Bab 18 Surat cerai

Akmal benar-benar kesal pada Ifa. Ifa tak bisa di ajak damai. Memohon dan minta maaf dengan cara apapun. Keputusan Ifa tetap sama. Ifa meminta pisah.

Mau tak mau, Akmal mengabulkannya. Apalagi, mengingat bagaimana keluarga Ifa. Akmal tak mau cari masalah dengan mereka. Lebih baik menyelamatkan diri saja. Toh, Akmal juga sudah merasakan kemewahan kekayaan Ifa dan juga tubuhnya.

Sungguh picik dan biadab nya pikiran Akmal. Yang hanya ingin enak nya doang. Hidup numpang, di keluarga Ifa. Tidak bertanggung jawab sama sekali.

Laki-laki banci dan bajingan, cocok tersemat di diri Akmal. Laki-laki tak bermoral. Hanya ingin hidup enaknya saja.

Tapi, Ifa merasa lega karena tak ada harta yang Akmal berikan hingga tak ada yang harus di perdebatkan. Karena memang selama ini Akmal tak pernah memberikan apapun pada Ifa. Bahkan, uang mahar pun Ifa kembalikan karena gak mau di tuntut ganti rugi.

Hallo, ganti rugi apanya. Dari awal menikah pun semua biaya di tanggung keluarga Ifa. Akmal hanya tinggal menikmatinya saja. Dasar laki-laki tidak bersyukur, ingin untung nyatanya jadi buntung.

Allah tak akan membiarkan kezaliman itu terus terjadi.

Pada akhirnya, Akmal datang ke kediaman Adam Hawa membawa surat cerai. Akmal tak mau terus mengemis dan merendahkan diri. Jika Ifa ingin cerai maka Akmal akan menceraikannya. Toh, Akmal bisa mencari wanita lain yang jauh lebih cantik dari Ifa.

Yang rugi, Ifa sendiri. Bagaimana pandangan orang memandang Ifa rendah karena statusnya jadi janda. Apalagi pernikahan mereka baru berusia dua bulan lebih.

Tak ada kata maaf yang terucap di bibir Akmal sebagai basa-basi.

Akmal datang mengantarkan surat cerai lalu pergi setelah bicara dengan Abi Farel. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, Akmal terlihat memerah seperti menahan malu.

Belum lagi Harfa menatap sinis, Akmal dan mencibirnya. Membuat Akmal kesal. Walau tidak di hadapan Akmal langsung, Akmal masih tetap mendengarnya.

"Dasar tak tahu, malu. Laki-laki banci."

Cibir Harfa belum puas. Harfa tidak pernah di ajarkan berkata kasar oleh kedua orang tuanya. Tapi, mengingat bagaimana kondisi sang kakak membuat Harfa kesal dan juga benci. Rasanya Harfa ingin menendang dan meninju Akmal agar terpental ke Laut Antartika. Biar membeku di sana dan mati pula hasratnya. Agar tak ada lagi korban seperti Ifa di kemudian hari.

Saking kesalnya, Harfa benar-benar tak bisa menjaga ucapannya.

Sumpah sarapan terus Harfa lontarkan. Seolah belum puas. Sampai suara Harfa menjadi serak sendiri.

Rintik hujan mulai turun, seolah sedang menghapus jejak Akmal. Bahkan jejak kakinya pun seolah alam ingin menghilangkannya.

Sudah cukup puas mengupat, Harfa menatap ke arah ruang keluarga. Tidak mendapati kakak Ifa di sana. Harfa tahu, pasti kakaknya sudah masuk ke dalam kamar. Hanya ada Abi Farel dan ummah Sinta saja di sana.

Terlihat raut kesedihan di wajah kedua orang tuanya. Membuat Harfa tak tega. Harfa pun tak berani mendekat. Di sini pasti Abi Farel dan ummah Sinta yang paling sedih akan ujian yang menimpa kakak Ifa.

Tidak ada yang tahu, jika pada akhirnya jalan kehidupan Ifa harus begitu.

Di dalam kamar, Ifa menatap surat cerai yang di berikan Akmal. Ifa tersenyum getir. Antara sedih dan juga bahagia, Ifa tak tahu. Yang, jelas, hati Ifa merasa lega akan semuanya.

Hari ini, resmi Ifa menyandang status janda. Tidak terlalu buruk. Itu lebih baik dari pada tekanan batinnya rusak.

Ifa tak peduli pandangan orang lain. Yang terpenting, bagi Ifa semua keluarga nya mendukung.

"Ini bukan jalan yang aku inginkan. Tapi, bukan pula jalan yang ingin aku pertahankan. Lebih baik melepas, dari pada bertahan hanya luka yang di dapatkan."

Gumam Ifa menekan dadanya. Meyakinkan diri, jika semua akan baik-baik saja.

Ifa menatap keluar jendela. Tercetak jelas, jejak air hujan yang menelusuri jendela. Membentuk abstrak, mengalir jatuh ke bawah.

Hujan seolah sedang menyelimuti Ifa. Menunjukan jika semua akan baik-baik saja. Jejak langkah dan baunya pun sudah menghilang saat air hujan jatuh. Berganti bau tanah kering yang berubah basah. Dedaunan mengeluarkan harum khas nya.

Ifa tersenyum, mengulurkan tangan. Membiarkan air hujan membasahinya.

"Terimakasih, sudah menjadi perantara kesedihan ku."

Ucap Ifa, hatinya benar-benar merasa lega. Tak ada drama tangis atau apapun. Seolah kesedihan Ifa sudah terwakili oleh air hujan.

Sudah puas berdiri di depan jendela sambil bermain air hujan. Ifa perlahan menutup jendela kamarnya kembali.

Ifa merasa tubuhnya mulai kedinginan. Memilih naik ke atas ranjang menyelimuti diri.

Ifa ingin tidur sejenak, seolah apa yang terjadi pada hidupnya adalah sebuah mimpi buruknya. Ifa berharap ketika bangun, ia kembali pada diri Ifa tiga bulan lalu sebelum menikah.

Ifa benar-benar tertidur pulas. Mencoba menghapus mimpi buruknya dengan mimpi indah.

Ketukan pintu tak membuat Ifa terusik. Ifa malah menarik selimutnya.

Di luar, depan pintu kamar Ifa, Harfa sedang berdiri dengan kening mengerut. Merasa heran kenapa tak ada sahutan dari sang kakak. Takut terjadi sesuatu pada sang kakak. Harfa kembali mencoba mengetuk pintu kakak Ifa.

Tetap saja, tak ada sahutan. Harfa mulai cemas. Takut, kakaknya melakukan hal yang tidak-tidak.

Mengingat, kakak Ifa tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Harfa langsung menerobos masuk. Tak peduli kakak nya nanti marah atau tidak.

Deg!

Harfa tertegun melihat kakak Ifa sedang tertidur. Terlihat pulas, pantas saja tak ada sahutan. Tapi, Harfa merasa heran. Tak biasanya jam segini kakak Ifa tidur. Mungkin, kejadian tadi membuat Ifa butuh istirahat.

Karena merasa aman dan baik. Harfa memilih keluar takut kehadirannya menggangu sang kakak.

Di tutup pelan pintu kamar Ifa, saking pelannya tidak terdengar bunyi sedikitpun.

Perlahan, mata Ifa terbuka. Terlihat sayu dan memerah. Sebetulnya, Ifa sudah tidur, tapi terbangun saat merasa ada langkah kaki mendekat. Ifa tetap diam saja.

Ifa menyibak selimut, mencoba mendudukkan diri. Ifa memijit pelipisnya yang terasa berat.

"Pusing."

Gumam Ifa, kepalanya terasa berdenyut. Ifa menyeret kakinya menuju kamar mandi. Guna membersihkan tubuh. Sebentar lagi magrib.

Sudah sholat magrib, Ifa menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang. Tubuhnya merasa tak enak. Ifa tak tahu kenapa? Seolah ada sesuatu yang terjadi.

Ifa tak mau sakit, Ifa harus kuat. Ifa tak ingin kedua orang tuanya nampak sedih.

"Astaghfirullah!"

Ringis Ifa memegang kepalanya yang terasa berputar. Ifa benar-benar merasa ada yang salah dengan tubuhnya.

Entah kenapa, kepalanya sering sekali sakit. Ifa menatap jam, ternyata sudah pukul 17:34. Ifa segera beranjak ke kamar mandi guna membersihkan tubuh. Mungkin, karena Ifa tidur sore, membuat kepalanya sakit ketika terbangun.

Sudah selesai membersihkan diri, Ifa terlihat nampak segar kembali.

Seperti nya benar, kata sepuh. Jika tak boleh tidur setelah sholat ashar. Bisa membuat sakit kepala.

Ifa sudah merasa lebih baik setelah mandi. Tak lama adzan magrib berkumandang. Ifa segera menjalankan kewajibannya.

Ini lembaran baru lagi yang akan Ifa jalani. Sendiri ternyata tidaklah buruk dengan status jandanya. Ifa akan menjalaninya.

Ifa masih belum menyangka jika pada akhirnya gambaran yang ia bayangkan tentang sebuah pernikahan tidak lah sama.

Dari novel atau pun film yang pernah di baca dan tonton. Tergambar indah dan menyenangkan. Nyatanya, real nya tak sesuai realitas.

Bersambung ....

Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🙏🙏

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!