Bab 4 Sah

Satu Minggu kemudian ...

Berkali-kali Ifa meyakinkan diri bahwa ini adalah hal yang terbaik. Calon suaminya paham agama semoga saja bisa bersikap selayaknya orang yang paham agama.

Ifa berusaha tetap tersenyum melihat adik dan ummah Sinta masuk kedalam kamar.

"Assalamualaikum kakak. Masyaallah kakak sangat cantik."

Seru Harfa berjalan cepat mendekati Ifa. Mata Harfa nampak berbinar melihat Ifa sudah cantik dengan gaun pengantin melekat di tubuhnya.

"Masyaallah putri ummah cantik sekali."

Puji ummah Sinta membuat Ifa lagi, tersenyum palsu.

"Selamat putri ummah sudah jadi istri nak Akmal."

Deg!

Ingin rasanya Ifa menangis namun sekuat tenaga Ifa menahannya. Ifa tak mau membuat orang tuanya sedih.

Saking melamun nya tadi membuat Ifa tak sadar jika beberapa menit lalu ia sudah sah menjadi istri Akmal.

"Kita keluar ya, semua sudah menunggu."

Ifa mengangguk lemah di bantu berdiri oleh Harfa dan ummah Sinta.

Jantung Sinta berdebar kencang. Sinta tak menyangka dia akan menikah dengan orang baru di kenalnya. Bahkan Sinta belum tahu sikap dan sifat calon suaminya. Larat, sekarang sudah menjadi suami Ifa.

Semua mata tertuju pada Ifa yang menuruni anak tangga di dampingi Harfa dan ummah Sinta.

Ifa nampak cantik membuat Akmal tak berkedip menatapnya. Sungguh pesona Ifa sangatlah membuat kaum Adam terpesona.

Gadis tomboy yang jarang dandan sekali di dandani begitu mempesona.

"Salim, nak."

Saking gugup dan tegangnya Ifa sampai gak sadar jika sudah ada di hadapan Akmal. Ifa tidak berani mengangkat pandangannya langsung saja mencium punggung tangan Akmal sekilas. Ifa ingin menarik tangannya kembali tapi Akmal menahannya membuat Ifa ingin marah tapi Ifa sadar dimana posisinya.

Sebuah benda lembut menyentuh kening Ifa membuat mata Ifa memerah. Rasanya Ifa ingin menangis tapi tak mungkin Ifa menghancurkan semuanya. Ifa tak mungkin mempermalukan keluarga besarnya.

Semua keluarga nampak terharu menyaksikan hari bahagia Ifa.

Seluruh keluarga besar Al-karim hadir di sana.

Acara ijab kabul di adakan di kediaman rumah Adam Hawa. Itulah kenapa hanya ada seluruh keluarga saja di sana. Sedang acara resepsi pernikahan di adakan di hotel salah satu milik perusahaan.

Begitu beruntungnya laki-laki yang mendapatkan Ifa. Bahkan Abi Farel tak sedikitpun memberatkan Akmal dalam hal apapun.

Semua di tanggung oleh keluarga Ifa.

Setelah acara sakral itu semua keluarga makan-makan sebelum mereka pergi ke acara resepsi pernikahan Ifa dan Akmal.

Sebuah mobil sudah siap mengantar Ifa dan Akmal terlebih dahulu ke hotel agar Ifa dan Akmal istirahat sejenak sebelum acara resepsi pernikahan di langsungkan setelah magrib.

Terasa canggung di dalam mobil membuat Ifa hanya bisa memalingkan wajah menatap keluar jendela.

Hingga mobil yang mengantar sepasang pengantin itu tiba di hotel yang langsung di sambut hangat oleh orang-orang di sana.

"Mari nyonya ikut kami?"

Ucap salah satu penjaga membuat Ifa langsung mengangguk.

"Maaf tuan. Anda ikut dengan kami."

"Sial!"

Umpat Akmal dalam hati. Niat mau berdua dengan Ifa gagal total karena ruangan mereka ternyata berbeda. Akmal berusaha tersenyum mengikuti penjaga ke ruang yang berbeda untuk persiapan.

"Sabar Akmal, gadis itu sebentar lagi milik mu."

Gumam Akmal tersenyum seringai merebahkan tubuhnya di ranjang empuk.

Persiapan laki-laki dan perempuan sangat berbeda itulah kenapa Ifa dan Akmal di pisah agar para Mua leluasa juga mempersiapkan Ifa tanpa canggung ada Akmal.

Ifa sedikit lega karena mereka beda kamar. Setidaknya Ifa bisa menenangkan diri. Ifa menatap pantulan dirinya di balik cermin.

"Ya Allah, Ifa sudah jadi seorang istri. Apa yang harus Ifa lakukan akan pernikahan tanpa cinta ini."

Gumam Ifa mendesah pelan. Ifa merasa pusing yang luar biasa. Entah kenapa akhir-akhir ini Ifa mudah sekali pusing.

"Assalamualaikum, kakak."

Ifa buru-buru menghapus air matanya mendengar suara lembut yang begitu Ifa sayangi.

"Waalaikumsalam, ummah."

"Kenapa tidak istirahat? bentar lagi sore harus bersiap lagi."

"Kakak gak ngantuk ummah. Tanggung juga."

"Ya sudah. Ummah berharap kakak bahagia dengan pernikahan ini."

"Insyaallah ummah. Doa kan saja."

"Tentu sayang. Ummah berharap Akmal bisa membahagiakan kamu. Seperti mana abi. Dia laki-laki yang paham agama yang insyaallah bisa membimbing kakak."

"Aamiin."

"Kakak berharap begitu ummah. Semoga saja dia laki-laki seperti Abi."

Namun Ifa hanya bisa bicara dalam hati. Ifa tak mungkin merusak suasana bahagia ummah nya dengan protes dia. Semuanya sudah terlanjur juga. Ifa sekarang hanya bisa menerima jalan takdir yang di depan mata.

"Maaf ummah. Kakak mandi dulu, ya."

"Iya sayang, sana mandi."

Jika sebagian daerah pasti setiap pengantin di larang mandi. Katanya pamali. Tapi, semua kata pamali itu tidak berlaku bagi sebagian orang. Ifa butuh mandi, jika tidak badannya tidak enak. Apalagi Ifa sudah merasakan badannya terasa berat.

Sudah selesai mandi, Ifa sholat ashar karena kebetulan adzan ashar sudah berkumandang.

Sudah selesai sholat tak lama ummah Sinta masuk kembali. Kali ini tidak sendiri melainkan dengan beberapa orang yang akan membantu Ifa berganti pakaian.

"Makan dulu kak. Takut nanti lapar."

"Terimakasih ummah."

Sebelum di rias Ifa makan terlebih dahulu. Karena nanti malam pasti akan banyak tamu yang hadir. Ifa butuh kekuatan.

Apalagi semua karyawan perusahaan hadir. Belum lagi rekan bisnis.

Sudah selesai makan baru Ifa di rias. Butuh waktu lama untuk sekedar merias wajah.

"Pakai bajunya nanti saja setelah sholat magrib."

Cetus Ifa membuat semuanya menurut. Walau acara ini hal yang mungkin bersejarah bagi Ifa. Tapi, Ifa tak mungkin meninggalkan kewajibannya. Walau sebagian ulama ada yang mengatakan hukumnya boleh di jamak.

Sudah selesai sholat magrib Ifa mulai di sulap bak putri. Ifa benar-benar cantik membuat semua mua terkagum-kagum.

"Nona anda begitu cantik."

Puji salah atau Mua membuat Ifa hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Ifa pada dasarnya memang sudah cantik. Semakin cantik dengan riasan yang di beri.

Gaun kali ini lebih berat dari gaun sebelumnya yang Ifa pakai pas ijab kabul.

Semua persiapan sudah tinggallah Ifa di bawa ke aula. Kali ini bukan ummah Sinta dan Harfa yang mengantar melainkan Abi Farel.

Ifa menggenggam tangan Abi Farel begitu kuat.

Abi Farel mengerti putrinya pasti gugup. Tak tahukah jika itu bukan gugup melainkan Ifa ingin berbalik, berlari kabur dari acara ini.

"Jangan tegang, sayang."

Abi Farel mengiring Ifa dengan perasaan bangga. Berharap pernikahan putrinya bahagia. Berharap Akmal bisa membahagiakan Ifa.

Tentu, orang yang faham agama pasti tahu hukum memperlakukan seorang istri.

Di depan sana Akmal tersenyum lebar menyambut kedatangan Ifa. Abi Farel menyerahkan tangan Ifa pada Akmal.

"Saya serahkan putri tercinta saya pada kamu. Bahagia dia, perlakukan dia dengan baik. Jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Kamu meminta putri saya dengan baik-baik maka perlakukan dia sebagai Rasulullah memperlakukan istri nya."

Ucap Abi Farel membuat Ifa tak bisa tak menahan air matanya. Sendari tadi Ifa sudah menahannya tapi ucapan sang Abi membuat Ifa lemah.

"Terimakasih Abi, insyaallah saya akan menjaga dan membahagiakan putri Abi."

Ucap Akmal tegas menerima tangan lembut bak sutra itu.

"Jangan menangis, dek."

Ucap Akmal menghapus air mata Ifa. Membuat semua orang nampak terharu melihatnya.

Mereka terlihat seperti saling mencintai satu sama lain.

.....

Di sudut ruangan, seseorang menatap sendu Ifa. Tangannya mengepal erat dengan mata memerah.

Bersambung ...

Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih .....

Episodes
1 Bab 1 Abi sudah ada calon
2 Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3 Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4 Bab 4 Sah
5 Bab 5 Awal mula petaka itu
6 Bab 6 Prahara subuh
7 Bab 7 Mencoba kuat
8 Bab 8 Melanggar hukum
9 Bab 9 Tak berdaya
10 Bab 10 Jeritan subuh
11 Bab 11 Pingsan
12 Bab 12 Firasat
13 Bab 13 Keadaan Ifa
14 Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15 Bab 15 Sesak
16 Bab 16 Liburan
17 Bab 17 Keputusan Ifa
18 Bab 18 Surat cerai
19 Bab 19 Surat pengunduran diri
20 Bab 20 Kenapa pergi?
21 Bab 21 Garis dua
22 Bab 22 Berusaha tetap kuat
23 Bab 23 Jalan terakhir
24 Bab 24 Hasil USG
25 Bab 25 Ummah, maaf
26 Bab 26 Saling dukung
27 Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28 Bab 28 Kedatangan Akmal
29 Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30 Bab 30 Sudah terlambat
31 Bab 31 Duka
32 Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33 Bab 33 Tuan Farel
34 Bab 34 Secercah harapan
35 Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36 Bab 36 Dejavu
37 Bab 37 Keputusan Ifa
38 Bab 38 'Mama'
39 Bab 39 Menerima takdir
40 Bab 40 Terimakasih, mama.
41 Bab 41 Kebahagiaan
42 Bab 42 Keluarga Cemara
43 Bab 43 Langitnya, indah
44 Bab 44 Gerakkan!!!
45 Bab 45 Aneh
46 Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47 Bab 47 Tersinggung!
48 Bab 48 Selingkuh!
49 Bab 49 Kakak ..,
50 Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51 Bab 51 Perasaan Harfa
52 Bab 52 Perjanjian!
53 Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54 Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55 Bab 55 Trauma masa lalu
56 Bab 56 Keputusan Harfa
57 Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58 Bab 58 Saya
59 Bab 59 Mengikhlaskan
60 Bab 60 Rewel
61 Bab 61 Tak bisa di ulang
62 Bab 62 Di culik
63 Bab 63 Tamu pagi
64 Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65 Bab 65 Wanita kuat
66 Undangan
67 Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68 Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69 Bab 66 Mama mau yang ini.
70 Bab 67 Cukup, mas.
71 Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72 Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73 Bab 70 Saya rindu
74 Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75 Bab 72 Mama Cantika
76 Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77 Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78 Bab 75 Sebuah keputusan
79 Bab 75 Aku berserah
80 Bab 76 Aku siap, mas.
81 Bab 77 Aku tak sempurna
82 Bab 78 Jujur Kail
83 Bab 79 Pengecut
84 Bab 80 Menerima takdir
85 Bab 81 Penuh haru
86 Bab 82 Canda halal
87 Bab 83 Cabang dua
88 Bab 84 Hamil
89 Bab 85 Anugrah
90 Bab 86 Merdeka
91 Bab 87 Tripel baby
92 Promosi Author
93 Bab 88 Bersama-sama sayang
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1 Abi sudah ada calon
2
Bab 2 Jeritan kesakitan Ifa
3
Bab 3 Keputusan yang harus di putuskan.
4
Bab 4 Sah
5
Bab 5 Awal mula petaka itu
6
Bab 6 Prahara subuh
7
Bab 7 Mencoba kuat
8
Bab 8 Melanggar hukum
9
Bab 9 Tak berdaya
10
Bab 10 Jeritan subuh
11
Bab 11 Pingsan
12
Bab 12 Firasat
13
Bab 13 Keadaan Ifa
14
Bab 14 Kesalahan yang terbayar
15
Bab 15 Sesak
16
Bab 16 Liburan
17
Bab 17 Keputusan Ifa
18
Bab 18 Surat cerai
19
Bab 19 Surat pengunduran diri
20
Bab 20 Kenapa pergi?
21
Bab 21 Garis dua
22
Bab 22 Berusaha tetap kuat
23
Bab 23 Jalan terakhir
24
Bab 24 Hasil USG
25
Bab 25 Ummah, maaf
26
Bab 26 Saling dukung
27
Bab 27 Muhamad Zain Al-fahrezi
28
Bab 28 Kedatangan Akmal
29
Bab 29 Kakak baik-baik saja.
30
Bab 30 Sudah terlambat
31
Bab 31 Duka
32
Bab 32 Astaghfirullah hal'azim
33
Bab 33 Tuan Farel
34
Bab 34 Secercah harapan
35
Bab 35 Saya ingin menikahi, kamu.
36
Bab 36 Dejavu
37
Bab 37 Keputusan Ifa
38
Bab 38 'Mama'
39
Bab 39 Menerima takdir
40
Bab 40 Terimakasih, mama.
41
Bab 41 Kebahagiaan
42
Bab 42 Keluarga Cemara
43
Bab 43 Langitnya, indah
44
Bab 44 Gerakkan!!!
45
Bab 45 Aneh
46
Bab 46 Selamat datang di dunia mama.
47
Bab 47 Tersinggung!
48
Bab 48 Selingkuh!
49
Bab 49 Kakak ..,
50
Bab 50 Jangan pura-pura kuat.
51
Bab 51 Perasaan Harfa
52
Bab 52 Perjanjian!
53
Bab 53 Luapan isi hati Ifa
54
Bab 54 Kembalikan kakak Ifa
55
Bab 55 Trauma masa lalu
56
Bab 56 Keputusan Harfa
57
Bab 57 Cara menyembuhkan luka, Ala Ifa
58
Bab 58 Saya
59
Bab 59 Mengikhlaskan
60
Bab 60 Rewel
61
Bab 61 Tak bisa di ulang
62
Bab 62 Di culik
63
Bab 63 Tamu pagi
64
Bab 64 Aku ingin sekuat kakak Ifa
65
Bab 65 Wanita kuat
66
Undangan
67
Promosi Author (Takdir Illahi 2)
68
Promosi Author Amarah Cinta (bukan salah tuhan)
69
Bab 66 Mama mau yang ini.
70
Bab 67 Cukup, mas.
71
Bab 68 Ok, Dino. Ini huruf apa?
72
Bab 69 Aku tak mau putraku gila
73
Bab 70 Saya rindu
74
Bab 71 Mau besok, boleh ya?
75
Bab 72 Mama Cantika
76
Bab 73 Tak ingin menikah lagi
77
Bab 74 Jangan biarkan saya gila.
78
Bab 75 Sebuah keputusan
79
Bab 75 Aku berserah
80
Bab 76 Aku siap, mas.
81
Bab 77 Aku tak sempurna
82
Bab 78 Jujur Kail
83
Bab 79 Pengecut
84
Bab 80 Menerima takdir
85
Bab 81 Penuh haru
86
Bab 82 Canda halal
87
Bab 83 Cabang dua
88
Bab 84 Hamil
89
Bab 85 Anugrah
90
Bab 86 Merdeka
91
Bab 87 Tripel baby
92
Promosi Author
93
Bab 88 Bersama-sama sayang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!