Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa

Berkali-kali Ifa memijat pelipisnya. Di depannya tumpukan berkas menumpuk.

Hari ini Ifa benar-benar tak semangat bekerja. Ucapan sang adik dan kedua orang tuanya terus berisik di telinga nya.

Ifa tak tahu harus berbuat apa dan memutuskan apa. Ifa juga tak mungkin menolak hingga membuat sang adik terus menunda-nunda pernikahannya karena dia.

Ifa tak mau jadi penghalang kebahagiaan adik tercintanya. Ifa sangat menyayangi Harfa demi apapun. Ifa tak sanggup jika melihat adiknya sedih. Apalagi kedua orang tuanya berharap banyak padanya.

Usia Ifa memang sudah memasuki usia ke dua puluh tujuh. Beda dua tahun dengan Harfa. Sekarang Harfa berusia dua lima. Sukses menjadi seorang dokter seperti ummah Sinta.

"Astaghfirullah! Apa yang harus aku lakukan."

Gumam Ifa mengusap wajahnya kasar. Ifa menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.

Bukan memikirkan pekerjaan Ifa malah terus bergelut dengan keputusan yang akan ia ambil.

Tok ... Tok ...

Ketukan pintu membuat Ifa kembali membuka kedua matanya.

"Masuk."

Seru Ifa membuat seseorang muncul di balik pintu.

Laki-laki gagah berjalan cool menghadap Ifa. Sorot matanya sangat tajam namun meneduhkan.

"Maaf nona, apa berkas tadi sudah di tanda tangani?"

Tanya Mikail menundukkan pandangan. Terdengar Ifa membuang nafas kasar. Berkas yang Mikail pinta belum selesai Ifa tanda tangani semuanya. Dari tadi Ifa tak fokus bahkan sekedar tanda tangan saja terasa berat.

Mikail memberanikan diri menatap Ifa karena Ifa tak kunjung menjawab hanya helaan nafas kasar berkali-kali keluar.

"Nona sakit?"

Tanya Mikail suaranya kini terdengar khawatir.

"Tidak. Tapi Ifa belum menandatanganinya."

Ifa mengambil berkas di hadapannya lalu menandatangi dengan cepat tanpa memeriksa kembali. Bukan Ifa seperti biasanya membuat Mikail heran. Biasanya Ifa sangat teliti sama pekerjaan. Selalu memeriksa ulang laporan baru menandatangi laporan yang perlu di tanda tangani. Tapi kali ini Ifa mencoret-coret asal tanda tangannya.

"Ail, Ifa sudah katakan jangan panggil Nona. Kakak saja sama seperti Harfa."

Tegur Ifa sambil menyerahkan berkas pada Mikail.

Mikail tidak menjawab. Ia hanya menunduk lalu izin pamit.

Mikail Al-Haidar, putra tunggal om Yandi dan Tante Cantika. Usianya baru menginjak dua lima, sama dengan usia Harfa. Yang kerap di sapa Ail, oleh Ifa apalagi Ifa sudah menganggap Mikail seperti adiknya sendiri.

Setelah Mikail keluar, Ifa mendesah kembali. Ingatan Ifa kembali pada dua tahun silam. Dimana Ifa menyaksikan sahabatnya di siksa oleh suaminya yang ternyata seorang pemabuk.

Waktu itu Ifa berniat menjenguk sahabatnya yang katanya sakit karena tak masuk kantor. Dulu asisten Ifa adalah sahabatnya sendiri. Karena kejadian itu berhenti dan pindah hingga di gantikan oleh Mikail yang waktu itu juga baru lulus kuliah.

Ifa melihat dan mendengar dengan kepala matanya sendiri bagaimana sahabatnya menjerit dan memohon ampun. Andai saja Ifa telat sedikit saja mungkin nyawa sahabatnya sudah melayang.

Sikap penjudi, pemabuk dan tempramen membuat sahabat Ifa tersiksa dalam pernikahannya. Padahal dulu suami sahabat Ifa terlihat baik, lemah lembut dan sopan. Apalagi kebetulan Ifa kenal dengan suami sahabatnya itu. Tapi siapa sangka nyatanya di balik wajah polosnya menyimpan sesuatu yang mengerikan.

Sampai sahabat Ifa di bawa ke rumah sakit dan suami nya di penjara akan hal itu.

Tak terasa air mata meluncur deras membasahi wajah Ifa. Terasa sesak mengingat kejadian itu. Rasanya Ifa tak kuat membayangkan berada di posisi sahabatnya.

Walau Ifa gadis tergolong tomboy tapi Ifa punya hati yang sangat rapuh.

Ifa bak cangkang kosong. Yang terlihat di luar sangat kuat. Nyatanya itu hanya fatamorgana.

Namun, mengingat ucapan adiknya di telepon dengan kekasihnya membuat Ifa kembali bimbang.

Rasa takut begitu mendominasi tapi kasih sayang pada keluarganya melebihi besar rasa takutnya.

Ifa menyeka air matanya, lalu meminum air mineral yang tersedia di atas meja kerjanya. Berharap setitik saja hatinya merasa tenang.

Adzan dhuhur berkumandang membuat Ifa langsung pergi ke kamar khusus yang berada di ruangannya untuk melaksanakan sholat.

Sesibuk apapun memang Ifa tak pernah menunda kewajibannya.

Sudah sholat dan berdoa sangat khusyu kali ini. Ifa kembali keluar dari kamarnya.

Ifa tersenyum melihat sudah ada makanan di atas meja kecil, sofa sana.

Sudah jadi kebiasaan memang. Ifa jarang makan di luar. Memilih makan di ruangannya semenjak tak ada sahabatnya.

Mikail sudah tahu dan terbiasa akan menyiapkan makan siang untuk bosnya.

Mikail memang asisten yang dapat di andalkan. Walau wajahnya selalu datar entah kenapa Ifa juga tidak tahu.

"Bismillahirrahmanirrahim ...."

Ifa membaca doa sebelum menyantap makan siangnya.

Ifa mencoba menelan kasar makanan yang terlihat lezat itu. Tapi terasa hambar di lidah Ifa. Mungkin karena perasaan dan pikiran Ifa yang bercabang tapi Ifa tetap memaksa makan. Karena sayang akan makanan yang sudah Mikail beli dan juga Ifa tak mau sakit yang ujungnya akan membuat kedua orang tuanya sedih.

Sudah makan Ifa kembali melanjutkan pekerjaan nya.

Ponsel Ifa berdering terdengar notifikasi pesan. Ifa langsung melihatnya.

..."Assalamualaikum kakak. Jangan pulang telat ya. Laki-laki yang Abi maksud akan datang ke rumah. Semoga kakak sudah bisa memutuskan dengan baik."...

"Astaghfirullah! Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim!"

Gumam Ifa menjatuhkan ponselnya saking terkejut membaca pesan dari ummah Sinta.

Rasanya Ifa ingin menjerit, meraung dan menangis. Kenapa bisa secepat itu. Bukankah kedua orangtuanya akan memberi ia waktu. Bahkan ini baru semalam mereka bilang tapi siang ini Ifa harus di hadapkan dengan keputusan terberat dalam hidupnya.

Rasanya mood kerja Ifa benar-benar hancur hari ini. Bahkan makanan yang tadi Ifa paksa makan memaksa keluar kembali.

Kepala Ifa sangat pusing, mata Ifa memerah. Sungguh, Ifa tak tahu harus berbuat apa. Hidupnya terasa harus di gadaikan demi kebahagiaan keluarganya.

Raut wajah pengharapan dan suara permohonan berisik di kepala dan telinga Ifa membuat Ifa rasanya tak bisa melanjutkan pekerjaan nya lagi. Ifa butuh suasana yang menenangkan.

Dengan cepat Ifa keluar dari ruangannya kebetulan Ifa berpapasan dengan Mikail membuat Ifa tak perlu ke ruangan Mikail.

"Ail, kensel meeting sore nanti."

"Nona mau kemana?"

Tanya Mikail namun hanya suara langkah kaki yang terdengar menjauh hingga hilang di balik lift.

Mikail menghembuskan nafas kasar. Matanya berubah sendu, pasti ada sesuatu yang tak beres.

Di dalam lift wajah Ifa terlihat tegang dengan tangan mengepal erat.

Semua karyawan yang melihat bosnya keluar dari pintu lift mengerut heran. Pasalnya mereka baru kali ini melihat bos mereka berwajah dingin seperti itu.

Sinta langsung membawa mobilnya meninggalkan perusahaan. Membelah jalan yang cukup ramai dengan kecepatan tinggi.

Jangan bilang Ifa mau bunuh diri agar keluar dari kesulitan itu.

Kejauhan, Ifa menghentikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. Di kiri kanan banyak pohon rindang terlihat menyeramkan seperti di film horor.

Brak!

Ifa menutup pintu mobil dengan kencang melangkah ke depan mobilnya lalu menatap ke atas sana.

"Akhhh!!!!"

"Akhhhh!!!!"

Jerit Ifa meluapkan segala beban pikirannya dengan menjerit. Tak ada yang menyangka gadis tomboy nan kuat itu bisa serapuh itu.

Gadis yang jarang banyak bicara kecuali ada yang penting. Lihatlah sekarang menjerit-jerit meluapkan segala kesesakan di dadanya.

Air mata Ifa meluncur dengan rintikan hujan yang mulai turun menemani tangis kepiluan Ifa. Padahal tadi pagi masih cerah tapi siang ini alam pun ikut merasa sakit melihat kerapuhan Ifa.

Air hujan memeluk Ifa seolah mengisyaratkan jika ia akan menemani Ifa.

Bersambung ..

Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...

Kasih Like yang banyak-banyak ...

Jangan lupa Komen dan Subscribe juga ya biar novelnya tambah melambung .....

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!