Perlahan tangan Sheila terangkat untuk membalas pelukan Arvelio.
Jujur, Sheila merasakan kehangatan berada dalam pelukan Arvelio.
Arvelio tersenyum mendapat balasan, dia semakin mengeratkan pelukannya, sesekali dia mengecup kepala Sheila.
Setelah beberapa saat, Sheila tersadar dengan apa yang dilakukannya, dia mendorong tubuh Arvelio.
"Ai." tegur Arvelio, menatap Sheila dengan tatapan bingung.
Sheila tidak menjawab, dia berbalik ingin masuk ke dalam Apartment, Arvelio menahan lengan Sheila.
"Pergilah!" usir Sheila, tanpa menoleh.
Arvelio menghela nafas, dia memegang pundak Sheila untuk melihat ke arahnya.
Sheila melihat ke arah lain, dia enggan untuk melihat ke arah Arvelio.
Arvelio meraih tangan Sheila, dan mengarahkannya ke bagian dadanya.
Deg! Deg! Deg!
Sheila tertegun merasakan detak jantung Arvelio begitu cepat.
"Apa kamu merasakannya?" tanya Arvelio.
Arvelio terdiam beberapa saat, lalu kembali berkata. "Ini pertama kali buat aku, Ai. Hanya kamu penyebab jantungku berdetak melebihi batas normal seperti ini."
Pernyataan Arvelio mampu membuat Sheila menoleh ke arahnya, Arvelio tersenyum tipis.
"You are a dangerous girl!" Arvelio menatap Sheila dengan tatapan dalam, lalu melanjutkan ucapannya. "Karna berhasil membuat pertahanan aku runtuh dalam waktu sekejap."
(Kamu adalah gadis yang berbahaya)
"...." Sheila terdiam, dia bingung harus berkata apa? Pikirannya berkecamuk.
Jika boleh jujur, dia juga merasakan hal yang sama seperti Arvelio.
Namun, Sheila memikirkan resiko yang akan terjadi jika keluarganya mengetahui hubungannya dengan Arvelio.
Sheila tidak ingin membuat keluarganya kecewa, walau harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Melihat keterdiaman Sheila, Arvelio menyentuh dagu Sheila, dia mulai memajukan wajahnya, saat wajah ke duanya hanya beberapa centi saja.
Sheila mengalihkan pandangannya, dia bahkan melepas pegangan Arvelio di pundaknya.
Berbalik. "Jangan pernah menemuiku!" peringat Sheila dengan tajam.
Sebelum Sheila berhasil menutup pintu, Arvelio menahannya dan berkata. "Kamu tidak memiliki hak untuk melarangku. Aku memiliki prinsip, larangan adalah perintah!"
Setelah mengatakan hal itu, Arvelio berjalan ke arah lift.
Sheila mematung di tempatnya, dia masih mencerna ucapan Arvelio.
Hah! Sheila menghela nafas kasar.
Kenapa Arvelio sangat keras kepala?
Apa aku harus pindah Sekolah? Agar tidak bertemu dengannya.
Sheila mengambil hpnya, dia terus menatap ponsel yang ada di tangannya.
"Daddy pasti akan mempertanyakan kenapa aku mau pindah, padahal aku baru masuk." lirih Sheila.
Dia melempar ponselnya, dan mengacak rambut. "Aaarrgghh..." teriak Sheila kesal.
***
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah satu minggu setelah kejadian di Apartment Sheila saat itu.
Selama satu minggu ini, Sheila terus menghindari Arvelio dengan berbagai cara.
Sheila sengaja melakukan hal itu agar perasaannya terhadap Arvelio tidak berkembang.
Seperti sekarang, Sheila sengaja untuk datang terlambat karna dia tidak ingin bertemu Arvelio.
Arvelio sering menunggunya di tempat parkir setiap hari.
Walau sering diacuhkan oleh Sheila, tidak membuat Arvelio menyerah. Justru, Arvelio merasa itu adalah ujian awal untuknya untuk mendapatkan Sheila.
Arvelio melakukan segala sesuatu untuk membuat Sheila luluh.
Keinginan Arvelio begitu teguh untuk mendekati Sheila!
Bahkan tiap hari Arvelio mengirimkan buket bunga, coklat, boneka, dan hadiah lainnya buat Sheila untuk meluluhkan gadis itu.
"Sial! Kita terlambat." umpat Leona. "Jadi?" menatap ke tiga sahabatnya.
"Kita lewat belakang." ajak Irene, berjalan cepat ke arah belakang.
Berbeda dengan ke tiga sahabatnya yang terlihat buru-buru, Sheila malah berjalan dengan santai sambil memakan permen lollipop.
Grace menghentikan langkahnya. "Sheila, ayo cepat! Kita udah telat, loh." ucapnya.
"Hmm." Sheila kemudian mempercepat langkahnya, karna tidak ingin mendapat omelan maut dari Grace.
Saat mereka sampai di depan pagar, tiba-tiba suara motor membuat perhatian mereka teralihkan.
"Sh*t!" umpat Sheila kesal melihat Arvelio yang turun dari motornya, dan berjalan ke arahnya.
Oh my gosh! Apa-apaan ini, dia sengaja datang telat agar tidak bertemu dengan Arvelio. Justru, takdir berkata lain dan malah membuat mereka bertemu sekarang.
Sheila menghela nafas kasar, bersamaan Arvelio sudah berdiri tepat di sebelahnya.
Arvelio menunduk sedikit, menyamakan tinggi badannya dengan Sheila. "Good morning, baby." bisiknya, tersenyum simpul.
Sheila ingin bergeser, tapi Arvelio lebih dulu merangkul pinggang Sheila.
Menatap tajam. "Lepas!" titah Sheila.
"Nggak!" tegas Arvelio.
"Kyaaakkk!" Sheila terkejut saat tubuhnya melayang di udara.
Arvelio berjalan ke arah pintu khusus di sana, sambil menggendong Sheila.
Sheila berontak dan berkata. "Turunkan aku, bodoh!" menatap tajam Arvelio.
Arvelio menatap Sheila dengan datar, Sheila refleks meneguk ludah melihat tatapan itu.
"Diam! Atau aku cium!" peringat Arvelio dengan tajam.
Sheila seketika ciut, dia menyembunyikan kepalanya di dada Arvelio, tidak berani menatap Arvelio.
Arvelio tersenyum geli melihat Sheila, kemudian dia melajutkan langkah kakinya.
***
"Khmmm!" Leona berdehem keras.
Grace mengangkat alis. "Batuk? Minum racun." ucapnya santai, memberikan botol racun buatannya untuk Leona.
"Ck, dasar Queen racun." kesal Leona, namun tetap mengambil botol itu. "Berapa menit?" mengangkat botolnya.
Grace yang paham maksud Leona. "20 menit."
"Baru?" tanya Irene, lalu mengulurkan tangannya. "Untukku mana?"
Grace memutar bola mata malas, dan menjawab. "Hmm aku baru membuatnya." Memberikan satu botol pada Irene.
"Kau mau juga?" tanya Grace menatap Sheila.
Sheila hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Sebenarnya aku penasaran dengan hubunganmu dan Arvel, kalian pacaran?" tanya Leona.
"Tidak!" tegas Sheila.
"Masa, sih?" Grace ikut bertanya.
Sheila berdecak. "Kami memang tidak memiliki hubungan apa pun." jawabnya.
"Tapi, kenapa Arvelio sering memberikan hadiah untukmu? Dia juga begitu perhatian, bahkan aku dengar, Arvelio menghukum para cabe-cabe'an itu agar tidak menganggumu lagi." ujar Leona.
"Bahkan, sampai sekarang mereka belum masuk Sekolah, yang aku dengar Arvelio membuat mereka terluka cukup parah setelah kejadian kau disiram waktu itu." sambung Grace.
"Benarkah?" tanya Sheila, alis berkerut mendengar ucapan Leona, dan Grace.
"Kau tidak tau?" tanya Irene.
Sheila menggeleng. "Tidak, kapan kejadiannya?" tanyanya.
"Entahlah! Ada yang bilang, jika kejadiannya tepat saat kau disiram saat itu." jawab Leona.
Sheina terdiam, dia selama beberapa hari ini memang tidak melihat Claudia dan gengnya.
Jadi, itu karna ulah Arvelio?
Selama beberapa hari ini, Sheila sibuk memikirkan cara menghindar dari Arvelio sampai dia lupa soal kejadian dirinya kena siram oleh Claudia.
Irene menepuk pundak Sheila. "Menurutku, Arvelio serius. Jadi, kenapa kau tidak mencoba memberikan kesempatan untuknya?"
Apa dia harus memberikan Arvelio kesempatan?
Apa tidak masalah, jika dia dan Arvelio menjalin hubungan?
Bagaimana dengan keluarganya?
Hah! Sheila menghela nafas kasar, Sheila memijit pelipisnya yang terasa pening memikirkan semua itu.
Tak jauh dari tempat Sheila, Arvelio mengawasi gadis itu.
Arvelio terus menatap Sheila dengan tatapan sulit di artikan.
Dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Sheila, dan Arvelio tidak akan mundur apa pun yang terjadi.
Arvelio sudah menyiapkan diri untuk semua resiko yang akan dia hadapi ke depannya, selama Sheila berada di sisinya, maka itu sudah cukup baginya.
Walau, dia harus menentang keluarganya sendiri.
Arvelio juga masih mencari tau soal masalah antara keluarga Waverly dan Alberto.
Tapi, pencariannya selama beberapa hari ini belum mendapatkan hasil apa pun mengenai alasan dibalik permusuhan ke dua keluarga itu.
Arvelio hanya berharap, akan ada jalan untuk dirinya bisa bersama Sheila.
Arvelio kembali masuk ke dalam ruangannya, Sheila menoleh, dia melihat punggung Arvelio.
"Dia? Sejak kapan dia di sana?" batin Sheila.
Sheila menatap ke arah langit. "Katakan apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengikuti kata hatiku? Atau menghilangkan perasaan yang mulai tumbuh ini?" batinnya.
Sungguh! Sheila merasa dilema dengan situasinya saat ini.
***
Vroom!
Vroom!
Suara deruman motor mendekat ke arah Sheila, hal itu membuat Sheila menoleh dan melihat siapa yang datang.
Sheila tertegun, saat melihat siapa pemilik motor itu.
"Ada apa? Apa motormu mogok?" tanya Arvelio.
Ya, ternyata orang yang Sheila lihat adalah Arvelio, Sheila masih mematung di tempatnya.
Melihat hal itu, Arvelio turun dari motor, mendekat ke arah Sheila. "Hey?" menepuk pelan pundak Sheila.
"Eh!" Sheila terkejut melihat Arvelio sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Arvelio.
"Kau dari mana saja? Kenapa beberapa hari ini tidak pernah masuk sekolah? Apa kau sakit?" tanya Sheila beruntun.
Arvelio tersenyum tipis, dia menunduk menyamakan posisi wajahnya tepat di hadapan wajah Sheila. "Apa kamu merindukanku, hm?"
Sheila mundur, dia merutuki dirinya sendiri setalah sadar dengan ucapannya, lalu menjawab. "Tidak!"
Bohong! Itulah kata yang pas untuk Sheila.
Yah, dia sebenarnya merindukan Arvelio. Selama Arvelio tidak masuk, Sheila merasa kehilangan.
Tapi, gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui hal itu.
"Benarkah?" Arvelio bertanya, dia menelisik wajah Sheila untuk mencari kebenaran di mata gadis itu.
Sheila mengalihkan pandangannya.
Arvelio kembali berdiri tegak, dia memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana.
Sheila meilirik Arvelio. "Keren!" memuji penampilan Arvelio dalam hati.
Saat ini penampilan Arvelio hanya menggunakan baju kaos putih, dengan celana jeans warna hitam, serta jaket kulit yang memiliki logo Dragon Devil's.
Walau penampilan Arvelio terlihat sederhana, tapi mampu membuat semua gadis terpesona ketika melihatnya, termasuk Sheila.
Sheila masih menatap ke arah lain, namun sesekali melirik ke arah Arvelio.
Hal itu membuat Arvelio terkekeh samar, melihat sikap Sheila yang acuh tak acuh. Arvelio kemudian bergerak melangkah ke hadapan Sheila.
"Jika ingin menatapku langsung saja, tak perlu lirik seperti itu, nanti mata kamu...." Arvelio sengaja menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Sheila.
"Apa? Mataku kenapa? Hah?" Sheila mendongak menatap Arvelio, dengan tatapan tajam.
Arvelio membalas tatapan Sheila, Arvelio kemudian mengulurkan tangannya, dan mengusap pipi Sheila menggunakan ibu jarinya dengan lembut.
"Cantik!" Arvelio memuji Sheila.
Damn!
Blush!
Pipi Sheila seketika merona malu mendapat pujian dari Arvelio. Sheila bahkan menunduk karna salting.
Sial!
Bukan cuma pipi Sheila yang berreaksi karna ulah Arvelio, namun jantung Sheila juga berdebar sangat kencang.
Oh tidak! Bagaimana jika Arvelio mendengar detak jantungnya?
Sheila mengigit bibirnya, merasa gugup.
Jangan sampai Arvelio mendengarnya.
Sheila kesal dengan suara detak jantungnya yang semakin kencang, dirinya benar-benar takut Arvelio mendengar hal itu, seperti orang yang baru mencuri sesuatu lantas ketahuan.
Arvelio tersenyum, dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Sheila, tentu Arvelio paham apa yang dirasakan oleh gadis itu saat ini.
"Ayo!" ajak Arvelio menarik tangan Sheila lembut berjalan ke arah motornya.
Sheila tidak menolak, dia seolah terhipnotis oleh perlakuan Arvelio padanya, membuat gadis itu ikut dengan suka rela.
Bahkan, saat Arvelio memasangkan helm padanya, Sheila tetap diam saja.
Setelah selesai memasang helm, Arvelio duduk di atas motornya. "Apa aku perlu menggendongmu?" ucapnya.
"Tidak perlu, aku bisa naik sendiri." jawab Sheila.
Arvelio mengangguk, dan mengulurkan tangan membantu Sheila naik ke jok motornya.
"Pegangan!" titah Arvelio, Sheila menaruh tangannya di pundak Arvelio.
Arvelio berdecak, dia menarik ke dua tangan Sheila, dan melingkarkannya di bagian perut. "Di sini!"
Sheila ingin menarik tangannya kembali, tapi Arvelio sengaja melajukan motornya dengan kencang sehingga Sheila refleks mengeratkan pelukannya.
Mencubit perut Arvelio. "Yaaakkk! Jika ingin mati jangan mengajakku, aku masih mau hidup." teriak Sheila melalui intercom helm.
"Hmm" Arvelio hanya berdehem, lalu dia kembali menambah kecepatannya.
Sheila secara refleks semakin mengeratkan pelukannya, Arvelio tersenyum.
Inilah yang dia inginkan!
Dasar si paling modus! Memanfaatkan keadaan, dan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
***
Beberapa menit kemudian
Saat ini Arvelio dan Sheila berada di pinggir pantai, mereka duduk di kursi menikmati deburan ombak.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, sejak mereka tiba di sana, baik Arvelio atau Sheila tidak ada yang memulai berbicara.
Mereka berdua seolah menjadi orang bisu dadakan.
Arvelio melirik ke arah Sheila yang memejamkan mata menikmati angin pantai.
"Aku dari Rusia!" ucap Arvelio tiba-tiba memecah keheningan.
Sheila membuka mata, lalu menatap ke arah Arvelio.
Tersenyum tipis. "Apa kamu tidak penasaran dengan kegiatanku selama di sana?" tanya Arvelio.
"Tidak" jawab Sheila.
"Wah, sayang sekali. Padahal aku mau menceritakan semua kegiatanku padamu." ucap Arvelio dengan nada sedih.
"Kalau begitu katakan," ucap Sheila dengan cepat, ia mengalihkan pandangan, dan menepuk mulutnya pelan.
Bodoh! Harusnya, dia tetap diam saja. Aish!
Arvelio terkekeh karna menganggap sikap Sheila lucu.
"Apa ada yang lucu?" ketus Sheila.
"Kamu menggemaskan." sahut Arvelio.
Keadaan kembali hening beberapa saat, sampai akhirnya Arvelio mengatakan sesuatu yang mampu membuat jantung Sheila seolah berhenti berdetak.
"Aku di jodohkan!" kata Arvelio, menatap lurus ke depan.
DEG!
Sheila mematung mendengar ucapan Arvelio, hanya tiga kata, tapi mampu membuat Sheila seolah susah untuk bernafas.
Ada perasaan sesak yang meliputi dadanya saat ini.
Apakah ini adalah akhir cerita mereka? Bahkan, sebelum mereka memulainya.
Sheila tersenyum miris.
Bodoh! Harusnya dia tidak mencintai Arvelio.
Lihat, sekarang dirinya merasakan sakit yang amat luar biasa sebelum memulai.
Yah, Sheila mulai menyakinkan perasaan cintanya saat Arvelio tidak ada. Selama ini, Sheila berusaha menyangkal perasaannya.
Sebenarnya, Sheila berencana untuk mengatakan hal itu pada Arvelio, hanya saja kenyataan yang baru saja ia dengar mampu membuat perasaanya seolah terbang melayang.
Sheila memejamkan mata, dan menarik nafas begitu dalam. "Selamat, semoga kau bahagia," ucapnya dengan senyum dipaksakan.
Arvelio menoleh ke samping, bersamaan Sheila juga berdiri dari tempat duduknya.
"Mau ke mana?" tanya Arvelio, menahan tangan Sheila.
"Jalan-jalan, aku sudah lama tidak ke pantai jadi aku ingin keliling." jawab Sheila, berjalan menjauh dari sana.
Arvelio menatap kepergian Sheila dengan tatapan sulit diartikan.
Sheila melangkah dengan berat, rasanya saat ini kakinya begitu berat untuk melangkah, seolah ada beban ratusan kilo disetiap langkah yang dia ambil.
Perlahan air mata gadis itu luruh dengan sendirinya, tanpa perintah dari pemilik mata indah itu.
Sheila berhenti, dia mengigit bibirnya, Sheila melihat bayangannya pada air laut.
Sheila terkekeh miris melihat keadaanya saat ini.
Sheila merasakan langkah Arvelio mendekat ke arahnya, dia refleks berlari kecil dari sana agar Arvelio tidak melihat bahwa dirinya menangis.
Arvelio berhenti, alisnya berkerut dalam melihat pergerakan Sheila.
Tidak ingin membuat Arvelio curiga, Sheila berbalik sebentar. "Ayo kejar aku!" teriaknya.
Arvelio terkekeh, lalu dia mengejar Sheila.
Selama beberapa saat Arvelio mengejar Sheila, sampai akhirnya, Sheila berhenti karna lelah.
Sheila menjatuhkan dirinya di pinggir pantai.
Arvelio juga ikut baring di sebelah Sheila.
Sheila memejamkan matanya, Arvelio yang melihat hal itu ikut melakukan hal yang sama.
"Ai" panggil Arvelio.
"Hmm" jawab Sheila.
Arvelio memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sheila, dia menyangga kepala dengan satu tangan. Lalu, tangan yang sebelahnya terulur mengusap pipi Sheila dengan lembut.
Sheila masih memejamkan matanya menikmati angin, serta usapan lembut tangan Arvelio.
Mungkin ini adalah momen indah pertama sekaligus terakhir untuk mereka berdua. Jadi nikmatilah! Pikirnya.
Arvelio mencium bibir Sheila sekilas, hal itu mampu membuat Sheila membuka mata.
Tatapan mata mereka bertemu, detak jantung ke duanya seirama.
"Boleh?" tanya Arvelio, mengusap lembut bibir Sheila.
"Cih, kenapa baru izin sekarang! Padahal baru saja kau mencuri first kissku, Tuan Muda." cibir Sheila, melirik sinis Arvelio.
Terkekeh kecil. "Refleks!" sahut Arvelio.
"Bastard!" umpat Sheila.
Bukannya marah, Arvelio malah tersenyum tampan, dan berkata. "Hanya kamu, lagi pula itu juga my first kiss."
Sheila memicingkan mata pada Arvelio, untuk mencari kebenaran ucapannya. Tapi, dia tidak melihat kebohongan di sana.
"Kamu yang pertama dan terakhir untukku." tegas Arvelio.
"...." Sheila terdiam menatap Arvelio, alisnya berkerut bingung.
Apa maksudnya?
Tatapan mata mereka terkunci, perlahan Arvelio mendekatkan wajahnya, dan....
Cup!
Arvelio mulai melumat lembut bibir Sheila, Sheila tidak berontak atau menolak.
Arvelio menarik dagu Sheila dengan pelan untuk memperdalam ciumannya, dia bahkan memiringkan kepala untuk mencari posisi nyaman.
Perlahan Sheila memejamkan mata, mengalungkan tangannya di leher Arvelio. Arvelio tersenyum, lalu ia menyusupkan tanganya di bawah leher Sheila.
Mereka saling membalas, melumat, bertukar saliva satu sama lain.
Sheila membatin. "Apa aku boleh egois? Aku tidak ingin momen ini berakhir."
Lima menit kemudian, Sheila menepuk bahu Arvelio, paham maksud gadisnya, Arvelio segera melepas taunan bibir ke duanya.
Nafas mereka terengah-engah, Arvelio mengusap bibir Sheila dengan lembut.
Sheila menatap Arvelio dengan ragu, Arvelio yang memiliki kepekaan yang tinggi menyadari hal itu. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"
Sheila mengangguk.
"Katakan" ucap Arvelio.
Sheila terdiam beberapa saat. "A-apa kau menerima perjodohan itu?" tanyanya dengan gugup.
Arvelio menatap Sheila dengan intens, dan hal itu membuat perasaan Sheila campur aduk.
"Aku menerimanya." jawab Arvelio.
Duar!
Bak disambar petir di siang bolong, jawaban Arvelio bagaikan sebuah panah yang tepat menancap di dada Sheila.
Sakit tapi tak berdarah! Itulah yang dirasakannya saat ini.
Wajah Sheila berubah pucat pasi, dia dengan susah payah menelah ludahnya, dengan sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak meraung saat ini.
"K....." ucapan Arvelio terpotong karena bunyi ponselnya.
"Angkatlah, siapa tau peting." ucap Sheila tersenyum tipis, dia berusaha sekuatnya menyembunyikan luka yang dialaminya saat ini.
Arvelio ingin mengucapkan sesuatu, namun Sheila lebih dulu bersuara. "Aku mau ke Toilet," ucapnya. Mendorong tubuh Arvelio, lalu berlari menjauh dari sana.
"Aku akan menunggumu di cafe sana," teriak Arvelio, Sheila berbalik sebentar dan mengangguk.
Tubuh Sheila luruh di lantai saat dia sampai dalam toilet, dia menutup mulutnya agar suara tangisannya tak di dengar.
Sheila memukul dadanya yang terasa sesak.
Harusnya, dia tetap menahan diri agar tidak jatuh cinta.
Bodoh! Sheila mengumpati dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian
Arvelio menatap jamnya. "Sudah satu jam, kenapa dia belum kembali juga?" ucapnya.
Arvelio ingin berdiri, dan menyusul Sheila ke toilet, namun pergerakannya terhenti saat mendapat notif pesan masuk dari Sheila.
"Maaf, aku pulang lebih dulu. Urgent!" isi chat dari Sheila.
Arvelio menghubungi nomor Sheila, namun sayang nomor Sheila tidak aktif.
"Urgent? Apa mungkin mereka yang menghubungi Sheila?" ucap Arvelio. "Semoga saja, sebentar lagi baby kita akan bersama." sambungnya tersenyum menatap foto Sheila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
전정국😕😐💜
Lanjut Thor 👍🙂
Semangat 💪🙂
Semoga Harimu Selalu Bahagia 🙂✨🙏😇
2024-09-24
2