Bab 5 Awal mula petaka itu

Acara resepsi pernikahan sudah selesai tepat jam sepuluh malam.

Semua tamu undangan berangsur pulang. Begitu juga dengan keluarga nampak istirahat di kamar masing-masing.

Ifa dan Akmal pun sama. Rasa canggung menghantui mereka. Apalagi Ifa. Baru kali ini Ifa berada di kamar berdua dengan orang asing. Rasanya Ifa begitu canggung dan tak tahu harus melakukan apa.

"Kalau cape langsung istirahat saja, dek."

"Baik."

Jawaban singkat yang Ifa keluarkan. Ifa tak tahu harus bagaimana. Rasanya benar-benar canggung. Ifa melengos masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri. Rasanya tak biasa Ifa tidur dengan bau keringat.

Walau lelah Ifa memaksakan mandi, sudah selesai mandi Ifa langsung istirahat. Tak ada apapun yang terjadi pada Ifa dan Akmal. Mereka benar-benar istirahat karena lelah.

....

Esok hari ...

Akmal meminta izin membawa Ifa pergi ke rumah kedua orang tua Akmal. Karena memang Ifa belum tahu bagaimana keluarga suaminya.

Sikap Akmal baik-baik saja tak menunjukan sikap lebih. Membuat Ifa merasa lega. Setidaknya Akmal tidak memaksa Ifa untuk malam pertama.

Rumah yang nampak sederhana dengan desain klasik. Ifa tak memandang rendah keluarga suaminya.

Semua terlihat baik-baik saja. Keluarga Akmal juga ramah-tamah. Ifa merasa di sambut dan di hargai.

Namun, Ifa tak tahu kehidupannya berubah tatkala hari sudah berganti malam. Kamar yang terlihat kecil berbanding balik dengan kamar Ifa tapi cukup untuk dua orang.

Kamar tak kedap suara membuat Ifa sedikit merasa tak nyaman. Entah kenapa perasaan Ifa merasa tak enak. Keringat dingin tiba-tiba bercucuran. Kepala Ifa nampak sakit kembali. Ifa tak tahu kenapa tubuhnya tiba-tiba merasa gak enak.

Cklek!

Suara pintu terbuka nampak lah Akmal masuk.

Deg!

Ifa tertegun melihat tatapan itu begitu menyeramkan. Ifa merasa was-was walau bagaimanapun mereka berada di ruang berdua. Walau mereka sudah jadi suami istri tetap saja Ifa merasa takut. Apalagi tatapan Akmal begitu berbeda kali ini seperti akan memakan Ifa hidup-hidup.

"Mas minta hak mas malam ini."

Ifa terkesiap, jantungnya rasanya ingin copot. Ifa meremas jemarinya bingung harus mengucap apa. Jujur Ifa belum siap apalagi tubuhnya merasa tak enak.

"Mas tak mau menunggu lagi."

Lagi, Ifa terkesiap akan nada bicara Akmal yang tak selembut kemaren. Kini seolah bukan Akmal, bahkan tatapannya membuat Ifa merasa takut.

"Badan Ifa gak enak. Boleh di tunda mas, Ifa juga belum siap."

Ifa berusaha bernegosiasi. Bukan mau menolak tentu Ifa tahu apa kewajibannya. Tapi, jujur badan Ifa merasa tak enak dan belum siap juga.

"Jangan banyak alasan. Tadi bukannya kamu baik-baik saja."

"Betul. Tapi, tiba-tiba memang badan Ifa merasa tak enak."

"Alah, kamu pasti bohong. Pokonya mas malam ini mau hak mas."

Bruk!

Ifa meringis tatkala Akmal dengan kasar mendorong Ifa menjadi terlentang di atas ranjang.

"Mas mau apa? Tolong jangan sekarang."

"Aku sudah gak kuat menahannya dari kemaren. Kamu jangan coba-coba melepas tanggung jawab."

"Tapi badan Ifa sakit, kepala Ifa juga pusing."

"Alah, itu akal-akalan kamu saja kan."

"Kamu jadi istri durhaka, hah. Nolak suami."

Deg!

Hati Ifa terasa teriris kenapa sikap Akmal sangat berbeda. Sungguh sangat menakutkan. Di tambah lagi, Akmal menunjuk wajah Ifa. Membuat Ifa merasa sakit hati.

"Mas!!"

Pekik Ifa menjerit yang langsung di bekam oleh Akmal. Ifa berusaha memberontak tak mau melakukannya dengan cara kasar begini.

Hati Ifa sangat sakit, berusaha terus memberontak tapi kekuatannya tak mampu melawan. Andai tubuh Ifa gak sakit mungkin Ifa bisa melawan. Tapi apalah daya, tubuhnya sakit, kepalanya pusing. Kini hatinya nya juga ikut sakit.

Bukan begini yang Ifa mau. Ifa ingin di perlakukan dengan baik selayaknya manusia.

"Stop mas. Ifa gak mau."

Mohon Ifa tapi Akmal seolah tuli. Akmal terus memaksa Ifa membuat Ifa merasa tak berdaya dan hina.

Memberontak pun tak kuasa karena kekuatan Akmal sangat kuat.

"Diam lah, kamu mau jadi istri durhaka hah. Menurut lah jika kau tak mau di laknat."

Sontak Ifa tak memberontak lagi. Bukan karena takut melainkan kata demi kata yang keluar dari mulut Akmal bagaimana pisau yang menyayat hatinya. Ifa tak menyangka di malam kedua dirinya harus mendapatkan perlakukan yang senonoh. Lucu bukan, suami sendiri memperkosa Ifa.

Bukan perlakukan seperti ini yang Ifa mau. Ifa pikir, Akmal akan mengerti kondisi tubuhnya dan akan memperlakukan dia dengan baik. Nyatanya Akmal tak lebih dari hewan. Bagaimana bisa Akmal memaksa Ifa melayaninya sedang Ifa sedang sakit dan belum siap.

Setiap sentuhan yang Akmal ciptakan membuat Ifa jijik akan dirinya sendiri. Ifa tak menyangka jika dia akan mendapatkan perlakukan kasar. Walau Akmal tak memukulnya tapi kata yang Akmal ucapkan bagai pisau yang terus menyayat-nyayat hati Ifa.

Tak pernah terbayangkan jika Ifa akan berada di bawah Kungkungan Manusia yang tak punya perasaan.

Bukankah Akmal seorang santri, paham agama tentu Akmal tahu bagaimana tata cara memperlakukan istri dengan baik. Bahkan adab-adab-an bersenggama saja tidak di lakukan.

Tak ada doa, tak ada sholat sunah, tak ada kata romantis. Semuanya hanya menyakitkan yang Ifa terima. Bukan kata nikmat yang di dapatkan melainkan rasa sakit di sekujur tubuh Ifa.

Jeritan, teriakan minta ampun dari Ifa tak di dengarkan Akmal. Akmal seperti orang ke setan-an mengendalikan Ifa dengan cara brutal. Padahal ini yang pertama buat Ifa.

"Tolong mas, Ifa gak kuat lagi. Tolong berhenti."

Lilih Ifa dengan air mata yang terus membanjiri.

Akmal seolah tuli terus menggempur Ifa tanpa ampun. Seolah kehausan akan nafsu yang sudah lama terpendam. Kini bisa tersalurkan. Bagi Akmal Ifa adalah istrinya. Dia bebas memperlakukan Ifa seperti yang ia mau.

Merasa puas, Akmal baru menyudahinya. Membaringkan diri di sisi Ifa tanpa mengucap apapun. Seolah apa yang Akmal lakukan tak salah.

Memang tak salah, tapi cara Akmal yang salah. Tak seharusnya Akmal menyiksa Ifa dengan perlakukan kasarnya. Itu yang pertama bagi Ifa. Bahkan seperti nya ada sobekan di sana. Karena Akmal memaksa Ifa.

Ifa menggigit bibir bawahnya mencoba merendam tangis agar tidak keluar kamar.

Ifa merasa jijik akan dirinya. Bukan kata ikhlas yang keluar melainkan rasa benci yang mulai muncul.

Bagaimana Ifa tak membenci jika apa yang Akmal lakukan tak waras.

Ifa tak bisa bergerak sama sekali bahkan sekedar menggoyangkan tubuh saja tak mampu. Bibir Ifa terlihat membiru akibat luka akan perlawanan di awal.

Begitu menyedihkannya seorang Adiba Hanifa Khanza. Tubuhnya tak terbentuk lagi dengan noda-noda merah yang mulai membiru.

Pelakunya tengah asik tertidur seolah tak merasa bersalah sama sekali. Tanpa bersih-bersih dulu membuat Ifa bertambah mual.

Dengan susah payah Ifa menyeret tubuhnya seperti suster ngesot. Menuju kamar mandi. Ifa ingin mengguyur tubuhnya berharap noda-noda itu menghilang. Tapi, sekuat tenaga Ifa membasuhnya malah rasa perih yang Ifa dapatkan.

"Ya Allah ini begitu menyakitkan. Bukankah aku manusia. Apa aku tak layak di perlakukan dengan baik."

Gumam Ifa menangis dalam hening malam. Tubuh Ifa menggigil, kepalanya terasa berputar. Sakit tubuh kini bertambah sakit hati.

Sekarang Ifa baru tahu, jika suaminya bukan manusia melainkan iblis.

Jika memang manusia bagaimana bisa memperlakukan istrinya seperti binatang. Bahkan Ifa sampai tak bisa berdiri. Ke luar kamar mandi pun harus merangkak.

Bersambung ...

Hua 😭😭😭😭 kejam bangettttt Thor ..

Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...

Kasih bunga nya yang banyak kkk

Terpopuler

Comments

Diah Bundayaputri

Diah Bundayaputri

dasar biadab😡😡😠😠😠👹👹👺

2024-09-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!