Bab 13 Keadaan Ifa

"Kenapa kamu semakin membantah, hah. Mau jadi istri durhaka?"

Kesal Akmal karena Ifa tak mau melayaninya.

Bagaimana Ifa mau melayani jika setia hati Akmal selalu memintanya. Bahkan tak tahu waktu dan tak pernah puas satu kali.

Ifa sudah tak sanggup lagi jika terus melayani Akmal lagi.

Ifa butuh istirahat dan butuh tenaga. Tubuhnya sudah lemah bagaimana bisa Akmal memintanya lagi.

"Ifa lelah sangat lelah mas. Setiap hari mas selalu minta. Ifa sudah tak sanggup lagi."

"Mas hanya minta di layani, tidak minta hal lebih."

"Tapi, apa yang mas lakukan melewati batas. Jika begini terus Ifa memilih menyerah. Mas cari saja wanita lain yang bisa memuaskan nafsu mas. Ifa sudah tak sanggup."

Lilih Ifa rasanya tak sanggup jika harus terus berdebat dengan permasalahan yang sama.

"Tapi, mas maunya kamu. Tidak yang lain. Kamu istri saya maka kamu yang harus melayani, Saya."

"Lepaskan, Ifa,

"Tidak."

Bantah Akmal semakin mendekat membuat Ifa mundur. Ifa mencoba segenap kekuatannya tatkala Akmal menarik tangannya.

"Stop, mas. Ifa sudah tak sanggup lagi bersama. Tolong lepaskan, Ifa?"

Teriak Ifa memberontak karena Akmal mulai kasar. Akmal selalu seperti itu jika kemauannya tidak di turuti.

"Sampai kapanpun mas, tak akan melepaskan kamu."

"Jangan, mas, stop!!"

Prang!!!!

Kaca jendela pecah berserakan di lantai membuat Akmal menghentikan perlakuannya. Akmal menatap ke arah jendela begitupun dengan Ifa.

Deg!

Ifa tersentak melihat siapa yang masuk. Ifa langsung menunduk tak sanggup melihat siapa yang berdiri disana.

"Ab-abi."

Gagap Akmal tak tahu harus berkata apa melihat ada Abi Farel. Bagaimana bisa Abi Farel datang di waktu yang tidak tepat.

Akmal merasa pusing karena lagi, hasratnya harus tertahan.

Hati Abi Farel mencelos melihat keadaan putrinya. Tatapannya begitu dingin menatap Akmal.

Abi Farel melangkah tanpa mengucapkan satu katapun.

"Abi ka---"

Bibir Akmal ter-katup melihat tatapan dingin Abi Farel. Lalu, duduk di samping Ifa.

"Kita ke kamar, ya?"

Ifa mengangguk lemah tanpa mengucapkan apapun. Begitupun Abi Farel. Hatinya tersayat ribuan silet melihat keadaan putrinya.

Rasanya ingin marah dan menghancurkan semuanya termasuk membanting Akmal. Tapi, Abi Farel menahannya demi putrinya.

Abi Farel belum tahu apa yang terjadi dan ia tak mau gegabah.

Abi Farel merengkuh putrinya membawanya ke kamar.

Hati ayah mana yang tak sakit melihat keadaan putrinya.

Wajah cantiknya nampak pucat. Tubuh indahnya terlihat kering membuat hati Abi Farel benar-benar sakit.

Dadanya bergemuruh hebat namun sebisa mungkin menahannya.

"Abi ..,"

Lilih Ifa membuat Abi Farel semakin merapatkan bibirnya. Abi Farel tak sanggup melihat putrinya seperti itu.

"Tunggu Abi telepon ummah, ya?"

Ifa mengangguk lemah membiarkan Abi Farel menelepon ummah Sinta. Abi Farel tak mengatakan apapun hanya menyuruh ummah Sinta datang saja.

Harusnya Abi Farel memaki dan menghajar Akmal. Tapi, Abi Farel malah diam dan memilih menenangkan Ifa.

Justru sikap Abi Farel seperti itu membuat Akmal yang berada di ruang tamu semakin ke takutan. Marahnya orang diam lebih menakutkan dari pada marahnya orang yang mengamuk.

Suasana tegang nampak mencengkram apalagi Akmal tak bisa apa-apa.

...

Ummah Sinta nampak terkejut akan perintah Abi Farel yang meminta ummah Sinta ke rumah Ifa.

Perasaan Ummah Sinta nampak tak enak. Apalagi akhir-akhir ini perasaannya memang tak tenang.

Ummah Sinta langsung bergegas pergi tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.

"Ummah mau kemana? Kenapa nyetir sendiri?'

Monolog Harfa melihat ummah Sinta keluar sendiri.

"Apa terjadi sesuatu?"

Gumam Harfa lagi, memilih mengikuti ummah Sinta.

Tak biasanya ummah Sinta menyetir sendiri. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Harfa terus mengikuti kemana mobil ummah Sinta pergi.

"Bukankah, ini jalan kerumah kakak."

Harfa semakin penasaran, kenapa ummah Sinta pergi ke rumah kakaknya.

"Apa kakak sakit, lagi?"

Harfa terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Membuat hatinya ikutan tak tenang. Pasalnya terakhir kali bertemu sang kakak, Ifa sedang sakit.

Harfa memelankan laju mobilnya tatkala melihat ada mobil Abi Farel juga. Hati Harfa semakin di buat bertanya-tanya.

"Abi, ummah. Pasti terjadi sesuatu yang serius."

Harfa turun dari mobil mengikuti ummah Sinta yang sudah masuk terlebih dahulu.

Ummah Sinta tak tahu jika dirinya di ikuti oleh Harfa.

Berjalan masuk dengan perasaan tak menentu.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"

"Waalaikumsalam, ummah."

Ummah Sinta terdiam sejenak melihat ada Akmal seorang diri. Dan, dimana suami dan putrinya.

Akmal mencium punggung tangan ummah Sinta.

"Kok, sendiri. Dimana Abi dan kak Ifa?"

"Di kamar, ummah."

"Ummah."

Panggil Akmal membuat langkah ummah Sinta terhenti.

"Tolong, saya tak mau berpisah dengan dek Ifa."

Mohon Akmal membuat ummah Sinta tertegun. Ummah Sinta tak mengatakan apapun karena memang belum tahu apa yang terjadi. Ummah Sinta saja bingung kenapa Akmal bicara seperti itu.

Tanpa menjawab apapun, ummah Sinta pergi ke kamar Ifa.

" Di kamar tamu, ummah."

Langkah ummah Sinta kembali terhenti dengan perasaan semakin tak enak. Suami dan putrinya ada di kamar tamu. Ummah Sinta sudah bisa menebak. Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai anaknya ada di sana. Dan permintaan Akmal tadi menguatkan.

Ummah Sinta langsung mempercepat langkahnya menuju kamar tamu.

Tok ...

"Assalamualaikum Abi, kakak."

Cklek!

Nampak Abi Farel membuka pintu membuat ummah Sinta langsung mencium punggung tangan Abi Farel.

"Ada apa? Kakak mana?"

Abi Farel tak menjawab, tapi mempersilahkan ummah Sinta masuk.

Deg!

Hati ummah Sinta mencelos dengan bibir ter-katup rapat. Ekspresi sama seperti ekspresi Abi Farel tadi.

Mata ummah Sinta memerah, bibirnya mulai bergetar. Berjalan lemah ke arah putrinya.

Ifa terus menunduk tak berani mengangkat pandangannya. Ifa merasa malu karena harus seperti ini.

"Kak."

Panggil ummah Sinta pelan, hatinya bergejolak hebat. Langsung menarik Ifa kedalam pelukannya.

Tangis Ifa pecah dalam pelukan ummah Sinta. Sakit rasanya melihat keadaan putrinya seperti ini. Tubuhnya begitu kering, tak ada binar kebahagiaan di sana. Tatapan itu begitu kosong saat pertama melihatnya.

"Kakak sakit?"

Tanya Ummah Sinta rendah, Ifa tak menjawab. Malah semakin terisak memeluk ummah Sinta erat.

Abi Farel menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar ummah Sinta jangan dulu bertanya.

Abi Farel pun belum tahu apa yang terjadi akan rumah tangga putrinya. Abi Farel hanya mendengar teriakan Ifa yang minta pisah membuat Abi Farel terkejut. Langsung menerobos masuk, tapi pintu terkunci membuat Abi Farel terpaksa memecahkan kaca.

Abi Farel belum tahu apa yang terjadi. Tapi, melihat keadaan putrinya dan apa yang akan di lakukan Akmal tadi membuat darah Abi Farel mendidih. Tapi, Abi Farel berusaha mengendalikan amarahnya.

Sebelum semua nya jelas, Abi Farel tak mau gegabah mengambil tindakan. Apalagi Ifa tak mau buka mulut sama sekali. Hanya terus menangis di pelukan ummah Sinta.

Jika sakit, sakit apa? Sampai keadaan Ifa begitu mengenaskan. Dan kenapa menyembunyikan semuanya. Hingga Abi Farel harus tahu dengan cara seperti ini.

"Ummah, tenangkan kakak. Abi mau ke luar dulu."

Ummah Sinta mengangguk, menenangkan putrinya. Hati ibu mana yang tak sakit melihat keadaan putrinya seperti ini. Sakit apa? Sampai tubuh Ifa kurus kering seperti ini. Seolah bukan Ifa putrinya tapi orang lain.

Belum ada yang tahu, mereka masih menyangka jika keadaan Ifa seperti itu karena sakit. Mengingat terakhir bertemu Ifa memang sedang sakit.

Bersambung ....

Geregetttt kali🥴🥴🥴

Jangan lupa tinggalkan jejak ya ☺️☺️

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!