Momen Indah

Keheningan menyelimuti kamar itu. Sheila duduk diam, wajahnya serius, fokus pada kilasan ingatan yang terbuka di benaknya. Dengan kemampuan psychometrics yang dimilikinya, ia menggali memori Arvelio, sang suami.

Setitik keringat muncul di pelipis Sheila, seolah-olah ia sedang membawa beban berat yang tak kasat mata. Alisnya berkerut tajam, menandakan betapa sulitnya menerima semua yang ia lihat. Kilasan itu seperti untaian film panjang yang mengerikan bagi Sheila, mengenai seluruh perjalanan hidup Arvelio, dari kecil hingga kini.

Waktu terasa melambat. Setelah beberapa menit, Sheila tersentak kaget. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya tampak lelah seperti baru saja melintasi badai.

Melihat keadaan istrinya, Arvelio berdiri, bergegas mengambil segelas air di nakas dan menyodorkan pada Sheila dengan tangan sedikit gemetar.

“Minum dulu, honey,” ucap Arvelio lembut.

Sheila menyambut gelas itu, meminumnya tanpa sisa. Dia mencoba mengatur napasnya, matanya perlahan terangkat, menatap Arvelio.

Ada sesuatu di sana, tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah Sheila sedang melihat pria itu untuk pertama kalinya.

Arvelio, yang biasanya tenang, kini tampak gelisah. “Are you okey, honey? Ada yang sakit?” tanyanya dengan suara khawatir.

Sheila tidak segera menjawab. Ingatan yang baru saja ia lihat masih berputar di kepalanya. Ia telah menyaksikan semuanya, kehidupan suaminya yang penuh luka.

Sheila melihat betapa kerasnya didikan sang kakek, Darius, yang lebih sering melatihnya menjadi lebih kuat, dan tangguh, daripada mengajarkan kasih sayang. Ia juga melihat peristiwa kelam saat Arvelio masih kecil, ketika ia diculik dan harus menyaksikan pembunuhan di depan matanya, semua itu terjadi saat ia baru berusia lima tahun.

Sheila menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tapi, hatinya terlalu sesak.

Sekarang ia sadar, kenapa lelaki itu bersikap datar, kaku, dingin, dan tak kenal ampun. Yah, ia paham. Itu semua karna perjalanan yang dilalui Arvelio tak semudah yang orang bayangkan.

Bagimana Arvelio mengurung diri sendiri saat dark sidenya muncul?

Bagaimana Arvelio mengatasi trauma yang ia alami karna pembunuhan yang ia lihat saat usianya masih kecil?

Sheila lihat usaha Arvelio bisa mengendalikan dark side yang ia miliki, mengatasi traumanya, dan itu butuh perjuangan ekstra.

Sheila hanya melihatnya saja, tapi rasanya begitu berat untuk jadi Arvelio. Lalu bagaimana suaminya, tetap bisa setenang dan sesantai itu menjalaninya?

"Hiks... Hiks!" pertahanan Sheila runtuh. Ia tak kuasa menahan tangis. Rasanya dadanya begitu sesak mengingat semua momen kehidupan yang di jalani suaminya hingga kini.

Melihat itu, Arvelio menghela napas panjang. Ia tahu ini akan terjadi. Dengan nada penuh penyesalan, ia berkata pelan. “Inilah alasan kenapa aku nggak mau kamu baca ingatan aku, honey.” Matanya menatap dalam, penuh rasa bersalah. “Aku nggak mau kamu sedih karena masa laluku.”

Tangis Sheila pecah. Tanpa berkata apa-apa, Arvelio menariknya ke dalam pelukan. Arvelio membiarkan istrinya menangis di dadanya, membiarkan segala emosi itu tumpah.

“Kamu nggak sendiri sekarang,” bisik Sheila di sela tangisnya.

Arvelio memejamkan mata, memeluk istrinya lebih erat. Kata-kata itu, meski sederhana, membuat sesuatu yang beku di hatinya perlahan mencair.

***

Malam semakin larut, namun keduanya masih tenggelam dalam keheningan. Pelukan itu tak terlepas, seolah menjadi jangkar yang menahan mereka agar tak tenggelam dalam gelombang emosi.

Sheila akhirnya mengusap air matanya, mencoba menguatkan diri. “Bae,” panggilnya pelan, suaranya masih bergetar. “Kenapa kamu nggak pernah cerita? Kenapa kamu memilih memikul semua sendirian?”

Arvelio menghela napas berat. Lalu ia melepaskan pelukan, namun tetap menggenggam tangan Sheila erat. “Bukannya aku gak mau cerita, Ai. Aku hanya nggak tahu harus mulai dari mana, S...."

Ia terdiam sejenak, kemudian melajutkan. "Semua ini terlalu… gelap bagiku. Aku juga takut kalau kamu tahu, kamu akan menjauh. Dan itu adalah hal yang paling aku takutkan.” Arvelio menatap Sheila dalam.

Sheila menggeleng tegas, air matanya kembali mengalir. “Aku nggak akan pernah menjauh, Ar. Aku mencintai kamu, bukan hanya bagian baikmu, tapi juga bagian yang terluka. Kalau kamu terbebani, aku juga ingin merasakan bebannya. Kita sudah terikat jadi satu, Bae. Sekarang, dan selamanya, kamu tidak sendirian.”

Arvelio terdiam, menatap istrinya dengan mata yang basah. Kata-kata itu menggerakkan sesuatu dalam dirinya, perasaan menyiksa yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Tapi sekarang, seperti sebuah bunga yang layu kembali bermekaran dengan indah.

Dan itu semua karna Sheila.

Arvelio sudah terbiasa menjadi tameng, melindungi orang-orang yang ia cintai, tapi kini ia menyadari satu hal, Sheila ingin menjadi tameng untuknya.

Sungguh! Sesuatu yang tak ternilai harganya.

“Maafkan aku, Ai,” bisik Arvelio. “Aku terlalu takut untuk terlihat lemah di depanmu.”

“Kamu nggak lemah,” jawab Sheila dengan suara yang penuh keyakinan. “Kamu suamiku yang kuat, dan tangguh. Ke depannya kita lewati semuanya, bersama. Promise!” mengulurkan jari kelingkingnya.

Arvelio tersenyum haru, dan menautkan jarinya. "I promise," tegasnya. Menatap Sheila.

Keduanya saling bertatapan dalam diam, namun dalam keheningan itu ada janji yang terucap tanpa kata-kata.

Janji untuk saling mendukung, saling menguatkan, apa pun yang terjadi.

Setelah beberapa saat berlalu, Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Arvelio. Tubuhnya yang tadinya tegang perlahan terasa lebih rileks. Namun, jauh di dalam pikirannya, ia masih memikirkan satu hal.

“Bae,” gumam Sheila pelan, memecah keheningan.

“Hm?” sahut Arvelio, sembari membelai lembut rambut Sheila.

“Kilasan ingatanmu tadi… ada sesuatu yang menggangguku," ujar Sheila.

Arvelio menoleh, alisnya terangkat. “Apa?”

Sheila menggigit bibir, ragu-ragu. Namun, akhirnya ia berkata, “Waktu kamu diculik… aku lihat ada seseorang yang muncul. Seseorang yang sepertinya punya hubungan dengan kita. Tapi wajahnya buram, seperti sengaja disembunyikan. Aku nggak bisa lihat siapa dia. Apa kamu ingat?”

Arvelio terdiam. Pikirannya langsung berputar, mencoba mengingat detail dari masa lalunya. Tapi semua terasa kabur, seperti potongan puzzle yang hilang.

“Aku tidak ingat. Kamu yakin?” tanya Arvelio pelan, nadanya waspada.

Sheila mengangguk. “Iya. Dan aku merasa… orang itu mungkin masih ada di sekitar kita.”

Suasana di dalam kamar itu mendadak berubah. Kehangatan yang tadi menyelimuti mereka perlahan digantikan oleh hawa dingin yang tak kasat mata.

Ada sesuatu dari kata-kata Sheila yang membuat Arvelio merasa lebih waspada, seolah-olah masa lalu yang selama ini ia hindari perlahan kembali menghantuinya.

“Sebenarnya, selama ini aku juga merasa aku melupakan sesuatu soal kejadian itu," ucap Arvelio.

"Benarkah?" tanya Sheila, yang diangguki oleh Arvelio.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sheila.

"Nanti, aku akan cari tahu,” kata Arvelio akhirnya. Suaranya tegas, matanya penuh tekad.

Sheila menatapnya, sedikit ragu. “Apa nggak terlalu berbahaya?”

“Lebih berbahaya kalau kita membiarkannya, Ai,” jawab Arvelio. “Kalau orang itu memang ada hubungannya dengan kita, kita harus tahu apa yang dia inginkan. Dan aku nggak akan biarkan dia menyentuhmu.”

Sheila mengangguk pelan. Meskipun hatinya dipenuhi rasa cemas, ia percaya pada Arvelio. Bersama, mereka akan menghadapi apa pun yang datang baik masa lalu, maupun bayangan gelap yang mengintai di masa depan.

Mereka terdiam dalam keheningan untuk beberapa saat. Hanya suara napas yang terdengar di antara mereka.

“Honey,” panggil Arvelio dengan suara lembut, memecah keheningan.

“Hm?” Sheila menatapnya, mata mereka bertemu. Ada sesuatu di tatapan Arvelio yang sulit diartikan, sebuah campuran rasa syukur, cinta, dan sedikit rasa bersalah.

Namun, sebelum Arvelio sempat berkata lebih banyak, Sheila memiringkan tubuhnya, mendekat, lalu mengecup bibir suaminya.

Ciuman itu terlihat sederhana, namun sarat akan kehangatan. Arvelio tersenyum di sela-sela ciuman mereka, membalasnya dengan penuh kasih.

Semua ketegangan yang sempat melingkupi mereka perlahan menghilang, berganti dengan kehangatan yang menggulung seperti ombak di lautan.

Malam itu, di bawah selimut, mereka memadu kasih, menciptakan keintiman yang hanya mereka pahami.

Namun, di sudut lain kota Los Angeles, sesuatu yang kelam sedang direncanakan.

Di sebuah apartemen mewah dengan dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap lampu kota, seorang wanita tertawa terbahak-bahak.

Claudia, dengan gaun satin merah yang membalut tubuhnya, duduk di sofa sambil memegang segelas anggur. Wajahnya berseri-seri, namun senyuman di bibirnya bukanlah seulas senyuman kebahagiaan, melainkan kepuasan dari sebuah rencana licik yang hampir terwujud.

“Ha ha ha... Sebentar lagi kau akan lenyap, Sheila. Dan Arvelio akan menjadi milikku, selamanya!” kata Claudia penuh kebencian sambil menatap sebuah foto Sheila yang ada di tangannya.

Matanya menyala dengan dendam, seolah foto itu adalah musuh yang ingin ia hancurkan.

Claudia tidak hanya bergantung pada Haris untuk mencelakai Sheila. Wanita itu juga telah meminta bantuan dari pria lain, sugar daddy-nya yang kaya raya, yang rela memenuhi segala permintaannya demi sedikit perhatian darinya.

“Hanya butuh beberapa hari,” gumam Claudia pelan, senyumnya melebar. “Semua keinginanku akan menjadi kenyataan.”

Namun, Claudia tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan dengan cermat.

Di bayangan lorong apartemen, Flora berdiri diam, tubuh rampingnya menyatu dengan kegelapan. Pakaian serba hitam yang ia kenakan membuatnya nyaris tak terlihat. Mata tajamnya tidak lepas dari Claudia, memperhatikan setiap gerakan wanita itu dengan ketelitian, seperti predator yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Flora adalah shadow, agen bayangan yang dikirim oleh Sheila. Dia bukan sekadar pengamat, tapi juga pelindung tak kasat mata yang siap bertindak kapan saja jika bahaya mendekat.

Dengan keahliannya, Flora mampu menyusup ke tempat-tempat yang bahkan Claudia tidak pernah curigai.

“Dia terlalu banyak bermimpi,” gumam Flora pelan, senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. Nada suaranya datar, hampir dingin, seolah ia melihat Claudia sebagai pion kecil dalam permainan yang lebih besar.

Flora meraih perangkat komunikasi kecil di sakunya dan mengaktifkannya. “Semua sesuai rencana. Dia tidak sadar. Aku akan terus mengawasi,” lapornya dengan suara rendah.

Suara Viola_robot Sheila terdengar dari sisi lain perangkat itu. “Jangan biarkan dia melampaui batas, Flora. Aku tidak ingin ada celah untuk menyerang, Queen.”

“Dimengerti,” balas Flora singkat. Ia memutuskan komunikasi, lalu kembali mengamati Claudia yang tampak tenggelam dalam euforia rencananya sendiri.

Dalam bayang-bayang kota, Flora berdiri sebagai perpanjangan tangan Sheila, memastikan bahwa ancaman itu tak pernah mendekat terlalu jauh.

Malam semakin larut, dan roda takdir mulai berputar sebagaimana mestinya. Sementara Claudia sibuk dengan semua ambisinya.

Justru, pasangan Sheila dan Arvelio sibuk memadu kasih menciptakan semua momen indah, bagaikan sebuah buku romantis yang tertulis rapi. Mereka berdua seolah tak peduli dengan dunia luar.

***

Langit mendung menyelimuti pagi itu. Rintik-rintik hujan turun perlahan, seperti melodi lembut yang menjadi saksi bisu dua sejoli yang masih terbuai dalam hangatnya pelukan. Di balik gulungan selimut tebal, tubuh mereka saling merapat, seolah enggan melepaskan mimpi indah yang baru saja mereka lalui.

Angin sepoi-sepoi menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang menusuk.

Namun, alih-alih membuat mereka terbangun, udara dingin itu justru menjadi alasan bagi Sheila untuk semakin mendekatkan tubuhnya pada Arvelio. Ia menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya, mendengar detak jantung yang menenangkan.

Arvelio, yang merasakan dingin merambat hingga ke tulangnya, tanpa sadar Mempererat pelukannya. Tubuhnya yang hangat menjadi pelindung bagi Sheila, seolah ingin menjaga istrinya dari segala hal, termasuk hawa dingin pagi itu.

Keduanya saling terdiam, menikmati keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara hujan di luar jendela. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun kehadiran mereka dalam pelukan itu sudah cukup untuk menghangatkan hati.

Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah suara nyaring dari ponsel memecah suasana damai mereka.

Sheila, yang baru saja akan mulai terlelap kembali, mengerutkan dahi. Arvelio bahkan lebih terganggu; alisnya mengernyit tajam, ia menunjukkan rasa kesalnya.

"Bae, berisik." bisik Sheila manja, merasa terganggu bunyi alarmnya sendiri.

Yah, nyatanya suara deringan nyaring itu berasal dari ponsel Sheila.

Arvelio meraba nakas, saat tangannya menemukan apa yang ia cari. Brak! Ia dengan enteng melempar ponsel istrinya ke dinding.

Hal itu membuat kesadaran Sheila seketika kembali, ia bangun dan matanya melotot saat melihat ponsel miliknya sudah tak terbentuk, berserakan dilantai karna ulah Arvelio.

"Hubbyyyyy..... Ihhhh... Kenapa kamu lempar hpku, liat kan jadi rusak, huh," teriak Sheila kesal, bibirnya cemberut.

Arvelio matanya menyipit. "Aish, nanti aku ganti, honey." ia menarik pelan tubuh Sheila untuk baring kembali.

“Kenapa pasang alarm sepagi ini?” tanya Arvelio, menahan rasa kantuk yang masih melanda.

Sheila mendongak, dan membuat pola abstrak di dada bidang suaminya. "Aku harus ke toko mommy membantunya memilih gaun, dan perhiasan untuk pameran nanti."

Arvelio mendesah pelan, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, menarik Sheila kembali ke pelukannya. “Lima menit lagi,” pintanya. “Lima menit aja.”

Sheila tertawa kecil, namun ia menurut. Bagaimana bisa menolak saat pelukan Arvelio terasa sehangat ini?

Arvelio tiba-tiba merubah posisinya, menindih tubuh Sheila. "Morning s**.... Hujan, honey."

Sebelum Sheila melayangkan protes, Arvelio sudah melakukan aksinya. Dia hanya mampu melenguh atas permainan suaminya, yang bisa membuatnya terbang melayang.

Di luar, hujan masih turun dengan ritme yang tenang, sementara di dalam kamar, mereka berdua kembali tenggelam dalam kehangatan satu sama lain yang memabukkan, mereka seolah ingin waktu berhenti sejenak agar keduanya bisa menikmati hal ini lebih lama lagi.

***

Senyuman lebar menghiasi wajah tampan Arvelio sepanjang perjalanan. Kedua tangannya dengan santai memegang setir mobil, sementara pikirannya melayang jauh, memutar kembali momen pagi tadi.

Kegiatan panas mereka di balik selimut seolah menjadi film yang terus diputar di kepalanya. Setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap bisikan lembut Sheila masih terasa nyata, membuat dadanya terasa hangat meski hujan gerimis masih mengguyur kota yang dijuluki La-La Land itu.

Sheila, yang duduk di sampingnya, melirik suaminya dengan tatapan heran. “Kamu kenapa sejak tadi senyum-senyum sendiri, sih?” tanyanya, setengah penasaran.

Arvelio melirik Sheila sekilas, senyumnya semakin lebar. “Nggak apa-apa. Cuma… aku lagi mengingat sesuatu yang sangat indah.” nadanya ceria.

Sheila mengangkat alis. “Indah? Apa itu?”

Arvelio mengetuk dagunya pura-pura berpikir, membuat wajahnya tampak serius. “Hmm… sesuatu yang terjadi tadi pagi, mungkin?” jawabnya sambil menyeringai nakal.

Sheila langsung menangkap maksudnya, dan pipinya merona merah. “Arvelio!” serunya pelan, sambil memukul lengan suaminya dengan gemas.

Arvelio tertawa kecil, suaranya terdengar renyah. “Apa? Aku kan cuma jujur, baby,” katanya, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Sheila menggeleng, berusaha menyembunyikan senyum malu-malu yang mulai muncul di bibirnya. “Fokus nyetir, Ar,” ucapnya, mencoba mengalihkan perhatian.

“Tenang aja, aku selalu fokus,” jawab Arvelio tenang, matanya melirik Sheila dengan tatapan penuh arti. "Apalagi itu...." mengedipkan mata.

Meski tak menjawab. Namun, dalam hati, Sheila tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia juga mengingat momen pagi tadi.

Bagaimana Arvelio menciumnya dengan lembut, bagaimana tangan hangat suaminya melingkar di pinggang, dan bagaimana mereka menghabiskan pagi indah dengan cara yang hanya mereka berdua pahami.

Itu adalah pagi yang sempurna.

Sheila menepuk kepala pelan saat seulas momen itu kembali berputar di kepalanya, Arvelio melirik dan tersenyum geli melihatnya.

"Khmmm...!" Arvelio berdehem, Sheila melirik.

Arvelio kembali berbicara, memecah lamunannya. “Aku rasa pagi seperti ini perlu diulang lebih sering.”

Sheila menatapnya dengan tatapan bingung. “Pagi seperti apa?”

“Pagi yang dimulai dengan kamu di pelukan aku, tanpa ada gangguan dunia luar,” jawab Arvelio santai.

Sheila terdiam sejenak. Kata-kata itu begitu sederhana, namun penuh makna. Ia tahu Arvelio bukan hanya berbicara tentang pagi tadi, tapi juga tentang kebersamaan mereka yang begitu berarti.

“Kalau begitu, aku juga punya permintaan,” balas Sheila akhirnya.

Arvelio menoleh sebentar, penasaran. “Apa itu?”

“Jangan terlalu banyak senyum sendiri di depan orang lain,” goda Sheila sambil tertawa kecil. “Nanti mereka pikir kamu nggak waras.”

Arvelio tergelak, dan untuk sesaat, tawa mereka memenuhi mobil, mengalahkan suara hujan di luar.

Hujan masih rintik-rintik membasahi kaca depan mobil, menciptakan pola abstrak yang indah. Jalanan lengang pagi itu, memberi mereka ruang untuk menikmati perjalanan dengan santai.

Di balik momen sederhana itu, ada kebahagiaan yang tak terkatakan.

Arvelio tahu, dalam hidupnya yang penuh dengan luka dan masa lalu kelam, Sheila adalah cahaya yang selalu berhasil menyinari setiap sudut gelap di hatinya.

Dan pagi seperti ini adalah pengingat bahwa mereka berdua sedang membangun kehidupan baru yang penuh cinta, kehangatan, dan tawa bersama.

Beberapa jam kemudian, setelah mengantar Sheila ke butik Alexa, Arvelio memilih ke Perusahaannya, ia memiliki pertemuan dengan ketiga sahabatnya.

Senyuman selalu terpatri di bibir Arvelio sepanjang jalan ke ruangannya, kegiatan panas mereka tadi pagi seolah tak ingin hilang dari kepalanya.

Semua pegawai yang melihat senyuman pimpinan mereka, merasa aneh sekaligus terpesona karna baru pertama kali melihat hal itu. Biasanya, Arvelio hanya memasang wajah datar, tapi pagi ini terlihat sangat berbeda.

Sepertinya peringatan Sheila yang menyuruhnya berhenti tersenyum, ia abaikan.

Dan hal itu membuat Kenneth menatap aneh Arvelio. Ia menyentuh dahinya. "Kau kerasukan?"

Arvelio mendelik mendengarnya. "Ngaco!" berubah datar, tatapannya menajam.

"Nah, ini baru Arvelio_King Devil's kita," celetuk Reyhan, ia juga merasa ngeri melihat sikap sahabat sekaligus ketuanya itu.

"Kau sebaiknya jangan sering tersenyum begitu, rasanya sangat aneh dan menyeramkan. Itu bukan stylemu, Vel." kata Jayden.

"Bacot!" ketus Arvelio, menatap sinis ketiganya.

Kenneth geleng-geleng. "Kau pasti mendapat jatah double, makanya server otakmu konslet," godanya, disertai senyum jail.

Arvelio mengangkat bahu acuh, ia tersenyum smirk. "Kau iri? Kau pasti belum merasakannya?"

Kenneth langsung membalas. "Tentu saja sudah, aku bahkan lebih pro darimu," nada mengejek.

"Cih, aku tidak percaya. Irene masih bersikap acuh padamu, jadi bagaimana mungkin? Kau dan dia?" sahut Reyhan, menatap remeh Kennneth.

Sreeek! Kenneth dengan santai merobek bajunya, dan hal itu membuat Arvelio, Jayden, dan Reyhan melotot tak percaya saat melihat banyak bekas biru keunguan di sana.

"Oh my gosh!" pekik Reyhan, heboh. "Kau?"

Kenneth tersenyum bangga. "Apa ini cukup jadi bukti?"

"Kau bermain di luar?" tanya Jayden, merasa curiga.

"Ck, aku tidak pernah jajan di luar. Apa aku perlu membuat video? Hah! Agar kalian percaya." ucap Kenneth kesal.

"Buat saja," sahut Reyhan dengan semangat.

Arvelio menendang kursi Reyhan. Bruk!

"Sh*t!" umpat Reyhan, merasakan sakit.

Jayden dan Kenneth tertawa. "Rasakan, makanya punya otak jangan ngaret," ejek Kenneth.

Mendengus kesal. "Kalau mau nendang, minimal kasih aba-aba dulu supaya aku siap. Sakit, tau." ujar Reyhan, cemberut.

Jayden melempar berkas ke wajah Reyhan. "Stop!" menatap aneh sahabatnya.

"Berarti cuma aku dan Jayden yang belum, huh. Nasib." keluh Reyhan.

"Sorry, aku juga sudah," sahut Jayden, menunjukkan lehernya.

Reyhan menghela napas. "Kapan Leona bisa luluh? Kenapa aku sulit untuk meluluhkan hatinya, beda sama mantan-mantanku dulu," ucapnya, sedih.

"Itu karma buatmu karna playboy," ujar Kenneth.

"Tapi, aku sudah tobat," kata Reyhan. "Tanya istri kalian dong, kasih aku tips buat menaklukkan hati Leona. Please!" mengatup kedua tangannya.

"Hm," jawab mereka bertiga kompak.

Reyhan mendengus kesal, lalu dia ingat sesuatu. "Oh iya, aku punya info penting buat kalian,"

"Apa?" tanya Jayden.

"Lihat," sahut Reyhan, menunjukkan video yang di ponselnya.

Mereka mengamati isi video itu dengan tatapan serius.

Setelah videonya selesai, Jayden menatap Arvelio, dan berkata. "Apa rencanamu?"

"Cukup awasi mereka saja," jawab Arvelio singkat.

"Kau serius? Yak, Claudia dan gengnya berencana melakukan hal buruk pada istri kita. Dan kau terlihat santai saja?" Reyhan menatap heran Arvelio.

Arvelio tersenyum misterius. "Istriku tidak semudah itu untuk di usik," ucapnya.

Membuat Reyhan merasa bingung, sedangkan Kenneth dan Jayden paham maksud Arvelio.

Mereka berdua sudah tahu identitas soal istrinya di dunia bawah, Irene dan Grace memilih jujur pada suami mereka masing-masing.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!