Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari yang spesial bagi Arvelio dan Sheila. Dalam beberapa jam ke depan, mereka akan mengikat janji suci dan resmi menjadi pasangan suami istri.
Dekorasi tempat pernikahan mereka tampak begitu memukau, didominasi dengan warna putih yang melambangkan kesucian cinta mereka, ditambah aksen warna emas sebagai lambang kemewahan, kehangatan, kemurnian cinta, dan keabadian cinta keduanya.
Bunga edelweis dan mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, memberikan aroma harum yang lembut. Meja-meja tamu yang tertata rapi dengan sentuhan elegan, menciptakan suasana yang begitu magis.
Di sebuah ruangan terpisah, Arvelio duduk dengan kedua tangan terlipat di lututnya. Wajahnya tegang, matanya menatap kosong ke depan.
"Gugup?" suara Xavier memecah keheningan sambil menepuk bahu adiknya dengan lembut.
"Sedikit," jawab Arvelio singkat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya yang tengah ia rasakan.
Alzian, Edgar, dan Nathan yang berada di sana tak kuasa menahan tawa kecil.
"Siapa sangka, seorang King Devil's bisa gugup juga," canda Alzian sambil terkekeh.
Arvelio mendengus kesal. Kakaknya yang satu itu memang terkenal suka mengganggu, terutama saat suasana serius seperti ini.
"Rileks saja. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Xavier dengan nada tenang, mencoba menenangkan Arvelio.
Xavier memiliki sifat yang hampir sama dengan Arvelio, datar, dingin, kaku. Alzian terkenal lebih ramah, suka jail, tapi dia akan berubah ganas saat berhadapan dengan musuh.
Pintu ruangan terbuka, dan Kenneth melangkah masuk. "Acaranya akan dimulai," katanya singkat.
Arvelio menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dengan tegap. Mengenakan setelan tuxedo putih yang serasi dengan gaun Sheila, ia tampak begitu gagah.
Dengan langkah tegas, ia berjalan keluar menuju altar pernikahan.
Di altar, Arvelio berdiri, ia memasang wajah datar seperti biasa, disertai tatapan tajam, ia menunggu kedatangan Sheila.
Matanya tak lepas dari pintu besar yang perlahan terbuka. Dan di sanalah Sheila muncul, diapit oleh ayahnya, Leonard, dan kakeknya, Edrick.
Di belakang mereka, kedua saudara laki-lakinya, Zein dan Zean, berjalan mengiringi.
Semua mata tertuju pada Sheila. Gaun putihnya menjuntai anggun, dihiasi renda halus dan payet berkilauan. Wajahnya tersembunyi di balik tudung, namun aura kecantikannya begitu memikat para tamu yang hadir, terutama Arvelio.
Semakin dekat langkah kaki Sheila, Arvelio merasa detak jantungnya juga berdetak semakin cepat, rasa gugup meliputi dirinya, namun dia berusaha tetap santai.
Yah, aku harus tenang. Sebentar lagi, kami akan terikat untuk selamanya. Arvelio menyakinkan diri.
Setibanya di altar, Leonard menatap Arvelio dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, ia menyerahkan tangan putrinya. "Jaga Aileen dengan baik, Arvelio. Dia adalah berlian kami, harta yang paling berharga. Jika nanti kau merasa tidak sanggup bersamanya lagi, kembalikan dia kepada kami. Jangan pernah menyakitinya."
Aileen adalah nama depan Sheila, keluarganya biasa memanggil dia dengan sebutan itu atau Ai, itu nama kesayangan keluarga.
"Dad," bisik Sheila, suaranya hampir tak terdengar. Genangan air mata memenuhi pelupuk matanya.
Arvelio menatap Leonard dalam-dalam, lalu dengan gerakan mantap, ia mengeluarkan sebuah pistol antik dari saku jasnya. Semua yang hadir tersentak melihatnya.
"Ini adalah pistol peninggalan kakek Darius," ucap Arvelio tegas, menyerahkannya pada Leonard. "Jika suatu hari saya menyakiti Aileen atau mengkhianati janji ini, maka gunakan ini untuk mengakhiri hidup saya."
Leonard terdiam, terkejut sekaligus terharu. Edrick, sang kakek, menepuk bahu Arvelio dengan lembut. "Simpan saja, boy. Kami percaya kau akan menepati janji itu."
Arvelio mengangguk mantap. "Grandpa, saya tidak pernah mengingkari janji. Jika saya lupa, maka nyawa saya adalah taruhannya."
Setelah menerima restu dari keluarga Sheila, upacara dilanjutkan.
Janji suci diucapkan dengan penuh haru, dan dalam keheningan yang khidmat, selang beberapa menit Arvelio dan Sheila akhirnya dinyatakan sah sebagai suami istri.
Di bawah gemerlap lampu hias, dan bunga yang berjatuhan, Arvelio memandang Sheila penuh cinta. Ia menggenggam tangan istrinya, menyadari bahwa mulai hari ini, mereka berdua akan berjalan bersama sebagai satu kesatuan.
"Selamanya, aku akan menjagamu," bisik Arvelio.
Sheila tersenyum di balik air matanya. "Dan aku akan selalu mencintaimu."
Di antara gemuruh tepuk tangan tamu undangan, dua hati yang saling mencintai itu bersatu, memulai kisah baru yang penuh harapan dan cinta abadi.
***
Malam semakin larut, namun suasana pesta masih meriah. Tamu-tamu menikmati hidangan lezat, tawa dan canda terdengar di segala penjuru. Namun bagi Arvelio dan Sheila, dunia seakan hanya milik mereka berdua.
Di taman belakang tempat resepsi, jauh dari keramaian, Arvelio menggenggam tangan Sheila, membawanya ke sudut yang lebih tenang. Sebuah meja kecil dengan lilin menyala sudah dipersiapkan oleh Arvelio sebelumnya.
"Aku ingin kita punya momen ini hanya untuk kita berdua," ucap Arvelio sambil menarik kursi untuk Sheila.
Sheila tersenyum lembut. "Kamu selalu tahu bagaimana membuatku merasa istimewa."
Arvelio duduk di depannya, matanya tak lepas memandang wanita yang kini menjadi istrinya. "Aku masih ingat pertama kali aku melihatmu," katanya sambil menyentuh cincin di jemarinya.
"Kamu terlihat seperti mimpi, sesuatu yang kurasa tak akan pernah bisa kucapai. Tapi hari ini, kamu di sini, bersamaku. Dan aku bersumpah untuk menjaga senyum itu selamanya." ungkap Arvelio, nada tegas.
Sheila menunduk, menahan air matanya yang mulai menggenang. "Kau tahu, Ar, aku juga merasa sangat beruntung. Kamu selalu ada, meskipun kadang aku merasa tak pantas mendapatkanmu. Tapi sekarang aku percaya, takdir memang mempersatukan kita."
Arvelio tersenyum, lalu berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Sheila. "Maukah kamu berdansa denganku di bawah bintang-bintang ini?"
Tanpa ragu, Sheila mengangguk. Musik lembut terdengar dari kejauhan, dan mereka berdansa perlahan di bawah langit malam yang cerah.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga, seakan memberkati cinta mereka yang baru tumbuh.
Setelah acara dansa selesai, Arvelio dan Sheila kembali ke kamar mereka.
Malam itu terasa istimewa bagi keduanya, tetapi ada sesuatu yang membuat Sheila terlihat gelisah.
Di kamar mandi, Sheila berdiri di depan cermin, menggenggam tepi wastafel erat. Ia mendesah pelan, mencoba menenangkan diri. Kedatangan tamu bulanan membuatnya khawatir, bukan hanya karena ketidaknyamanan fisik, tetapi juga rasa bersalah pada Arvelio.
"Aku harus bilang... tapi, bagaimana caranya?" gumam Sheila pelan.
Sementara itu, di luar, Arvelio menunggu dengan sabar. Namun, setelah hampir setengah jam Sheila belum keluar juga, kekhawatirannya mulai muncul. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Ai, kamu baik-baik saja?" tanya Arvelio lembut.
Sheila terkejut mendengar suara suaminya. Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Kepalanya tertunduk saat ia keluar, melangkah pelan ke arah Arvelio.
"Maaf," ucap Sheila lirih, tanpa menatap mata suaminya.
Arvelio mengerutkan kening. "Maaf? Untuk apa?" tanyanya, memegang bahu Sheila dengan lembut.
"A-aku..." Sheila berhenti, menggigit bibirnya. Tubuhnya tegang, tak tahu bagaimana menjelaskan situasinya.
Arvelio memperhatikan Sheila dengan saksama. Mencoba membaca apa yang terjadi. Wajahnya yang pucat dan gerakannya yang canggung seolah memberinya petunjuk.
Seperti lampu yang menyala di kepalanya. Akhirnya, ia menyadari sesuatu.
"Kamu datang bulan?" tanya Arvelio hati-hati.
Sheila mendongak, terkejut. "B-bagaimana kamu tahu?" tanyanya, bingung sekaligus malu.
Arvelio tersenyum tipis. "Ada notifikasi dari aplikasi di ponselmu tadi. Aku nggak sengaja lihat," jelasnya. "Apa kamu sakit? Perut kamu nyeri?" tanyanya, kini tangannya mengusap perut Sheila dengan penuh perhatian.
Sheila mengangguk pelan. "Sedikit..." ucapnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Maaf, aku..." menatap Arvelio dengan ekspresi bersalah.
"Ssst," Arvelio memotong kalimat Sheila dengan meletakkan jarinya di bibir sang istri. "Kamu nggak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu."
Arvelio dengan lembut mengangkat tubuh Sheila dengan lembut dan membawanya ke tempat tidur. Ia membaringkan Sheila dengan hati-hati.
"Kamu mau aku bawakan sesuatu? Teh hangat, obat pereda nyeri?" tanya Arvelio penuh perhatian.
Sheila tersenyum tipis dan menggeleng. "Kamu mandi saja. Aku baik-baik saja."
Arvelio mengangguk, mengusap kepala Sheila dengan lembut. "Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aku, ya," katanya sebelum melangkah ke kamar mandi.
Sheila menghela napas lega saat Arvelio masuk ke kamar mandi. Ia mencoba mengatur pikirannya. Namun, pandangannya jatuh pada bajunya yang basah.
Matanya melebar. "Astaga, kenapa aku bisa lupa soal ini?" gumam Sheila buru-buru mengambil alat yang biasa ia gunakan untuk memompa asi.
Saat Arvelio keluar dari walk in closet, ia berhenti di ambang pintu. Pendangannya tertuju pada Sheila yang sedang melakukan sesuatu. Wajahnya berubah serius, dan matanya memperhatikan setiap detail tanpa berkedip.
Meneguk ludah. "Jadi, yang kulihat waktu itu di ingatan Ai, benar." batin Arvelio, masih menatap Sheila.
Ia melangkah secara perlahan. "Ai?" panggil Arvelio lembut.
Sheila tersentak, buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "A-Arvel! Aku..." katanya gugup.
Arvelio duduk di tepi ranjang. "Kamu bisa sesak nafas jika begitu," ucapanya mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Sheila. "Buka ya," bujuknya.
Sheila menggeleng. "Aku malu..." suaranya nyaris tak terdengar.
Arvelio mengerti. "Kenapa kamu malu? Aku suami kamu," ucapnya, nada suaranya menenangkan.
"Tapi..." Sheila menunduk, masih memeluk selimut erat.
Arvelio mengusap kepala Sheila. "Aku tahu kamu merasa tidak nyaman. Tapi, kamu nggak perlu malu di depan aku."
Sheila mencoba mencerna ucapan Arvelio. "Ya benar, dia adalah suamiku. Jadi tidak masalah bukan," batinnya.
Perlahan Sheila membuka selimut, menatap Arvelio, matanya berkaca-kaca. Sheila tahu suaminya selalu perhatian, tetapi ada sesuatu tentang malam ini yang membuatnya merasa lebih dihargai. Perlahan, ia melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya.
Mata Arvelio tertuju pada alat pompa ASI yang terpasang di tubuh Sheila. Ia menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu menoleh pada Sheila. "Ini nggak sakit?" tanyanya lembut.
Sheila tersenyum kecil. "Awalnya sakit, tapi sekarang aku sudah terbiasa."
Arvelio memandang istrinya dengan takjub. "Kenapa kamu nggak cerita soal ini sebelumnya?"
Sheila menghela napas. "Aku malu... Aku merasa aneh. Aku belum pernah melahirkan, tapi ini..."
Arvelio menggenggam tangan Sheila dengan erat. "Kamu nggak aneh. Kamu istimewa." buru-buru memotong ucapan sang istri agar tak berkecil hati.
Sheila tersenyum lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima sepenuhnya tanpa penilaian.
"Boleh?" tanya Arvelio ragu, menatap Sheila dengan mata penuh harap.
Sheila terdiam, berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Arvelio tersenyum hangat, melepaskan alat itu dengan hati-hati.
Saat ia mencicipi ASI dari Sheila, ekspresinya berubah. "Sh*t! Manis dan kenyal... Ai. Mulai sekarang ini akan jadi susu favoritku," batin Arvelio.
Sheila menunduk, wajahnya memerah. Namun, ia tersenyum kecil, merasa lebih dekat dengan Arvelio daripada sebelumnya.
Sheila membatin. "Kenapa rasanya berbeda saat di pompa, ini...." merasakan sensasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perlahan tangan Sheila terangkat, dan mengusap kepala Arvelio. Lelaki itu mengangkat kepalanya sebentar, ia mencium kening, dan bibir Sheila sekilas.
"Tidurlah," ucap Arvelio lembut.
Sheila mengangguk, karna rasa ngantuk sudah menguasai dirinya.
"Honey, aku boleh... Lanjut?" tanya Arvelio sedikit ragu, melirik twins istrinya.
Sheila tersenyum, dan berkata. "I am yours, tak perlu izin."
Arvelio tersenyum lebar, ia kemudian melanjutkan kegiatannya. Tak lupa ia mengusap lembut perut Sheila, untuk memberikan rasa nyaman pada sang istri.
Mereka sama-sama memejamkan mata menuju alam mimpi, saling berpelukan.
Malam itu, mereka tidak hanya berbagi perhatian, tetapi juga rasa saling pengertian yang mendalam.
***
Hari-hari setelah pernikahan menjadi awal dari perjalanan baru bagi mereka. Namun, cinta tidak selalu berjalan mulus.
Sheila yang terbiasa dengan kehidupan tenang bersama keluarganya, kini harus menyesuaikan diri dengan kehidupan Arvelio yang penuh dinamika sebagai pemimpin perusahaan besar, kesibukan sang suami terkadang membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama.
Satu malam, ketika Arvelio pulang terlambat dari rapat yang panjang, ia mendapati Sheila tertidur di sofa ruang tamu. Ia menghampiri dan membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh istrinya.
"Aku tidak ingin kau merasa sendirian. Tapi, masalah akhir-akhir ini membuat kita jarang bersama, maaf." bisik Arvelio sambil mengecup kening Sheila.
Merasakan sentuhan lembut di pipinya, ia membuka matanya perlahan, senyum mengembang di wajah Sheila. "Kapan kamu sampai?" tanyanya, suara serak khas bangun tidur.
"Baru saja, honey. Aku mengganggumu, ya?" Arvelio bertanya dengan nada lembut.
Menggeleng. "Tidak," sahut Sheila berusaha bangun, dibantu oleh Arvelio.
Menatap Sheila penuh sesal. "Maaf membuatmu menunggu seperti ini. Tadi, ada kendala dengan proyek yang di Kanada. Aku harus membantu Kak Vier untuk mengurusnya." jelas Arvelio, nada bersalah.
Sheila tersenyum tipis, dan berkata. "Tidak masalah, bae," mengusap rahang tegas Arvelio. "Lagi pula itu sudah jadi tugasmu, aku mengerti. Jangan sungkan jika kamu butuh bantuan, segera katakan padaku."
"Bae?" ulang Arvelio, memastikan pendengarannya.
"Iya, gak masalah kan kalau aku panggil kamu, bae?" tanya Sheila.
Arvelio tersenyum tampan. "Tentu saja, tidak! Aku justru bahagia, honey." jawabnya.
Rasanya saat ini ribuan kupu-kupu beterbangan di perut Arvelio, karna untuk pertama kalinya Sheila memanggil dirinya seperti itu. Selama ini, sang istri hanya memanggil dia dengan nama saja.
Arvelio kemudian berdiri, dan menggendong Sheila ala bridal style.
"Turunkan aku, Ar. Kamu pasti lelah," protes Sheila.
Arvelio menghentikan langkahnya, menatap Sheila. "Aku lebih suka panggilan bae, jadi mulai sekarang, panggil aku seperti itu. Bukan Ar!" tegasnya.
Sheila tersenyum geli. "Baik, Yang Mulia Suami," sahutnya.
Arvelio terkekeh kecil, dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mereka.
"Aku butuh vitamin ultra," bisik Arvelio, wajah Sheila merona paham maksud suaminya. "Kamu sudah selesai, kan?"
Sheila mengangguk dengan malu-malu, saat Arvelio ingin mendekat, Sheila menahan tubuhnya.
Mengerutkan alis. "Kenapa? Kamu belum siap?" tanya Arvelio heran.
Sheila menggeleng dengan cepat. "Tidak-tidak, aku siap, kok." sanggahnya, tak ingin sang suami salah paham.
"Lalu?" tanya Arvelio.
"Tunggu sebentar, lima belas menit," Sheila berjalan cepat ke arah walk in closet. Arvelio hanya menatap punggung istrinya yang sudah menghilang.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sandara tempat tidur, memejamkan mata sejenak melepas lelah yang dia rasakan seharian.
Sheila menatap penampilan dirinya di cermin. "Astaga, baju macam apa ini? Ini lebih terlihat seperti jaring ikan dari pada baju."
"Apa aku ganti aja, ya?" perasaan ragu menyelimuti diri Sheila, ia merasa malu jika harus keluar dengan penampilan seperti itu.
Sesaat kemudian, Sheila mengingat ucapan sang mommy.
"Ingat, kamu harus melakukan servis terbaik untuk suami kamu agar dia tidak jajan di luar. Jangan lupa, siapkan koleksi baju dinas agar lebih bagus." ujar Alexa.
Sheila menarik nafas panjang untuk menetralkan ekspresinya, dengan langkah pelan, ia berjalan keluar.
Arvelio yang memejamkan mata, seketika membuka matanya saat mencium aroma wangi menyeruak di sekitarnya. Ia menoleh, matanya tak berkedip saat melihat penampilan sang istri memakai lingerie warna merah menyala sangay kontras dengan warna kulit putih Sheila.
Sheila sudah berdiri di sisi tempat tidur, ia masih menunduk, rasanya begitu berat untuk mengangkat kepalanya.
Arvelio menarik pelan tangan istrinya. "Honey," panggilnya, suara serak.
"I-iya," jawab Sheila gugup.
Melihat kegugupan sang istri, membuat Arvelio berinisiatif menarik pelan tangan Sheila.
"Wangi, cantik, dan.... Sexy," bisik Arvelio, wajah Sheila semakin memerah bak kepiting rebus.
Ia semakin menundukkan kepalanya, memilin jari jemarinya. Arvelio mencium pipi Sheila, menarik dagu istrinya agar melihat ke arahnya.
Perlahan Arvelio membaringkan tubuh mereka berdua.
Akhirnya, malam pertama yang sempat tertunda, terjadi juga.
Suasana dalam kamar menjadi panas, suara jam dinding terus bergerak melewati tiap detiknya, jadi saksi kegiatan dua sejoli yang sedang memadu kasih.
Lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya saat mereka sampai puncak kenikmatan.
Arvelio mencium kening, bibir Sheila, ia melumatnya sekilas. "Thanks, honey." ucapnya.
Sheila hanya tersenyum, dan mengangguk sebagai jawaban.
"Masih sakit?" tanya Arvelio, saat melihat istrinya meringis pelan.
"Sedikit," jawab Sheila lirih.
Arvelio menatap Sheila dengan tatapan bersalah. "It's okey, aku gak apa-apa," ujar Sheila, mengusap rahang tegas suaminya.
Manarik Sheila ke dalam dekapannya. "Ini adalah malam terindah dalam hidup aku, tetap disisiku apa pun yang terjadi," ucap Arvelio.
"Aku tidak bisa memprediksi jalan kita ke depannya, tapi aku harap apa pun yang terjadi kamu tetap di sampingku, dan percaya sama aku," lanjut Arvelio, semakin mengeratkan pelukannya.
Sheila membalas pelukan suaminya, mendusel wajahnya di dada bidang Arvelio. "Rumahku adalah kamu, aku tidak akan ke mana-mana," jawabnya. "I Love you, hubby." mendongak menatap Arvelio.
Mencium kening Sheila. "I Love you More, honey," balas Arvelio.
Mereka berdua saling melempar senyuman tulus, Arvelio mengusap punggung Sheila dengan lembut, hal itu membuat Sheila nyaman.
Hanya butuh waktu beberapa detik, Sheila tertidur nyenyak. Arvelio tersenyum tipis, kemudian ia juga ikut menutup mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Next Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂✨
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏
Selamat Hari Senin🙂🙏
2024-09-30
1