Pameran

Pagi itu mentari bersinar cerah, menghangatkan dedaunan yang berkilauan oleh embun pagi. Langit berwarna biru muda begitu bersih, dihiasi dengan sedikit sapuan awan putih yang lembut.

Suara burung berkicau dengan harmonis, seolah menyambut hari baru dengan penuh semangat. Udara segar yang berhembus perlahan memasuki setiap sudut rumah membuat nuansa pagi yang begitu menenangkan.

Di kamar yang masih remang-remang, Arvelio terbangun dengan senyuman lebar di wajahnya.

Hari ini ia merasa luar biasa. Bukan hanya karena cuaca yang begitu sempurna, tetapi juga karena malam sebelumnya, ia dan istrinya, merajut kembali kehangatan cinta yang begitu tulus, dan dalam.

Sheila masih tertidur lelap di sebelahnya, wajahnya terlihat begitu damai, rambutnya terurai indah di atas bantal.

Arvelio perlahan bangkit dari tempat tidur, bergerak perlahan memastikan gerakannya tidak membuat Sheila terbangun.

Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, tangan lembut Sheila menyentuh pergelangan tangannya. "Mau ke mana pagi-pagi begini?" tanyanya dengan suara serak, matanya setengah terpejam.

Arvelio tersenyum, lalu menunduk untuk mencium kening istrinya. "Hanya ingin menyiapkan teh hangat untuk kita, Ai." jawabnya lembut sambil menyelipkan helai rambut Sheila yang jatuh ke wajahnya.

Namun, Sheila menarik tangannya, memaksanya kembali ke tempat tidur. "Tidak perlu terburu-buru. Masih banyak waktu menikmati pagi ini bersama," ucapnya dengan nada manja.

Ada kehangatan terpancar di matanya, kehangatan yang hanya dimiliki oleh seorang wanita yang begitu mencintai.

Arvelio tertawa kecil, lalu mendekap Sheila erat. "Baiklah, tapi hanya sebentar, ya. Teh hangat tetap harus dibuat," ujarnya menggoda, dan menggelitik tubuh istrinya, membuat sang empunya tertawa karna geli.

Sesaat tawa mereka terhenti saat mendengar suara deringan dari ponsel Sheila. "Bae, tolong hpku,"

Arvelio mengambil ponselnya istrinya yang ada di nakas. "Mommy," ucapnya melihat nama yang tertera di sana.

Sheila segera bangun, dan merepikan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia menjawab. "Iya, mom,"

"Sorry princess, apa mommy mengganggu?" tanya Alexa.

"Tidak, mom. Ada apa?" sahut Sheila.

"Kamu bisa susul mommy ke salon?" tanya Alexa, terdengar ragu. "Nanti ada ibu mertuamu juga,"

Ia tahu bahwa Sheila tak suka ke tempat itu, karna menurutnya hanya buang-buang waktu.

Sheila menghela napas pelan, ia sebenarnya malas untuk ke sana. Tapi, karna tak ingin membuat sang mommy kecewa, akhirnya ia berkata. "Iya bisa, jam berapa?"

Alexa tersenyum mendengar respon putrinya. "Jam 10, mommy akan tunggu kamu di salon Amora,"

"Ok, mom," Sheila menjawab seadanya.

"Ya sudah, mommy tutup yah," Alexa memutuskan panggilannya.

Sheila termenung, Arvelio mengusap kepala istrinya. "Jika tidak suka, tidak perlu ke sana," ucapnya.

Menggeleng. "Aku sudah setuju," lirih Sheila.

"Kamu bisa membatalkannya, honey. Katakan jika kamu memiliki janji denganku, aku rasa mereka akan mengerti," ujar Arvelio. "Apa perlu aku yang menghubungi mommy?"

"Eh jangan, gak masalah kok. Lagian aku juga sudah lama nggak ke salon," sahut Sheila, menahan tangan Arvelio.

"Oke, bagaimana jika sekarang kita mandi?" Arvelio mengedipkan mata pada Sheila.

Sheila mengangguk, dan tersenyum. Arvelio dengan semangat turun dari tempat tidur.

"Astaga," pekik Sheila melihat penampilan suaminya.

Arvelio tersenyum geli, lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Sheila.

Matanya melotot. "Yaakkk!" teriak Sheila kesal.

Menggendong istrinya menuju kamar mandi. "Aku sudah lihat semuanya, masih malu aja," ucap Arvelio santai.

"Ish!" kesal Sheila menepuk dada Arvelio.

Mereka berbagi cerita dipenuhi canda, tawa, dan pelukan hangat di dalam kamar mandi menikmati momen pagi yang indah, dan memabukkan itu.

Di luar, matahari terus naik, menyinari dunia dengan cahaya yang penuh harapan. Namun, bagi Arvelio dan Sheila, sinar yang paling terang adalah cinta yang mereka bagi.

Pagi itu bukan hanya cerah, tetapi juga penuh dengan kebahagiaan yang sederhana. Seperti dua jiwa yang saling melengkapi, mereka merasakan bahwa cinta adalah vitamin terbaik untuk memulai hari dengan semangat.

***

Malam pun tiba, Gedung Pameran Berkilau dalam Gemerlap Elegansi. Ruangan yang dipenuhi dekorasi mewah dan lampu kristal memantulkan kilauan ke setiap sudutnya.

Tamu-tamu penting, kolektor perhiasan, dan para sosialita dunia berkumpul dalam balutan busana terbaik mereka. Aroma parfum mahal bercampur dalam udara, menambah kesan eksklusif.

Claudia memasuki ruangan dengan langkah penuh percaya diri. Gaun merah darah yang ia kenakan memiliki potongan dada rendah, menampilkan lekuk tubuhnya yang memukau.

Tatapan para pria di ruangan itu langsung tertuju padanya, meski tatapan mereka memiliki maksud tersembunyi. Claudia tersenyum manis, menebar pesona ke segala arah sebelum melangkah anggun ke meja keluarga Arvelio.

"Malam, Mommy Krystal, Daddy Nathan, Arvelio, semuanya," sapa Claudia dengan nada terdengar sopan namun gestur tubuhnya tak lepas dari kesan menggoda. Dia bahkan membungkukkan tubuhnya sengaja memperlihatkan buah dadanya, mencoba menarik perhatian Arvelio, dan kedua kakaknya.

Namun sayang, upayanya sia-sia. Karna Arvelio, Xavier, dan Alzian tidak menujukkan minat sedikit pun padanya. Wajah mereka dingin tanpa ekspresi.

Justru, mata Arvelio terpaku pada layar ponselnya menatap foto istrinya, ia seolah menganggap dunia di sekitarnya tak berarti.

Titik fokusnya hanya pada gadis yang ia cinta.

Krystal, yang jengah dengan tingkah laku Claudia, memandangnya dengan tatapan tajam. Senyum tipis tapi penuh sindiran terlukis di wajahnya. "Kau siapa? Berani sekali memanggilku 'mommy', padahal kita tidak saling kenal," ucapnya dingin, suaranya tegas seperti pisau yang menusuk.

Claudia tertegun sesaat, wajahnya seketika pucat pasi, ia tetap tersenyum mencoba menahan rasa malunya. Saat ia ingin menjawab, tetapi sebelum sempat bersuara.

Krystal lebih dulu mengangkat tangan memberi isyarat pada bodyguard-nya.

"Usir ulat bulu ini. Aku tidak mau mataku bisa rusak karena melihatnya terlalu lama," perintah Krystal santai.

"Baik, Nyonya," jawab bodyguard itu sopan.

Tanpa basa-basi, dua bodyguard langsung menarik tangan Claudia menjauh dari sana.

Mencoba berontak. "Hei! Lepaskan aku! Kalian tahu siapa aku? Aku putri Daniel Ramos! Jika daddyku tahu masalah ini, kalian akan menyesal!" bentak Claudia dengan wajah merah padam.

Namun, kedua bodyguard itu tidak peduli, bahkan tertawa kecil mendengar ucapan Claudia, mereka mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke lantai.

"Jangan cari masalah kalau kau masih ingin hidup," ujar salah satu dari mereka dengan nada dingin.

Wajah Claudia memerah penuh amarah, dan rasa malu, ia memukul lantai. Dalam hati, ia bersumpah. "Tunggu saja, wanita tua! Saat Arvelio jadi milikku, kau akan kujadikan pelayan, dan kubuat menyesal telah mempermalukanku!" menatap Krystal penuh kebencian.

Sedangkan, di salah satu suite hotel mewah, Sheila duduk santai di sofa menyeruput wine miliknya. Dia menatap layar LCD di hadapannya dengan ekspresi tenang. Di layar itu, ia melihat adegan penghinaan Claudia. Leona memutar ulang kembali adegan itu membuatnya tertawa terbahak-bahak.

"Kasihan banget si ulat bulu itu! Niatnya mau tebar pesona malah jadi bahan tertawaan," ucap Leona sambil memegangi perut.

Grace dan Irene ikut tertawa, sementara Sheila dengan gerakan anggun segera menghabiskan minumannya.

"Tapi Sheila, Kenapa kau melarang kami ke acara itu? Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" tanya Grace penasaran.

Sheila melirik Viola, dan memberinya isyarat agar menjelaskan rencana mereka.

"Seperti yang kalian tahu, Claudia dan gengnya berencana menculik kalian. Jadi, kami memutuskan untuk membuat mereka merasa berhasil," jelas Viola sambil menunjukkan sebuah video.

"Loh, kok wajah mereka mirip banget sama kita?" seru Leona, terkejut.

Irene tersenyum paham, dan berkata. "Kau sengaja membuat mereka merasa menang, ya?"

Sheila mengangguk singkat. "Biarkan mereka terbang setinggi-tingginya, lalu jatuhkan mereka ke dasar lautan. Itulah aturan mainku," jawabnya sambil tersenyum penuh arti.

"Siapa mereka?" tanya Grace, menujuk empat gadis yang ada di video.

"Yang ada di video itu hanya Ai buatan Queen," jawab Viola.

"Apa mereka akan percaya?" tanya Leona, terdengar sedikit khawatir.

"Tentu saja, IQ mereka tidak se-genius kita jadi pasti akan percaya. Apalagi teknologinya begitu realistis hingga mereka terlihat nyata, aku rasa tak ada yang sadar kalau mereka hanya AI." jelas Viola dengan bangga.

"Iya juga, sih. Aku saja terkejut melihat mereka, aku pikir mereka adalah manusia sungguhan. Apalagi wajahnya benar-benar mirip seperti kita, layaknya saudara kembar." ujar Grace matanya masih terpaku pada layar.

"Kau benar," Leona menatap Sheila dengan tatapan kagum. "Kau hebat, Queen." pujinya.

Irene mengangguk mengakui kehebatan Sheila, ia berkata. "Bagaimana kau bisa punya ide se-brilliant itu?"

Grace dan Leona ikut mengangguk penasaran.

"Entahlah, ide itu muncul begitu saja. Dan aku ingin mencobanya, ternyata berhasil," jawab Sheila santai. "Aku juga ingin mencoba hal baru, bisa dikatakan ini adalah program baru buatanku," sambungnya.

Irene, Grace, dan Leona mengangguk. "Eh, sampai kapan kita di sini?" tanya Leona.

"Tunggu, sampai waktu sambutan tiba. Kita akan keluar dan memberi mereka kejutan," jawab Sheila tersenyum misterius.

Di posisi Claudia, sahabat-sahabatnya datang untuk membantunya berdiri.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Salsa.

"Tidak," ketus Claudia. "Ayo masuk," ajaknya.

Menahan tangan Claudia. "Kau yakin akan kembali ke dalam sana? Kau kan sudah...." Gladis tidak jadi melanjutkan ucapannya mendapat tatapan tajam dari Claudia.

"Jika kalian tidak ingin masuk, tak masalah. Biar aku saja, huh." Claudia berjalan dengan kesal.

Gladis, Sonya, dan Salsa saling pandang, dengan langkah yang ragu akhirnya ia mengikuti Claudia.

Saat Claudia ingin masuk. "Berhenti," ujar seorang penjaga, menghadang jalannya, ia menahan tangan Claudia.

"Heh! Kalian harus bersikap sopan padaku, lepas!" ucap Claudia tatapan tajam.

"Kau tidak boleh masuk," ujar penjaga santai.

"Yakkk! Kalian tidak memiliki hak untuk melarangku masuk! Lihat ini, aku punya undangan. Aku adalah tamu terhormat di sini, kau jangan macam-macam terhadapku," bentak Claudia sambil mengangkat kartu undangan dengan wajah sombong.

Penjaga itu saling pandang, dan tertawa kecil. "Pfft! Tamu terhormat katanya, jelas-jelas kau baru saja di usir dari sana," ejek salah satu penjaga.

"Kau!" Claudia ingin menampar penjaga itu. Namun sebelum tangannya sampai, orang itu mengalihkan pandangannya. Ternyata mereka menerima perintah melalui alat komunikasi, lalu mengangguk.

"Kau boleh masuk. Tapi jangan coba-coba membuat masalah. Paham!" peringat penjaga.

"Ck, bacot!" decak Claudia, berjalan masuk dengan gaya angkuh. Diikuti ketiga sahabatnya.

Sesampainya di dalam, Claudia ingin duduk di meja sebelah Arvelio. Namun, ada salah satu bodyguard menghalangi jalannya.

"Jika kau kembali berulah, aku akan menyeretmu keluar dari sini," ucap bodyguard.

"Aku ingin bertemu calon suamiku," ucap Claudia menunjuk Arvelio.

"Kayaknya urat malu si nenek lampir emang udah putus kali, ya." ujar Leona, menatap jengah kelakuan Claudia.

"Memang dia nggak punya malu, dia udah kehabisan stok malu soalnya, jadi yah.... Gitu," cibir Grace.

"Cih, kau bermimpi terlalu tinggi. Tuan muda sudah punya istri," ujar si botak.

"Ka......"

Sebelum Claudia melanjutkan ucapannya, pengawal itu lebih dulu memotong dan berkata. "Kembali ke habitatmu," menunjuk meja di dekat pintu masuk. "Atau....." ia menujukkan senjatanya pada Claudia.

Claudia dengan wajah kesal akhirnya mengalah, dan berjalan ke meja yang sudah di siapkan untuknya.

"Sial! Kenapa jarak meja kita sangat jauh," umpat Claudia kesal saat menyadari posisi mejanya.

"Sudah, yang pasti kita bisa masuk," ujar Gladis.

"Hm, itu benar. Berhentilah membuat ulah, atau kita akan di usir dan di permalukan lagi," sambung Salsa.

Claudia mendengus kesal, lalu ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sheila.

"Dia tidak ada, apa itu artinya mereka berhasil," batin Claudia.

Sheila yang memperhatikan gerak-gerik Claudia, ia paham apa yang di pikirkan wanita itu.

"Kirim!" titah Sheila pada Viola. Yang diangguki oleh Viola, ia segera melakukan tugasnya yaitu: mengirim video pada Claudia.

Claudia menatap ponselnya saat mendapat pesan masuk, ia segera membuka video itu. "Yes! Mereka berhasil!" serunya kegirangan. Saat melihat Sheila dan sahabatnya terlihat terikat di sana.

Semua orang menatap aneh ke arahnya, Gladis yang duduk di sebelahnya menepuk bahu sahabatnya. Ia memberi kode pada Claudia melalui mata.

Claudia tidak peduli dengan tatapan orang-orang terhadapnya. "Ada apa? Kau terlihat bahagia?" tanya Sonya penasaran.

"Kalian lihat ini," jawab Claudia, menunjukkan hpnya.

Mata mereka berbinar melihatnya, mereka saling tos karena merasa rencananya berhasil.

Namun, di balik layar itu, Sheila hanya tersenyum dingin. "Let's start this game, Claudia. Ini baru awal, masih ada kejutan menantimu." gumamnya penuh teka-teki.

Reyhan menyenggol lengan Arvelio, membuat sang empunya mengangkat alis seolah bertanya, "Apa?"

"Sheila sebenarnya mengajak istriku ke mana?" bisik Reyhan.

"Kamar hotel," jawab Arvelio singkat.

"Ngapain mereka di sana?" tanya Reyhan lagi.

"Entahlah," sahut Arvelio mengangkat bahu acuh.

Reyhan mendengus kesal melihatnya. "Ck, tidak bisa diharapkan," melirik sinis Arvelio. Lalu dia menatap Kenneth dan Jayden. "Kalian tahu?"

"Tidak!" jawab mereka berdua kompak.

"Hah!" Reyhan menghela napas dan mengelus dada.

Arvelio tersenyum melihat foto Sheila di ponselnya, ia kembali mengingat momen, dan obrolan mereka tadi pagi.

Flashback

"Honey," panggil Arvelio lembut, sambil memijat punggung istrinya.

"Hm," gumam Sheila.

"Apa aku tidak perlu terlibat dengan rencanamu?" tanya Arvelio.

Sheila menggeleng. "Tidak perlu, bae. Kamu cukup menonton aktingku saja," ucapnya.

Arvelio mengangguk paham. "Katakan padaku jika butuh bantuan,"

"Iya," jawab Sheila.

"Soal program yang kamu buat, hm bagaimana jika kita bekerja sama," ucap Arvelio.

Sheila berbalik dengan ekspresi penuh semangat, senyumnya merekah. "Ide bagus! Sebenarnya, aku juga memikirkan hal itu."

Tapi, perhatian Arvelio justru terpaku pada sesuatu yang lain. Pandangannya jatuh pada twins milik istrinya, membuat ia secara refleks meneguk ludah.

Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah tak pernah lelah mengagumi perempuan yang telah menjadi dunianya itu.

Arvelio menatap Sheila dengan sorot mata yang penuh arti. "Honey... One more?" tanyanya, suaranya serak namun menggoda.

Sheila mengerutkan alis, heran sekaligus penasaran. "Kamu nggak pernah ada puasnya, ya?" ucapnya, disertai senyuman kecil di bibirnya.

Arvelio hanya terkekeh, menampilkan senyum nakalnya yang selalu berhasil membuat jantung Sheila berdebar.

Ia mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka nyaris tak berjarak. "Bersamamu, aku rasa puas itu tidak ada dalam kamusku," kata Arvelio sambil mengedipkan mata.

Sheila menggeleng pelan, tapi rona merah di pipinya tak bisa ia sembunyikan. Ia memukul dada bidang suaminya. "Dasar nggak tahu diri," ucapnya, meski nada suaranya lebih terdengar manja daripada kesal.

Arvelio tak menyerah. Ia meraih tangan Sheila dan menggenggamnya erat. "Jadi?" tanyanya, penuh harap, seolah jawaban Sheila adalah segalanya.

Sheila menatapnya, seakan mencari sesuatu di mata pemuda yang berstatus suaminya itu. Senyumnya kemudian merekah, hangat dan penuh cinta. "I am yours... sepenuhnya," jawabnya, suaranya pelan tapi membawa makna yang dalam.

Arvelio tersenyum lebar. Tanpa ragu, ia kembali menarik Sheila ke dalam pelukannya, merasakan degup jantung yang seirama dengan miliknya.

Mereka kembali mengulang momen indah bersama. Dalam momen itu, dunia terasa hanya milik mereka berdua. Hanya ada cinta, kehangatan, dan keyakinan bahwa mereka adalah rumah bagi satu sama lain.

Flashback End

Arvelio senyum-senyum sendiri, ia mengigit kuku jarinya, Alzian menyenggol lengan Xavier, memberi kode melalui dagunya untuk menatap sang adik.

Xavier tersenyum tipis, lalu ia menepuk pelan bahu adiknya. "Are you happy?" tanyanya.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi memiliki makna. Yah, Xavier tahu sedikit bagaimana kelam masa lalu adiknya. Ia dan Arvelio dibesarkan oleh mendiang Darius. Mereka di didik dengan keras dari kecil, itulah membuat sifatnya dan Arvelio menjadi pribadi yang kejam.

Arvelio menatap Xavier, ia tersenyum. "Yes i am very happy," jawabnya penuh keyakinan.

Xavier mengangguk. "Aku senang mendengarnya, jika butuh sesuatu jangan sungkan katakan pada kakak, paham!"

Arvelio hanya mengangguk.

Selang beberapa waktu, seorang MC naik ke atas panggung dan memulai acaranya. Setelah acara pembukaan selesai, tibalah saatnya nama Sheila di panggil.

Hal itu membuat Claudia tersenyum puas karna Sheila tidak juga muncul meski MC memanggil namanya berulang kali.

Terpopuler

Comments

전정국😕😐💜

전정국😕😐💜

Lanjut Thor 👍🙂🙏

2024-10-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!