Bab 20 Kenapa pergi?

Mikail menyandarkan punggungnya di balik pintu ruang tangga darurat. Mata Mikail terpejam. Dadanya naik turun dengan nafas memburu.

Mata Mikail terlihat memerah tatkala mata itu terbuka.

"Maaf."

Lilih Mikail tak kuasa menahan perasaan nya.

Siapa yang menyangka, jika Mikail selama ini memandang Ifa berbeda. Sendari kecil Mikail sudah jatuh cinta pada Ifa. Bahkan sampai rela tak melanjutkan S2 nya demi bisa bekerja di perusahaan agar dekat dengan Ifa.

Tapi, sejak dulu Ifa hanya menganggap Mikail sebagai adik.

Hati Mikail sangat hancur mendengar Ifa akan menikah dengan orang lain. Hatinya terasa di cabik-cabik.

Ingin rasanya Mikail meluapkan perasaan nya. Tapi, selalu Mikail tahan. Perasaan yang tak bisa Mikail kendalikan sendiri.

Kini, hati Mikail kembali sakit mendengar kabar perceraian itu. Pernikahan yang baru terajut kini kembali kandas.

Haruskah Mikail bahagia akan itu. Tentu tidak. Mikail justru marah dan kesal. Akan keadaan yang Ifa alami. Mikail ingin datang dan menjadi sadar untuk Ifa. Tapi, Mikail sadar jika itu tak bisa.

Bukan Mikail tidak berani, tapi Mikail sadar jika dia hanya pemuda biasa. Apa yang Mikail miliki untuk melindungi pujaannya.

Mikail laki-laki yang selalu di ajarkan bekerja keras. Tentu tahu apa posisinya.

Kini Mikail memilih pergi. Bukan untuk meninggalkan Ifa dalam kesusahannya. Mikail hanya tak ingin jika dirinya lepas kendali.

Mikail sadar jika dirinya terus di dekat Ifa. Mikail tak bisa mengendalikannya. Apalagi, di saat Ifa sedang terpuruk begini. Mikail takut, ia bisa melakukan hal di luar batasnya.

Mikail tak ingin nantinya malah membuat Ifa takut padanya.

Mikail ingin, Ifa mengerti akan perhatian yang selama ini dirinya berikan.

Berharap dengan kepergiannya. Ifa bisa tenang menyembuhkan lukanya. Dan, Mikail berjanji ia akan kembali setelah merasa pantas untuk melindungi Ifa.

....

Di ruangan Ifa ...

Setelah Mikail keluar dari ruangannya. Ifa tetap diam dalam posisinya. Ifa masih shok dengan apa yang terjadi.

Kenapa Mikail begitu tiba-tiba pergi. Rasanya aneh.

Ifa merasa aneh akan tingkah Mikail. Apa Mikail ada masalah atau kesal karena Ifa sudah menyulitkan Mikail selama ini. Ifa jadi merasa bersalah akan hal itu. Ifa akan minta maaf nanti dan memohon agar Mikail membatalkan pengunduran dirinya.

Ifa tidak berpikir hal lain tentang Mikail. Ifa hanya menyangka jika Mikail marah padanya. Karena sudah menyulitkan Mikail selama ini hingga membuat perusahaan di ambang jatuh.

"Dia belum dewasa. Sikapnya sama seperti Harfa."

Gumam Ifa menggelengkan kepala. Menyimpan surat pengunduran diri itu di dalam laci tanpa berniat melihatnya.

Ifa lebih baik melanjutkan pekerjaan nya. Ifa berniat akan datang dan memohon pada Tante Cantika agar membujuk Mikail agar tak keluar dari perusahaan. Biasanya Tante Cantika yang bisa membujuk Mikail.

Ifa tahu betul jika Mikail tak akan pernah menolak permintaan Tante Cantika.

Sudah waktunya pulang, sedang pekerjaan masih menumpuk. Kini Ifa tidak akan lembur seperti biasanya. Ifa sudah berniat akan pulang. Namun, sebelum pulang Ifa akan mampir ke rumah om Yandi. Untuk membujuk Mikail agar tidak keluar. Ifa benar-benar membutuhkan Mikail saat ini. Tak mungkin Ifa mengurus sendiri. Apalagi perusahaan di ambang kehancuran.

Ifa masih belum paham, kenapa Mikail malah pergi dalam keadaan Ifa benar-benar membutuhkan Mikail.

Sudah lama rasanya Ifa tak menginjakan kakinya di rumah sederhana yang nampak asri dengan kebun bunga menghiasi pekarangan rumah.

Tidak terlalu banyak berubah dari dulu. Rumah om Yandi tetap seperti itu.

Dulu Ifa suka main ke rumah itu ketika Harfa merengek ingin bermain dengan Mikail dan Zahra.

Ifa juga sangat dekat dengan Tante Cantika yang bawaannya humoris. Tapi, tak sedekat Harfa dengan keluarga om Yandi.

Tok .. Tok ...

Ifa mengetuk pintu rumah tersebut.

"Sebentar!!!!"

Teriakan di dalam sana membuat Ifa tersenyum. Ifa hapal betul suara siapa itu. Senyum Ifa semakin mengembang tatkala pintu itu di buka.

"Kakak Ifa!"

Pekik Zahra kegirangan melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Zahra langsung memeluk Ifa erat.

"Assalamualaikum, Ara. Bagaimana kabarnya?"

"Hehehe. Waalaikumsalam kakak. Alhamdulillah baik. Ayok masuk, Ibu sama ayah pasti senang melihat kakak datang."

Zahra adik kembaran Mikail menarik lengan Ifa masuk kedalam rumah.

"Ibu, ayah. Lihat siapa yang datang ..,"

Seru Zahra membuat Tante Cantika dan om Yandi serentak menoleh.

Deg!

Tante Cantika tertegun melihat siapa yang berdiri di samping putrinya. Mereka masih tak menyangka jika Ifa akan berkunjung ke rumahnya.

"Assalamualaikum Tan, Om."

Ifa membungkuk mencium punggung tangan Tante Cantika dan menangkupkan kedua tangan pada om Yandi.

"Waalaikumsalam, sayang. Bagaimana kabar kamu? Sudah lama loh, gak main ke sini."

"Alhamdulillah baik, Tan."

"Ayo duduk, sini."

Tante Cantika membawa Ifa duduk di sofa ruang tamu. Zahra pergi ke dapur guna membuat minum.

"Tante seneng banget kamu berkunjung. Mikail pasti senang jika tahu kamu ada di sini. Tapi, sayang. Anak itu sudah tak ada."

Ada nada sendu di akhir kalimatnya. Membuat Ifa tak enak. Namun, Ifa juga sedikit heran. Kemana Mikail pergi.

"Kalau boleh tahu, Ail kemana, Tan?"

Tante Cantika melirik pada suaminya yang sejak tadi diam. Sedikit ragu, tapi melihat suaminya mengangguk membuat Tante Cantika mengerti.

"Ke LA, melanjutkan S2 nya."

"LA."

Beo Ifa tersentak. Kenapa Mikail tak mengatakan apapun pada Ifa. Ifa meremas lututnya sendiri. Perasaan nya jadi tak enak.

"Siang tadi. Mungkin, Kail sudah dalam pesawat."

Ifa tak tahu harus merespon apa. Bagaimana bisa Mikail meninggalkan Ifa begini. Bagaimana bisa Ifa membujuk Mikail jika orang nya juga tak ada. Tapi, kenapa Mikail tak bilang apapun. Itu membuat Ifa heran.

Secara tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

"Sayang,"

"Tante, apa Ail mengatakan sesuatu? kenapa pergi begitu mendadak."

Lilih Ifa, tak terima jika Mikail pergi begitu saja. Bahkan perginya begitu jauh yang tak bisa Ifa jangkau.

"Apa Kail tidak mengatakan apapun pada kamu, nak?"

"Tidak sama sekali Tan. Ail memberikan surat pengunduran diri lalu pergi. Bahkan tak memberikan kesempatan Ifa untuk bertanya."

"Mikail sudah lama merencanakan kepergiannya. Maaf jika bagi kamu itu mendadak."

Ujar om Yandi sambil menggelengkan kepala pada istrinya.

Ifa tak bisa mengatakan apapun. Ini begitu mengejutkan bagi Ifa. Ifa benar-benar tak mengerti dengan situasi ini.

Niat datang, berharap bisa membujuk Mikail agar kembali ke perusahaan tapi fakta lain yang Ifa dapatkan. Jika memang Mikail sudah lama merencanakan nya. Kenapa tak memberitahu Ifa jauh-jauh hari. Agar Ifa bisa mempersiapkan diri.

Karena tak ada hasil apapun. Ifa memilih pamit. Takut, kemalaman juga pulangnya.

Tante Cantika dan om Yandi hanya bisa menghela nafas berat.

Mereka juga tak bisa menahan putranya. Itu sudah keputusan Mikail dan mereka sebagai orang tua tak bisa melakukan apapun.

"Kenapa Mas tak mengatakan sejujurnya."

"Buat apa? Itu akan semakin membuat Ifa shok. Biarkan Ifa menyembuhkan lukanya. Jangan menambah bebannya. Pernikahan kemarin pasti membuat Ifa terluka sampai kandas begitu. Belum lagi keadaan perusahaan. Biarkan Mikail juga menyembuhkan lukanya dengan caranya sendiri."

"Andai putra kita lebih cepat bertindak. Mungkin, keadaan nya tidak akan seperti ini. Dan Mikail tak perlu meninggalkan kita."

"Semua salah dokter Sinta. Kenapa lupa akan janjinya dulu."

Ada kekecewaan dalam ungkapan itu. Kesal akan tindakan Farel dan Sinta yang sudah menjodohkan Ifa pada orang lain. Namun, Tante Cantika juga sadar. Jika dalam situasi ini tak ada yang harus di salahkan. Mungkin, memang jalannya harus seperti itu.

Bersambung ...

Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏 🙏 🥰

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!