Perjodohan

Arvelio menatap foto Sheila yang ada di tangannya begitu intens, ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, saat dia mengetahui kebenaran soal masalah keluarganya dan keluarga Waverly.

Flashback On

Langit sore di Rusia terlihat memerah, seolah kota ini bersiap menyambut malam dengan kemegahan terakhirnya. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, siluetnya membentuk garis tegas di horizon.

Di teras sebuah hotel mewah, Arvelio duduk dengan santai. Di tangannya, ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul, sementara di pangkuannya terdapat tumpukan dokumen bisnis yang ia pelajari dengan penuh perhatian.

Arvelio adalah salah satu pewaris keluarga Alberto, salah satu keluarga bisnis paling berpengaruh di Dunia. Namun, di usianya baru 17 tahun, dia memilih membangun perusahaan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya.

Dengan kecerdasannya dalam bisnis dan ketegasan dalam mengambil keputusan membuatnya disegani oleh para pesaing.

Bahkan, saat ini perusahaan miliknya menduduki posisi sebagai perusahaan no. 1 di Amerika dan Eropa.

Meski begitu, ada sisi lain dari dirinya—pribadi yang sulit ditebak, misterius, dan penuh perhitungan dalam segala hal.

Namun, keseriusan Arvelio buyar ketika ponselnya bergetar di atas meja. Ia melirik sekilas ke layar, lalu mengangkatnya dengan alis sedikit terangkat.

"Arvelio, kamu harus segera pulang ke Los Angeles." Suara Nathan Alberto_daddynya, terdengar tegas namun mengandung nada mendesak.

"Ada apa?" tanya Arvelio santai, meski alisnya sedikit mengernyit heran mendengar nada bicara sang daddy. "Aku masih ada pekerjaan penting di sini. Daddy, katakan saja sekarang."

"Tidak bisa, ini soal keluarga. Sesuatu yang sangat penting, hanya bisa dibicarakan secara langsung." Suara Nathan terdengar lebih serius kali ini.

Keheningan singkat melingkupi percakapan itu. Arvelio menyesap kopinya perlahan, lalu menghela napas panjang.

"Baiklah. Aku akan kembali malam ini," jawab Arvelio mematikan telfonnya, lalu mengirim pesan pada salah satu bodyguard untuk menyiapkan Jet untuknya.

Mansion Alberto, Los Angeles

Mansion Alberto berdiri megah di atas tanah luas yang di kelilingi taman luas, dan indah. Bangunan bergaya klasik dengan pilar-pilar tinggi serta kaca-kaca besar itu tampak dingin namun anggun. Malam itu, ruangan utama mansion dipenuhi oleh kehangatan dari perapian besar yang menyala.

Di dalam ruangan, keluarga Alberto telah berkumpul. Nathan duduk di sofa utama bersama Krystal, istrinya. Di sisi lain, Edgar, kepala keluarga, duduk dengan tongkat kayunya yang ia genggam erat. Arcilla, sang abuela, tampak sibuk memperhatikan kuku jarinya, mencoba menghindari pembicaraan yang akan terjadi.

Pintu besar ruang keluarga terbuka, menampilkan sosok Arvelio yang baru saja tiba. Tubuhnya dibalut mantel panjang, dan raut wajahnya penuh dengan pertanyaan.

"Aku sudah di sini," kata Arvelio sambil melepaskan mantelnya ke pelayan. "Sekarang katakan, apa yang begitu penting, hingga daddy menyuruhku kembali saat ini, padahal aku masih punya pekerjaan penting di sana."

Nathan melirik Edgar, memberi isyarat agar sang daddy yang menjelaskan. Edgar mengangguk, lalu mengambil sebuah dokumen tebal dari meja kecil di depannya.

"Ini," kata Edgar sambil menyerahkan dokumen itu kepada Arvelio.

Dengan kening berkerut, Arvelio membuka halaman pertama. Matanya menelusuri setiap tulisan di sana dengan tatapan bertanya-tanya, sementara ruangan kembali sunyi.

"Perjodohan?" Arvelio akhirnya berbicara, nadanya rendah namun penuh tekanan.

Tatapannya berubah menjadi tajam, wajahnya semakin datar.

Krystal, yang sejak tadi diam, akhirnya ikut angkat bicara. "Ini bukan perjodohan biasa, nak. Ini adalah wasiat dari kakek buyutmu."

"Wasiat?" Arvelio mengulang dengan nada skeptis. Ia menatap Edgar, menuntut penjelasan lebih lanjut.

Edgar mendesah pelan, lalu berkata. "Ini adalah janji antara kakek buyutmu dengan Lucanno Waverly sahabatnya. Mereka bersepakat untuk menyatukan keluarga kita melalui pernikahan, sebagai simbol persaudaraan."

Mendengar nama itu, ekspresi Arvelio berubah. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Waverly?" gumam Arvelio. "Keluarga itu masih ada hubungan dengan kita? Bukankah, mereka musuh keluarga kita?"

Nathan segera menanggapi. "Sebenarnya, hubungan kita dengan mereka retak karena kesalahpahaman di masa lalu. Tapi, perjodohan ini adalah cara untuk memperbaiki semua itu."

Edgar ikut menimpali. "Dan hal itu terjadi karena kebodohanmu."

Alis Arvelio berkerut bingung. "Jelaskan secara rinci!" titahnya dingin.

Nathan menghela nafas. "Ini kesalahan daddy. Dulu, daddy dan Leonard Waverly membangun sebuah proyek bersama, namun saat itu ada musuh yang mengirim video pada daddy."

Nathan menjeda sebantar, lalu melanjutkan. "Dalam video itu, Leon terlihat memerintahkan seseorang untuk membunuh daddy,"

"Daddy langsung percaya dengan isi video itu tanpa rasa curiga sama sekali, daddy begitu marah sampai akhirnya daddy nekat mendatangi Perusahaan Waverly, dan daddy menembak Leon," jelas Nathan.

"Tapi, saat itu Alexa datang menghalau tubuh Leon, jadi dia yang terkena tembakan," sambung Nathan.

Menghela nafas. "Leon merasa kecewa pada daddy, dia sudah menjelaskan bahwa tidak mungkin dia melakukan penghianatan. Tapi, daddy tidak percaya hal itu," tambah Nathan.

"Leon memberikan daddy rekaman suara, dalam rekaman itu adalah suara daddy yang mengatakan bahwa daddy berencana melakukan pembunuhan pada Leon dan keluarganya," lanjut Natha.

Terkekeh miris. "Dari situ, daddy baru sadar jika ada seseorang yang sengaja membuat kami berselisih paham. Setelah kejadian itu, daddy terlalu malu untuk bertemu Leon, justru Leon yang menemui daddy dan mengatakan bahwa kita adalah keluarga, jadi tidak perlu bermusuhan terlalu lama," jelas Nathan.

Menatap Arvelio. "Kamu tenang saja kami semua berhubungan baik, dan perjodohan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan keluarga kita." Nathan tersenyum pada putranya.

"Ini foto gadis yang akan dijodohkan denganmu," ucap Krystal.

Edgar menambahkan. "Dan nama gadis itu adalah Aileen Sheilanna Varisha Waverly."

Mendengar nama itu, tubuh Arvelio seolah membeku. Ia mengenal nama itu. Bahkan, dia mengenal pemilik nama itu dengan sangat baik.

Perasaan Arvelio campur aduk, antara bahagia, dan bingung harus bersikap bagaimana?

Apa Sheila tau soal ini?

Apa itu artinya aku dan Sheila bisa bersama? Tanpa berpikir resiko yang akan terjadi soal hubungan mereka.

Pikiran Arvelio melayang memikirkan sesuatu yang mengjanggal pikirannya selama beberapa hari ini.

Sheila adalah gadis cantik yang selalu menghiasi pikirannya sejak kecil. Ia adalah gadis yang pernah ia temui dalam sebuah pertemuan keluarga bertahun-tahun lalu, sosok kecil dengan senyum manis dan mata indah yang memancarkan kepolosan.

Walau Arvelio terus mencari tau soal Sheila sejak dulu, tapi dia tidak pernah berhasil menemukan gadis kecilnya.

Hubungan mereka tak berhenti di sana. Dua tahun lalu, Sheila menyelamatkan nyawanya dengan mendonorkan darahnya yang langka, sesuatu yang selalu ia syukuri. Dengan golongan darah Rh-null yang hampir mustahil ditemukan, Sheila adalah malaikat penyelamatnya.

Arvelio baru mengetahui fakta itu beberapa hari yang lalu, membuatnya semakin enggan melepas Sheila.

Hal yang paling penting, Arvelio beberapa hari lalu baru saja menyatakan cinta pada Sheila, walau Sheila selalu mengacuhkan dan menghidarinya, karna pemasalahan keluarga yang dia ketahui membuat hubungannya dengan Sheila menjadi rumit.

Namun, Arvelio tidak pernah lelah untuk meluluhkan Sheila.

Kini, mendengar bahwa Sheila adalah tunangannya membuat Arvelio terdiam, sekaligus bahagia. Tetapi di balik keheningannya, sebuah rencana yang mulai terbentuk di kepalanya.

"Dia gadis kecilku," gumam Arvelio disertai senyum tipis melihat foto Sheila.

"Aku menerimanya." ucap Arvelio dengan tegas.

Kata-kata itu mengejutkan semua orang di ruangan itu.

Nathan menatap putranya dengan kening berkerut. "Kamu serius menerima perjodohan ini?" mencoba menyakinkan keputusan putranya.

"Ya," jawab Arvelio tanpa ragu.

Jawaban itu mengejutkan semua orang di ruangan itu. Bahkan Edgar, yang biasanya sulit terkejut, mengangkat alis.

"Kenapa?" tanya Krystal, penuh rasa ingin tahu.

Sebuah senyum kecil muncul di wajah Arvelio. "Karena aku mencintainya," ucapnya lembut.

Mereka saling tatap dengan heran. "Kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Nathan. Arvelio segera mengangguk.

Flashback End

***

Malam itu, Arvelio berdiri di balkon kamarnya, memandang langit malam LA yang penuh bintang. Angin malam menyapu wajahnya, tapi pikirannya sibuk dengan satu nama yaitu: Sheila.

Arvelio sudah memberi tahu Sheila bahwa dia dijodohkan, tetapi sengaja menyembunyikan fakta bahwa gadis yang dimaksud adalah dia sendiri.

"Aku ingin tahu perasaannya yang sebenarnya," bisik Arvelio pada dirinya sendiri. "Aku ingin Ai memilihku karena cinta, bukan karena kewajiban."

Tak taukah Arvelio, bahwa dampak ucapannya tadi siang mampu membuat Sheila galau merana.

Buktinya, saat ini Sheila sedang berada di basecamp miliknya di temani berbagai macam minuman.

Sheila duduk di depan cermin kamarnya, menatap pantulan wajahnya yang sembab. Matanya bengkak karena menangis, dan pikirannya terus dipenuhi oleh satu kalimat yang diucapkan Arvelio.

"Aku dijodohkan."

Kata-kata itu menghantam hatinya. Sheila mencintai Arvelio, tapi dia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia merasa segalanya telah hancur.

"Kenapa aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak mungkin kumiliki?" bisik Sheila pelan.

Air matanya mengalir deras, tanpa ia tahu bahwa tunangan Arvelio adalah dirinya sendiri.

Sebuah ketukan dari luar membuat lamunan Sheila buyar, dia segara menghapus air matanya, dan mengambil remot untuk membuka pintu.

"Gila! Kau minum sendiri tanpa mengajak kami, wah parah." cetus Leona, geleng-geleng kepala melihat banyak kaleng, dan botol minuman yang berserakan di dalam kamar Sheila.

"Duduklah!" ucap Sheila, kembali meneguk isi kaleng yang ada di tangannya.

Irene memicingkan mata pada Sheila, lalu bertanya. "Kau ada masalah?"

"Apa wajahku seperti ada masalah?" Sheila bertanya balik.

Ketiga sahabatnya dengan kompak menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Tidak ada," jawab Sheila singkat.

"Benarkah? Lalu, kenapa matamu sembab seperti itu? Kau habis nangis, kan?" tanya Grace.

"Ooh, aku menangis karna menonton drama 'Crash Landing On You', aku sedih melihat perpisahan di Jembatan, bagian episode terakhir saat Yoon Se-ri dan Kapten Ri Jeong-hyeok harus berpisah di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan," jelas Sheila.

"Adegan mereka benar-benar menyayat hati, aku terlalu menghayati menontonnya makanya mataku sembab." sambung Sheila terkekeh kecil.

"Dan hebatnya kisah mereka hampir mirip dengan yang kualami saat ini." batin Sheila tersenyum miris.

"Tapi, setidaknya mereka bersama kembali. Sedangkan aku, hal itu tak mungkin terjadi." batin Sheila.

"Aku pikir di dunia modern ini sudah tidak ada lagi perjodohan, nyatanya ternyata masih ada, aaakkhh... Kenapa aku harus di jodohkan sama si playboy itu, huh! Menyebalkan." teriak Leona kesal.

Sheila tersentak samar mendengar ucapan Leona, ingatannya kembali berputar siang tadi, ia menghela nafas.

"Lebih parah aku, karna aku di jodohkan dengan mantanku sendiri," ujar Irene, terkekeh.

Sheila menatap ketiga sahabatnya dengan alis berkerut. "Jangan bilang kau juga di jodohkan?" menatap Grace.

"Iya, apa kau mau tau siapa orang yang dijodohkan denganku?" tanya Grace.

"Siapa?" Sheila menatap Grace dengan penasaran.

"Jayden, sahabat Arvelio," jawab Grace nada bicara tak semangat.

"Ck, kau masih mending Jayden. Walau dia kulkas 10 pintu, tapi setidaknya dia tidak playboy. Lah, aku masa sama Reyhan si manusia playboy cap babi itu." sahut Leona, kesal, bahkan tangannya mengepal erat.

Sheila cukup terkejut mendengar ucapan ketiga sahabatnya. "Kenneth?" menatap Irene.

Irene mengangguk. "Ayo kita kabur!" ajaknya. "Aku tidak mau bersama dengannya, lagi. Aku masih ingat penghianatannya dulu."

"Jangan bertingkah aneh, keluarga kalian bisa kecewa," peringat Sheila.

"Tapi....." ucapan Irene terpotong.

"Cari tau soal kebenaran kejadian tahun lalu, bisa saja apa yang dikatakan oleh Kenneth memang benar, jika dirinya memang dijebak," potong Sheila.

Irene terdiam mendengar hal itu, ia menatap Sheila. "Apa harus?"

Sheila mengangguk. "Listen, tidak semua hal yang kita lihat itu benar. Terkadang, ada sesuatu yang kita anggap benar nyatanya belum 100% akurat. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang kita anggap salah belum tentu sepenuhnya salah," ucapnya.

"Makanya, kau harus cari tau dulu, atau dengarkan penjelasan Kenneth secara langsung," sambung Sheila.

"Seperti sebuah buku 'Jangan menilai buku dari sampulnya', maknanya adalah kita tidak boleh langsung menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan, melainkan perlu mencari tahu lebih dalam untuk memastikan kebenarannya." jelas Sheila.

Mereka bertiga terdiam mendengar pernyataan Sheila.

Sheila, Irene, Grace, dan Leona melanjutkan party dadakan mereka hingga larut malam.

***

Keesokan Harinya

Mansion Alberto, setelah sarapan mereka semua berkumpul di ruang keluarga, suasana di sana begitu hening, hanya ada suara dentingan jam dan tv terdengar.

Arvelio akhirnya angkat bicara. "Kapan kita akan menemui keluarga Waverly?" tanyanya.

Nathan mengernyit. "Kamu yakin ingin langsung menemui mereka? Sheila bahkan belum tahu bahwa dia adalah calon tunanganmu."

Arvelio tersenyum kecil. "Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku dijodohkan."

Krystal hampir menjatuhkan gelas di tangannya. "Kamu memberitahunya? Apa yang kamu katakan?"

"Tidak semuanya," jawab Arvelio terlihat santai. "Aku sengaja membuatnya berpikir bahwa aku memang dijodohkan dengan orang lain."

Edgar tertawa kecil. "Jadi, kamu ingin melihat reaksinya?"

Arvelio mengangguk. "Jadi kapan kita ke sana?" tanyanya, lagi.

"Daddy bicarakan hal ini dengan Leon dulu, kemarin dia bilang jika belum mengatakan apa-apa pada Sheila," sahut Nathan.

"Bagaimana jika daddy katakan saja, jika malam ini kita adakan pertunangan antara aku dan Sheila," ucap Arvelio.

"Kau yakin?" tanya Nathan, memastikan keputusan Arvelio.

"Sangat yakin! Jika bisa, aku ingin mengadakan acara pernikahan secepatnya," tegas Arvelio.

"Wah, sepertinya kau sangat ingin melakukan hal itu sampai buru-buru sekali," goda Alzian pada adiknya.

Semua anggota keluarga terkekeh mendengar ucapan Alzian.

Arvelio mendengus kesal. "Aku tidak memiliki otak mesum sama sepertimu, sengaja menjebak kakak ipar agar pernikahan kalian dipercepat," ucapnya tersenyum miring.

Alzian berdecak mendengar ucapan Arvelio, dia melirik sinis adiknya.

Basecamp, Sheila lebih dulu terbangun, karna silau cahaya matahari yang memasuki sela-sela jendela kamarnya.

"Ssssttt..." Sheila meringis memegang kepalanya yang terasa pening karna banyak minum.

Ponselnya berbunyi, membuat Sheila melirik sekilas, melihat nama yang tertera di sana, Sheila segera mengangkat panggilan itu.

"Iya, Dad," jawab Sheila.

"Kamu di mana? Kenapa tidak pulang?" tanya Nathan.

"Aku lagi di Basecamp, dad. Ada apa?" tanya Sheila.

"Daddy jemput sekarang, ada hal penting yang ingin daddy bicarakan," sahut Nathan.

"Tidak perlu, dad. Aku akan pulang sendiri," jawab Sheila, mematikan sambungan telfonnya sebelum mendengar jawaban Nathan.

Sheila segera ke kamar mandi, dia harus segera menghilangkan semua sisa-sisa aroma alkohol pada tubuhnya.

***

Vrooom! Vrooom!

Suara deruman mobil Sheila memasuki halaman Mansion mewah miliknya terdengar, dia turun dari mobil.

Sekali lagi, Sheila menyemprotkan parfum pada tubuhnya, dia juga menyemprotkan mouth spray pada mulutnya.

Sheila berhenti di hadapan salah satu bodyguard wanita yang ada di sana. "Apa tubuhku berbau alkohol?" bisiknya.

Bodyguard itu mengendus. "Tidak, Nona. Justru, sangat wangi." jawabnya.

Sheila mengangguk lalu berjalan masuk.

Sebanarnya, keluarga Sheila tidak masalah jika dia minum, hanya saja Sheila jarang melakukan hal itu kecuali jika ada masalah.

Jika keluarganya tau dirinya minum, maka pasti mereka akan banyak bertanya.

Sheila tidak ingin hal itu terjadi, Sheila tidak ingin mengingat kembali kejadian yang menyesakkan itu.

"Yuuuhuuu... Princess datang, mana red carpetnya." teriak Sheila memasuki ruangan keluarga Mansion tersebut.

Karna teriakan Tuan Putri itu, berhasil membuat semua pelayan yang ada di sana menyebar dan benar menggelar karpet merah dipijakan kaki Sheila.

Sheila menggaruk hidungnya. "Astaga, padahal tadi aku hanya bercanda," lirihnya, ia kembali melajutkan langkahnya.

"Loh, kalian di sini?" tanya Sheila, menatap kedua kakak dan kakak iparnya.

Aurora, dan Agatha, berdiri memeluk Sheila.

"Tubuhmu wangi sekali, kau mandi parfum?" tanya Agatha, menatap Sheila dengan heran karna tak biasanya adik iparnya itu memakai mewangian yang menyengat seperti itu.

Sheina menggaruk tengkuknya. "Terlalu wangi, yah. Apa kakak pusing? Ini parfum buatan baruku, aku hanya mencobanya tadi. Tapi, botolnya pecah jadi aku meggunakan bajuku untuk membersihkan sisa tumpahannya agar tidak terbuang sia-sia," ucapnya, nyengir.

Semuanya menggeleng mendengar ucapan Sheila.

"Ish, kamu ini ada-ada saja," sahut Aurora.

"Halo, boy apa kabar?" tanya Sheila, menunduk di hadapan Aurora dan Agatha mengusap perut ke dua kakak iparnya.

"Kenapa kamu selalu memanggilnya, boy? Padahal kakak belum usg, loh," ujar Aurora.

"Entahlah! Aku rasa mereka berdua cowok," balas Sheila. "Oh, lihat mereka menendangku, artinya mereka membenarkan ucapanku," tersenyum bangga.

"What? Mereka menendang? Kok, bisa?" pekik Zean dan Zein.

Sheila mengangkat alis, menatap kedua kakak kembarnya. "Kenapa kakak begitu terkejut? Seperti ini baru pertama kali mereka menendang saja."

"Memang ini yang pertama," jawab Aurora, dan Agatha kompak.

"Seriously? Artinya aku yang pertama, dong? Yes, wleee... Kalian kalah," ucap Sheila mengejek kedua kakaknya.

Zean, dan Zein hanya bisa mendengus melihat sikap adik kesayangannya.

"Oh iya, daddy mau bicara apa?" tanya Sheila.

Mereka semua tiba-tiba terdiam mendengar jawaban Sheila.

"Sayang, sini duduk dekat granny," panggil Maira.

Sheila berjalan mendekat ke arah Maira. "Jadi?"

Edrick menghela nafas, dia memberi kode melalui mata pada Leonard, paham maksud ayahnya.

Leonard segera memberikan Sheila dokumen, gadis itu menerima dengan alis berkerut dalam, tapi tetap mengambil berkas tersebut.

"Apa ini?" tanya Sheila.

"Kamu baca sendiri, sayang," ucap Maira, mengusap kepala cucunya dengan lembut.

Sheila menunduk membaca isi berkas itu, wajahnya terlihat sangat serius.

Setelah beberapa saat, Sheila mengangkat kepala dan berkata. "Aku menerima perjodohannya," nada tegas.

"Kamu serius?" tanya Leonard, memastikan.

Sheila tersenyum tipis. "Why not? Ini adalah permintaan terakhir grandpa buyut, bukan?" ucapnya.

"Jika kamu mau menolak, katakan saja sayang," ucap Alexa, mengusap tangan putrinya.

"Tidak, mom. Aku serius menerimanya. Lagi pula, aku yakin pilihan grandpa buyut tidak pernah salah," jawab Sheila dengan nada serius.

"Syukurlah, jika begitu. Malam ini, pihak keluarga mereka ingin mengadakan pertunangan, kamu tidak masalah, kan?" tanya Leonard.

"Tidak, dad. Atur saja, aku ikut keputusan yang terbaik," jawab Sheila.

Leonard mengusap kepala Sheila. "Daddy akan mengatakan hal ini pada mereka, kalau begitu," berjalan keluar ruangan untuk menelfon Nathan.

"Hoooam!" Sheila menguap.

"Kamu begadang?" tanya Alexa.

Sheila tersenyum lebar. "Semalam kami mengadakan party kecil-kecil'an, mom," ucapnya.

Alexa geleng-geleng. "Dasar," mencubit hidung Sheila gemas.

"Aku pamit ke kamar, nanti bangunkan aku. Acara malam, kan?" ucap Sheila.

"Iya, kamu istirahat saja dulu," sahut Maira.

Sheila berjalan ke arah kamarnya. "Ai," panggil Maira.

"Iya, granny," jawab Sheila, menoleh.

"Ini dokumen calon tunangan kamu. Di dalam sini juga ada fotonya," ucap Maira, memberikan berkas warna biru pada Sheila.

Sheila mendorong kembali berkas itu. "Nggak usah, granny. Nanti malam juga aku bertemu dengannya, jadi liat wajahnya nanti aja. Itung-itung buat aku penasaran, gitu." ucapnya dengan nada bercanda.

"Bye-bye, aku mau bobo cantik dulu." ujar Sheila, berlari kecil ke arah lift menuju lantai tiga.

Brak!

Sesampainya dalam kamar, Sheila menjatuhkan dirinya di tempat tidur.

Gadis itu tiba-tiba tertawa memikirkan semua kejadian yang dia alami saat ini.

"Kemarin aku mendengar dia dijodohkan, semalam para curut juga bernasib sama, dan sekarang aku. Hah! Apa ini memang zaman perjodohan?" guman Sheila.

Apa aku bisa menjalini pernikahanku, nanti?

Sedangkan hatiku sudah menjadi milik orang lain, yang seharusnya tidak aku cintai.

Kenapa takdirku seperti ini?

Apa karna aku memiliki hobi berburu, makanya ini adalah hukuman untukku?

Sheila menyentuh bibirnya, ingatannya terbayang kejadian saat dirinya ciuman dengan Arvelio.

Aish! Sheila mengacak rambutnya frustasi.

Hah! Lupakan bodoh! Sebentar lagi kau akan bertunangan.

Sheila memejamkan mata, air matanya tiba-tiba mengalir. "Sakit!" lirihnya, menyentuh dadanya yang kembali terasa sesak.

Sheila membenamkan wajahnya dibantal untuk meredam tangisannya.

"Nana, aku lelah. Gantikan posisiku, aku nggak kuat." lirih Sheila, setalah itu dia menutup mata.

Arvelio sedang duduk dibalkon kamarnya, dengan senyuman yang merekah sepanjang waktu.

Rasanya, hari ini adalah hari yang paling bahagia baginya. Karna tidak kurang dari 24 jam, dia dan Sheila akan memiliki ikatan.

"Aku tidak sabar bertemu dengannya, i miss you, Ai." ucap Arvelio, mengcium foto Sheila.

Tak terasa waktu berlalu, malam pun tiba.

"Hmm" Sheila berguman dari tidurnya. Hoam! Gadis itu bangun duduk, dan bersandar pada headboard.

"Aku terbangun setelah sekian lama," ucap Sheila, menatap ke sekililing kamarnya dengan senyuman cerah.

Sheila mengambil catatan yang ada di atas nakas.

"Malam ini kau akan bertunangan dengan cucu sahabat mendiang kakek buyut." tulisan di note tersebut.

"Apa karna ini Lala menyuruhku mengambil alih tubuhnya? Ck, kau memberiku tugas yang berat jika begini, bocah." gerutu Sheila.

Ketukan pintu membuat Sheila mengalihkan pandangannya ke arah pintu, ia meraih remot dan menekannya.

"Sayang, sebaiknya kamu bersiap sekarang, mommy bantu," ucap Alexa.

"Mom," panggil Sheila.

Alexa terkejut melihat putrinya. "Nana?" tanyanya.

Sheila tersenyum, dia turun dari tempat tidur. "Aku sangat merindukan mommy," ucapnya, memeluk Alexa.

Terpopuler

Comments

전정국😕😐💜

전정국😕😐💜

Next Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂✨

2024-09-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!