Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.

Ifa melangkah gontai ke dalam rumahnya dengan pakaian yang berbeda. Tak mungkin Ifa pulang dengan keadaan basah kuyup. Bisa-bisa banyak pertanyaan yang harus di jawab Ifa. Ifa tak mau menambah beban pikirannya sendiri.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Abi, Bunda."

Ucap Ifa penuh semangat seolah tak terjadi apapun.

Suasana di ruang tamu seketika hening mendengar suara tegas mengucap salam.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Jawab semua orang di ruang tamu. Tidak hanya ada Abi Farel dan ummah Sinta di sana. Ada beberapa orang juga yang di yakini keluarga laki-laki yang akan melamarnya.

"Sini duduk kakak."

Ifa duduk di samping ummah Sinta hingga matanya bertatap dengan mata meneduhkan milih laki-laki berbaju kokok. Terlihat seperti orang alim namun Ifa menatapnya dingin apalagi melihat senyuman nya membuat Ifa mual.

Kesan pertama saja sudah membuat Ifa mual. Ifa pikir orang yang paham agama akan menundukkan pandangannya.

"Masyaallah, cantik sekali putri kalian. Pantas saja Akmal ingin acara lamarannya di percepat."

Celetuk seorang wanita paruh baya yang di yakini ibu dari laki-laki yang terus menatap lapar Ifa.

Hati Ifa entah berapa kali berdenyut. Apa katanya di percepat lamarannya. Berarti sang Abi sebelumnya sudah menerima. Sungguh Ifa sedikit kecewa. Katanya akan memberi Ifa waktu nyatanya bukan waktu yang di berikan tapi sebuah keputusan yang harus di putuskan.

"Putra saya keluaran pondok pesantren. Insyaallah agamanya bagus. Kedatangan kami ke sini berniat melamar nak Adiba untuk putra kami Akmal."

Seru suara berat yang di duga itu ayah dari laki-laki yang bernama Akmal yang berada di hadapan Ifa.

"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya serahkan jawaban nya pada putri saya."

"Kakak bagaimana, nak?"

Ifa meremas ujung jilbab panjangnya. Ingin sekali ia berteriak menolak. Lagi, tatapan kedua orang tuanya penuh harap. Apalagi tadi ada chat masuk padanya sebelum pulang. Dari calon adik iparnya yang memohon pada Ifa.

Ifa menjadi serba salah. Sungguh berada di situasi yang sangat sulit itu membuat Ifa benar-benar tak nyaman.

Ifa rasa nya ingin mengenal dulu calon suaminya itu. Tapi, desakan dari berbagai pihak membuat Ifa tak berkutik. Bahkan Ifa tak di berikan waktu cukup untuk berpikir.

"Bismillahirrahmanirrahim."

"Ifa menerima nya."

Jawab Ifa dingin namun terdengar membahagiakan bagi semuanya.

Andai ibu calon adik iparnya tak sakit mungkin Ifa ingin meminta waktu. Tapi, ibunya sakit-sakitan dan ingin anaknya segera menikah.

Ifa sangat terpaksa tapi tak bisa berbuat apa-apa.

"Alhamdulillah."

Ifa berusaha tersenyum melihat pancar kebahagiaan di sorot kedua orang tuanya.

Rasanya Ifa ingin segera pergi dari ruang yang menyesakan itu. Apalagi Ifa sangat risih di tatap terus oleh laki-laki asing.

Hacim ..

Hacim ..

Ifa bersin-bersin membuat Ifa pamit dengan sopan masuk kamar.

Bersin-bersin tersebut memang asli tapi Ifa menjadikan kesempatan agar bisa kabur dari ruang keluarga.

Ifa tak mau lagi tahu tentang pembahasan selanjutnya. Toh, dia juga sudah menjawab lamaran itu. Ifa berharap keputusannya sudah benar. Ifa berharap calon suaminya adalah laki-laki yang baik, penuh tanggung jawab dan tentu penyayang seperti Abi Farel.

Ifa akan berusaha menerima takdir yang tak di inginkan ya. Demi kebahagiaan kedua orang tua dan adiknya. Setidaknya Ifa tak akan menghalangi langkah adiknya.

Ifa mandi air hangat karena badannya sedikit menggigil akibat kena hujan. Tak lama adzan magrib berkumandang. Ifa langsung melaksanakan kewajibannya.

Hujan di luar sana sudah reda, namun udara dingin tetap sama. Membuat Ifa mematikan AC di kamarnya. Seperti nya tubuh Ifa tak bisa menerima kedinginan saat ini.

Tok .. Tok ...

"Masuk."

Seru Ifa tanpa menoleh sedikitpun. Ifa sibuk membaca email yang di kirim Mikail.

"Assalamualaikum, kakak."

Sapa Harfa membuat Ifa langsung menoleh mendengar suara adiknya.

Ifa terdiam menatap sang adik yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah sendu. Bukankah Harfa harusnya senang kenapa malah terlihat lesu.

"Waalaikumsalam, dek. Kenapa?"

"Maafkan adek, kak. Adek merasa jahat karena keadaan ini membuat kakak harus memutuskan hal rumit."

Ifa mendesah pelan. Tak tahu harus mengatakan apa.

Sejatinya mereka berdua memang saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja keadaan membuat salah satunya harus berkorban.

"Kakak gak apa. Bagaimana keadaan ibu mertua adek?"

"Kritis! Maafkan adek. Ibu Mas Zidan meminta mas Zidan segera menikah."

Ifa mendesah lagi. Ifa tahu pasti sulit di posisi Harfa juga. Jika Ifa tak menerima lamarannya Harfa pun tak boleh menikah. Karena kedua orang tuanya kekeuh ingin Ifa dulu yang menikah baru Harfa.

"Sudah jangan sedih. Doakan saja semoga calon suami kakak laki-laki seperti Abi."

"Aamiin."

Kedua kakak adik itu saling peluk satu sama lain. Tak ada satupun yang mau berada di posisi Ifa. Yang harus terdesak segera menikah karena suatu keadaan dan orang tuanya kekeuh tak ingin Ifa di langkahi. Hingga Ifa harus menempuh jalan ini.

Ifa belum pernah jatuh cinta pada siapapun kecuali pada Abi Farel yang menjadi cinta pertama nya. Apa Ifa mampu mencintai sosok yang akan menjadi suaminya atau malah sebaliknya.

Ifa berharap keputusannya menerima lamar itu menjadi awal kebahagiaan nya. Ifa akan berusaha menerima segala kekurangan apapun dari suaminya kelak asal dia bisa memperlakukan Ifa dengan baik.

"Sudah. Adek mandi gih. Pasti sebentar lagi ummah panggil untuk makan malam."

Tomboy kelihatannya tapi Ifa adalah gadis yang sangat lemah lembut. Pada keluarganya, terutama pada Harfa.

Harfa mengangguk berlalu dari kamar sang kakak.

Ifa menatap sendu punggung Harfa sampai menghilang di balik pintu. Ifa memijit pelipisnya yang terasa berat. Kenapa hari ini begitu berat hari yang Ifa hadapi. Secepat itukah Ifa harus melepas lajangnya. Bahkan dengan orang yang tak Ifa kenal.

Ifa belum tahu bagaimana sikapnya. Tapi melihat sang Abi begitu berharap membuat Ifa yakin. Mungkin pilihan sang Abi adalah pilihan yang baik buatnya. Ifa mencoba menerima takdir hidupnya.

Apalagi Ifa sudah memutuskan menerima lamaran itu. Ifa tak bisa mundur lagi. Ifa hanya butuh kekuatan untuk mengahadapi nya.

"Jika memang ini takdir mu ya Allah. Kuatkan hati Ifa menerima setiap takdir mu."

Gumam Ifa menekan hatinya untuk lapang dada.

Takdir ini rasanya tak ada dalam benak Ifa. Tapi, Ifa harus berada dalam kondisi yang membuatnya tak ada pilihan.

Entah takdir apa yang menunggunya di depan sana.

Berkali-kali mencoba menguatkan diri agar tidak terlihat lemah. Ifa tak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya ridho Ifa ikhlas menjalani nya.

Cukup lama Ifa melamun membayangkan nasibnya. Sampai adzan isya berkumandang. Ifa langsung menjalankan kewajibannya. Sudah selesai sholat isya Ifa keluar dari kamar tepat Harfa juga keluar. Kakak beradik itu turun ke lantai satu untuk makan malam.

Di bawah Abi Farel dan ummah Sinta tersenyum melihat kedua putrinya turun bareng.

"Wah, putri-putri ummah sebentar lagi jadi manten. Auranya sangat berbeda."

"Ah, ummah...,"

Rengek Harfa tersipu malu. Bahkan wajahnya memerah. Berbeda dengan Ifa yang hanya tersenyum tipis dengan wajah datarnya.

Walau hati sakit tapi Ifa tetap mencoba tersenyum di depan kedua orang tuanya. Apalagi kedua orangtuanya terlihat bahagia begitu.

Rasanya Ifa sulit menelan makanan yang nampak lezat itu.

"Oh, iya kak. Pernikahan kakak Minggu depan seminggu sebelum puasa ramadhan."

Deg!

Bersambung ...

Aduh nyesek sekali ini🥺🥺🥺😭

Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya ..

Kasih mawar biara tambah semangat hehe ...

Like, komen, dan Vote jangan ketinggalan ..

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!