Bab 7 Mencoba kuat

Hari-hari yang Ifa lalui terasa berat dan menyakitkan. Tapi, Ifa tetap bungkam dengan apa yang terjadi. Bukan Ifa sok kuat tapi Ifa berusaha sabar menghadapi sikap Akmal. Ifa berharap di awal bulan puasa ramadhan ini sikap Akmal berubah.

Memang Akmal tidak pernah memukul dirinya. Tapi, jika sudah mengenai masalah ranjang Akmal akan berubah seperti predator dengan kata-kata tajam menyakitkan.

Apalagi, lucu jika mereka bercerai sedang pernikahan mereka baru beranjak satu Minggu. Apa kata orang nanti dan bagaimana tanggapan keluarga.

Ifa mencoba bersikap baik-baik saja di hadapan kedua orang tuanya.

Awal bulan ramadhan memang Abi Farel meminta Ifa menginap di rumah. Ingin sahur pertama bareng dan buka pertama bareng.

Wajah Ifa nampak pucat akibat kelelahan melayani nafsu Akmal. Ingin rasanya Ifa mengatakannya. Tapi, Ifa mengurungkan niat karena tak mau kedua orang tuanya khawatir.

Setidaknya Ifa merasa sedikit lega karena Akmal tak berani macam-macam di hadapan kedua orang tuanya. Bahkan Akmal bersikap sopan dan baik.

"Wajah kakak pucat, kakak sakit?"

Tanya ummah Sinta khawatir melihat wajah putrinya pucat.

"Tidak ummah. Kakak mungkin kelelahan saja."

"Hm, pengantin baru."

Ifa hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.

Ummah Sinta tak bertanya lebih karena paham apa yang terjadi pada putrinya.

Bagi sebagian orang hal wajar pengantin baru kelelahan. Tapi, tidak bagi Ifa karena apa yang Akmal lakukan melebihi batas wajar. Bagaimana ada suami yang memaksa istri dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan bersikap kasar saat melakukannya. Bukan kenikmatan yang di dapatkan melainkan sakit hati.

Ifa berusaha baik-baik saja apalagi melihat Abi Farel begitu asik mengobrol dengan Akmal membuat Ifa tak tega menyakiti hati cinta pertama nya.

Ifa membantu ummah Sinta menyiapkan makan untuk buka.

Harfa belum pulang dari rumah sakit.

"Kakak istirahat saja. Biar ummah yang siapkan semuanya."

"Gak apa ummah. Kakak juga ingin membantu ummah. Apalagi ini buka pertama."

"Menyiapkan buat suaminya,"

Ifa tersipu membuat ummah Sinta terkekeh geli. Ummah Sinta tak tahu jika putri tomboy sedikit pemalu.

"Semoga pernikahan kalian tetap bahagia nya. Ummah senang sekali melihat nak Akmal terlihat sangat menyayangi kakak."

"Aamiin, doa kan saja ummah."

Hati Ifa sungguh teriris. Kedua orang tuanya punya harapan besar pada anaknya agar tetap bahagia. Ifa tak tahu harus berkata apa. Tak tega rasanya Ifa memberitahu ummah Sinta.

Mereka tak tahu bahwa Ifa saat ini sedang ke sakitan. Bahkan jika di buka baju Ifa akan terlihat memperihatinkan.

Tubuh Ifa penuh dengan lembab bukan karena KDRT tapi karena KDR (kekerasan di atas ranjang).

Persiapan untuk buka puasa sudah selesai. Nampak sebuah mobil memasuki area parkir.

Harfa keluar dari mobil dengan wajah cerianya. Karena memang Harfa selalu ceria dan cerewet.

"Assalamualaikum Abi, kakak ipar."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dek."

Harfa menyalami Abi Farel dan hanya tersenyum tipis saja pada Akmal tampa berjabat tangan. Harfa tahu batasan walau bagaimanapun Akmal bukan muhrim untuk dirinya.

"Ummah sama kakak di mana, bi?"

"Di dapur."

"Adek masuk dulu, ya."

Harfa berlari kecil masuk kedalam rumah. Mencari keberadaan ummah Sinta dan Ifa.

"Assalamualaikum ummah, kakak."

"Waalaikumsalam, dek."

Harfa mencium punggung tangan ummah Sinta begitupun dengan Ifa.

"Wah, makannya terlihat lezat."

"Astaghfirullah dek. Masih lama bukanya."

"Bercanda kak."

Cup!

Harfa menautkan kedua alisnya menatap Ifa intens.

"Kakak sakit?"

Tanya Harfa cemas, pasalnya Harfa mendengar Ifa meringis tatkala ia memeluknya.

"Biasalah dek, pengantin baru."

Celetuk ummah Sinta membuat Ifa menunduk malu. Harfa pun ikut tersenyum.

"Apa sesakit itu, kak?"

"Wus! Adek. Jangan menggoda kakak. Mandi sana."

"Ummah gak asik."

"Adek, dengerin ummah."

"Iya-iya."

Harfa berlari menaiki anak tangga. Ummah Sinta dan Ifa hanya bisa menggelengkan kepala. Harfa memang anak ceria dan cerewet membuat Ifa merasa sedikit terobati akibat tingkah adiknya.

Ifa mengeratkan tubuhnya sedikit tak nyaman.

Setiap melayani nafsu Akmal maka ujungnya Ifa akan sakit badan. Kata yang pantas sepertinya bukan melayani tapi di paksa melayani.

Rasa tak rela ada di hati Ifa karena Akmal merenggut harta berharganya dengan cara kasar. Membuat Ifa merasa sakit yang amat dalam.

Ifa terus mencoba menahan sakitnya sendirian. Mencoba bertahan dengan alasan yang sudah Ifa pikirkan matang-matang.

Di depan semua keluarga Ifa nampak baik-baik saja apalagi Ifa tak mau merusak suasana buka pertama itu.

Allahuakbar... Allahuakbar ...

Suara adzan berkumandang pertanda buka puasa.

Ifa bersyukur karena Allah memberi kekuatan ia bisa tuntas puasanya di saat badannya lemah.

Buka kali ini nampak berbeda. Karena kini ada Akmal di meja makan yang biasanya empat orang itu.

Kebahagiaan terpancar di wajah semuanya. Tapi, kali ini hanya wajah Ifa saja yang terlihat berbeda.

Sudah buka puasa mereka berjamaah bareng dengan Abi Farel yang jadi imam. Sudah selesai berdzikir dan berdoa.

Ummah Sinta, Ifa dan Harfa mencium punggung tangan Abi Farel.

Terlihat sempurna keluarga itu tapi mereka tak tahu jika putri mereka sedang tak baik-baik saja.

"Nanti imam tarawih nak Akmal, ya?"

Ucap Abi Farel membuat Akmal tersentak. Mata Akmal memutar seolah kebingungan. Semua orang menunggu jawaban Akmal begitu juga Ifa. Ifa juga ingin di imami oleh Akmal. Pasalnya selama mereka menikah mereka tak pernah sholat berjamaah bareng.

Ifa penasaran bagaimana suara Akmal dan bagaimana bacaan ngaji Akmal.

"Maaf Abi, tenggorokan Akmal sedikit tak enek. Akmal takut nanti malah tak lancar."

Alibi Akmal membuat semua orang nampak kecewa. Abi Farel mencoba memahami jika memang benar Akmal sedang sakit tenggorokan.

"Ya sudah, nanti hari berikutnya saja."

"Insyaallah, Abi."

Suara Akmal terdengar lembut dan meyakinkan.

Mereka mengobrol ringan tepatnya Abi Farel banyak bertanya masalah Agama. Sejauh ini memang Akmal bisa menjawabnya membuat ummah Sinta di buat kagum. Begitu juga Harfa dan Ifa. Bahkan Ifa tak menyangka jika Akmal ilmu agamanya hebat tapi kenapa Akmal tak bisa memperlakukan Ifa dengan baik.

Ifa masih heran dan tak percaya seolah Akmal punya kepribadian ganda.

Seolah Akmal yang sedang menjelaskan panjang lebar itu bukan Akmal yang selalu meminta di layani setiap saat.

Tutuk tanya juga lembut nan tegas membuat Ifa seolah melihat sosok lain dalam diri Akmal.

Ifa menatap bagaimana bahagia nya kedua orang tua nya mempunyai menantu seperti Akmal. Jika di lihat dari agama memang bagus dan seolah banyak mengerti dan paham.

Ifa masih tak percaya dan tak mau percaya karena sejatinya tidak seperti itu.

Ifa heran benar-benar heran dan merasa bingung.

Ifa masih mencoba berusaha memahami siapa yang menjadi suaminya itu.

Sifat dan karakter nya sungguh berbeda.

Menyesalkan Ifa atau haruskah bangga. Ifa tak tahu. Yang jelas tubuhnya lah yang merasakan bagaimana perlakukan Akmal.

Jika seperti itu memang terlihat normal tapi jika sudah di kamar. Akmal akan berubah menjadi sosok lain. Sosok pemaksa dan haus akan nafsu.

Seolah tak akan ada puasnya jika sudah maslah satu itu.

Ifa hanya berharap waktu jangan cepat berlalu. Jujur Ifa tidak mau berada dalam satu kamar berdua dengan Akmal karena Ifa tahu apa yang Akmal lakukan pada tubuhnya nanti.

Andai saja tubuh Ifa terbuat oleh manusia mungkin sejak awal seluruh anggota tubuh Ifa tak akan bisa bergerak lagi.

"Ya Allah, lindungilah Ifa."

Bersambung ...

Akmal ternyata bermuka dua 🥴🥴🥴

Visual pemeran bisa di lihat di IG @Rahmaqolayuby dan Tiktok: Rahma Book

Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya hehehe ...

Boleh kasih banyak bunga juga 🤭🤭

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!