Bab 16 Liburan

Akmal mendatangi rumah Adam Hawa, guna ingin bicara pada Ifa. Sebagai laki-laki sejati, Akmal harus menemui Ifa. Mereka butuh bicara.

Pesan dan telepon tak ada satupun yang Ifa balas dan angkat. Akmal sangat kesal hingga nekad datang.

Akmal tak mau pisah dengan Ifa. Sampai kapanpun Akmal tak ingin.

Namun, rumah Ifa nampak terlihat sepi seolah tak ada penghuni.

Tak ada mobil yang berjajar rapi di area parkir. Membuat Akmal mengerutkan kening.

"Kemana, mereka?"

Gumam Akmal merasa heran melihat kediaman Adam Hawa tidak ada satupun penghuninya.

Bagaimana caranya Akmal membujuk Ifa jika Ifa tak ada. Dan, Akmal pun tidak tahu dimana keberadaan Ifa sekarang.

Akmal pun tak ingin mendatangi saudara-saudara Ifa karena takut Ifa tak ada di sana dan malah dapat pertanyaan-pertanyaan baru. Akmal malas menjelaskan dan berurusan dengan saudara Ifa yang lain. Mengingat, tahu bagaimana karakter mereka.

Jika sudah tahu, kenapa berperilaku bodoh yang akan menyulitkan diri sendiri. Sudah tahu, keluarga Ifa sangat terpandang dan di hormati. Malah memperlakukan Ifa tak baik.

Andai Akmal memperlakukan Ifa dengan baik. Mungkin dia tak akan kehilangan kenikmatan yang baru Akmal rasakan. Dan, Ifa pun akan berusaha menerima Akmal. Karena sejak awal memang Ifa sudah berusaha menerima Akmal. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semua tak bisa di ulang kembali.

Ifa sudah tak tahan dan keluarga pun kecewa.

Dengan perasaan kesal dan bingung. Akmal memilih pulang. Tanpa berusaha mencari keberadaan Ifa lebih lanjut.

Nyatanya hanya sebatas itu usaha Akmal. Seolah, apa yang terjadi pada mereka itu hanya masalah kecil.

Akmal benar-benar kembali, dengan raut kecewanya.

"Aku yakin, dek Ifa hanya marah sebentar. Nanti juga kembali."

"Dia tak mungkin mau benar-benar pisah. Mengingat keluarganya. Bagaimana kata orang, dengan status jandanya."

Akmal terus bermonolog, seolah-olah apa yang terjadi di antara mereka benar-benar tidak membuat Akmal cemas. Akmal yakin, Ifa tak akan mau pisah dengannya.

....

Jauh di Jogja sana, Ifa sedang duduk termenung sambil menikmati suasana pagi di sana.

Kemarin sore, ummah Sinta membawa kakak Ifa ke Jogja. Guna memberi waktu dan suasana tenang. Agar Ifa bisa berpikir jernih. Langkah apa yang harus Ifa ambil.

Kata kan lah, mereka sedang berlibur mendadak. Yang nyatanya, Abi Farel dan ummah Sinta ingin kembali melihat senyum lembut Ifa.

Sikap dinginnya semakin dingin. Ifa hanya akan berubah hangat kepada keluarganya saja.

"Kakak, ayo sarapan. Ummah dan Abi sudah menunggu."

Ujar Harfa, membuat Ifa menoleh sejenak. Lalu, beranjak masuk kedalam bersama Harfa.

Suasana pagi di Jogja, nampak tenang. Tidak ada yang berani bercanda. Bahkan, Harfa pun terlihat diam. Biasanya Harfa akan selalu usil pada kakaknya. Kali, ini benar-benar berbeda.

Suasana terasa tak enak dan canggung. Ifa menyadari itu.

"Siapa yang masak, ummah?"

"Aku. Kenapa? Gak enak, ya, kak?"

Sahut Harfa menatap kakak Ifa dengan raut wajah was-was. Pasalnya, kakak Ifa pasti akan ngomel jika masakannya tak enak.

"Ini kurang garam. Harusnya di rasain dulu kalau masak. "

"Ini lagi, kepedesan. Sudah tahu, ummah dan Abi gak boleh makan pedes."

"Sudah besar, masak salah mulu, masak."

Biasanya kakak Ifa akan ngomel seperti itu. Tapi, kali ini bibirnya jadi hening. Padahal, Harfa ingin sekali kakaknya ngomel dan Harfa akan membalas omelan itu. Hingga suasana meja makan nampak ceria.

Tapi, Harfa tunggu-tunggu, tidak ada ucapan apapun dari bibir kakak Ifa. Ifa langsung melanjutkan makannya tanpa bicara apapun.

"Abi, ummah, boleh kakak pergi ke pantai?"

Ucap Ifa tiba-tiba, setelah selesai makan.

"Boleh, kak. Kami berniat akan ke pantai hari ini. Tadinya, Abi takut kakak gak mau ikuti. Nyatanya, kakak juga mau ke sana."

"Iya,"

Sudah selesai sarapan, semuanya bersiap pergi ke pantai. Lokasi yang tak jauh dari penginapan yang Abi Farel sewa.

Harfa nampak semangat, tapi Harfa tahan karena tak mau menyinggung sang kakak.

"Ayo."

Deg!

Harfa tertegun menatap tangannya yang di gandeng kakak Ifa. Seketika, Harfa tersenyum menyamai langkah lembar kakak Ifa.

Ifa berjalan mundur karena tak mau kakinya basah oleh ombak.

"Ayo."

Kini giliran Harfa yang menarik lengan Ifa menghampiri ombak. Tapi, Ifa tak mau membuat Harfa terus memaksa.

Mereka memang seperti itu, selalu tarik menarik.

Ifa memang lebih suka diam di bibir pantai saja. Bermain pasir tanpa basah-basahan. Berbeda dengan Harfa yang selalu main air bahkan berenang.

Melihat keceriaan, canda dan tawa kakak Ifa membuat Abi dan ummah Sinta merasa lega dan bahagia. Setidaknya putrinya masih bisa tersenyum.

Ifa benar-benar menikmati liburannya tanpa beban. Seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.

Bahkan Ifa tertawa ketika sudah berhasil melempar Harfa dengan pasir. Karena Harfa sudah usil membasahi bajunya.

Ifa sadar, jika dia tak boleh bersedih apalagi menangisi orang seperti Akmal. Ifa harus bahagia, karena ia bisa bebas terlepas dari Akmal.

Ifa benar-benar seperti burung yang baru keluar dari sangkarnya. Menikmati libur sepuasnya.

Mungkin, awalan Ifa terlihat diam dan tak bersemangat. Mungkin, karena Ifa sedang mengumpulkan tenaganya.

Tak mungkin juga Ifa berlarut-larut dalam kesedihan. Namun, kita sadar. Jika puncak dari kekecewaan ketika kita tertawa. Tak lagi menangis.

Ifa sudah membuat keputusan akan dirinya. Jika Ifa benar-benar akan memilih berpisah. Pernikahan mereka sudah tak lagi sehat. Apalagi sikap Akmal yang begitu menyeramkan.

Sudah puas bermain kejar-kejaran dengan ombak. Ifa merasa lelah dan memilih istirahat.

Ifa membuka tas, mengambil makanan ringan. Yang memang sudah di persiapkan.

"Kakak mau!!"

Seru Harfa berlari dengan baju basah kuyup.

Kedua kakak beradik itu duduk sambil menikmati cemilan. Ummah Sinta dan Abi Farel sendari tadi mereka duduk di saung tanpa berniat main air. Membiarkan kedua anaknya saja yang main.

"Dek, itu punya kakak."

"Ih, kakak pelit. Kan itu masih banyak."

Ifa menghela nafas pelan akan kelakuan usil adiknya. Selalu saja merebut minuman yang akan Ifa minum.

Uhuk!

"Kakak!"

Kesal Harfa akan keusilan kakak Ifa. Harfa terbatuk-batuk. Tersedak minum, ketika Ifa menekan botol air tersebut.

Tanpa dosa kakak Ifa tertawa, berlari menjauh karena tahu. Harfa akan balas dendam.

Benar saja. Harfa mengejar Ifa yang menjauh. Kakak beradik itu terlibat kejar-kejaran dengan tawa yang begitu riang.

Orang-orang menatap mereka berdua. Ada yang masa bodo, ada yang geleng-geleng kepala. Ada juga yang menertawakan mereka. Tingkah mereka begitu lucu. Bagaimana bisa, ada orang dewasa main kejar-kejaran bak anak kecil.

"Jangan dek, nanti basah?"

Pekik Ifa panik, berusaha kabur. Tapi, Harfa begitu kuat menahan tangan Ifa.

"Gak apa, sekalian tambah basah."

"Tidak."

Bruyyy ...

"Kakak!!!"

Pekik Harfa kesal. Bukan Ifa yang tercebur malah dirinya sendiri.

Ifa tertawa puas, melihat adiknya basah kuyup. Namun, mata Ifa membulat langsung berlari memeluk Harfa. Membuat baju Ifa mau tak mau ikut basah.

"Kau ini, kenapa gak pakai kaus lagi. Kebiasaan. Sudah kakak ingatkan. Pakai baju dalem."

Omel Ifa memeluk erat tubuh sang adik. Bagaimana tidak kesal jika aurat Harfa tercetak jelas ketika bajunya basah semua.

Itulah, kenapa Ifa tak suka berenang. Karena ketika bajunya basah akan memperlihatkan setiap inchi lekuk tubuhnya. Kecuali jika pantai sedang sepi, baru Ifa mau berenang.

"Kalau Abi lihat, nanti marah. Kau ini, memang, benar-benar."

Harfa tersenyum tipis melihat kakaknya sudah kembali ke dalam mode garang. Tidak, seperti beberapa hari sebelum nya yang nampak dingin.

Harfa berharap, sang kakak bisa kembali pada sosok yang dulu sebelum mengenal Akmal.

Bersambung ...

Gitu dong, harus bangkit Ifa, semangattttt😂😂

Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!