpencil bersama lima pria bertubuh besar. Mereka adalah orang-orang bayaran yang sengaja dia sewa untuk melaksanakan rencanya.

Claudia memberikan instruksi. "Pastikan kalian menangkap Sheila besok malam. Bersama para sahabatnya," ia menatap mereka satu per satu.

"Dan ingat, hal yang sangat penting. Jangan sampai kalian meninggalkan jejak sedikit pun yang bisa membuat mereka tahu siapa dalangnya. Paham!" tegas Claudia.

"Paham," jawab mereka dengan kompak.

"Aku ingin kalian membawanya jauh dari sini, buat dia menghilang tanpa jejak," perintah Claudia sambil menyerahkan segepok uang tunai kepada pemimpin kelompok itu.

Pria botak tersebut mengangguk. "Tentu saja, Nona Claudia. Serahkan saja pada kami, saya bisa jamin semuanya akan berjalan dengan lancar," ucapnya dengan penuh keyakinan.

Claudia tersenyum puas mendengarnya. Ia sangat yakin bahwa rencananya akan berjalan lancar.

***

Di sebuah gedung pencakar langit yang megah, tepatnya Laboratorium Sheila, ia berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menggoyangkan rambut panjangnya. Pemandangan kota terlihat memukau, Sheila memejamkan mata menikmati udara segar.

Deringan ponsel milik Sheila membuatnya segera membuka mata.

Ia segera menjawab panggilan. "Ada apa?" tanya Sheila, dingin.

"Claudia sudah memulai langkahnya, Queen. Saat ini dia memerintahkan beberapa orang bayaran untuk menculik Queen dan yang lainnya," lapor Flora.

Sheila tersenyum dingin. "Orang bayaran? Amatir. Heh, dia tidak tahu dengan siapa dia bermain."

"Apa kita akan menangani seperti biasa, atau kau ingin pesan mengirimkan khusus untuknya?" tanya Flora.

Sheila menatal ke kejauhan, matanya penuh dengan perhitungan. "Tidak, Flora. Kali ini, aku ingin Claudia tahu bahwa dia tidak pernah punya kesempatan sejak awal untuk mengalahkanku."

"Apa rencanamu, Queen?" tanya Flora.

"Hubungi Viola, ia yang akan menjelaskan padamu." perintah Sheila.

"Baik, Queen," jawab Flora, mematikan sambungan telfon.

Arvelio yang bersandar di pintu balkon, menyipitkan matanya mendengar obrolan Sheila. Dirinya masih penasaran dengan rencana yang akan di lakukan oleh istrinya.

Sheila berbalik, ia tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Arvelio. "Butuh sesuatu?"

Arvelio menarik pinggang Sheila. "Soal rencanamu? Apa kamu tidak ingin menjelaskannya? Hm?"

Sheila terkekeh kecil. "Astaga, bae. Aku pikir kamu sudah tahu,"

Arvelio mengerutkan alisnya. "Bagaimana aku tahu, sedangkan kamu saja belum cerita," nada kesal.

Sheila mengangkat alis. "Bukannya kamu punya kebiasaan menggunakan psychometrics untuk membaca semua ingatanku, Tuan Muda." ucapnya dengan nada menyindir.

Menghela napas. "Tidak, honey. Mulai sekarang aku tidak akan membaca kilasan ingatanmu tanpa izin darimu, maaf," ujar Arvelio, terdengar tegas.

"It's okey, aku nggak masalah kamu baca memoryku. Justru itu bagus!" Sheila menatap Arvelio serius.

"Bagus?" Arvelio tidak paham maksud istrinya.

"Ya, karna aku tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar sama kamu semua kegiatan yang kulakukan. Apalagi saat kita tidak berada di tempat yang sama," jawab Sheila santai.

"Tapi kita harus barter, supaya adil!" sambung Sheila dengan tegas. "Bagaimana? Deal?" mengulurkan tangannya.

Alih-alih membalas jabatan tangan istrinya, Arvelio justru mengecup bibir Sheila sekilas, dan berkata. "Deal!"

"Ck, modus!" decak Sheila.

Dengan gerakan cepat Arvelio menggendong Sheila ala koala. "Eh!" pekik istrinya karna terkejut.

"Ish, kalau mau gendong minimal kasih aba-aba dulu, aku kaget tau," kata Sheila cemberut.

Sekali Arvelio mendaratkan kecupan singkat di bibir Sheila. "Maaf," bisiknya, lalu melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.

Arvelio menurunkan tubuh Sheila dengan pelan, dia mengusap pipi istrinya. "Ready?" tanyanya dengan senyuman nakal.

Wajah Sheila merona paham maksud suaminya, lalu ia mengangguk dengan malu-malu.

Perlahan Arvelio mulai mencium istrinya, ia melumat lembut bibir Sheila, kepalanya sengaja ia miringkan untuk mencari posisi nyaman.

Tangannya juga tak tinggal diam, dia bergerak aktif membuat wanita itu hanya mampu melenguh pelan. Entah sejak kapan tubuh mereka sudah sama-sama polos.

Suasana kamar bernuansa white gold itu terasa begitu hangat, seolah bersekutu dengan malam untuk menciptakan momen yang sempurna bagi mereka.

Cahaya lilin aroma terapi berpendar dengan lembut, menyebarkan aroma vanila dan kayu manis yang begitu menenangkan, sementara sinar bulan yang menerobos melalui jendela menambah aksen keindahan yang memukau.

Dalam kesunyian malam yang penuh keintiman, Sheila dan Arvelio saling menyelami dunia masing-masing, bertukar cerita dalam bahasa yang hanya mereka pahami.

Mereka berdua tak membutuhkan kata-kata; setiap sentuhan, tatapan, dan bisikan adalah cerita yang penuh makna, mengalir bagai melodi yang hanya mereka berdua ciptakan layaknya film romantis.

Sheila terdiam sejenak, meresapi setiap sensasi luar biasa yang mengalir dalam dirinya. Ada getaran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, seolah ia tengah melayang dalam balutan perasaan yang tak terdefinisikan.

Arvelio, dengan pesonanya yang tetap tenang, tahu bagaimana menjadikan istrinya pusat dunia. Setiap gerakan, setiap detail, semuanya sudah ia rancang begitu sempurna untuk membuat wanitanya merasa istimewa, hingga ia tak mampu menahan senyum kecil yang penuh kebahagiaan.

“Malam ini sempurna,” bisik Sheila pelan, hampir seperti desahan. "Aku bahagia, thanks." menatap Arvelio penuh cinta.

Arvelio tersenyum, menatapnya penuh kelembutan. “Kamu yang membuatnya menjadi lebih indah, Ai.” jawabnya, menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan. "Tak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku. Kebahagianmu adalah proritas utama bagiku."

Mereka saling melempar senyuman, Arvelio kembali melanjutkan aksinya, membuat Sheila hanya mampu melenguh kenikmatan, dengan mata memejam erat.

Mereka tenggelam dalam dunia mereka sendiri, di mana waktu terasa berhenti, dan yang ada hanyalah mereka berdua, ditemani sinar bulan yang menjadi saksi bisu dari malam yang penuh cinta dan gairah.

***

Suasana mencekam menyelimuti sebuah apartemen bernuansa abu-abu. Di dalam kamar yang sunyi itu, Leona dan Reyhan terdiam.

Keheningan menggantung di antara mereka. Baru saja, Leona mengungkapkan sebuah rahasia besar tentang siapa dirinya sebenarnya.

Reyhan menatap Leona dengan ekspresi bingung. Rasanya tenggorokannya sangat berat. Ia tak tahu bagaimana harus merespons.

Leona menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk mengendalikan emosinya. "Jika kamu ingin kita berpisah, aku mengerti. Aku siap," ucapnya, lirih namun tegas.

Reyhan tersentak mendengar kata-kata tersebut. Tatapannya berubah tajam. "Apa kamu menganggap pernikahan kita hanya permainan? Hah?" suaranya meninggi, campuran kesal dan marah memenuhi nada bicaranya.

Leona menunduk, ia tak mampu menatap suaminya. Keheningan kembali menyelimuti mereka hingga akhirnya Reyhan sadar bahwa ia telah membentak istrinya.

Reyhan berjalan mendekat, suaranya melembut. "Maaf," bisiknya penuh penyesalan.

Reyhan berlutut di hadapan Leona, menatapnya dengan sungguh-sungguh. Tangannya meraih tangan Leona, menggenggamnya lembut. "Aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku," lanjutnya.

Leona menggeleng pelan. "It's okey, aku paham. Ini semua salahku," jawabnya lemah.

Hening sejenak. Reyhan menatap dalam mata istrinya sebelum berkata dengan suara rendah namun serius. "Leona, aku juga punya rahasia."

Leona mendongak, dan menatap Reyhan dengan ekspresi terkejut. "Rahasia apa?" tanyanya hati-hati.

Reyhan menghela napas panjang. "Aku juga terlibat dengan dunia bawah. Aku... Prince R, The Demon's," ungkapnya, menatap istrinya tanpa ragu.

Leona membeku. Rahang bawahnya sedikit terbuka, tangan refleks menutup mulutnya. "Jadi kamu...?" ucapnya hampir tak terdengar.

Reyhan mengangguk, tetap berada di posisi berlutut, menjaga tatapannya agar tetap sejajar dengan mata Leona. "Aku tahu kita menikah karena dijodohkan. Tapi aku ingin kita menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Aku ingin membangun rumah tangga yang langgeng bersamamu, Leona."

"Kita mulai dari awal. Kamu mau, kan?" tanya Reyhan penuh harap.

Leona terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Perlahan, senyum manis terukir di wajahnya. "Aku bersedia," jawabnya tegas.

"Tapi, ingat. Kalau kamu berani bermain di luar, aku tidak akan pernah memaafkanmu," lanjut Leona, nadanya berubah serius.

Reyhan tersenyum tipis, merasa lega mendengar jawaban istrinya. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukan itu," ucapnya dengan nada yakin.

Leona memicingkan matanya, menyipitkan pandangannya dengan nada menggoda. "Aku ragu. Kau kan mantan playboy cap badak," sindirnya.

Reyhan menghela napas panjang. "Dulu memang begitu. Tapi sekarang, aku punya istri yang cantik dan sempurna. Untuk apa aku mencari yang lain?" jawabnya santai. "Dan kalau aku sampai melanggar kepercayaanmu, kamu boleh membunuhku," tambahnya serius.

Leona tersentak, menatap mata Reyhan. Ia dapat melihat kesungguhan dalam tatapan itu. Untuk sesaat, ia tak tahu harus berkata apa.

Tapi entah keberanian dari mana, Leona mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Reyhan. Sebuah kecupan singkat yang membuat pria itu terpaku di tempat.

Reyhan memegang bibirnya dengan ekspresi kaget. "Leona...?" bisiknya tak percaya.

Leona buru-buru mengalihkan pandangannya, wajahnya merona malu. "Astaga, apa yang sudah kulakukan," gerutunya dalam hati.

Reyhan tersenyum kecil, lalu mengangkat dagu Leona, membuatnya untuk menatap langsung ke arahnya. Mengusap lembut bibir istrinya. "I want you... Sepenuhnya. Bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanyanya lembut, suaranya dalam dan menggoda.

Jantung Leona berdegup kencang. Ia terdiam sejenak, mencoba menguasai dirinya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang membuat senyum Reyhan semakin lebar.

Tanpa berkata-kata lagi, Reyhan mendekat dan mencium bibir Leona dengan lembut. Ciumannya penuh perasaan, bukan sekadar gairah.

Perlahan, ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya, membawanya ke tempat tidur.

Malam itu, mereka memutuskan memulai awal baru, meninggalkan cerita masa lalu yang kelam untuk membangun kehidupan yang mereka harapkan akan penuh cinta dan kesetiaan.

Terpopuler

Comments

전정국😕😐💜

전정국😕😐💜

Lanjut Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂✨🙏

2024-10-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!