Deru mobil menyusuri jalan raya Los Angeles yang ramai. Pagi itu, Arvelio dan Sheila berangkat ke sekolah setelah libur panjang selama satu bulan.
Hari ini adalah hari pertama mereka sebagai siswa kelas tiga dengan sistem kelas baru. Ujian penaikan kelas bulan lalu berhasil mereka lewati, dan kini perjalanan menuju babak baru dimulai.
Arvelio menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya perlahan mengusap paha Sheila, istrinya.
Sheila melirik dengan alis terangkat. "Bae," panggilnya.
Arvelio menoleh singkat. "Ada apa, honey? Perlu sesuatu?" tanyanya dengan nada lembut.
"Your hand," jawab Sheila, melirik tangan suaminya.
"Why?" tanya Arvelio merasa heran.
Sheila menyingkirkan tangan Arvelio dari pahanya. "Nakal," gumamnya, pura-pura memasang wajah serius.
Senyuman nakal terbit di wajah Arvelio. "Aku bahkan bisa lebih nakal dari ini," katanya sambil mengembalikan tangannya ke tempat semula.
Sheila mendesah, wajahnya memerah menahan malu. Ia tahu betul ke mana arah pembicaraan suaminya itu. "Mesum!" ketusnya sambil memukul bahu Arvelio.
"Hei, gak ada salahnya dong. Aku mesum sama istri sendiri. Yang salah itu kalau aku mesum sama istri orang, dan main di luar." Arvelio tersenyum jail.
Sheila langsung memutar tubuhnya ke arah jendela, ia menyetakkan tangan Arvelio. "Yah udah, jajan aja di luar sana," ucapnya, melipat tangan di dada.
Arvelio melirik Sheila, ia tahu, istrinya sedang mode ngambek. Tanpa pikir panjang, ia menepikan mobil di pinggir jalan. Ia menoleh dan menyentuh bahu Sheila.
"Honey, aku cuma bercanda. Mana berani aku jajan di luar, kalau aku sudah punya istri yang lebih dari sempurna." Arvelio tersenyum, menatap Sheila penuh cinta.
Sheila menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan senyum. Namun, hatinya mulai melunak.
Melihat Sheila tak kunjung menjawab, Arvelio menyelipkan kecupan singkat di pipinya. "Mau es krim? Di dekat sini ada kedai es krim enak, lho," bujuknya.
"Cih, aku bukan anak kecil," ketus Sheila, melirik Arvelio sinis.
Arvelio menghela nafas. "Maaf, aku cuma bercanda, mau apa? Hm?" mengusap bahu Sheila lembut.
Berusaha untuk tak terbuai. "Kamu nggak ada jatah selama satu minggu," Sheila berucap dengan nada suara mengancam.
Mendengar kata jatah, mata Arvelio melebar. Oh tidak! Itu adalah ancaman yang paling mematikan baginya.
Arvelio terus-menerus mengeluarkan jurus rayuan yang ia miliki untuk membujuk sang istri. Ia kesal pada dirinya sendiri, aish harusnya mulutnya tak asal ceplos saja, tadi.
Sheila tetap diam, tapi kali ini ia menatap Arvelio dengan sudut mata. Lelaki itu tak menyerah, ia menarik Sheila ke dalam pelukannya.
"Baby, jangan marah, ya? I Love You. Always and forever," ujarnya sambil mengusap punggung Sheila. Ia terus mengucapkan kata-kata cinta.
Sheila akhirnya menyerah. "Sh*bal," umpatnya pelan, menyadari pertahanannya telah runtuh.
Melihat itu, Arvelio kembali berbicara, kali ini lebih tegas. "Honey, gak ada Sheila kedua dalam hidup aku. Only you!" katanya penuh kesungguhan.
Sheila, yang sudah tak bisa menahan senyum, akhirnya tertawa kecil. Sebenarnya, Sheila tak benar-benar marah, hanya ingin menguji suaminya.
Inilah sifat Arvelio saat dirinya mode ngambek, lelaki kutub utara itu seketika berubah jadi bayi imut nan menggemaskan yang selalu merengek padanya.
Hal itu membuat Sheila gemas melihatnya, kapan lagi bisa membuat seorang King Devil's, pembunuh berdarah dingin itu bertekuk lutut.
Yah, Arvelio definisi suami takut istri. Dan hal itu hanya berlaku pada wanita yang ia cinta saja.
"Aku gak marah, kok," kata Sheila akhirnya, sambil mengacak rambut Arvelio gemas.
Mengusap dadanya. "Hah! Jatahku aman," gumam Arvelio lirih, tapi cukup keras untuk didengar Sheila.
Sheila mendelik, dan langsung memukul bahunya. "Dasar! Pikirannya jatah melulu. Malam ini kamu gak ada jatah, tahu!"
Arvelio langsung menoleh, matanya melotot. "Gak bisa gitu dong! Aku gak terima! Enak aja. Jatah itu harus on time, no protes!" katanya seolah-olah sedang menegakkan haknya.
Sheila memutar bola mata, malas meladeni suaminya yang seperti anak kecil.
"Buruan jalan. Kalau kita telat dan kena hukuman, jatahmu benar-benar melayang malam ini," ancam Sheila.
Arvelio kembali menyalakan mobilnya. "Gak ada hubungannya keterlambatan kita sama jatahku," tegasnya. "Lagian, gak ada yang berani menghukum aku. Tenang aja," katanya dengan percaya diri.
Sheila menghela napas panjang. "Up to you, Tuan Muda!" gumamnya, tapi senyuman tetap menghiasi wajahnya.
Mobil pun kembali melaju, membawa mereka menuju hari pertama yang penuh cerita, dimulai dengan cinta dan sedikit drama kecil khas mereka.
Arvelio tak hentinya mengusap paha Sheila, sesekali menggenggam tangan sang istri, dan memberikan kecupan singkat di sana.
Saat jarak sekolah tinggal beberapa meter, Sheila berkata. "Turunkan aku di halte, bae."
Arvelio tidak menjawab, ia justru menambah laju mobilnya. Sheila mendengus kesal.
"Ck, suami durhaka!" kesal Sheila, mencubit lengan Arvelio. Yang di balas kekehan kecil oleh lelaki itu.
Sesampainya di tempat parkir khusus Dragon Devil's, Arvelio turun dari mobil lebih dulu.
"Aaaa.... Arvelio makin ganteng aja,"
"Arvelio jangan terlalu dingin, sini aku hangatin,"
"Arvelio, malam ini kita nge-date yuk,"
"Sekali-kali bales pesan aku dong, Vel. Jangan cuek-cuek mulu,"
"Vel kok nomorku diblokir, sih,"
"Vel, mommyku ngajak kamu makan malam,"
"Arveliooo, jadi suami aku. Titik! Aku gak terima penolakan lagi,"
Karna teriakan salah satu siswi itu mendapat cibiran dari semua orang yang ada di sana.
"Huuuu... Mimpi!"
Suara riuh teriakan para fans Arvelio yang berdiri di sekitar parkiran membuat suasana di sana seperti pasar. Begitu banyak, siswa yang menganggumi lelaki tampan bak titisan Dewa itu.
Namun, Arvelio tak pernah peduli hal tersebut.
Sheila menatap jengah ke arah luar. "Apa-apaan mereka. Arvelio, mine!" geramnya.
Arvelio tersenyum geli melihat sikap istrinya, dia menunduk, dan berbisik. "I am yours, forever!"
Sheila tersentak samar mendengar bisikan Arvelio, ia menoleh, dan bibir mereka tak sengaja bertemu.
Mata Sheila melebar, ia ingin menarik kepalanya, namun secepat kilat Arvelio menahan pergerakan sang istri.
Arvelio melumat bibir manis istrinya, yang selalu membuatnya candu!
Para siswa yang ada di sana merasa heran dengan sikap Arvelio, yang masih menundukkan badan di sisi pintu mobilnya.
Salah satu siswa mencoba mendekat ke arah mobil Arvelio. "Aaaaaaa, tidak!" pekik gadis itu.
Karna teriakannya, membuat semua orang mendekat, betapa terkejutnya mereka melihat Arvelio yang masih setia berciuman dengan Sheila.
Sheila mendorong tubuh Arvelio. "Kamu!"
"Apa?" Arvelio menatap Sheila santai.
Sheila mendengus kesal, ia sekali lagi mendorong tubuh suaminya menjauh, lalu turun, dan berjalan masuk sekolah tanpa menunggu Arvelio.
Arvelio menatap tajam semua orang yang ada di sana. "Listen, Sheila adalah istriku! Siapa pun yang berani mengusiknya, you die!" peringatnya, kutub.
Semua orang gemetar mendengar suara tegas, dan nada bicara Arvelio yang menyeramkan.
Arvelio berjalan menuju ruangan khsusus Dragon Devil's, ia memiliki janji dengan para anggotanya. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya di saku celana, berjalan santai, wajahnya datar. Dan tidak peduli dengan keadaan kacau yang terjadi di sana karna ulahnya.
***
Ruangan bernuansa pink dan putih itu berantakan. Barang-barang berserakan di lantai, pecahan vas bunga menghiasi sudut ruangan, dan tirai yang sebelumnya tertata rapi kini bergelayut kusut.
"Aaaaaarrrggghhh! Arvelio hanya milikku! HANYA MILIKKU!" teriak Claudia dengan suara menggema, penuh amarah.
Matanya memerah, wajahnya memerah, sementara tangannya mencengkram kuat ponsel yang baru saja memberinya kabar paling menyakitkan dalam hidupnya.
Anggota gengnya baru saja mengirimkan pesan singkat: "Arvelio baru saja mengumumkan Sheila sebagai istrinya."
"Sial! Sial!" Claudia membanting ponselnya ke lantai, hingga layarnya retak. "Kapan mereka menikah? Kenapa aku tidak tahu?! Kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" Amarahnya meledak tanpa kendali.
Di balik wajah cantiknya yang penuh amarah itu, tersimpan obsesi yang telah lama berakar.
Claudia Raniella Ramos. Nama itu dikenal sebagai putri dari keluarga terpandang di Amerika, ayahnya seorang pengusaha berlian terkemuka, ibunya mantan supermodel internasional.
Namun, semua keistimewaan itu tidak pernah cukup untuk menaklukkan hati seorang Arvelio.
Sejak masa SMP, Claudia telah menaruh hati pada lelaki tampan itu. Namun, cinta yang ia suguhkan selalu bertepuk sebelah tangan. Arvelio tak pernah melihatnya, bahkan ketika Claudia mencoba segala cara untuk menarik perhatian.
Dan kini, berita ini seolah menjadi pukulan telak yang menghempaskan seluruh harga dirinya.
“Sheila…” Claudia bergumam pelan, namun nada suaranya begitu dingin dan mengancam. Tangannya terulur mengambil foto di atas meja, di mana wajah Sheila terpampang dengan senyum lembut. “Kau. Harus. Mati.”
Suaranya seperti bisikan iblis, tajam dan penuh dendam. “Tidak ada yang boleh memiliki Arvelio selain aku. Tidak ada. Kau dengar itu, Sheila? Aku akan memastikan kau lenyap. Dengan caraku."
Tatapan Claudia semakin gelap, dipenuhi amarah dan niat jahat. Di benaknya, rencana-rencana kelam mulai bermunculan, seakan-akan menari di atas bara api obsesinya.
Ruangan yang tadinya memancarkan kesan lembut kini berubah menjadi medan perang kecil yang menyimpan dendam seorang gadis yang patah hati, sekaligus teramat berbahaya.
Di tempat yang berbeda, Sheila berada di kelasnya, ia menelusupkan wajahnya di mejanya, ia merasa kesal dengan Arvelio.
"Khmmm!" Leona berdehem, berjalan mendekat ke arah meja Sheila. Mendengar suara yang ia kenali Sheila mengangkat kepalanya, ia mengangkat alis sebelah menatap ketiga sahabatnya.
"Cie, yang udah go-public. Padahal, kemarin kau mengatakan akan mengumkannya saat kita lulus nanti. Kok, malah dipublish sekarang, why? Takut yah, kalau Arvelio diambil pelakor?!" goda Leona, mencolek bahu Sheila.
Alis Sheila berkerut heran. "Hah! Go-public? Siapa?" tanyanya, meminta penjelasan lebih.
Menatap bingung sahabatnya. "Loh, kau tidak tau? Arvelio tadi mengumumkan hubungan kalian di tempat parkir," ujar Grace.
"Kau lihat, video kalian bahkan sedang tranding di forum sekolah," ucap Irene, menunjukkan ponselnya.
Mata Sheila melotot melihat video itu, ia menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sheila menggertakkan giginya kesal. "Arvelioooo..." geramnya.
Huh! Apa-apa dia, bukannya kami sudah sepakat akan publish setelah lulus.
Lalu, kenapa dia berubah pikiran seperti ini?
Pikiran Sheila melayang, tak menyangka hal itu akan terjadi. Brak! Gadis itu menggebrak mejanya.
Semua orang yang ada dalam kelas, meneguk ludah melihat amarah yang terpancar di wajah gadis itu.
"Di mana Arvel?" Sheila menatap datar sahabatnya.
"Mungkin di ruangan Dragon Devil's, tadi Kenneth bilang kalau dia akan rapat," jawab Irene, terlihat santai. Ia sudah lama mengenal Sheila, jadi tau watak dari sahabatnya itu.
Sheila berjalan keluar dengan wajah datar, tatapan matanya menajam bak elang, ia menyusuri koridor dengan wajah yang tak bersahabat.
Saat dia berjalan menuju ruangan Arvelio, salah satu siswi ingin mendekat ke arahnya, namun tidak jadi karna Sheila menatap gadis itu dengan tatapan mematikan.
Sesampainya di sana, ia menendang pintu ruangan, membuat mereka yang melihat hal itu tercengan, para anggota Dragon Devil's terkejut melihat pintu ruangan itu rusak.
Arvelio tetap santai, duduk di kursinya.
Kenneth menatap istrinya. "Apa ada yang mengusik kalian?" tanyanya heran.
"Tidak," jawab Irene singkat. Meski sudah menikah tapi, Irene masih bersikap cuek pada Kenneth.
Yah, Kenneth dan Irene juga sudah menikah, mereka mengadakan acara pernikahan dua hari setelah pernikahan Arvelio. Begitu juga dengan Jayden, dan Reyhan.
"Aku ingin bicara," Sheila menatap Arvelio datar.
Arvelio menatap semua anggotanya. "Kita lanjutkan nanti," ucapnya, ia berjalan ke arah Sheila, menarik pelan tangan istrinya ke ruangan khusus miliknya.
"Kenapa? Hm?" tanya Arvelio lembut, ia mengusap kepala Sheila.
"Kenapa kamu mengumumkan status kita?" Sheila bertanya balik, nada dingin.
Arvelio menghela nafas. "Apa salahnya, Ai? Kita memang sudah menikah, bukan? Apa aku tidak boleh mengatakan pada dunia, jika kamu itu istriku."
"Ya, aku tau. Tapi, bukannya kita sudah sepakat akan go-public saat lulus sekolah. Kenapa kamu ingkar janji?" ujar Sheila, datar.
Arvelio menatap Sheila. "Kapan aku berjanji? Kapan aku sepakat dengan permintaan kamu? Apa aku pernah setuju dengan rencamu? Jika iya, katakan?! Kapan aku menyetujuinya?!"
Pertanyaan Arvelio membuat Sheila terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Karna pada dasarnya Arvelio memang tidak pernah menyetujui keputusan Sheila untuk menyembunyikan status mereka.
"Apa kamu malu punya suami brandal seperti aku? Sampai kamu tidak mau mengakui status kita pada dunia," ucap Arvelio, nadanya terdengar sedih.
Sheila tersentak mendengar hal itu. "Jangan salah paham, aku tidak pernah merasa malu. Justru aku bangga punya suami seperti kamu, bae." jelasnya.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu marah karna aku mengumumkan status kita?" tanya Arvelio.
Sheila mengangguk. "Ck, aku hanya tidak ingin berurusan dengan fans fanatikmu," decaknya kesal.
Arvelio terkekeh kecil, melihat kekesalan di wajah cantik istrinya. "Mereka tidak memiliki hubungan denganku, honey." tegasnya.
"Apa kamu tidak masalah? Jika, setelah ini mereka berhenti mengagumimu?" tanya Sheila.
Arvelio tertawa mendengar pertayaan konyol dari Sheila.
"Yaakkk! Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Sheila menatap Arvelio dengan heran.
"Sorry, honey. Habisnya pertanyaan kamu terlalu konyol, tau." sahut Arvelio, masih terkekeh.
"Hah! Konyol?" Sheila bingung.
Arvelio tidak menjawab, ia menarik pinggang Sheila, lalu mendudukkan istrinya di atas meja, ia berdiri di sela-sela kaki Sheila.
"Kamu belum jawab pertanyaanku?!" titah Sheila.
Arvelio mengusap pipi istrinya. "Aku tidak pernah meminta mereka menyukaiku, jika mereka ingin mundur karna aku sudah menikah. I don't care! Justru aku bahagia karna setelah ini hidupku akan tentram dan damai tanpa bayang-bayang mereka," jelasnya.
Sebenarnya, selama ini Arvelio memang merasa sangat risih pada semua fansnya. Menurutnya, dia bukan seorang artis yang tak patut memilki fans.
Tapi, bagaimana lagi. Meski dia bukan seorang aktor tapi Arvelio memiliki banyak fans yang bertebaran di mana-mana. Itu karna ketampanannya, kepintaran, kekayaan, dan satu lagi dia adalah ketua geng motor yang di segani.
Siapa yang tidak akan tertarik dengan lelaki tampan sejuta pesona itu?
Mata Arvelio fokus pada bibir istrinya, yang selalu membuatnya candu, perlahan wajahnya mendekat. Sheila yang paham akan situasi, dia memejamkan matanya. Arvelio tersenyum melihat respon istrinya.
Namun sayang, saat wajah kedua tinggal beberapa centi saja. Sebuah ketukan dari arah luar membuat Sheila menahan dada Arvelio.
"Honey," ucap Arvelio, nada protes.
"Ada orang," sahut Sheila, ia melirik ke arah pintu.
"Ck, abaikan." decak Arvelio dengan kesal, saat ia kembali ingin memajukan wajahnya.
Lagi dan lagi ketukan itu semakin keras, membuat Arvelio mengumpat.
Sheila mengusap dada suaminya. "Sana, siapa tau penting. Kita lanjut nanti," ucapnya, mengedipkan mata genit.
Senyuman nakal terbit dibibir Arvelio. "Awas kamu, aku akan menghukummu nanti malam," ucapnya.
"What? Heh, kenapa jadi aku yang akan dihukum? Aku gak ada salah apa pun, loh," pekik Sheila protes.
"Kamu salah. Karna selalu membuatku bertekuk lutut, dan berdebar setiap saat. Rasanya jantungku akan berpindah dari tempatnya karna ulahmu," ucap Arvelio, terdengar serius.
Sheila menganga menatap suaminya. "Apa kamu sedang menggombal?"
"Tidak. Tapi, jika kamu merasa seperti itu. Silahkan saja," sahut Arvelio.
Sheila menggeleng. "Kamu tidak cocok jadi raja gombal," ujarnya.
"Kenapa?" Arvelio menatap heran Sheila.
"Karna wajah kamu terlalu datar dan tidak ada ekspresi sama sekali, bahkan tembok saja kalah datar sama wajah kamu," Sheila menatap tembok. "Lihat, temboknya bahkan malu karna kalah datar dari kamu." ucapnya, penuh canda.
Arvelio mendengus kesal mendengar godaan sang istri, saat ia ingin menggelitik Sheila, pintu ruangan kembali di ketuk.
"Sial!" umpat Arvelio, berjalan ke arah pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Lanjut Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂✨
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏
2024-10-02
1