Matahari pagi menyaring melalui kanopi yang lebat, melemparkan bayangan berbintik di lantai hutan. Udara dipenuhi dengan aroma tanah yang lembap dan panggilan burung yang terdengar dari kejauhan.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka, karna fokus pada target masing-masing.
Akhirnya, Leona bersuara, memecah keheningan. "Sebenarnya, ngapain kita pagi-pagi berburu seperti ini?" tanyanya heran.
Sungguh! Gadis itu masih merasa ngantuk, tapi karna permintaan Sheila, akhirnya mau tak mau dia harus ikut.
"Ini bukan berburu biasa, tapi kita juga nge-date," jawab Sheila santai.
"What?" pekik Reyhan, Leona, dan Grace, tercengan mendengar ucapan santai Sheila.
Astaga, apa katanya, nge-date?
Yang benar saja. Di Hutan belantara seperti ini?
Mana, masih pagi lagi.
Wah, agak lain memang gadis satu ini.
Idenya di luar nalar, tapi unik.
Meskipun mereka merasa aneh dengan ide Sheila, tapi tak mampu untuk berkomentar, apalagi melihat tatapan tajam dari Arvelio seolah mengatakan. "No protes!"
Berbeda dengan yang lainnya, pandangan Irene justru fokus pada mangsanya.
"Sial!" umpat Irene, saat mangsa incarannya berhasil kabur.
"Sebaiknya, kita pindah tempat," ajak Sheila.
Mereka semua mengangguk.
Arvelio, Sheila, bersama sahabatnya, melanjutkan perjalanan semakin jauh ke dalam hutan.
Sheila terlihat bahagia, tidak bisa menahan perasaan petualangan, sudah lama dirinya tidak merasakan sensasi seperti ini.
Sheila melirik Arvelio, yang memimpin kelompok dengan langkah percaya diri. Kehadirannya selalu membuatnya merasa aman, bahkan di alam liar.
"Heh, lihat di sana!" Leona menunjuk ke arah sebuah area terbuka di depannya. "Aku melihat sesuatu bergerak di sana."
Kelompok itu mendekati area tersebut dengan hati-hati, langkah kaki mereka teredam oleh lantai hutan yang lembut.
Saat mereka mendekati area terbuka, mereka melihat keluarga rusa yang sedang merumput dengan damai.
Pemandangan itu sangat memukau, dan untuk sesaat, semua orang berdiri diam, terpesona oleh keindahan alam.
"Wow, mereka sangat dekat, jumlahnya juga banyak," bisik Grace, matanya terbuka lebar dengan kagum.
Arvelio berbalik ke arah Sheila, dengan kilau nakal di matanya. "Siap untuk beraksi, honey?"
Sheila mengangguk, jantungnya berdegup kencang dengan kegembiraan. Dia selalu menyukai sensasi berburu, dan ini adalah kesempatan sempurna untuk memamerkan keahliannya.
Kelompok itu berpencar, masing-masing mengambil posisi berbeda di sekitar area terbuka.
Arvelio dan Sheila bergerak dengan tenang, gerakan mereka serasi seolah-olah mereka telah melakukan kegiatan ini, ribuan kali sebelumnya.
Mereka berkomunikasi dengan isyarat tangan, mata mereka terkunci dalam pemahaman bersama.
Saat mereka mendekati rusa, Sheila merasakan gelombang adrenalin. Dia mengangkat busurnya, jari-jarinya stabil di tali busur. Tepat saat dia akan melepaskan anak panah, suara tiba-tiba membuat rusa-rusa itu lari.
"Sial!" Sheila bergumam pelan, menurunkan busurnya.
Arvelio tertawa pelan, meletakkan tangan yang menenangkan di pundaknya. "Tidak apa-apa, honey. Kita akan mendapat buruan lain, nanti."
Sheila menghela napas, campuran frustrasi dan tekad di matanya. "Aku tahu. Padahal, aku hanya ingin membuatmu terkesan."
Arvelio tersenyum, menariknya ke pelukan lembut. "Kamu selalu membuatku terkesan setiap hari, Ai. Ayo, kita lanjutkan. Hari ini masih panjang. No sad, baby."
Dengan tekad baru, kelompok Arvelio melanjutkan perburuan mereka, semangat mereka begitu tinggi meskipun mengalami kemunduran.
Mereka bergerak lebih maju ke dalam hutan, tawa dan keakraban bergema di antara pepohonan.
Saat matahari naik lebih tinggi di langit, mereka akhirnya menemukan kesempatan lain.
Kali ini, Sheila siap.
Dia mengambil napas dalam-dalam, fokus pada targetnya, dan melepaskan anak panah.
Panah itu terbang dengan tepat, mengenai target dengan sempurna.
"Dapat!" seru Sheila, senyum kemenangan menyebar di wajahnya.
Kelompok itu bersorak, memberi selamat padanya atas perburuan yang sukses.
Arvelio tersenyum bangga, matanya dipenuhi dengan kekaguman pada tunangannya.
"Itulah gadisku," kata Arvelio, mencium kening Sheila.
Saat mereka bersiap untuk kembali ke villa, Sheila tidak bisa menahan perasaan pencapaiannya. Dia telah membuktikan dirinya, bukan hanya kepada Arvelio, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Dan saat mereka berjalan bergandengan tangan melalui hutan, dia tahu bahwa apa pun tantangan yang akan datang, mereka akan menghadapinya bersama.
***
Sheila menjatuhkan dirinya di tempat tidur, Arvelio geleng-geleng kepala melihat hal itu, dia berjalan mendekat.
Duduk di pinggir tempat tidur, dan mengusap kepala Sheila. "Mandi dulu, honey," ucap Arvelio lembut.
"Mager, aku capek. Badanku pegal semua, padahal biasanya gak kayak gini. Huh!" Sheila membalikkan tubuhnya menghadap Arvelio.
"Apa karna umurku bertambah?" tanya Sheila.
Arvelio terkekeh mendengar hal itu. "Ada-ada aja kamu, pantas kamu merasa pegal seperti itu karna kamu sudah lama tidak ke hutan, Ai."
Sheila mengerucutkan bibirnya, Arvelio yang melihat hal itu, secepat kilat mengambil kesempatan.
Cup! Mencium sekilas bibir Sheila, lalu....
"Eh!" Sheila terkejut saat tubuhnya melayang di udara. "Mau ke mana?" tanya.
"Mandi," jawab Arvelio singkat.
Sheila tertegun sejenak, lalu bertanya dengan ragu. "Bersama?"
Arvelio menghentikan langkahnya. "Mau? Emang boleh?" tanyanya, menatap Sheila intens.
"Hmm, t-tentu saja tidak. Kita belum nikah," jawab Sheila gugup, mengalihkan pandangannya.
Arvelio tersenyum tipis, kemudian dia melajutkan langkahnya ke kamar mandi.
Sesampainya di sana, Arvelio sibuk menyiapkan air untuk Sheila di bathtub, ia juga memberikan aroma terapi.
"Mandilah! Aku tunggu di luar, atau....." Arvelio menjeda ucapannya, dan menaik turunkan alis menggoda Sheila.
Mata Sheila melebar, ia tentu paham maksud dari tunangannya itu.
"Yaaakkk! Mesum, keluar!" usir Sheila, mendorong tubuh Arvelio keluar.
Brak!
Sheila membanting pintu, dan menguncinya. Huh! Gadis itu menghela nafas lega.
Arvelio menatap pintu kamar mandi, lalu ia terkekeh kecil mengingat wajah merah, dan reaksi malu-malu Sheila, tadi.
Menggemaskan!
Ia berjalan ke arah kamar mandi lain.
Beberapa menit kemudian
Sheila yang memejamkan mata tersentak saat merasakan tangan hangat menyentuh permukaan kulitnya.
"Ar," lirih Sheila membuka mata. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Pijat. Kamu pegal, kan?" ucap Arvelio, memijat kaki Sheila.
Sheila ingin menarik kakinya, namun pergerakannya di tahan.
"Eh, gak perlu. Aku udah gak apa-apa, kok," ujar Sheila, merasa tak enak.
Tersenyum lembut. "Udah, kamu baring, aja. Kalau cara pijat aku sakit, kamu tegur aku." sahut Arvelio.
Akhirnya, Sheila pasrah, ia mengikuti keinginan sang tunangan.
Pijatan Arvelio seolah jadi obat tidur buat Sheila, buktinya saat ini gadis itu sudah terlelap.
Arvelio mencium kening Sheila, dan merapikan selimut gadis itu. "Good night, baby." lirihnya, melangkah keluar kamar dengan pelan.
***
Langkah kaki Arvelio menggema di sepanjang lorong menuju ruang bawah tanah Villa.
Di sana, suasana dingin menyelimuti, cahaya redup dari lampu kuning berpendar di langit-langit.
Ketika pintu terbuka, tatapan tajamnya bertemu dengan empat sosok yang sudah menunggunya, Kenneth, Reyhan, Jayden, dan kakaknya, Alzian.
Arvelio berjalan mendekat, tubuh tegapnya memancarkan aura dingin dan tak terbaca. Ia duduk di sofa dengan santai, satu kakinya disilangkan. Mata tajamnya tertuju pada Alzian.
"Jadi?" tanyanya singkat, dingin.
Alzian, yang sudah paham arah pembicaraan, menegakkan duduknya. "Mereka mengincar tanah keluarga kita di Kanada," ujarnya tanpa basa-basi. "Andreas meminta tanah itu dibeli, tapi Kak Vier menolak. Karena itu, dia diserang."
Arvelio menyalakan rokok di tangannya, menghisap dalam-dalam. Asap kelabu perlahan melayang di udara, seakan menjadi tirai di antara mereka. "Rencana?" tanyanya, masih datar.
"Daddy bilang kita tidak perlu bertindak sekarang," jawab Alzian dengan tenang.
Mata tajam Arvelio mengarah langsung padanya. "Kenapa?"
Arvelio bukanlah tipe yang akan membiarkan lawannya lolos begitu saja, apalagi setelah mereka melukai seseorang yang ia sayangi.
Alzian menghela napas, mencoba mengingatkan adiknya. "Ingat, pernikahanmu dengan Sheila tinggal satu minggu lagi. Daddy melarang kita bertindak sebelum acara selesai."
Mendengar itu, alis Arvelio sedikit terangkat, tapi tidak ada emosi berarti yang muncul di wajahnya.
Alzian melanjutkan, ia tersenyum jahil. "Kecuali... jika kau ingin menunda pernikahanmu. Kalau begitu, kita bisa menyerang mereka sekarang. Bagaimana? Tertarik?"
Tatapan tajam Arvelio menusuk ke arah kakaknya. "Sama sekali tidak tertarik," jawabnya datar.
Alzian tertawa kecil, puas dengan reaksinya. Ia tahu betul, pernikahan itu sangat penting bagi Arvelio.
Bahkan, Arvelio yang bersikeras agar acara tersebut dipercepat, suatu hal yang awalnya ditolak oleh keluarga besar mereka.
Namun, keras kepala Arvelio adalah sesuatu yang sulit dilawan. Mereka akhirnya setuju meski sempat meminta pernikahan itu ditunda hingga Arvelio dan Sheila menyelesaikan pendidikan.
Kini, di bawah langit-langit ruang bawah tanah yang gelap dan dingin, satu hal menjadi jelas: Arvelio akan menunggu.
Tapi saat waktu itu tiba, balasan mereka tidak akan mengenal ampun!!!
***
Di dalam kamar yang tenang, Sheila masih terlelap dalam tidur nyenyak, selimut tebal membungkus tubuhnya. Wajahnya tampak damai, seakan dunia luar tak bisa mengganggu tiduran indahnya.
Sepertinya pijatan lembut dari Arvelio tadi malam benar-benar memberi efek penyembuhan yang sempurna bagi gadis itu.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka pelan, dan Arvelio muncul, mengenakan setelan rapi.
Matanya langsung tertuju pada Sheila yang masih tertidur pulas. Ia menggelengkan kepala, tersenyum melihat tunangannya yang tak terusik sedikit pun meski sinar matahari pagi menyorot langsung ke arahnya.
Tanpa ragu, Sheila merespons dengan menarik selimut hingga menutupi wajahnya, berusaha menghindari silau tersebut.
Arvelio berjalan ke arah nakas, menekan tombol remote kontrol untuk menutup tirai jendela.
Suasana kamar kembali menjadi lebih teduh.
"Hm..." Sheila menggumam pelan, masih setengah tertidur.
Arvelio yang sedang merapikan dasinya menoleh. Dilihatnya Sheila mulai terbangun.
"Jangan dikucek, nanti matamu sakit," kata Arvelio lembut, menahan tangan Sheila yang sepertinya ingin menggosok matanya.
Sheila tersenyum tipis, matanya masih kabur, tetapi saat melihat wajah tampan Arvelio, alisnya berkerut, penasaran.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sheila.
"Aku ada meeting di kantor, ada pekerjaan penting hari ini. Gak apa-apa, kan?" tanya Arvelio, meminta izin dengan tatapan penuh harap.
Sheila duduk di atas tempat tidur, wajahnya sedikit cemberut. "Kenapa kamu gak bangunkan aku? Aku kan bisa bantu persiapkan kebutuhanmu."
Arvelio terkekeh ringan, tak bisa menahan diri. "Tidurmu nyenyak, aku gak tega," jawabnya.
Sheila pun bangkit. "Kamu berangkat jam berapa?" tanyanya lagi, kali ini lebih cemas.
"Jam 9.30," jawab Arvelio.
Sheila langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. "Eh, pelan-pelan!" Arvelio cepat-cepat menahan tubuhnya saat Sheila hampir terjatuh.
Aroma masakan yang menggoda datang dari dapur, dan seketika itu juga, semua orang yang berada di sana langsung menoleh. Mata mereka tertuju pada Sheila yang tengah sibuk di dapur.
Gadis itu bergerak dengan kelincahan seorang chef profesional.
Kepala pelayan yang biasanya memimpin dapur kini hanya bisa diam, matanya berbinar melihat gerakan terampil Sheila meracik masakan.
Arvelio duduk di pinggir meja makan, matanya tak lepas dari Sheila yang sedang sibuk memasak.
Sebuah senyuman tipis terbit di bibirnya, hati kecilnya bersyukur bisa menemukan seseorang seperti Sheila. "Aku beruntung bisa menemukan bidadari multitalenta seperti kamu, Ai," batin Arvelio.
"Wah, akhirnya bisa makan masakan Queen lagi!" ceplos Leona, penuh semangat.
"Queen?" Reyhan menatap Leona dengan bingung, sementara Irene dan Grace hanya memandangnya dengan tatapan tajam.
Mereka tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka belum tahu bahwa Sheila gadis cantik yang kini sedang memasak, memiliki hubungan dengan dunia bawah yang tersembunyi, sesuatu yang hanya diketahui Arvelio.
Leona menyadari ada yang tidak beres, namun tersenyum kikuk. "Hahaha... Itu panggilan kami buat Sheila," jelasnya dengan tertawa canggung.
Reyhan, Jayden, Kenneth, dan Alzian tidak berpikir lebih jauh, hanya mengangguk-angguk mengerti. Mereka tidak mungkin terlibat dengan dunia bawah. Pikirnya.
"Wah, gila! Masakan Sheila enak banget!" puji Reyhan, disambut anggukan dari Alzian, Kenneth, dan Jayden.
"Tapi kenapa rasanya familiar banget, ya? Kayak masakan di Restoran Star7," kata Alzian.
Sheila sedikit terkejut, berusaha menyembunyikan ekspresi canggung di wajahnya.
"Yah, gimana gak familiar, kak. Sheila kan pemilik Restoran Star7 itu," sahut Leona dengan semangat, tanpa sadar mengungkapkan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
Sheila tersentak samar, ia menghela nafas.
Sheila menatap datar Leona yang tanpa sengaja telah mengungkapkan identitasnya. Padahal, selama ini dia berusaha menjaga hal itu tetap tersembunyi.
"Sheila, serius? Jadi Restoran Star7 itu milikmu?" tanya Alzian, tatapan terkejut dan penasaran terpancar dari matanya.
Sheila hanya bisa mengangguk perlahan. "Iya, itu milikku," jawabnya pelan.
"Astaga, itu Restoran selalu ramai, kan? Kalau tidak salah, bulan lalu kamu dapat penghargaan sebagai Restoran terbaik nomor satu, kan?" Reyhan kagum atas pencapaian Sheila.
Sheila hanya mengangguk sekali lagi, merasa sedikit canggung.
Melihat kondisi Sheila yang semakin tidak nyaman, Arvelio menegur, dan berkata. "Makan!" titahnya dingin, berusaha mengalihkan perhatian.
Mendengar teguran dari Arvelio, membuat mereka makan dengan tenang tanpa komentar lagi, hanya terdengar suara dentingan sendok saja.
***
Sheila memandangi sekeliling ruangan kerja Arvelio yang tertata rapi dan penuh dengan kesan profesional. Ruangan yang begitu terorganisir itu, seolah menggambarkan karakter Arvelio yang tegas dan berkelas.
Arvelio sengaja membawanya ke kantor, ingin memperkenalkan Sheila kepada semua pegawainya. Meski awalnya Sheila menolak dengan alasan ingin tetap di rumah, bujuk rayuan Arvelio akhirnya membuatnya luluh.
"Kamu mau tunggu di sini? Atau ikut aku ke ruang meeting?" Arvelio bertanya sambil mengusap lembut pipi Sheila, senyum manis di wajahnya.
Sheila hanya menggelengkan kepala, "Aku mau di sini saja," jawabnya dengan santai.
Arvelio mengangguk dengan pemahaman. "Kalau butuh sesuatu, hubungi aku, paham?" katanya tegas, namun ada kelembutan dalam suaranya.
"Siap, komandan!" jawab Sheila sambil memberi hormat yang membuat Arvelio tertawa ringan.
Arvelio mencium kening, dan bibir Sheila sekilas, lalu berjalan keluar menuju ruang meeting.
Begitu keluar dari ruangan, wajah Arvelio kembali serius. Tatapannya tajam dan tegas, memberi kesan bahwa dia adalah sosok yang tak mudah dilawan.
Setelah meeting selesai, Arvelio kembali ke ruangannya dan mendapati Sheila tertidur pulas di sofa. Tanpa membuat suara, Arvelio mendekat dan mengusap pipi Sheila dengan lembut.
Sheila terbangun karena merasakan sentuhan itu. "Kau sudah selesai?" tanyanya dengan suara serak, masih dalam keadaan setengah terjaga.
Arvelio mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Kenapa nggak tidur di kamar?" tanyanya, sedikit khawatir.
Sheila bangkit dari tiduran dan menepuk sofa di sebelahnya. "Aku nggak sengaja tertidur," jawabnya sambil tersenyum malu.
Arvelio menarik Sheila ke dalam pelukannya dengan lembut, membiarkan gadis itu bersandar di dadanya. "Mau makan siang di sini atau kita ke restoran?" tanyanya, sambil mengusap kepala Sheila dengan lembut.
Sheila memandang tumpukan berkas di meja Arvelio dan berkata, "Sini saja. Kamu masih banyak kerjaan, kan?"
Arvelio menoleh ke meja kerjanya, ia mengangguk. "Aku bisa kerjakan nanti. Kita keluar makan, mau?" tanyanya, berharap Sheila ingin sedikit bersenang-senang.
Sheila menggeleng. "Nggak usah, aku mager banget keluar, apalagi hujan," jawabnya, sambil menunjuk ke arah jendela yang tampak rintik hujan turun di luar.
Arvelio mengangguk, menerima keputusan Sheila.
Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar, pesan dari Krystal masuk.
Arvelio menatap Sheila. "Honey, mommy bilang kita harus ke butik untuk fitting baju. Kamu mau, kan?" tanyanya, dengan nada penuh perhatian.
Sheila tersenyum tipis. "Iya, sekarang?" tanyanya.
"Hmm, aku selesaikan berkas ini dulu. Gak masalah, kan?" Arvelio bertanya balik.
"Gak, perlu bantuan?" tawar Sheila, ingin membantu meskipun sedang duduk santai.
"Nggak usah, honey. Kamu nonton aja, ini tinggal sedikit," tolak Arvelio dengan lembut, tidak ingin membuat Sheila kelelahan.
Sheila mengangguk, kembali menikmati drama kesukaannya di layar TV.
Sementara Arvelio melanjutkan pekerjaannya dengan tekun, menyelesaikan berkas-berkas yang harus dituntaskan.
***
Sheila terpesona melihat deretan gaun pengantin yang tertata rapi di hadapannya. Matanya melebar, hampir tidak percaya dengan banyaknya pilihan yang tersedia di sana.
"Mom, ini serius? Aku harus coba semuanya?" Sheila menatap Alexa dengan tatapan penuh keheranan.
Alexa tertawa kecil melihat reaksi putrinya. "Tenang saja, kamu pilih yang kamu suka. Nggak perlu coba semuanya," jawabnya dengan sabar.
Sheila menghela nafas lega, merasa sedikit lebih tenang. "Mommy, dan Aunty bantu aku pilih, ya? Aku bingung mau pilih yang mana, semuanya bagus," ujarnya, terlihat bingung.
"Ish, kok aunty sih? Mommy dong, sayang. Kan kamu sekarang putri mommy juga," ucap Krystal tersenyum tipis, mengelus kepala Sheila.
Sheila menatap Alexa, yang hanya mengangguk sambil tersenyum. "I-iya, mom," jawabnya dengan suara sedikit gugup.
Krystal terkekeh, senang melihat Sheila yang kini menjadi bagian keluarganya. "Mommy senang banget, deh. Sekarang, anak cewek mommy jadi tiga," katanya dengan penuh kebanggaan.
"Dari dulu mommy pengen punya anak cewek, tapi setelah Arvelio lahir, rahim mommy harus diangkat karena kecelakan waktu itu." Krystal menepuk jidatnya. "Astaga, maaf ya jadi curhat."
Sheila tersenyum lembut. "It's okay, mom," jawabnya, merasa tersentuh.
"Udah, coba gaunnya sekarang, ya? Lusi, akan membantumu," ucap Krystal sambil memberi isyarat kepada sang asisten.
Lusi mengangguk dan mengajak Sheila ke ruang ganti. Sheila berjalan menuju ruang ganti, diiringi Lusi.
Tak lama kemudian, gadis itu muncul mengenakan gaun putih yang begitu indah membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya secara elegan.
Arvelio, yang sebelumnya fokus pada ponselnya, langsung mengangkat kepala. Seketika matanya tertuju pada Sheila, dan ia begitu terpesona melihat penampilan tunangannya.
Sampai-sampai, ponselnya terjatuh tanpa disadari.
Krystal yang melihat reaksi Arvelio tertawa kecil. "Putri mommy cantik banget, kan, Ar? Hati-hati boy, natapnya gitu amat, nanti ngiler, loh!" godanya pada sang putra penuh canda.
Arvelio tersentak samar, ia segera mengerjap dan menetralkan ekspresi wajahnya. "Ganti!" perintahnya tegas.
Sheila, Krystal, dan Alexa saling pandang dengan bingung.
"Loh, kok ganti? Padahal itu cantik banget," Krystal bertanya heran.
"Terlalu seksi," jawab Arvelio dengan tegas. "Aku nggak suka kalau semua orang nanti menatapmu dengan lapar." Matanya tertuju pada Sheila.
Krystal, dan Alexa saling melirik, mereka berdua menggelengkan kepala.
Posesif banget!
Sheila menggerutu dalam ruang ganti, sudah beberapa kali ia mengganti gaun karena ulah Arvelio yang sangat protektif.
"Dadanya terlalu rendah,"
"Ck, kenapa belakangnya bolong kayak gitu? Ganti!"
"Aish, itu terlalu ketat,"
"Terlalu pendek,"
"Aish, kenapa ada belahan di bagian pahanya? Ganti!"
Setiap kali Sheila keluar dari ruang ganti, Arvelio selalu menemukan alasan untuk menyuruhnya mengganti gaun. Sheila pun mulai kesal, namun tak bisa menolak.
Akhirnya, Sheila keluar menggunakan gaun yang lebih sederhana, tapi elegan. Arvelio menatapnya penuh kekaguman.
Melihat keterdiaman Arvelio yang menatapnya, Sheila bersuara. "Bagaimana?" tanyanya, menunggu pendapat sang tunangan.
"Cantik," jawab Arvelio, suaranya penuh dengan kekaguman.
Wajah Sheila merona, dan dia menunduk sebentar, malu.
Lalu, ia mengalihkan pandangannya kembali pada Arvelio. "Aku pakai ini saja, ya. Capek, gonta-ganti terus. Mana gaunnya berat lagi!" keluh Sheila dengan bibir cemberut.
Arvelio berdiri, dan mendekat, menarik pinggang Sheila ke dalam pelukannya. "Maaf, aku cuma nggak mau, nanti semua orang menatapmu dengan cara salah karena gaun kurang bahan, tadi." bisiknya lembut.
Sheila tentu saja mengerti apa yang dimaksud oleh Arvelio. Sebenarnya, dia sendiri juga tidak terlalu nyaman dengan gaun tadi, tetapi karena itu pilihan Krystal dan Alexa, maka Sheila tidak berani menegur takut mengecewakan mommynya.
Setelah selesai dengan urusan gaun, cincin, dan mengecek dekorasi tempat pernikahan mereka berlangsung.
Arvelio mengantar Sheila ke Mansion Waverly. Mereka duduk dalam mobil, dan Arvelio tampak enggan melepaskan tangan Sheila.
"Kita nginep di Apartemen saja, ya?" ajak Arvelio, menawarkan.
Sheila menggelengkan kepala. "Nggak boleh, Ar. Kamu lupa, ya? Mommy bilang kita nggak boleh ketemu dulu sampai hari pernikahan," ucapnya, mengingatkan Arvelio tentang tradisi yang harus mereka ikuti.
Arvelio mendengus kesal. "Kenapa harus ada tradisi kayak gitu, sih?" keluhnya, menduselkan kepala di pundak Sheila. "Menyebalkan!"
Sheila terkekeh, ia mengusap kepala Arvelio. "Yak, kita nggak akan pisah selamanya. Hanya beberapa hari saja, setelah itu kita bakal bersama selamanya," ujarnya lembut, berusaha memberi pengertian pada Arvelio.
Lelaki itu menghela nafas panjang. "Aku tahu, honey. You are mine, only mine. Always and Forever!" tegas Arvelio, menatap Sheila dengan tatapan penuh cinta.
Sheila mengangguk, tersenyum bahagia. Arvelio mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Shiela, dalam ciuman lembut.
Melalui ciuman itu mereka berdua seolah saling mengutarakan perasaan masing-masing. Beberapa menit mereka menikmati momen kebersamaan itu, seolah waktu berhenti sejenak.
Setelah melepas ciuman, Arvelio memeluk Sheila erat. Kemudian, dia turun dari mobil dan membuka pintu untuk Sheila. Tangan mereka berdua tetap bergenggaman, berjalan menuju pintu Mansion.
Sheila menatap Arvelio dengan senyum manis. "Kamu nggak mau masuk dulu?" tanyanya.
Arvelio tersenyum dan menggelengkan kepala. "Gak usah, takutnya aku makin susah pisah sama kamu," jawabnya, dengan nada manja. "Masuklah!" mengusap pipi Sheila.
Sheila tersenyum tipis. "Aku mau liat kamu pergi dulu, baru aku masuk," katanya, memberi alasan.
"Baiklah, aku pamit." Arvelio berkata, sekali lagi dia menarik Sheila ke dalam pelukannya. Ia mencium kening, dan bibir Sheila sekilas, sebelum berjalan menuju mobilnya.
Sheila masih berdiri di depan pintu, mematung. Gadis itu menunduk, menyentuh bibirnya, teringat ciuman Arvelio baru saja.
"Bisa-bisanya dia menciumku di depan mereka," lirih Sheila, melirik para pengawalnya yang sengaja mengalihkan pandangannya.
Setelah mobil Arvelio melaju keluar gerbang, Sheila akhirnya melangkah masuk ke dalam Mansion.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
lanjut Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏
Selamat Hari Minggu 🙂✨🙏😇
2024-09-29
1