Dalam kamar bernuansa putih yang tenang, Sheila duduk termenung, tatapannya kosong menembus batas ruang. Pikiran-pikiran berputar di kepalanya, mencari cara terbaik untuk menyampaikan isi hatinya pada Arvelio.
Jam dinding berdetak pelan melewati setiap detik, menemani kebisuannya, sementara aroma lavender yang lembut menyelimuti ruangan seolah menjadi saksi bisu atas kegundahan yang ia rasakan.
Sheila tahu, pembicaraan kali ini tidak akan mudah. Dunia bawah yang melibatkan dirinya adalah topik yang berat, dan ia sungguh bingung dari mana harus memulainya. Berulang kali ia merancang kata-kata di pikirannya, tapi semuanya terasa tak cukup untuk menjelaskan perasaan yang sesungguhnya.
Sheila masih tenggelam dalam pikirannya, sesaat kemudian sosok suaminya, Arvelio, baru keluar dari kamar mandi. Handuk putih melilit di pinggangnya, memperlihatkan tubuh tegapnya yang berotot sempurna.
Sheila terpaku di tempat, menatap tanpa berkedip. Ia meneguk ludah saat matanya terhenti pada "roti sobek delapan kotak" di perut suaminya.
Sungguh! Itu terlalu sempurna untuk diabaikan.
Arvelio berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa lambat dalam pandangan Sheila, membuat jantung wanita itu berdebar semakin kencang.
Pikiran Sheila yang semula sibuk mencari kata-kata mendadak kosong, seakan semua yang ada di dunia ini hanyalah dia dan pemuda itu.
"Honey, tolong keringkan rambutku," ucap Arvelio lembut, menyerahkan handuk kecil padanya.
Sheila tersentak, suaranya seolah membangunkan dirinya dari lamunan. "I-iya, sini," jawabnya dengan nada gugup.
Melihat reaksi istrinya, Arvelio hanya terkekeh pelan. Baginya, ada sesuatu yang menggemaskan dari kegugupan Sheila setiap kali melihatnya tanpa baju. Bahkan setelah satu bulan menikah, wanita itu tetap saja salah tingkah, seolah mereka baru saja jatuh cinta.
Perlahan, Sheila mulai mengeringkan rambut suaminya. Tangannya bergerak hati-hati, namun pikirannya kembali melayang.
Kata-kata yang ingin ia sampaikan berputar-putar tanpa arah.
Bagaimana ia harus memulai pembicaraan tentang keterlibatannya dengan dunia bawah?
Namun, sebelum Sheila menemukan jawabannya, Arvelio lebih dulu memecah keheningan. "Bukannya tadi kamu bilang mau ngomong sesuatu? Apa itu?" tanyanya dengan nada ringan, namun sorot matanya serius.
Sheila meneguk ludah kasar. Jantungnya kembali berdegup kencang, namun kali ini karena gugup. Ia merasa seolah tenggelam dalam lautan pertanyaan: Apa yang harus aku katakan?
Bagaimana jika Arvelio marah?
Bagaimana jika dia membenciku?
"Honey?" panggil Arvelio sambil menyentuh lembut wajahnya, membuat Sheila tersentak.
"Oh..." Sheila menatapnya, namun tatapan itu sulit diartikan. Campuran kebingungan, ketakutan, dan keraguan tampak jelas di wajahnya.
"Ada apa?" Arvelio duduk di sebelah Sheila, seolah paham dengan perasaan istrinya, kemudian berkata. "Jika kamu belum siap, tidak perlu mengatakannya sekarang. Kita punya banyak waktu untuk bertukar cerita," tersenyum tipis.
Sheila memejamkan mata, berusaha menyakinkan diri. Tidak! Dia harus mengatakannya sekarang, ia tidak ingin menunda lagi.
Arvelio tetap diam, secara tak langsung ia sudah melihat semua kejadian yang terjadi siang tadi.
Yah, saat Arvelio menyentuh Sheila, dia melihat segalanya. Dirinya sengaja melakukan hal itu untuk membaca kilasan ingatan Sheila.
Sheila membuka mata, tatapannya bertemu dengan tatapan Arvelio, yang menatapnya penuh cinta. Dia membatin. "Apa tatapannya masih tetap sama, saat Arvelio tau semuanya?"
Menarik napas. "Aku.... Aku terlibat dengan dunia bawah," Sheila berucap dengan nada tegas, sorot matanya terlihat serius. Ia menatap Arvelio yang terlihat santai, Sheila sulit untuk membaca pikiran lelaki yang berstatus suaminya itu.
Sheila kembali bersuara karna tak ada respon dari Arvelio. "Ar, aku ikut mafia. Kamu gak masalah?" tanyanya pelan.
"Kamu mau aku marah? Hm?" tanya Arvelio balik.
Sheila dengan polos menggeleng, membuat Arvelio terkekeh gemas.
"Gemas banget sih, istriku," puji Arvelio mencubit pelan pipi chubby Sheila.
Sheila mengerjapkan matanya beberapa kali.
Hal itu semakin membuat Arvelio gemas. "Kok bisa kamu jadi Queen X dengan wajah menggemaskan seperti ini, hm?" ujar Arvelio, mengusap pipi Sheila.
Mata Sheila melebar. "B-bagaimana kamu tau jika aku Queen X?" tanyanya bingung. Dia bahkan belum cerita semuanya, tapi Arvelio tau.
Bukannya menjawab, Arvelio justru membuat Sheila semakin bingung. "Apa alter egomu tidak pernah cerita?" tanyanya.
Sheila mengernyitkan alis. "Maksudmu?"
"Psychometric. Bukankah kita sama, honey," Arvelio menatap Sheila.
Lagi-lagi pernyataan Arvelio membuat pikiran Sheila berputar untuk mencari jawaban yang tepat untuk hal itu.
Seperkian detik, seperti bola lampu yang menyala, Sheila akhirnya paham maksud suaminya. "Kamu punya kemampuan Psychometric?"
Arvelio tersenyum, dan mengangguk. "Iya,"
Jawaban singkat itu membuatnya terkejut, ia jadi menatap Arvelio dengan kesal. "Sialan! Harusnya, dia mengatakan hal itu dengan cepat," batin Sheila.
Sheila terus menggerutu dalam hati, ia mengepalkan tangannya, andai Arvelio bukan suaminya, ia sudah memukul wajah lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Arvelio.
"Tidak," ketus Sheila. Mengalihkan pandangannya.
"Kamu marah?" Arvelio memegang bahu Sheila.
"Aku tidak marah, hanya kesal," sahut Sheila.
"Kesal?" Arvelio heran.
Sheila menatap Arvelio tajam. "Yakkk! Kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika memiliki kemampuan Psychometric, kamu tau aku... Aish sudahlah, kamu pasti sudah baca semua ingatanku, kan." teriaknya kesal.
Arvelio menggaruk kepala. "Maaf, aku pikir kamu membaca ingatanku juga. Jadi, aku tidak pernah bahas masalah ini," ujarnya.
"Apa kamu berlatih untuk mengendalikan kekuatan yang kamu miliki?" tanya Sheila.
"Iya, pada saat aku usia lima tahun kakek Darius melatihku," ucap Arvelio. "Kamu?"
"Tidak, aku tidak pernah melatih kemampuanku," jawab Sheila. "Pantas saja aku begitu sulit membaca ingatanmu," cemberut.
Arvelio terkekeh. "Kamu sengaja, ya? Karna tau aku punya kemampuan Psychometric. Makanya, kamu mengunci ingatanmu? Agar aku tidak tau semua hal yang kamu lakukan sebelum kita bertemu, ya kan?" Sheila memicingkan mata curiga pada Arvelio.
"Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan, honey," jawab Arvelio.
Sheila masih belum percaya. "Aku tidak melakukan hal yang kamu tuduhkan itu," jelas Arvelio melihat tatapan istrinya. "Bagaimana jika kamu baca pikiran aku dengan caraku?" godanya, memberi kode pada Sheila.
Wajah Sheila seketika merona, saat wajah Arvelio berusaha mendekat, ia menahan dada suaminya. "Eh, tadi kamu bahas soal Nana? Apa dia tau soal kemampuanmu?" tanyanya.
"Hm, waktu malam pertunangan kita, aku cerita padanya," sahut Arvelio santai.
Dan hal itu mampu membuat Sheila terbakar api cemburu. "Oh, jadi kamu menceritakan hal ini pada alter egoku, sedangkan aku tidak. Wah, hebat sekali Tuan Muda," kesalnya.
"Ak......"
Sebelum Arvelio melanjutkan ucapannya, Sheila lebih dulu memotong, dan berkata. "Kamu tidur di luar!" ia mendorong tubuh suaminya menjauh dari sana.
Mata Arvelio melotot tak percaya. "What? Jangan bercanda, Ai." pekiknya tak terima.
"No protes!" Sheila melempar bantal pada Arvelio.
"K......" Sheila menutup, dan mengunci pintu kamar mereka sebelum Arvelio melayangkan protes.
"Sh*t!" Arvelio menendang angin, melampiaskan amarahnya.
Arvelio mengetuk pintu. "Honey, beri aku hukuman lain. Jangan seperti ini, baby." ucapnya, putus asa.
Beberapa kali mengetuk, tapi tak ada respon dari Sheila. Arvelio mengingat sesuatu, lalu dia berjalan ke ruangan yang ada di sebelah kamarnya.
***
Di tempat yang berbeda, Claudia menemui Haris, sugar daddy-nya, untuk meminta bantuan dalam rencananya menculik Sheila saat malam pameran nanti.
Dengan nada yang menggoda, Claudia berusaha membujuk Haris agar mau melakukan keinginannya.
"Aku akan melayanimu, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku," ujar Claudia, sambil menyentuh dada Haris dengan lembut.
Haris menyeringai nakal, ia mengusap pipi Claudia. "Baiklah, sayang. Apa yang kau inginkan? Hm?" tanyanya penuh antusias.
Claudia mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan foto Sheila, dan berkata. "Aku ingin kau melakukan sesuatu terhadap gadis ini."
Mata Haris berbinar saat melihat foto itu. "Wow, dia cantik sekali! Siapa dia? Aku menginginkannya," ucapnya penuh semangat, jelas terpesona oleh kecantikan Sheila.
Claudia mengepalkan tangan dalam diam, menahan rasa bencinya. "Sialan! Bahkan tua bangka ini juga terpesona pada gadis miskin itu," batinnya penuh amarah.
"Jadi, siapa gadis ini?" tanya Haris, masih terpaku menatap foto Sheila.
"Hanya gadis biasa," jawab Claudia cepat, ia sengaja tidak memberitahu bahwa Sheila adalah istri Arvelio.
Tentu Claudia tahu, jika Haris mengetahui hal itu, bisa jadi pria itu pasti mundur seperti yang Bryan lakukan sebelumnya.
Semua orang sangat mengetahui betapa kejamnya Arvelio.
Claudia mendekatkan wajahnya ke telinga Haris, ia berbisik lembut. "Sayang, bantu aku. Sheila sudah membuatku kesal," nada manja.
"Kau tertertarik padanya, bukan? Kalau kau berhasil mendapatkannya. Dia bisa jadi milikmu, selamanya." Claudia berusaha membujuk Haris.
Haris tersenyum licik, dan berkata. "Ya, aku sangat tertarik padanya. Katakan, apa rencanamu?"
Claudia tersenyum puas. "Culik dia. Setelah itu, kau bisa lakukan apa pun yang kau mau. Kau pasti tahu langkah selajutnya, bukan?"
Haris menyeringai. "Aku paham. Jadi, kapan kita akan mulai?"
"Pekan depan. Sheila adalah desainer Waverly. Dia akan hadir di malam pameran perhiasan nanti," jawab Claudia santai.
"Waverly?" Haris terkejut mendengarnya. "A-apa dia memilki hubungan dengan keluarga Waverly?" mulai terlihat ragu.
Mendengar nama besar Waverly cukup membuat Haris berpikir dua kali untuk membuat ulah.
Claudia tertawa kecil. "Kau tenang saja. Sheila tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Waverly. Dia hanya desainer biasa yang bekerja di sana."
Claudia tak tahu saja bahwa gadis yang ia remehkan adalah berlian kesayangan keluarga Waverly, dan Alberto.
"Benarkah?" Haris masih tampak ragu.
"Tentu saja. Aku sudah mencari informasi tentang dia, dan faktanya, Sheila hanya gadis yatim piatu dari desa. Percayalah padaku," Claudia berusaha meyakinkan Haris.
Entah apa yang akan terjadi pada Claudia, saat dia tahu siapa Sheila sebenarnya.
Dengan nada menggoda, Claudia menambahkan. "Ingat, jika kau berhasil mendapatkan Sheila. Dia bisa jadi istrimu. Kau pasti sangat ingin memiliki istri secantik dia, bukan?"
Tergoda oleh kata-kata Claudia, Haris mengangguk setuju. "Kau benar. Gadis ini bernama Sheila, ya?" masih menatap foto Sheila.
"Iya," jawab Claudia malas.
"Namanya cantik seperti orangnya," puji Haris, ia mengusap foto Sheila sambil tersenyum.
Claudia memutar bola matanya dengan malas. Dia ingin beranjak dari pangkuan Haris, tetapi pria itu menahan pinggangnya.
"Mau ke mana?" tanya Haris heran.
"Pulang," jawab Claudia ketus.
"Tunggu, tugasmu belum selesai," ujar Haris sambil menyeringai.
Claudia mendengus kesal. "Ck, kau bahkan lebih tertarik padanya dari pada aku. Bahkan sejak tadi kau tidak berhenti memujinya," ia melirik foto Sheila yang masih digenggam Haris dengan tatapan tajam.
Haris tertawa kecil. "Ayolah, jangan cemburu. Aku tetap sayang padamu. Kau boleh pulang. Tapi, kau harus menuntaskan urusan ini dulu," ucapnya sambil menarik Claudia lebih dekat.
Dengan enggan, Claudia menuruti keinginan Haris. Di dalam pikirannya, satu nama terus berputar yaitu Sheila. Ia hanya ingin gadis itu menghilang segera, agar tidak ada penghalang baginya untuk memiliki Arvelio.
Claudia tak tahu bahwa niat jahatnya sudah terbaca oleh Sheila.
"Bodoh!" Sheila menatap datar, ia tersenyum penuh arti dan menutup laptopnya.
Sebenarnya, semua data-data yang di dapat oleh Claudia adalah bagian dari rencana Sheila. Dan yang membuat semua informasi palsu tentang dirinya itu adalah Sheila sendiri.
Sheila menekan tombol pada jam miliknya. Muncul layar hologram, yang menghubungkannya dengan Viola_robotnya.
"Queen?" sapa Viola.
"Bagaimana?" tanya Sheila to the point.
Viola yang paham, berkata. "Haris Horison adalah pengusaha properti, di Kanada. Tapi, itu semua milik istrinya-Tamara Horison, pewaris Horison grup,"
Sheila tersenyum smirk, ia mengangguk. "Ada lagi?"
"Haris juga terlibat dengan dunia bawah, dia King Lexux, mafia no. 12," ucap Viola. "Saya juga sudah mengirim shadow untuk mereka."
"Good job," sahut Sheila. "Kau terus awasi mereka,"
"Baik, Queen. Aku pamit," kata Viola, yang dibalas anggukan oleh Sheila.
Di sudut kamar, Arvelio mengawasi kegiatan Sheila dalam diam. Dia berjalan pelan-pelan ke arah sofa tempat istrinya duduk.
"Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Arvelio nanti, saat dia tau jika Haris mengincarku?" gumam Sheila.
Tubuh Sheila tiba-tiba merinding, saat mengingat kejadian sebelumnya. "Ihhhh.... Ngeri banget. Dia hanya mengusap fotoku, tetap saja, rasanya sangat menjijikan," mengusap bahunya.
"Apa aku harus mandi bunga untuk menghilangkan bekasnya? Eh, tapi ini sudah larut. Jadi nggak usah, deh." ucap Sheila.
"Harus!" Arvelio muncul di belakang Sheila.
"Omo Kamjagiya!" pekik Sheila terkejut.
"Loh, kamu kok bisa ada di sini? Perasaan aku udah kunci pintunya," Sheila menatap heran Arvelio.
Arvelio duduk di sebelah Sheila, dan berkata. "Aku akan membantu untuk menghapus jejak pria sialan itu,"
"Tapi, dia....."
Arvelio lebih dulu memotong ucapan istrinya. "Baik itu secara langsung atau tidak. Aku tetap tidak bisa menerima hal itu." Ia mendekatkan wajahnya, tapi Sheila menahan.
"Kenapa?" tanya Arvelio serak.
Matanya memancarkan kemarahan. Arvelio tak rela jika istrinya, jadi incaran Haris.
"Kamu marah sama aku karna pak tua itu?" tanya Sheila.
Arvelio menghela napas. "Tidak. Honey," katanya lembut.
"...." Sheila menatap mata suaminya.
Arvelio mencium bibir Sheila sekilas, dan berbisik. "Jangan bahas lagi, aku tidak suka jika membahas si jelek itu,"
Mendorong dada Arvelio. "Ck, siapa juga yang mau bahas soal dia, mengingatnya saja aku enggan," ucap Sheila kesal.
"Aku mau menghapus jejaknya," Arvelio mengusap pipi Sheila.
"Ok, tapi ada satu syaratnya," ucap Sheila.
Arvelio sudah paham apa syaratnya. "Tatap mataku, dan fokuskan pikiranmu," menarik tangan Sheila, ia mengarahkannya pada dadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Lanjut Thor 👍🙂
2024-10-04
1